“Tubuh saya pegal sekali,” kata Zakiya mendesah lelah membuat Lala yang saat ini sedang membantu membawakan ekor gaun atasannya itu menoleh dengan cepat. “Mwoo?!”
“Kok udah pegal aja, sih, Mbak?” protes Lala dengan wajah merengut.
“Kamu semakin lama semakin kurang ajar ya, Lala,” maki Zakiya.
Gadis itu terkekeh sambil menangkupkan kedua tangannya dan menunduk kepala membuat Zakiya yang sedang berjalan hampir saja terjatuh karena tersandung gaunnya. “LALA!” pekiknya kesal.
“Eh, maaf banget, Mbak.” Buru-buru Lala kembali memunguti ekor gaun itu.
“Mbak harus beli obat kuat!” seru Lala sedikit keras membuat orang-orang yang melewati lorong hotel ini menoleh ke arah Zakiya dengan terkekeh geli.
Sialan, Lala! Batin Zakiya.
“Mbak Zakiya, Mbak harus tahu kalo nafsunya anak remaja itu mengerikan!” serunya lagi membuat Zakiya mengerutkan dahinya.
“Darimana kamu tahu?” tanyanya.
“Adek laki-laki saya ketahuan c**i, Mbak.”
“Apa itu c**i?” tanya Zakiya yang kali ini sedikit keras membuat orang-orang yang lewat menatapnya horor.
“Mastrubasi kalo bahasa kerennya Mbak,”
“Lala kamu benar-benar sialan,” geram Zakiya menyesal, sekarang rasanya ia tidak memiliki muka lagi untuk melanjutkan jalannya.
“Adek saya ketahuan c**i sampe tiga kali sehari, Mbak!” katanya lagi. “Bayangin kalo Mbak yang digempur tiga kali sehari!” serunya heboh.
“Udah kayak minum obat,” gumam Zakiya.
“Kamu bisa tahu gimana?” sahut Zakiya yang tiba-tiba menjadi takut. Bagaimana Zhafif melalukan itu padanya?
“Salah dia sendiri sih mbak, ninggalin ponselnya yang masih ngeply video naninu di kamar mandi. Lah kamar mandi cuma satu, eh bapak masuk kesana. Habis deh adek saya kena introgasi.”
“Akhirnya dinasehatin agar dikurangi perlahan, terus kalo bisa dihilangin. Dialihin dengan cari kesibukan lain. Enggak bagus manfaatnya kalo saya baca di internet,” jelas Lala.
“Pokoknya nanti Mbak harus kuat, aduh mbak Ayah saya sudah sms kalo dia udah di basement. Dikit lagi ya mbak sampe pintunya. Byeee!” serunya meninggalkan Zakiya yang melotot melihat tingkah sekretaris tak tahu dirinya.
“MBAK ZAKIYA!” teriak Lala yang kembali memutar tubuhnya.
“SEMANGAT MANTAP-MANTAPNYA!”
“Sialan kamu Lala,” geram Zakiya buru-buru meninggalkan lorong dan masuk ke dalam kamarnya.
Zakiya bukan main terkejut dan ingin berteriak ketika melihat sudah ada Zaila berada di kamarnya. Ck, kenapa pula mertuanya itu ada disini?
“Dimana Zhafif?” tanya Zaila.
“Masih dibawah kayaknya, Mi.”
“Kamu itu isterinya lho dan Zhafif sekarang suami kamu. Walau kamu tidak berhak atas Zhafif, tapi kamu harus menjaganya,” ucap wanita itu yang kini sudah sah menjadi mertuanya.
Zakiya berdecak dalam hatinya, apa ia menikahi seorang anak kecil berusia lima tahun sehingga harus dijaga? Dan, kenapa pula Zalia amat memanjakan Zhafif? Apa remaja lelaki itu tidak risih selalu ditempeli Zalia?
“Iya, Mi. Saya ganti baju dulu,” ujarnya sambil mengangganti bajunya dengan dress longgar.
Setelah keluar dari kamar itu, Zakiya tak hentinya mengumpat sepanjang jalan. Mungkin orang-orang mengira Zakiya adalah korban yang ditinggal ena-ena dan sekarang harus pergi.
Ia sendiri juga heran dengan keberadaan Zaila yang berada di kamarnya dan Zhafif. Apa wanita itu bermaksud tidur bertiga dengannya dan Zhafif?!
“Dimana, sih, Zhafif?” tanya Zakiya kesal. Sialnya ia tidak sempat meminta nomor lelaki itu sehingga sekarang ia harus kembali menuju ballroom.
Keadaan ballroom sudah sepi, hanya tinggal orang-orang yang membersihkan ruangan besar itu. Seingatnya tadi Zhafif pergi bersama dengan teman wanitanya yang tapi entah kemana?
Kaki Zakiya akhirnya berhenti ketika melihat Zhafif dan seorang wanita tengah berada di sudut kolam berenang dan taman yang tertutupi.
Baru saja ia hendak memanggil, wanita itu mendengus ketika melihat apa yang ia lihat. Buru-buru ia mengembalikan tubuhnya dan berkata. “Semua lelaki sama saja!”
——-
“Lo mau ngomongin apa, Kanya?” Zhafif sedikit melirik-melirik ke arah sekitarnya yang begitu sepi, sedikit takut nanti ada yang mengira ia tengah berselingkuh padahal baru saja menikah beberapa jam yang lalu.
Kanya yang menundukan kepalanya, perlahan mengangkat dagunya. Ia kemudian menatap Zhafif lekat dan mendekat ke arah lelaki itu. “Zhafif...”
Bola mata Zhafif seketika melotot ketika merasa sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Buru-buru ia menjauhkan tubuhnya Kanya darinya dengan sedikit kuat.
“Lo kenapa, Nya?!” seru Zhafif sambil mengusap bibirnya dengan lengan jaznya.
Kanya yang melihat itu tersenyum miris, apa dirinya terlihat menjijikan di mata Zhafif?
“Gue suka sama lo, gue cinta sama lo, Fif,” kata Kanya.
Zhafif terkekeh. Ia tidak ingin mengambil pusing dengan perkataan Kanya. “Lo kayaknya kelelahan, Nya. Gue anggap tadi lo enggak ngelakuin apapun. Sekarang lo pulang aja, udah malam. Sorry enggak bisa ngantar.”
“Gue cinta sama lo, Fif,” seru Kanya menarik tangan lelaki itu yang hendak pergi.
“Tapi, Petra suka sama lo, Nya,” sanggah lelaki itu melepaskan tangannya dari Kanya.
“Lo bisa enggak, sih sekali aja enggak usah mikiri perasaan orang?!” tanya Kanya hampir berteriak.
“Kita udah temenan dari kecil, lo selalu mikirin perasaan orang lain,” sendu gadis yang mengenakan dress biru. “Tapi kenapa lo enggak pernah mikirin perasaan gue yang suka sama lo?!”
“Lo sadar enggak, Nya, kalo sekarang gue udah jadi laki orang?!” seru Zhafif yang merasa ini sudah berlebihan.
“Kalo lo enggak jadi laki orang, berarti lo mau, Fif?” tanya sebuah suara mengejutkan Zhafif dan Kanya.
Petra berjalan ke arah mereka dengan wajah tersakiti, diikuti Attar dan juga Lita. Ketiganya memang belum pulang karena masih menunggu Kanya di basement. Mereka mengira Kanya yang meminta izin pulang lebih lama ingin mengucapkan selamat yang lebih dalam karena keduanya merupakan sahabat dari kecil.
“Gue—“
“Enggak nyangka gue, Fif. Lo sahabat gue, lo udah gue anggap sebagai saudara.” Ekspresi remaja itu benar-benar menunjukan raut wajah kecewa. Ia sudah menyukai Kanya sejak awal masuk SMA. Dan, Zhafif tahu itu.
Petra menggeleng kecewa, ia membalikan badannya dan berjalan menjauh darisana.
“Petra!” panggil Kanya membuat lelaki itu berhenti. Walau sudah sebisa mungkin untuk tidak mendengar dan mencoba terus melangkah, namun nyantanya cinta Petra pada Kanya terlalu besar.
“Gue enggak suka sama lo, jadi jangan berharap sama gue. Kalo lo emang sahabat Zhafif, jangan buat dia ngerasa enggak enakan sama lo,” katanya membuat Petra terdiam membisu. Tanpa menoleh, Petra kembali melanjutkan langkahnya.
Attar dan Lita yang melihat itu tidak ingin ikut campur, mereka disini belum tahu dan jelas mengenai situasinya.
“Petra sekarang udah enggak papa, lo enggak perlu merasa bersalah sama dia,” kata Kanya sambil menatap Zhafif.
“Bukan itu masalahnya, Nya.” Zhafif menatap teduh ke arah Kanya. “Gue enggak suka apalagi cinta sama lo,” katanya. “Lo udah gue anggap saudara perempuan gue, Nya.”
“Gue juga sekarang udah punya isteri, Nya. Gue cuman mau jatuh cinta sama Mbak Zakiya.”
“Bullshit!” pekik gadis itu. “Ten years, Fif! Dan, lo lebih milih wanita yang belum seminggu ada di hidup lo! Are you kidding Me?!” serunya membuat Lita tak bisa menahan untuk ikut campur. Ia membantu memenangkan Kanya yang nampak begitu terpuruk.
“Fif, lo cuman harus jatuh cinta sama gue. Just a simple like we are kids, you call me, and i look you.” Kanya tersenyum sambil menatap Zhafif, ia perlahan berjalan mendekat namun lelaki itu malah mundur.
“Kalo semudah itu, gue udah mencintai lo dari awal, Nya,” ucap Zhafif membuat Kanya menggeleng. Pipi gadis itu sudah basar dengan air mata. Ia kemudian meninggalkan tempat itu sambil berlari dengan hati berderai hancur.
“Fif, are you okay?” tanya Attar pada lelaki itu.
“Gue enggak papa, kok.”
“Lo mau ngobrol sama kita?” tanya Lita.
“Susulin Kanya sama Petra aja, mereka lebih butuh.”