“Si Zhafif sama yang lain kemana, sih?” tanya Petra berjongkok di samping sebuah motor.
“Si Zhafif udah datang dari tadi katanya, ngembalikin buku cetak ke Perpus,” jawab Attar sambil duduk di salah satu motor yang sudah ia periksa tak memiliki alarm.
“Hah?! Balikin buku?!” seru Petra kaget. Ia bangkit dari duduknya dengan wajah panik. “Lo udah balikin buku, Tar?”
Anggukan dari Attar membuat Petra semakin panik. Pasalnya ia merasa belum mengembalikan buku yang entah berapa jumlahnya. Gawat jika ia harus mengganti semua buku itu!
“Enggak ngembaliin buku, enggak dapat ijazah,” celetuk Attar membuat Petra menoleh ke arahnya dengan wajah menyedihkan. Tamatlah dirinya.
“Ke kantin wae yuk, haus gue,” ajak Attar. Lelaki yang pernah menjadi ketua eskul basket itu melenggangkan kakinya diatas koridor sekolah yang cukup ramai. Dibelakangnya disusul Petra yang sedang mengira-ngira berapa yang harus ia keluarkan untuk mengganti semua buku.
“Anjirrr! Itu Kak Attar woi!”
“Tadi Kak Zhafif lewat, sekarang Kak Attar. Enggak kuat dedeq woii!”
“Itu dibelakangnya siapa woy? Ganggu amat.”
“Pengen gue suapin pur ayam itu mulut,” sahut Petra jengkel mendengar cibiran dari adik kelas yang tadi ia lewati.
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa Zhafif dan teman-temannya tidak masuk kelas? Karena mereka semua baru saja menyelesaikan Ujian Akhir Nasional berbasis komputer. Dan, sekarang tengah menunggu hasil dari perjuangan mereka.
"Lama banget lo di perpus? Nggak di apa-apain sama Bu Nining 'kan?" tanya Petra menyebut nama kepala perpustakaan saat Zhafif baru saja duduk di bangku kantin.
“Eh, gue udah ngembalikin buku belom?” tanya Petra cepat.
Dahi Zhafif berkerut. “Emang lo minjem buku?” tanyanya.
“Gue minjemin buku enggak ya,” pikir Petra mengingat-ingat.
“Ini nih, sekolah cuman modal hah, hah dong. Enggak tau apa-apa,” sahut seorang perempuan.
“Lit, lo nggak masuk kelas?" tanya Zhafif pada Lita yang sedang berdanda ria di depan cermin kecil bergambat kucing.
"Males gue kalo Pak Gigi masuk, udah jarang masuk, sekali masuk ngasih tugas sepulau. Gimana gue nggak malas sama tuh bapak-bapak." Lita menutup kacanya lalu tatapannya beralih pada Attar yang tengah meminum es jeruknya.
"Eh, ada my baby Attar."
Attar hampir saja tersedak es jeruknya sendiri ketika mendengar panggilan genit dari Lita yang membuat sekujur tubuh Attar meremang. Sedangkan Petra yang berada di ujung menahan tawanya agar tak membahana di kantin.
"Biasa aja kali, Tar. Kemaren gue cek, Lita masih manusia kok," ujar seorang perempuan yang baru saja meletakan ponselnya. Kanya, nama wanita itu kini mulai melebarkan senyumnya saat melihat teman-temannya kembali berkumpul. Gadis itu menghentikan tatapannya pada lelaki yang baru saja bergabung, ketika mata mereka bertemu, lelaki itu langsung mengalihkannya.
"Lita-Lita! Mana mau Attar sama lo, masa si juara satu sekolah disandingkan dengan si juara terakhir sekolah?" cerca Petra membuat Lita menajamkan matanya menatap Petra yang kini tengah tertawa terbahak-bahak.
"Daripada lo si buruk rupa diantara Pangeran tampan sekolah!"
Petra menghentikan tawanya saat mendengar ucapan Lita yang tepat menusuk hatinya. Sedangkan yang lain tertawa melihat wajah Petra yang semua ceria kini berubah masam.
"Yang penting gue udah tamat, nggak kayak lo masih harus belajar."
Memang karena sesuatu Lita harus kembali mengulang kelas akibat selama setahun wanita itu menghilang tanpa jejak.
Kini kedudukan berubah menjadi 2:1, Lita dengan wajah masamnya sedangkan Petra yang kembali tertawa terbahak-bahak. "Iya, kalo lo LULUS, sih!" ujar Lita kembali sambil menekan kata 'lulus' membuat kedudukan kembali sama, 2:2.
Zhafif yang melihat akan ada perperangan di antara keduanya segera melarai sebelum apa yang tidak dikehendaki mereka terjadi. "Udah-udah. Kalian kalo nggak dipisahin, kantin sekolah bisa jadi tinggal sejarah doang gara-gara kalian ribut."
Petra dan Lita sama-sama memanyunkan wajah mereka membuat yang lain geleng-geleng kepala karena tingkah kanak-kanak mereka. Tapi, inilah yang membuat persahabatan mereka langgeng. Tidak ada yang disembunyikan, kecuali itu termasuk privasi diantara mereka.
"Lit, minum dulu biar tenang."
Lita terpekik saat Attar memberikan segelas es jeruk yang belum tersentuh. Gadis itu tersenyum lebar membuat yang lain geleng-geleng kepala.
"Lo mau minum juga, Pet?" tanya Kanya. Wanita anggun dengan rambut bergelombang itu menggeserkan ice coffe untuk Petra. Tapi, disambut gelengan kepala oleh laki-laki itu. "Enggak, makasih."
"Sok jual mahal lo dugong!"
Zhafif tidak pernah tahu apa yang terjadi antara Petra dan Kanya sehingga kini keduanya menjadi bermusuhan. Hanya Petra sebenarnya, karena Kanya masih bersikap hangat pada laki-laki itu. Lita dan Attar pun juga tidak tahu masalah mereka. Padahal dari dulu Petra selalu gencar mendekati Kanya.
Mereka tidak ingin mencari tahu lebih saat Petra dan Kanya juga tidak memberi tahu. Itu privasi mereka. Jadi ketiganya paham untuk tidak ikut campur.
Getaran di saku celananya membuat Zhafif mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang baru saja di kirim oleh Maminya.
MAMI
Mas lagi dimana?
Ke kantor Papi dong, jemput Mami.
Zhafif tidak tahu ingin membalas apa ketika mendepat pesan dari Maminya untuk menjemput wanita itu di kantor Papinya. Bukannya Zhafif malas ataupun apa, tapi melihat tatapan dingin dari Papinya ketika ia bersama Maminya membuat Zhafif serba salah. Ia anak Papinya tapi seperti orang lain dianggap pria itu. Entah apa salah Zhafif.
"Kenapa lo, Fif?" tanya Lita melihat wajah lemas pria itu.
Zhafif menggeleng. "Ada wanita yang minta jemput sama gue, maklum orang laku," ujar Zhafif tidak sepenuhnya bohong. Ibunya wanita 'kan? Dan ingin dijemputnya 'kan?
"Ikan kali laku," cibir Petra membuat Zhafif tersenyum lebar. Masalahnya biar menjadi masalahnya. Ia tidak mau orang menganggap Papinya jahat karena mengabaikan dirinya.
"Oh, iya. Setelah ini kalian mau ngapain?" tanya Attar akhirnya bersuara setelah lama diam. Lita tentu saja orang pertama yang girang mendengarnya. "Adem banget dengar suara my baby Attar," celetuk Lita yang mendapat cibiran dari Petra.
Kanya lebih dulu bersuara. "Gue dapet beasiswa di Oxford. Mungkin kita bakal pisah, tapi gue bakal pulang kok," ujarnya sendu. Petra yang mendengar suara wanita itu berdecih. Hatinya tak terima mendengar nada wanita itu yang biasa-biasa saja.
"Ah, Kanya! Gua bakal kangen," ujar Lita sedih. Lalu memeluk Kanya seperti ingin berpisah sekarang. Setelah itu Lita menjawab pertanyaan Attar. "Kalo gue palingan nahan-nahan diri biar bisa cepet tamat sekolah."
"Lo Pet?" tanya Attar.
"Kerja mungkin," jawab Petra sambil menghendikan bahunya. Semua mengangguk tapi saat mereka mendengar jawaban dari Zhafif, suasana menjadi panas.
"Kalo lo, Fif?"
"Gue pengen coba hal baru, deh."
"Kayak apa?" tanya Kanya penasaran yang diangguki Lita.
"Ahaaa!! Pasti lo mau kawin 'kan, Fif?" seru Petra.
"APA?!" seru Lita sampai menggebrak meja.
“Biasa aja kali, Lit,” ketus Attar membuat Lita yang mendengarnya langsung menoleh ke arah lelaki itu. “Uluh-uluh ada yang cemburu, nih.”
“Enggaklah gue nikah,” ucap Zhafif membuat Petra memberi jempol yang menunujuk ke arah bawah.
Zhafif sendiri tidak tahu apa yang ingin ia lakukan. Namun, yang pasti ia ingin membuat kedua orang tuanya bahagia. Apapun yang mereka minta, Zhafif akan turuti.