Saat duduk ditaman rumah sakit sambil menyulut rokoknya, pak Cokro lalu teringat akan perkataan sang Lulun samak, sesembahannya itu. Lulun samak itu pernah berkata bahwa putrinya itu adalah seorang penghalang jalannya untuk menambah pundi-pundi uangnya. “Jangan-jangan memang benar apa yang dikatakan Lulun samak itu tentang anakku yang akan menjadi pembangkang.” Ucap pak Cokro dalam hatinya. Pak Cokro yang masih memikirkan putrinya itu pun tampak ada rasa takut dalam dirinya. Pak Cokro merasa bahwa putrinya bisa saja menggagalkan rencananya nanti.
Saat pak Cokro masih duduk ditaman rumah sakit itu, lalu disusul lah Bu Sekar yang langsung duduk disebelah pak Cokro dengan wajah sedihnya. “ada apa Bu?” tanya pak Cokro. “Wulan tidak ingin ditemani siapapun pak..., Dia masih ingin sendiri.” Ucap Bu Sekar memelas. “Mau menemui apa anak itu Bu! Kalau dia bersikap tidak baik kepada bapak, bapak akan menerimanya bu! Tapi kalau ibu yang diperlakukan demikian! Bapak sangat tidak terima!” ucap pak Cokro yang membuang puntung rokok yang masih berada ditangannya itu. Pak Cokro lalu berdiri dengan emosi yang memuncak. “Bapak mau kemana?” tanya Bu Sekar yang tahu suaminya sedang marah. “memberi pelajaran pada anak itu karena telah berani melukai hati ibunya!” Ucap pak Cokro. Tangan pak Cokro lalu langsung dipegang oleh Bu Sekar. Bu Sekar langsung menggenggamnya. “Sudah pak..., Biarkan saja. Wulan tidak mungkin berperilaku demikian tanpa sebab. Kita sebagai orang tua harus tahu penyebabnya.” Ucap Bu Sekar menenangkan pak Cokro yang masih tersulut emosi. Bu Sekar lalu menyuruh suaminya itu untuk duduk kembali dan memikirkan apa yang harus dilakukan agar Wulan tidak lagi berperilaku seperti itu.
“Asep dimana Bu?” tanya pak Cokro. “Asep masih diruang tunggu, ibu menyuruhnya disana agar jika Wulan butuh apa-apa, dia tidak kesulitan.” Ucap Bu Sekar. Pak Cokro masih terdiam setelah mengetahui posisi Asep. “Kita bicarakan masalah Wulan ini dirumah saja besok Bu, sekarang kita tidak usah memikirkan apa-apa dulu. Mengenai pernikahan Wulan juga nanti kita pikirkan dirumah saja.” Ucap pak Cokro lagi. “Ibu ini sudah puluhan tahun hidup dengan bapak, apa yang membuat bapak akhirnya mau menikahkan putri kita dengan laki-laki itu pak? Setahu ibu, kalau bapak bilang tidak, bapak tidak akan bicara iya.” Tanya Bu Sekar penasaran. Bu Sekar tampak kaget dengan suaminya yang tiba-tiba berubah pikiran akan menikahkan Wulan dengan lelaki yang dianggap tidak setara dengannya itu. “Siapa tahu setelah menikah dengan Candra, Wulan tak lagi mengalami sakit aneh-aneh seperti ini Bu.” Ucap pak Cokro berdusta. Bu Sekar mulai menangkap bahwa pak Cokro mau merestui hubungan itu dikarenakan semata-mata agar Wulan bahagia. “iya..., Bapak benar, setiap orang tua menginginkan kebahagiaan putrinya, apalagi putri kita adalah anak semata wayang kita ya pak.” Ucap Bu Sekar mulai setuju dengan keputusan suaminya itu. “tapi tentunya bapak tidak akan membiarkan Wulan hidup bersama keluarga miskin itu Bu. Bapak tidak tega jika melihat Wulan tinggal digubuk reyot milik keluarga Raharjo itu. Wulan akan tetap tinggal bersama kita dan mau tak mau, laki-laki miskin itu juga harus tinggal bersama kita.” Ucap pak Cokro. “Benar pak.., ibu setuju dengan bapak, lagi pula Wulan tidak mungkin bisa hidup bersama mereka pak. Mereka itu keluarga yang sangat miskin, bapak lihat rumahnya saja berlantaikan tanah dan berdinding yang terbuat dari bambu. Disana tidak ada mesin penghangat, kulkas, mesin cuci. Bagaimana Wulan bisa hidup seperti itu, sedangkan sejak dirumah saja Wulan sama sekali tidak pernah mencuci pakaiannya. Kita sudah benar memperlakukan putri kita seperti putri raja, putri kita harus diperlakukan seperti itu oleh suaminya nanti.” Ucap Bu Sekar yang tampak tidak tega bila putrinya menikah dengan laki-laki miskin. “Sudah..., Ibu tenanglah saja, putri kita ya akan tetap menjadi putri kita Bu, putri raja kita.” Ucap pak Cokro. Bu Sekar tampak lega ketika pak Cokro mengatakan hal itu. Mereka pun masih meneruskan perbincangan antara suami istri itu disebuah taman rumah sakit itu. Banyak yang mereka perbincangkan mengenai bisnis dan persiapan masa depan untuk Wulan, putri semata wayang mereka.
Candra pun telah sampai dirumahnya dengan wajah yang tampak murung. Kedua orang tuanya pun yang sedang duduk di bilik rumahnya pun bertanya-tanya kepada putranya itu. “Ada apa nak? Sudah beberapa hari ini kau menemani nak Wulan dirumah sakit, tapi kenapa wajahmu tampak murung?” tanya Bu Indah. Candra menghela nafasnya, mempersiapkan tenaga untuk mengatakan kenyataan kepada kedua orang tuanya itu. “Cinta itu memang rumit ya Bu, pak Cokro yang sudah merestui hubungan kita, bahkan tadi dirumah sakit, pak Cokro membahas tentang rencana pernikahan kita, Wulan malah menolak menikah denganku. Dia hanya ingin mempermainkan perasaanku saja selama ini.” Ucap Candra bercerita. “Apa? Pak Cokro merestui hubunganmu dengan nak Wulan?” tanya pak Raharjo tampak kaget mendengar cerita putranya itu. “iya pak..., Kemarin sebelum pak Cokro merestui hubungan kita, Wulan bahkan berkata bahwa dirinya akan memperjuangkan cinta kita, tapi nyatanya setelah mendapat lampu hijau, Wulan malah menolaknya.” Ucap Candra panjang lebar. Pak Raharjo tampak berfikir setelah mendengar cerita Candra, “aneh...,” ucap pak Raharjo singkat. “iya memang aneh pak, hati Wulan juga tidak beraturan.” Ucap Candra tampak emosi. “hmm..., Bukan nak Wulan yang aneh, tapi ayahnya. Bertahun-tahun bapak bekerja dengan pak Cokro, bapak sangat mengerti sifat dan karakter pak Cokro itu, ketika beliau sudah berkata tidak, selamanya beliau akan mengatakan tidak. Tapi jika beliau mengatakan iya, selamanya beliau akan mengatakan hal yang sama. Pemikiran pak Cokro itu tetap dan tidak pernah berubah. Bukankah sebelumnya pak Cokro sangat menentang hubungan kalian? Kalau sekarang berbanding terbalik, tentu ada sesuatu yang tidak beres, maka dari itu nak Wulan yang sudah mengerti sifat ayahnya itu menentang pernikahannya itu.” Ucap pak Raharjo. Candra dan Bu Indah lantas terdiam mendengar penjelasan pak Raharjo itu. “coba kamu tanyakan lagi apa alasannya Wulan menolak ajakan pernikahan ini nak,” ucap Bu Indah. Candra lalu menganggukkan kepalanya. Candra lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Rasanya Candra sangat ingin menghubungi kekasih hatinya itu, tapi pak Raharjo menentangnya. “sudah biarkan nak Wulan tenang terlebih dahulu, kalau nak Wulan memang mencintaimu, dia yang akan menghubungimu dan menjelaskan apa alasannya sampai dia menolak pernikahan ini.” Ucap pak Raharjo. Candra pun lalu mengurungkan niatnya untuk menghubungi kekasih hatinya itu. Candra memasukkan lagi ponselnya kedalam saku celananya.
Candra pun meminta ijin kepada kedua orang tuanya untuk beristirahat dikamarnya. Semenjak berada dirumah sakit, Candra merasa kurang tidur dan badannya sangat lelah. Tapi walau lelah, Candra ikhlas karena saat itu pengorbanan yang dilakukannya untuk menjaga Wulan dan membuat Wulan tetap tenang saat Wulan tidak sadarkan diri.