Aku menatap mereka dengan tatapan tajam, mereka hanya menunduk sadaritadi seolah tak ingin melihatku sama sekali. Aku mengetukkan jariku beberapa dimeja hingga ketiga kembali menayapku dengan tatapan mungkin sedikit takut. "Jadi?" tanyaku sekali lagi, beberapa menit lalu aku sudah bertanya pada mereka apa yang mereka lakukan pada Aila tetapi mereka belum menjawab sama sekali. "Kemarin kami membuangnya di hutan, agak sedikit jauh dari permukiman warga. Apalagi obat biusnya sepertinya sudah mulai tidak berfungsi, kami mendengarkan perkataan perempuan itu." aku rasanya ingin menangis mendengar hal itu, ini berarti Aila masih hidup. "Di daerah mana kalian membuangnya? Tepatnya di hutan mana?" tanyaku lagi. "Kami tidak tau. Yang kami tau itu masih masuk daerah Bandung." tidak papa, seti

