lancarnya acara lomba

1057 Kata
Pagi ini, semua orang sudah berkumpul di area danau. Bukan hanya peserta, namun seluruh warga juga banyak yang ingin menonton. Pak Cokro memberi aba-aba bahwa lomba itu akan dilakukan dari pagi pukul sembilan sampai pukul dua belas siang saja. Setelah itu mereka boleh beristirahat makan siang di pinggiran danau. Bukan hanya para peserta, para penonton juga mendapat makanan ringan yang disediakan oleh Wulan. Antusias warga untuk mengikuti dan menonton acara lomba itu pun membuat semangat bagi pak Cokro yang melaksanakan lomba. Sebelum acara lomba dimulai, pak Cokro pun memberikan pelampung untuk para peserta agar mereka aman dan mengurangi kecelakaan jika tiba-tiba mereka tenggelam. “Kenapa harus pakai pelampung pak?” tanya salah seorang peserta. “ya biar aman Aa, saya tidak mau jika ada warga saya yang celaka karena mengikuti lomba ini. Kita kan tidak tahu nasib kita, paling tidak saya sudah berusaha untuk melindungi dan bertanggung jawab atas keselamatan kalian.” Ucap pak Cokro tegas. Para warga pun merasa terharu mendengar jawaban pak Cokro yang selalu mementingkan keselamatan warga. Tentunya dengan mendengar hal itu, warga tidak akan ada yang percaya jika pak Cokro adalah seorang pemuja dan mempunyai tujuan lain atas lomba yang direncanakannya. Semua peserta sudah berada diatas perahu mereka dengan memakai pelampung sesuai dengan arahan pak Cokro. “ingat ya, waktunya hanya tiga jam saja. Kalau ada yang lebih dari itu, walau dapat ikan banyak akan saya diskualifikasi.” Ucap pak Cokro memberi arahan. Akhirnya mereka pun melajukan perahu mereka untuk mencari ikan. Pak Cokro menyuruh mereka untuk mencari ikan sebanyak-banyaknya agar bisa memenangkan hadiahnya. Saat mereka mulai berjalan, pak Cokro tersenyum namun jantungnya berdetak sangat kencang. Pak Cokro menghilangkan pikiran buruk dengan cara berbincang-bincang dengan putrinya. “Kira-kira siapa nanti yang menang ya ayah?” tanya Wulan. “hmmm...., Kita lihat saja nanti, sayangnya suamimu tidak mau mengikuti turnamen ini.” Ucap pak Cokro tampak kecewa. “maafkan Wulan ayah, Wulan tidak bisa membujuk mas Candra untuk mengikuti lomba ini.” Ucap Wulan. “hmm..., Tidak masalah nak, buktinya banyak juga yang ikut sampai mengantri. Lihatlah nak, semua orang berkumpul disini. Danau yang akhir-akhir ini menjadi sepi, sekarang berubah menjadi ramai kembali.” Ucap pak Cokro. Wulan pun melihat kearah sekitar yang tampak ramai. Para peserta lomba pencari ikan itu pun segera menyusuri air danau sampai tidak terlihat lagi. Mengingat waktu hanya tiga jam membuat mereka berupaya harus menangkap ikan setiap detiknya. Waktu begitu cepat berlalu. Mereka para warga juga masih menunggu para peserta pencari ikan itu untuk melihat siapa orang yang menang. Saat pak Cokro sedang melepas pandangannya ke arah air danau, tiba-tiba pak Cokro mendengar suatu bisikan, “Cokro.. , idemu itu sangat bagus dan memudahkan aku untuk mengambil jiwa salah satu dari mereka. Tapi aku tak akan mengambilnya hari ini, mungkin Minggu depan aku yang akan mengambil jiwa salah satu dari mereka. Kau siapkan saja orang untuk mencari mereka.” Bisiknya. Pak Cokro tampak lega karena hari pertama lomba yang diadakan dirinya akan berjalan dengan lancar. Pak Cokro pun tersenyum sendiri setelah mendengar bisikan itu didalam telinganya. “ayah..., Ayah...,” ucap Wulan membuyarkan lamunan ayahnya. “Apa nak?” tanya pak Cokro. “apa yang ayah pikirkan? Kenapa ayah tersenyum seperti itu?” tanya Wulan pelan. “tidak apa-apa nak..., Ayah hanya membayangkan senyum orang yang nanti menang juara pertama yang akan menerima hadiah uang itu.” Ucap pak Cokro. Wulan sama sekali tak mencurigai ayahnya yang ternyata mempunyai maksud lain selain hanya ingin meramaikan tepian danau seperti dulu. “Ayah..., Sambil kita menunggu para peserta, kita berjalan ke arah kamar mandi saja. Wulan juga sudah lama tak melihat keadaannya.” Ucap Wulan mengajak ayahnya. Pak Cokro pun setuju dan berjalan dibelakang putrinya untuk melihat kamar mandi yang Wulan bangun beberapa tahun yang lalu. Kamar mandi itu tampak tak terawat seperti dulu ketika orang-orang memakainya. Tampak singup dan sepi membuat Wulan sedih dan ingin membongkarnya saja. “menurut ayah..., Apakah tempat ini juga digunakan untuk m***m?” tanya Wulan. “Menurut ayah tidak nak, semenjak kematian dua remaja misterius itu pun sebenarnya tidak ada lagi orang yang berani kekamar mandi ini malam-malam.” Ucap pak Cokro. “Kalau begitu, menurut ayah, lebih baik Wulan bongkar saja kamar mandi ini kan?” tanya Wulan. “Hm...., Lebih baik tidak perlu nak, karena ayah lihat juga banyak pekerja di perkebunan milik kita sering mampir dikamar mandi ini. Setidaknya kamar mandi ini masih bermanfaat bagi mereka.” Ucap pak Cokro. Wulan pun mengajak ayahnya untuk kembali duduk di tepi danau lagi sambil menunggu para peserta datang. Jam menunjukkan pukul sebelas siang, itu artinya satu jam lagi mereka akan datang dan akan segera ditentukan siapa saja yang nantinya akan menang. Rencananya, ikan-ikan yang mereka dapat akan disumbangkan oleh pak Cokro dan sisanya akan pak Cokro bakar ditepi danau setelah magrib nanti. “Kita lihat saja nak, berapa ikan yang mereka dapat, kita akan sumbangkan kepada warga sedangkan sisanya ayah akan adakan pesta bakar ikan di tepi danau ini.” Ucap pak Cokro kepada putrinya. “iya ayah...., Ayah ini selalu mempunyai cara untuk membantu makan para warga sekitar. Wulan juga tahu bahwa ayah tak mungkin membawa pulang ikan sebanyak itu kan.” Ucap Wulan diiringi dengan senyumnya. Detik demi detik, jam pun mulai berlaku mendekati ke arah jarum jam dua belas siang. Pak Cokro memang membatasi agar para warga yang menontonnya tak jenuh karena terlalu lama menunggu mereka. Beberapa kali Wulan melihat jam ditangannya. Terakhir Wulan melihat ke arah jarum jam menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh menit, itu artinya tiga puluh menit lagi mereka akan segera datang. Tampak terlihat sebuah perahu dari kejauhan yang mulai mendekat ke arah tepi danau tempat pak Cokro dan Wulan duduk disana. “ayah...., Lihat itu peserta pertama sudah datang.” Ucap Wulan sambil menunjuk ke arah satu perahu itu. Disusul dengan perahu lainnya di belakang perahu itu. Mereka sudah berkumpul saat jam menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh lima menit. Pak Cokro dan para panitia membantu mengikat perahu itu di pohon-pohon yang tak jauh dari danau itu. Pak Cokro melihat banyak ikan yang mereka dapat di perahu-perahu mereka. Pak Cokro dan para panitia lainnya mulai membantu menghitung ikan-ikan yang telah didapatkan mereka. Sambil menunggu ikan dihitung dan disaksikan para warga, Wulan membagikan kotak demi kotak makanan untuk para peserta yang mengikuti lomba itu. Mereka semua pulang dengan selamat dan tak ada insiden apapun yang mereka temui.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN