Berbincang dengan Lulun samak

1117 Kata
“putriku tidak mau menikah dengan laki-laki miskin itu, lalu apa yang harus aku lakukan, Nyai?” Tanya pak Cokro kepada sosok Lulun samak itu. Malam yang sangat dingin itu pun tak membuat pak Cokro merasa kedinginan. Tubuhnya tidak terasa menggigil walau hembusan angin tak henti-hentinya menerpa memaksa masuk kedalam pori-pori kulitnya. “Kau bersabarlah sedikit, Cokro. Semakin kau mengekangnya, maka akan semakin dia menolaknya.” Ucap Lulun samak itu yang lebih tahu dengan sifat Wulan. “Anak itu memang suka menentangku, mungkin karena aku yang terlalu memanjakannya.” Ucap pak Cokro. “maka berikanlah putrimu itu kepadaku, Cokro. Hahaha...,” ucap Lulun samak itu sambil tertawa. Suaranya menggema sampai memetakkan telinga pak Cokro. “tidak! Bukankah kau sudah mengambil keempat putraku! Apakah kau masih menginginkan lagi putriku!” tanya pak Cokro dengan nada yang agak sedikit meninggi. “Tenang Cokro..., Aku tidak menginginkan apapun, tapi agar kau bertambah lebih kaya, kau bisa pikirkan untuk memberikan putrimu kepadaku, karena seperti yang pernah aku janjikan, putrimu itu adalah penghalangmu untuk menambah pundi-pundi uangmu, putrimu itu adalah pembangkang mu, Cokro.., hahahaha.....,” ucap Lulun samak itu lalu pergi meninggalkan pak Cokro. Setelah kepergian Lulun samak itu, pak Cokro pun lalu pulang kerumahnya. Seakan-akan pak Cokro sama sekali tidak menemukan solusi atas masalah yang telah menimpanya. Putrinya menyukai seseorang, tapi putrinya tidak mau dinikahkan oleh orang tersebut. Itu yang membuat pak Cokro semakin bingung. Setelah sampai dirumah, pak Cokro pun bertemu dengan istrinya yang baru saja bangun tengah malam. “loh..., Ibu kok belum tidur?” tanya pak Cokro heran. “Bapak dari mana saja pak?” tanya Bu Sekar. “Oh..., Bapak baru saja dari kandang kuda, Bu.” Jawab pak Cokro berbohong. “Memangnya ada apa di kandang kuda pak?” tanya Bu Sekar menghardik. “Tidak apa-apa, hanya saja ada suara berisik disana, bapak langsung kesana, takutnya ada maling kan Bu...,” ucap pak Cokro beralasan. Pak Cokro selalu menutupi kebohongannya dengan kebohongan lainnya, setiap malam apabila pak Cokro kepergok oleh sang istri, setiap ditanya oleh sang istri, beliau selalu saja berbohong. Setiap waktu malam pak Cokro yang hendak menemui Lulun samak itu selalu dirahasiakannya. Bu Sekar yang tidak terlibat dengan pemujaannya terhadap sosok Lulun samak itu pun juga hidupnya berada dalam incaran si Lulun samak itu. Setiap pak Cokro belum bisa memberikan tumbalnya, kalau tidak Wulan, Bu Sekar akan mengalami sakit. Tapi untuk akhir-akhir ini Wulan yang selalu diserang oleh sosok Lulun samak itu dikarenakan Wulan adalah kelemahan pak Cokro. Apapun yang terjadi kepada Wulan, pak Cokro akan bertindak dengan cepat, contohnya saja saat Wulan sakit akibat dicekik oleh sosok Lulun samak itu, pak Cokro langsung memberikan tumbal kepada sosok Lulun samak itu tak lama kemudian. Bu Sekar dan Wulan sebenarnya selalu hidup dalam ancaman, tetapi mereka tidak mengetahui akan hal itu, kini Wulan yang sudah mengetahui sedikit demi sedikit bahwa ayahnya adalah seorang pemuja, tapi sampai sekarang Wulan belum mengetahui untuk apa ayahnya itu melakukan pemujaan selain Tuhan. Wulan sampai saat ini pun belum mengetahui untuk apa sosok itu juga menginginkan Candra untuk dijadikan tumbal selanjutnya. Sudah semalam suntuk Wulan memikirkan hubungannya dengan Candra, walau hubungan mereka tidak terjalin lama, tapi Wulan sudah sangat mantap jika harus menikah dengan Candra. Wulan pun juga memutuskan akan menikah dengan Candra. Pagi itu, Wulan pun bergegas untuk kerumah Candra dengan menaiki kudanya. Setelah sarapan dengan keluarganya dan kedua orang tuanya pun juga sudah berangkat bekerja masing-masing, Wulan bergegas kerumah Candra dan membawa beberapa makanan untuk keluarga Candra dengan menaiki kudanya. Sampai lah Wulan dirumah Candra, “selamat pagi Bu...,” sapa Wulan ramah kepada ibu Candra, Bu Indah. “eh nak Wulan..., Pagi-pagi sekali sudah berkunjung, ayo mari masuk nak..., Ibu panggilkan Candra sebentar.” Ucap Bu Indah kepada Wulan. “Bu..., Ini bawa masuk sekalian, untuk sarapan ibu, bapak dan juga Candra.” Ucap Wulan sambil menyodorkan satu kantong plastik berisi nasi yang ia bawa dari rumah. “Nak Wulan ini selalu saja repot, kalau memang mau main kemari ya main saja nak, tidak perlu membawa banyak begini.” Ucap Bu Indah dengan senyumnya. “Tidak apa-apa Bu..., Ini rezeki buat ibu.” Jawab Wulan. Wulan pun lalu bertemu dengan Candra dengan maksud dan tujuannya datang kerumah Candra. Wulan sudah memutuskan dirinya akan menerima Candra sebagai calon suaminya. Tentunya Candra sangat senang ketika Wulan mengungkapkan keinginannya yang mau menikah dengan laki-laki miskin itu. “Aku mau menjadi istrimu, Candra..., Kau boleh melamarmu mulai dari sekarang.” Ucap Wulan mantap. Candra pun menghela nafasnya, “aku baru saja akan menyiapkan usaha agar kita berdua bisa menikah, apa kau mau menikah dengan laki-laki pengangguran seperti diriku.” Ucap Candra. “Ya..., Kau boleh mempersiapkan usahamu terlebih dahulu, baru setelah itu kau boleh datang kerumahku. Aku pamit dulu ya...,” ucap Wulan sambil menepuk bahu calon suaminya itu. Candra pun mengangguk dan mengantar Wulan sampai kedepan rumahnya. Wulan pun juga berpamitan dengan kedua orang tua Candra sebelum Wulan pulang kerumahnya. Setelah Wulan pulang, pagi itu keluarga pak Raharjo sarapan enak lagi. Pak Raharjo pun keruang tamu untuk kumpul bersama istri dan juga putranya. “ada apa nak? Kenapa non Wulan secepat itu pergi?” tanya Bu Indah. “Bu..., Mulai besok Candra harus mulai membuka usaha, Wulan sudah mau menikah dengan Candra, Wulan pun menerima keadaan kita yang memang hidup dibawah garis kemiskinan ini.” Ucap Candra. Kedua orang tua Candra tampak senang mendengar kabar bahwa Wulan sudah mau menjadi menantunya.salah satunya mungkin karena Wulan adalah orang kaya, tapi bukan itu faktor utama pembawa kebahagiaan keluarga Candra. Karena Wulan sudah sangat membantu keluarga mereka mulai dari perhatiannya kepada pak Raharjo, kepada Candra juga demikian. Hal itulah yang membuat Bu Indah dan pak Raharjo menyetujui jika Candra mau melamar Wulan sebagai istrinya. Setelah selesai sarapan, pak Raharjo pun langsung buru-buru kekamarnya untuk mengambil tabungannya yang akan diberikannya kepada Candra. “Ini sedikit tabungan bapak, nak..., Kau pergunakanlah dengan baik. Mengingat non Wulan bukan orang yang lahir sekelas dengan kita, kau harus memperhatikan kelasnya. Non Wulan sudah pasti menyukai barang-barang mahal bukan.” Ucap pak Raharjo. “pak..., Wulan bukan wanita seperti itu, walaupun Wulan anak orang terkaya didesa ini, tapi Wulan adalah orang sederhana.” Ucap Candra. “kalau memang begitu, kau hargailah kedua orang tuanya yang selalu memberikan kebagaiaan kepada non Wulan. Bapak masih punya sebidang tanah untuk kau jual dan kau tukar sebagai mahar untuk non Wulan nanti, memang tidak seberapa nilainya dibanding dengan perkebunan dan juga peternakan milik kedua orang tua non Wulan, tapi hanya itu yang bapak punya.” Ucap pak Raharjo kepada putranya. Candra pun hanya mengangguk, Candra mulai membuka pikirannya bahwa Wulan adalah anak orang terkaya didesanya, tentu saja Candra harus modal lebih banyak lagi jika ingin menikah dengan Wulan untuk menghargai kedua orang tuanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN