Melarang Candra mengaji dirumahnya

1067 Kata
Ucapan Lulun samak itu membuat pak Cokro semakin berfikir tentang siapa yang akan menjadi tumbal selanjutnya. Pak Cokro tentunya tak ingin mati secepat ini, putrinya pun belum hamil dan pak Cokro ingin sekali mempunyai cucu. Pak Cokro harus memberi umpan mulai dari sekarang untuk persiapan calon-calon tumbal lainnya. Untuk menyelamatkan diri, tentu saja pak Cokro harus menukar nyawa seseorang untuk memperpanjang usianya. Pada saatnya tiba nanti, Lulun samak pasti akan meminta tumbal kepada pak Cokro. Pak Cokro tentu akan melindungi keluarganya juga, pak Cokro tak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi ketika pak Cokro telat memberikan tumbal, Lulun samak itu langsung menyerang putrinya. Lulun samak itu protes kepada pak Cokro karena setiap Candra ada dirumah, ia selalu membaca ayat-ayat suci dan beribadah didalam kamarnya. Tentu saja hal itu membuat Lulun samak itu tak nyaman saat sedang mengawasi keluarga pak Cokro. “aku ini juga tinggal dirumahmu, Cokro! Saat menantumu itu membaca ayat suci, aku selalu kepanasan dan tak bisa masuk kedalam rumahmu lagi.” Ucap Lulun samak itu. “lalu bagaimana caraku melarangnya melakukan aktivitas itu?” tanya pak Cokro. “kau pikirkan saja sendiri bagaimana caranya, Cokro! Aku tak ingin lagi mendengar ia membaca kitab suci itu!” ucap Lulun samak itu membentak. Suaranya menggema sangat menakutkan jika ada orang yang mendengar selain pak Cokro, tentu saja orang itu akan pingsan bahkan meninggal. Pak Cokro memikirkan cara bagaimana caranya menegur Candra yang sedang membaca kitab suci itu. Pak Cokro tak punya nyali untuk melarang hal itu. Sore itu, saat Wulan sedang berhias dikamarnya, tiba-tiba pak Cokro menghampiri Candra yang sedang duduk dihalaman rumah. “Sendirian saja Candra...,” sapa pak Cokro yang langsung duduk disebelah Candra. Candra belum pernah duduk dekat dengan pak Cokro seperti itu sebelumnya. Awalnya memang pak Cokro selalu memberi jarak antara dirinya dan juga Candra. “iya pak...., Wulan sedang berada dikamarnya, mungkin sedang berhias.” Jawab Candra. “semenjak menikah, dia memang sekarang bapak lihat selalu rajin berhias, apa kau yang menyuruhnya?” tanya pak Cokro. “tidak pak..., Tidak sama sekali, saya tak pernah menyuruh Wulan harus berhias atau harus berhias. Saya selalu membebaskan Wulan asalkan sesuai dengan fitrahnya.” Ucap Candra. “Bagus...., Candra...., Ada yang ingin bapak bicarakan kepadamu, nak. Setiap hari kau selalu membaca kitab suci Alquran didalam rumah, jujur saja bapak tidak pernah mendengar ada orang mengaji dirumah bapak. Hal itu bagus, tapi alangkah bagusnya jika kau membacanya di masjid, pada tempatnya.” Ucap pak Cokro sedikit menekan. Candra pun tertunduk dan merasa bersalah karena sudah membuat ayah mertuanya itu merasa terganggu ketika dirinya sedang mengaji. “Candra..., Kau mengerti?” ucap pak Cokro. Candra hanya mengangguk pelan seakan berat jika tidak mengaji karena itu merupakan kebiasaannya. “baguslah kalau kau mengerti!” ucap pak Cokro lalu langsung meninggalkan Candra yang sedang termenung di halaman depan rumah pak Cokro. Namun bagaimanapun juga, Candra tinggal dirumah pak Cokro dan harus menghormati keinginan pak Cokro itu. Kalau Candra tidak boleh mengaji didalam rumah pak Cokro, Candra bisa mengaji dirumahnya sebelum berangkat bekerja. Bisa juga Candra akan memelankan suaranya agar tidak terdengar dan mengganggu pak Cokro ketika sedang beristirahat. Candra lalu masuk kedalam kamarnya dan melihat istrinya sore itu sangat cantik. Candra tak henti-hentinya menatap wajah cantik istrinya. “hmm....., Hari ini kau cantik sekali.” Ucap Candra memuji istrinya. Wulan hanya tersenyum manis. Candra pun duduk disampingnya sambil menunggu magrib tiba. Sambil menunggu magrib, Candra pun bercanda bersama dengan istrinya. Candra tak ingin mengadukan hal yang baru saja dikeluhkan pak Cokro kepada istrinya, Candra tak ingin ada perdebatan atau perselisihan antara pak Cokro dan putrinya. “lebih baik aku merahasiakan ini dari Wulan.” Ucap Candra dalam hatinya. Setelah magrib, biasanya Candra membaca kitab suci, namun malam ini Candra tak melakukannya. Istrinya tampak kaget dengan hal itu karena mengaji sesudah magrib sudah menjadi kebiasaan bagi Candra. “tumben tidak mengaji, mas?” tanya Wulan. “iya Wulan, mas agak lelah hari ini, mau istirahat saja.” Ucap Candra mencari alasan. “Hmmmm..., Biasanya walau selelah apapun mas Candra selalu membacanya, kenapa malam ini tidak?” tanya Wulan menghardiknya. Wulan merasa ada yang aneh pada diri Candra karena tak biasanya melakukan hal itu. “tidak apa-apa sayang, besok saja sehabis subuh ya,” ucap Candra. Wulan tak menimpali lagu ucapan Candra, namun Wulan masih menatap mata suaminya itu dengan tajam. Candra pun menurunkan pasangannya agar tak saling menatap mata istrinya. “mata mas Candra seperti berada dalam tekanan, ada apa sebenarnya?” tanya Wulan dalam hatinya. Wulan tak ingin membahasnya lagi mengenai Candra yang tidak lagi mengaji dikamarnya. Sebenarnya suara mengaji Candra sama sekali tak terdengar sampai keluar kamar, namun saat pak Cokro menegurnya, itu artinya pak Cokro mendengar suara mengaji Candra sehingga merasa terganggu. Padahal pak Cokro tahu semuanya karena diberi tahu oleh Lulun samak. Apa yang dikatakan oleh Lulun samak itu selalu pak Cokro taati termasuk menegur Candra ketika sedang membaca Alquran. Candra pun mensiasati mulai besok setiap magrib, ia akan shalat di mushola yang tak jauh dari rumahnya, jaraknya kira-kira seratus meter dari rumah pak Cokro. Saat di mushola, Candra bisa membaca Alquran dengan tenang tanpa merasa bersalah kepada pak Cokro. Biasanya ketika dirumah pak Cokro, Candra selalu membaca Alquran setiap subuh dan juga setelah magrib menjelang isya. Namun sekarang Candra akan melakukan shalat magrib dan isya di mushola saja agar tidak menggangu pak Cokro. Pak Cokro tampak senang dan merasa menang karena Candra tak melawannya saat dilarang membaca Alquran didalam rumahnya. Dengan begitu Lulun samak tak lagi memarahinya dan masalah akan selesai. Sebenarnya kehadiran Candra didalam rumah itu membawa kebaikan bagi pak Cokro. Saat Candra membaca Alquran, sudah pasti Lulun samak itu tak berani memasuki rumah pak Cokro dan akan merasa kepanasan. Pak Cokro juga bisa terhindar dari kematiannya, namun pak Cokro tak mengerti akan hal itu. Ia malah melarang Candra mengaji dan malah membiarkan Lulun samak itu tetap mengawasi keluarganya. Semua orang yang tinggal dirumah pak Cokro sangat berpotensi untuk dijadikan tumbal Lulun samak itu. Lulun samak akan mengawasi setiap gerakan orang yang tinggal dirumah pak Cokro. Termasuk juga dengan pembantu pak Cokro yang tak lengah dari pengawasannya. Pernah suatu ketika ada pembantu yang ingin mencuri perhiasan Bu Sekar, namun Lulun samak itulah yang menghentikannya. Walau bagaimanapun, harta yang saat ini dimiliki oleh pak Cokro adalah harta kepemilikan Lulun samak itu. Tak sembarang orang boleh memiliki harta pak Cokro atau lulun samak akan menukar harta yang dicuri dengan nyawa orang yang akan mencurinya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN