Kehangatan dikeluarga pak Cokro terasa sampai diluar rumah. Para tetangga juga merasa bahwa keluarga pak Cokro terasa sangat harmonis. Pak Cokro, Bu Sekar dan juga Wulan selalu sehat dan Wulan juga sangat pintar mengelola bisnis ayahnya. Bagi tetangga sekitar, keluarga pak Cokro patut dijadikan sebuah contoh oleh para tetangganya. Bagi mereka keluarga pak Cokro adalah paket komplit. Pak Cokro juga tidak pernah berbuat serong kepada istrinya. Seluruh hartanya pun juga dikelola sang istri, tak hanya itu, pak Cokro juga mempunya seorang putri yang cantik dan sangat cerdas. Kecerdasan yang dimiliki Wulan memang diatas rata-rata jika dibandingkan dengan warga kampung yang seumuran dengan Wulan. Tak hanya dikagumi, keluarga pak Cokro juga selalu menjadi pusat perhatian. Banyak ibu-ibu yang terkadang iri dengan kehidupan Bu Sekar. Bagi mereka Bu Sekar adalah wanita yang sangat beruntung karena dipersunting oleh pak Cokro. Namun mereka tidak tahu bahwa setiap saat atau setiap detiknya nyawa Bu Sekar dan Wulan berada dalam ancaman. Jika pak Cokro terlambat memberikan tumbal sebentar saja, maka Bu Sekar atau Wulan yang akan menjadi sasaran sesembahan pak Cokro itu.
Lulun samak itu pernah memerintah pak Cokro satu hari sebelum pernikahan putrinya, pak Cokro harus menemui sesembahannya itu. Pak Cokro juga harus meminta agar dilancarkan segala hajat yang akan dilaksanakan selama tiga hari tiga malam itu. Pak Cokro sangat percaya terhadap Lulun samak itu yang telah membuatnya kaya raya. Sampai saat ini Wulan masih malas mencari tahu tentang apa yang telah diperbuat oleh ayahnya. Wulan masih berpikir bahwa apa yang dilakukan ayahnya itu hanyalah khayalan belaka. Seperti yang telah dikatakan oleh Candra bahwa dirinya tak akan mati dalam waktu dekat, Wulan seakan tidak memikirkan bahwa nyawa Candra berada dalam pengawasan si Lulun samak. Wulan percaya kepada Candra bahwa setan tidak akan bisa membunuhnya selama dirinya meminta perlindungan kepada yang maha kuasa.
Sejauh ini Wulan melihat calon suaminya itu adalah pemuda yang taat beragama dan juga tidak pernah aneh-aneh apalagi mengajak Wulan berhubungan seks sebelum menikah. Bahkan untuk mencium Wulan saja ia selalu meminta ijin terlebih dahulu. Candra sangat ingin menjaga Wulan, gaya berpacaran mereka yang tidak macam-macam itu terkadang membuat Wulan sendiri merasa gemas. Wulan pun juga pernah bertanya tentang hati Candra mengenai akan hal ini, Namum Candra menjawab suatu jawaban yang membuat Wulan sangat terkesan. Waktu itu Candra pernah berkata bahwa dirinya sangat mencintai Wulan, perasaan cinta itu berubah menjadi sebuah rasa yang membuat Candra harus menjaga Wulan dan juga kehormatannya. Di zaman modern ini, jarang ada orang yang mempunyai pemikiran seperti Candra. Kebanyakan dari mereka memilih untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukannya seperti yang terjadi kepada kedua remaja yang telah tewas di kamar mandi umum secara misterius. Sampai saat ini hanya dugaan warga saja yang mengatakan mereka meninggal akibat dempet. Dempet yang mereka maksud adalah, mereka meninggal saat sedang melakukan hubungan seksual terlarang itu karena dikabarkan mereka masih sekolah dan belum menikah.
Saat itu Wulan merasakan perasaan yang bingung. Selama ini walaupun pernah tinggal di Amerika, Wulan tak pernah terbesit sampai melakukan hubungan seksual saat masa berpacaran. Saat itu Wulan seakan tak percaya bahwa kedua remaja itu meninggal akibat dempet. Alat kelamin mereka yang masih menyatu itu membuat mereka meninggal dengan cara seperti itu. Wulan tidak tahu bahwa mereka meninggal bukan karena dempet, melainkan karena dicekik oleh Lulun samak. Selain itu, mereka terkejut ketika melihat Lulun samak itu dengan wajah mengerikan itu muncul didepan mereka. Mereka yang baru saja melakukan hal itu tentunya kaget melihat sosok menyeramkan muncul didepan mereka lalu mencekik mereka.
Terkadang Wulan memikirkan kedua orang tua masing-masing remaja yang telah tewas itu. Bagaimana perasaan mereka. Mereka hidup dikampung yang menjujung tinggi adat ketimuran. Wulan tahu bahwa kedua orang tua remaja itu sudah pasti malu dengan sikap putra putri mereka. Namun, mereka kini sudah meninggal, tidak perlu lagi marahi atau menyalahkan keduanya. Hanya doa terbaik untuk mereka saja agar mereka diampuni dosa-dosanya. “Wulan...,” suara pak Cokro membuyarkan lamunan Wulan. Wulan yang sedari tadi sedang duduk diteras rumahnya itu pun agak sedikit kaget dan menengok kearah ayahnya. “Iya ayah..., Sejak kapan ayah disini?” tanya Wulan. “sejak tadi nak..., Apa yang sedang kau pikirkan nak? Tampaknya kau sedang memikirkan sesuatu.” Ucap pak Cokro yang ingin mengetahui sesuatu yang telah dipikirkan putrinya. “Tidak ayah..., Wulan hanya memikirkan perasaan kedua orang tua remaja yang meninggal di kamar mandi umum itu. Wulan merasa bersalah karena telah membangun kamar mandi umum itu yang ternyata disalahgunakan untuk m***m kedua remaja itu.” Ucap Wulan. Pak Cokro menghela nafasnya, pak Cokro tentunya tak ingin putrinya berpikir demikian. “Nak..., Tujuanmu membuat kamar mandi itu tentunya baik, manusia dibelahan bumi ini tidak semuanya baik. Tentu saja tidak semua orang sejalan dengan pemikiranmu.” Ucap pak Cokro. Pak Cokro mengatakan sesuatu agar Wulan tak menyesali pembangunan kamar mandi yang dilakukannya itu. Pak Cokro ingin membuka pikiran Wulan bahwa banyak orang terbantu atas inisiatif Wulan yang telah membantu kamar mandi umum itu. “ayah tetapi Wulan masih trauma akan hal itu. Coba kalau saja tidak ada kamar mandi itu, kedua orang itu tidak mungkin mati disitu kan ayah.” Ucap Wulan. “apa kau percaya bahwa kehidupan seseorang sudah digariskan?” Tanya pak Cokro balik. ‘iya ayah..., Aku percaya.” Jawab Wulan singkat. “kalau kau percaya, seharusnya kau tidak berkata seperti ini, nak. Misalkan suatu saat kau temukan ayah meninggal didanau, apakah kau juga akan menutup danau itu?” tanya pak Cokro. Wulan pun menggeleng. “kalau kau temukan ayah mati dilaut, apakah kau akan menyalahkan lautan dan kau akan mengubur laut itu?” tanya pak Cokro lagi. Wulan pun menjawabnya dengan menggeleng. Pikiran Wulan kini sudah terbuka bahwa kehidupan semua orang sudah digariskan. Wulan tidak bisa mengendalikan semesta ini. Sampai sini Wulan merasa bahwa dirinya sangat kecil, bahkan uang-uangnya pun tidak akan mungkin bisa membantunya mengubur lautan. Setelah pak Cokro membuka pikiran putrinya, Wulan pun berhenti untuk menyalahkan dirinya sendiri. Wulan kini berpikir bahwa apapun yang dilakukannya dengan niatan dan tujuan yang baik, tentu saja ada hal yang tidak baik akan menyelimutinya. Wulan tentunya tidak mungkin bisa mengendalikan hal itu. Banyak hal yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia termasuk maut seseorang. Setelah pak Cokro dan Wulan berbincang banyak hal, tak terasa hari sudah menjelang malam, mereka pun lalu masuk kedalam rumahnya untuk beristirahat.