Terduga atas kematian Darto

1044 Kata
“selamat pagi pak Cokro, maaf kami telah mengganggu waktu pagi anda. Maksud kedatangan kami kemari adalah untuk mengabarkan bahwa Darto, seorang kakak dari tewasnya ketiga orang dikandang sapi milik anda telah ditemukan meninggal dunia tadi malam. Apakah pak Cokro mau memberikan kesaksian di kantor polisi? Karena dari pihak keluarga hal ini berkaitan dengan anda.” Ucap polisi itu. “Tapi ayah saya....,” Belum selesai Wulan berbicara, pak Cokro langsung mengangkat tangannya untuk menyuruh Wulan berhenti berbicara. Pak Cokro ingin Wulan agar tidak gegabah menghadapi masalah ini yang akan merugikan dirinya sendiri. Melihat tangan ayahnya, Wulan seketika langsung berhenti berbicara dan meminta ijin untuk ikut ayahnya kekantor polisi. Selama didalam mobil polisi, pak Cokro tampak tenang didampingi oleh Wulan. Pagi itu Wulan merasa sangat emosi atas tuduhan yang diberikan kepada ayahnya. “Nak..., Simpan dulu kemarahanmu.” Ucap pak Cokro mengingatkan putrinya. Pak Cokro memaklumi sikap Wulan yang tampak emosional dengan kejadian ini dikarenakan walaupun Wulan tampak terlibat dewasa, tapi hatinya akan tetap terluka jika ada orang lain yang mengusik kehidupan ayahnya. Wulan tak menjawab ucapan pak Cokro. Wulan lalu meminum dua teguk air putih didalam botol yang ia bawa dari rumahnya. Wulan ingin agar dirinya bisa menahan emosinya agar tidak merugikan dirinya sendiri seperti apa yang telah dikatakan oleh pak Cokro. Sampailah mereka di kantor polisi untuk memberikan keterangan atas kematian Darto. Wulan menunggu pak Cokro diruang tunggu, sementara pak Cokro berada didalam ruang interogasi. Wulan menunggu sambil menata hatinya agar tak tersulut emosi. Wulan berusaha untuk sabar menghadapi masalah ini seperti yang dikatakan oleh ayahnya. Didalam ruang interogasi, pak Cokro menjawab pertanyaan yang diajukan oleh penyidik sesuai dengan apa yang diketahuinya. Pak Cokro memang tidak tahu menahu mengenai hal ini, hanya saja malam itu Lulun samak menjamin bahwa masalah ini akan segera selesai. Banyak jawaban pak Cokro yang mengatakan bahwa pak Cokro tidak mengetahui kematian Darto. Kira-kira tiga jam lamanya pak Cokro berada didalam ruangan sempit dan gelap itu. Pak Cokro keluar dari sana dan segera menemui Wulan. “ayah.....,” Ucap Wulan sambil memeluk ayahnya. Pak Cokro lalu mengelus kepala putrinya dalam pelukannya. Wulan tampak terharu setelah melihat ayahnya keluar dari ruang interogasi. “ayo kita pulang, suruh Asep untuk menjemput kita disini.” Ucap pak Cokro lembut. “ayah tidak apa-apa kan? Polisi itu tidak melukai ayah kan?” tanya Wulan sambil memeriksa tangan pak Cokro dan tidak ada luka pada tubuh pak Cokro. Pak Cokro lalu tersenyum ketika melihat kekhawatiran putrinya yang dianggapnya berlebihan itu. “Tidak nak..., Ayah tidak terluka sedikit pun.” Ucap pak Cokro santai. Datanglah Ujang untuk menjemput pak Cokro dan juga Wulan. Kali ini Wulan tampak lega karena ayahnya yang tidak terlibat atas kematian Darto. Pak Cokro dan Wulan duduk di kursi belakang sedangkan Wulan duduk sambil menyandarkan kepalanya di d**a pak Cokro. “ayah..., Semoga masalah ini cepat selesai ya...,” ucap Wulan dengan suara yang tampak lega. Wulan sangat berharap agar ketiga orang yang telah tewas di peternakan itu tidak ada yang mempermasalahkan lagi. Bukan hanya pak Cokro yang dimintai keterangan atas tewasnya ketiga pemuda dipeternakan itu, namun pemilik truk juga sampai sekarang masih dimintai keterangan. Sampailah Wulan dan pak Cokro dirumahnya. Bu Sekar telah menunggu mereka dengan perasaan yang gundah. Bu Sekar juga khawatir saat melihat suaminya dibawa kekantor polisi untuk dimintai keterangan. Saat pak Cokro masuk kedalam rumah, Bu Sekar yang melihatnya pun langsung memeluk suaminya. “bapak....,” ucap Bu Sekar diiringi dengan air matanya yang menetes di pipinya. “sudah jangan menangis Bu..., Bapak tidak apa-apa kok Bu...,” ucap pak Cokro sambil menepuk lembut punggung istrinya. “bapak tidak apa-apa kan?” tanya Bu Sekar lalu menyeka air matanya. “Tidak Bu..., Bapak tidak terluka sedikitpun.” Ucap pak Cokro menenangkan sang istri. “Lalu apa yang membuat bapak dibawa dikantor polisi?” tanya Bu Sekar. “Itu karena keluarga korban menyangka dan menduga bahwa bapak yang membunuhnya. Bukankah semalam bapak berada didalam rumah bersama dengan ibu. Bapak tidak mungkin melakukannya, walau rumah mereka berada dikampung sebelah, bapak kan tidak tahu tempat tinggal laki-laki bernama Darto itu.” Ucap pak Cokro menjelaskan. “syukurlah pak, bapak tidak kenapa-kenapa. Jangan sampai kejadian lagi ya pak. Ibu tidak mau melihat bapak dibawa kekantor polisi seperti tadi pagi.” Ucap Bu Sekar. Pak Cokro hanya mengangguk sambil tersenyum. Istri dan juga putrinya sangat memperhatikannya hingga membuat pak Cokro merasa terharu dengan kejadian yang baru saja terjadi. Pak Cokro dan Wulan mandi dikamar mandi masing-masing dan setelah itu mereka akan makan siang bersama. Hari ini keluarga pak Cokro dirumah karena sejak pagi tadi sudah ada masalah yang membuat pak Cokro tidak bisa berangkat ke peternakan begitu pun dengan Wulan dan juga Bu Sekar. Setelah selesai makan siang, Wulan dan pak Cokro duduk kembali diruang tamu. Walau mereka tidak bekerja di peternakan atau di perkebunan, namun Wulan tetap memberi tahu pak Cokro tentang pendapatan bulan ini dirumahnya. Wulan membuka laptopnya untuk memberi tahu pak Cokro tentang grafik di perkebunan yang dikelolanya yang tumbuh sangat pesat disetiap bulannya. “Ayah...,ayah lihat kan, aku berhasil membuat grafiknya naik terus setiap bulannya. Walau sedikit, tapi perubahannya signifikan.” Ucap Wulan membanggakan dirinya sendiri didepan ayahnya. “Iya, itu pasti. Putri ayah ini memang hebat, ini tidak sedikit nak. Ini sangat luar biasa.” Ucap pak Cokro memuji putrinya. Mereka terus berbincang mengenai bisnis-bisnis itu. Wulan sangat bahagia jika sedang membahas masalah bisnis bersama dengan ayahnya karena pak Cokro selalu memberikan petuah kepadanya setiap saat. “ayah..., Ayah tahu, aku pernah berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku adalah perisai ayah, aku yang harus melindungi ayah, dan aku juga kekuatan ayah. Ayah..., Aku tidak mau menjadi bagian dari kelemahan ayah. Aku harus menjadi kekuatan bagi ayah. Ayah mengerti?” ucap Wulan. Mendengar putrinya berbicara seperti itu, pak Cokro pun tersenyum haru. Memang Wulan adalah perisainya, Wulan juga pelindungnya, Wulan juga kekuatannya. “Wulan..., Kau adalah kelemahan ayah nak..., Kalau saja ada orang yang melukaimu, ayah sudah pasti akan terluka. Tapi ayah pastikan bahwa tak akan ada orang yang mampu melukaimu.” Ucap pak Cokro sambil mengusap kepala putrinya. “tidak ayah..., Wulan tidak ingin menjadi kelemahan ayah, Wulan adalah kekuatan ayah.” Ucap Wulan terus mendoktrin ayahnya bahwa dirinya adalah kekuatan ayahnya. Pak Cokro yang mendengar hal itu pun akhirnya tersenyum tanpa menjawab ucapan putrinya itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN