Candra melihat Lulun Samak

1083 Kata
Malam pun tiba, Wulan yang dari tadi mengawasi ayahnya dari kamarnya itu pun menunggu keberangkatan ayahnya. Pak Cokro mengendap-endap keluar dari rumahnya. Malam itu pak Cokro hanya membawa senter dan juga lilin saja, tanpa membawa kudanya. Malam itu tampak sepi mencekam, tapi suasana itu tidak membuat Wulan merasa takut karena sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan Candra dipertengahan jalan nanti. Wulan mulai membuntuti ayahnya itu. Pak Cokro pun merasa bahwa ada orang yang mengikutinya, beberapa kali pak Cokro menengok kearah belakang tapi tak tampak ada siapapun disana. Wulan berhasil menyembunyikan diri ketika ayahnya itu menengok kearah belakang. Pak Cokro lalu berjalan semakin cepat sedangkan Wulan berhenti dipertengahan jalan untuk menunggu Candra disana. Malam mencekam itu membuat bulu-bulu halus dibadan Wulan berdiri walau Wulan tengah memakai jaket tebal dan memakai celana panjang. Tak menunggu lama, datanglah Candra, “maafkan aku, aku terlambat.” Bisik Candra. Wulan pun mengangguk dan mengajak Candra untuk segera berjalan kearah danau. Malam itu sangat sepi mencekam, apalagi mereka hidup disebuah desa dimana pukul sepuluh malam sudah tidak ada orang berkeliaran dijalan. Sampailah Wulan dan Candra dipepohonan tak jauh dari danau itu. “kita tunggu saja disini, disana ada cahaya putih, disana ada ayahku.” Bisik Wulan. Candra jelalatan mencari keberadaan ayah Wulan ditengah kegelapan malam itu. Candra terus mengamati tingkah laku ayah Wulan. Pak Cokro duduk ditepian danau, menyalakan lilin dan juga mulai membaca mantra dengan mata terpejam. Tak lama setelah itu, sosok Lulun samak itu pun muncul persisi dihadapan pak Cokro. Seketika Candra yang melihat sosok itu samar-samar merasa merinding disekujur tubuhnya. Melihat sosok sangat menakutkan yang belum pernah dilihatnya seumur hidupnya membuatnya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin. “Candra..., Kau tidak apa-apa?” tanya Wulan khawatir. Wulan melihat wajah Candra tampak pucat tidak seperti biasanya. “kita pulang saja, aku akan mengantarmu.” Ucap Candra menggandeng tangan kekasihnya. Agak sedikit menyeret, Candra mengajak Wulan menjauh dari tempat mereka mengintip pak Cokro berhubungan dengan mahkluk gaib itu. Candra berjalan tampak cepat sekali sehingga Wulan sedikit susah mengikuti langkah kaki Candra. Candra lalu berlari sambil menggandeng kekasihnya agar bisa segera sampai dirumahnya. “Candra..., Pelan-pelan sedikit, kau jalan sangat cepat.” Ucap Wulan. Candra tak menghiraukan perkataan kekasihnya itu. Wajahnya semakin pucat dan mengeluarkan keringat dingin disekujur tubuhnya. Malam itu sangat sepi mencekam membuat Candra semakin ketakutan. Seketika Candra teringat ucapan kekasihnya itu. Sampailah mereka dirumah Wulan. Didepan gerbang itu Candra berkata, “masuklah segera kedalam kamarmu!” ucap Candra menyuruh Wulan. “tapi...,” Candra menyuruh Wulan menutup mulutnya. “sudah! Masuklah!” ucap Candra dengan tubuhnya yang tampak bergetar. Wulan pun mengikuti ajakan kekasihnya itu. Setelah memastikan Wulan sudah masuk kedalam rumahnya, Candra langsung berlari menuju rumahnya. Candra tampak ketakutan, panik dan semuanya perasaan bercampur aduk menjadi satu. Candra terus berlari menuju kerumahnya dan langsung memasuki rumahnya. Sampai didalam rumah, Candra pun langsung masuk kekamarnya menyelimuti seluruh tubuhnya. Walau tubuhnya berkeringat, Candra tampak menggigil. Malam itu kedua orang tuanya sudah tertidur lelap. Candra menyelimuti seluruh tubuhnya bahkan sampai kekepalanya. Walau sudah memejamkan matanya, Candra tetap teringat dengan sosok Lulun samak sesembahan ayah Wulan itu. Candra tampak ketakutan, bahkan yang biasanya cabdra tidur dengan lampu gelap, malam itu candra menyalakan semua lampu dirumahnya. Candra tak bisa tidur malam itu karena teringat sosok menyeramkan yang baru saja ditemuinya. Candra tak berfikir lagi, hanya ketakutan yang menyelimuti pikirannya. Sementara Wulan masuk kedalam kamarnya dan juga melakukan hal yang sama seperti Candra, ini ketiga kalinya Wulan melihat sosok Lulun samak itu, tapi Wulan tetap merasa ketakutan setelah melihatnya. Malam itu adalah malam mencekam antara Candra dan juga Wulan dirumah mereka masing-masing. Menjelang fajar, Candra berhasil menidurkan matanya. Keesokan paginya, kedua orang tua Candra tampak heran karena melihat seluruh rumahnya masih dengan keadaan terang dengan lampu yang menyala semuanya. “apa ibu tidak mematikan lampu semalam?” tanya pak Raharjo. “Perasaan ibu mematikan semuanya pak, apa ibu lupa ya pak?” jawab Bu Indah yang tampak bingung. “baik..., Sudah tidak usah dibahas lagi, ibu bangunkan Candra dulu untuk sholat subuh berjamaah ya Bu.” Ucap pak Raharjo yang langsung berjalan menuju kekamar mandi untuk berwudhu. Bu Indah pun masuk kedalam kamar Candra, Bu Indah tampak heran karena kamar putranya itu masih menyala terang. Bu Indah membuang keganjilan dalam hatinya dan mulai membangunkan putranya. “Candra..., Bangun nak, ayo kita sholat subuh dulu, bapakmu audah menunggumu.” Ucap Bu Indah. Tak ada sedikit pun jawaban dari Candra, “tumben anak ini tidak bangun, biasanya dia bangun terlebih dahulu sebelum kami bangun.” Ucap Bu Indah dalam hatinya. Bu Indah pun berjalan mendekat kearah putranya dan memegang lengan putranya. Bu Indah merasa suhu tubuh putranya itu panas sekali. Dengan sigap Bu Indah langsung menyentuh kening putranya itu. “pak..., Bapak..., Candra badannya sangat panas sekali!” Bu Indah berteriak sangat kencang kaget melihat putranya sangat panas. Pak Raharjo yang baru saja keluar dari kamar mandi pun langsung bergegas menuju kamar Candra dan memeriksa keadaannya. Tubuh Candra sangat panas pagi itu. “bu..., Cepat ambilkan air untuk mengompresnya.” Ucap pak Cokro kepada suaminya. Bu Indah pun langsung mengambil air dan kain untuk mengompres putranya. “besok pagi kita bawa dia ke puskesmas saja ya Bu.” Ucap pak Raharjo. Bu Indah mengangguk dan mengompres putranya itu. “kenapa putra kita seperti ini ya pak?” tanya Bu Indah lalu meneteskan air matanya. Pukul tujuh pagi, pak Raharjo dan Bu Indah pun membawa Candra ke puskesmas agar Candra bisa diobati walau hanya dengan pengobatan di puskesmas saja. Sampai dipertengahan jalan, pak Raharjo bertemu dengan Asep, supir pribadi keluarga pak Cokro. “Loh..., Pagi-pagi begini mau kemana pak Raharjo?” tanya Asep ramah. “ini kang..., Kita mau bawa Candra ke puskesmas.” Ucap pak Raharjo. “Loh..., Candra sakit apa? Mau naik apa?” tanya Asep yang tampak kaget, sepertinya Candra sehat-sehat saja. “kita jalan saja kang, nanti sampai diujung kita naik angkutan umum saja.” Ucap pak Raharjo. “saya antar saja pak! Ayok, masukkan Candra kedalam mobil.” Ucap Asep tanpa berpikir panjang. Mau tak mau, pak Raharjo pun langsung memasukkan Candra kedalam mobil milik pak Cokro itu. Asep pun mengantar Candra dan keluarga ke puskesmas desa. Candra melihat dikaca mobil bahwa Candra tampak pucat. “kemarin saya melihat Candra baik-baik saja lho pak.” Ucap Asep membuka percakapan. “iya kang..., Semalam juga dia baik-baik saja, tidak mengeluh sakit. Subuh tadi baru ketahuan seperti ini. Sebenarnya sakit apa ya kang?” ucap pak Raharjo cemas. “kita tanya mantri saja nanti ya pak.” Ucap Asep menenangkan pak Raharjo. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN