Bima menjemputku jam satu siang, aku mengatakan pada ibu sedang mengerjakan proyek Paus. Alasan yang juga kukatakan pada Gerry. Aku tahu aku salah telah berbohong pada mereka, aku berjanji ini yang pertama dan terakhir. Setelah lamaran, aku tidak akan menemui Bima lagi seperti ini. Bima menyambutku dengan senyum cerah, padahal aku tahu dia baru tidur beberapa jam. "Kamu enggak apa – apa nyetir? Enggak ngantuk?" "Santai, kopi akan membuatku melek sampe pagi lagi. Siap berangkat, nona?" "Let's go!" Jawabku sambil tersenyum. Bima melajukan mobilnya, sambil bertanya apa aku membawa semua perlengkapan yang dia bilang tadi. Aku mengangguk. Hampir empat jam perjalanan, akhirnya kami sampai di bukit Bintang, dataran tinggi yang tandus sebenarnya. Tapi dari tempat ini kita bisa memandang kota

