Acara empat puluh hari kematian pak Raharjo hari ini telah selesai dilaksanakan. Bu Indah tetap akan tinggal dirumahnya sendiri setelah acara empat puluh hari itu selesai. Bu Indah tak mau menjadi beban keluarga pak Cokro jika beliau tinggal dirumah pak Cokro. Bu Indah juga tidak enak atas omongan warga yang telah memanfaatkan putranya sendiri agar dirinya hidup enak. “Ibu yakin mau tinggal dirumah sendiri?” Tanya Candra meyakinkan ibunya. Sesungguhnya Candra menyayangkan keputusan ibunya itu, toh juga Bu Sekar dan pak Cokro sebagai pemilik rumah utama tak keberatan walau Bu Indah tinggal dirumah super mewah itu. Apalagi keluarga pak Cokro sudah terbiasa memberi makan puluhan orang, tentunya kalau hanya Bu Indah tak akan menjadi masalah baginya. “apa ini Bu tidak takut? Ibu akan tinggal sendirian disana lho Bu...,” ucap Candra. “Candra..., Dengarkan ibu. Sejak ibu menjadi janda, ibu sudah tidak takut lagi dengan apapun, bahkan ibu juga tidak takut dengan yang namanya kematian. Kalau ibu hari ini mati, ibu sudah sangat siap.” Ucap Bu Indah dengan tegas. “apa yang telah ibu katakan itu? Ibu tidak boleh bicara seperti itu. Ibu tetap harus menjalani kehidupan ini, walau tanpa bapak, Bu!” ucap Candra yang sedikit kecewa dengan ucapan ibunya itu. “Kau tidak mengerti perasaan ibu, Candra! Kau belum pernah merasakan ditinggal oleh belahan jiwamu!” ucap Bu Indah sembari membereskan pakaiannya.
Pak Cokro dan Bu Indah tak bisa lagi menahan kepergian Bu Indah. Keputusan Bu Indah untuk tetap tinggal dirumahnya sendiri sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. “sudah Candra dan kamu, Wulan. Kau antar ibumu kerumahnya, kalau bisa malam ini kau tinggalkan disana. Siapa tahu nanti malam ibumu membutuhkanmu. Ibumu belum terbiasa tanpa ayahmu.” Ucap pak Cokro. Pak Cokro tak akan memaksa Bu Indah untuk tinggal dirumahnya. Bu Indah juga mempunyai keputusan yang harus ia hormati. “Wulan..., Ayah perlu bicara kepadamu sebentar, ayah tunggu dikamar ya.” Ucap pak Cokro yang belalu begitu saja. Pak Cokro yang sama sekali tidak keberatan jika Bu Indah tinggal dirumahnya sebenarnya menyayangkan keputusan Bu Indah yang memilih untuk tinggal sendiri dirumahnya.
Wulan mengikuti langkah ayahnya kekamar, entah apa yang ingin ayahnya bicarakan sehingga mengajaknya bicara dikamar ayahnya. “Ada apa ayah?” tanya Wulan. “Wulan..., Kau boleh tinggal dirumah mertuamu itu. Kasihan jika beliau harus tinggal sendirian tanpa orang yang menemani.” Ucap pak Cokro dengan mata yang berkaca-kaca. Sebenarnya pak Cokro tidak ingin putrinya meninggalkan rumah itu, namun keadaan yang membuat Wulan harus meninggalkan rumahnya dan harus menemani Bu Indah tinggal dirumahnya. “ayah.....,” ucap Wulan sambil memeluk ayahnya. Wulan tak pernah melihat ayahnya sesedih ini. Wulan juga belum pernah melihat ayahnya berkaca-kaca. “Wulan..., Sudah saatnya kau menurut pada perintah suamimu, nak.” Ucap pak Cokro mengelus kepala Wulan. “Ayah..., Aku akan tetap tinggal disini bersama dengan ayah.” Ucap Wulan juga meneteskan air mata. “Wulan..., Kau boleh mendiskusikan hal ini kepada suamimu. Ayah juga tidak bisa memaksa Bu Indah untuk tetap tinggal dirumah kita ini.” Ucap pak Cokro. Wulan masih dalam pelukan ayahnya dan merasakan kesedihan yang teramat dalam. Walau jarak antara rumah Wulan dan Candra tidak jauh, namun nantinya akan terasa berbeda jika Wulan tidak lagi tinggal dirumahnya.
“Mas..., Malam ini kita temani ibu tidur dirumah ya.” Ucap Wulan setelah Wulan keluar dari kamar ayahnya. Perasaan pak Cokro ada sedih, terharu, dicampur dengan bangga. Pak Cokro sedih karena putrinya akan meninggalkannya, terharu karena putrinya kini sudah bisa mengambil keputusan, dan bangga karena pak Cokro merasa sudah sukses mendidik Wulan menjadi wanita terhormat yang paruh kepada suaminya. Candra pun berpamitan kepada kedua mertuanya untuk sementara ini tinggal bersama ibunya. Pak Cokro dan Bu Sekar menahan tangisnya ketika sang putri berpamitan untuk tinggal dirumah mertuanya. Pak Cokro dan Bu Sekar melepas haru kepergian putrinya. Walau jaraknya dekat, namun hal itu juga membuat pak Cokro dan Bu Sekar merasa sedih.
Wulan pergi kerumah mertuanya yang sangat sederhana itu untuk ikut bersama dengan suaminya. Setelah sampai dirumah Candra, Wulan pun beristirahat dikamarnya, kamar itu dulunya tempat Candra melepas penatnya setelah seharian bekerja. Kamar itu terlihat sangat sederhana dan tidak luas. Wulan melihat ke sekelilingnya, tak ada AC ataupun kipas angin dikamar itu. Hanya terdapat lemari pakaian dan juga kasur tanpa televisi atau kamar mandi didalam kamar itu. Tak lama setelah itu, masuklah Candra menghampiri Wulan. Wulan yang sedari tadi melihat ke sekeliling kamar itu pun kini pandangannya menuju kearah Candra. Candra langsung duduk disebelah istrinya, “maafkan aku ya..., Kamar ini belum seperti kamarmu sebelumnya.” Ucap Candra. Wulan pun tersenyum kearah Candra dan berkata, “tidak apa-apa, aku tidak keberatan kalau harus tinggal dikamar ini.” Ucap Wulan sembari tersenyum. Candra pun mencium pipi istrinya. Wulan tampak kaget karena selama pernikahan pertama sampai hari ini Candra jarang sekali mencium pipinya. Wulan maklum karena setelah pernikahannya ada musibah menimpa keluarga suaminya, tentunya Candra sangat sibuk dan tidak memikirkan tentang malam pertama dan kemesraan layaknya suami istri. “Maafkan aku beberapa hari ini tak menghiraukanmu.” Bisik Candra di telinga Wulan. “Mas.., apakah kau menyesal menikah denganku?” tanya Wulan. Candra pun membaringkan tubuh istrinya dikasurnya. Candra sangat memperlakukan Wulan dengan lembut. “tidak..., Sama sekali tidak, aku malah merasa beruntung bisa menikah denganmu.” Ucap Candra semakin mendekatkan wajahnya diwajah Wulan. Candra meminta ijin kepada Wulan ingin mencium bibirnya. Selama pacaran sampai dengan menikah Candra belum pernah melakukan hal itu. Wulan tampak heran dengan suaminya itu. Kalau suaminya itu ingin mencium atau membelai selalu meminta persetujuan darinya. “Mas..., Aku ini istrimu, kau boleh melakukan apapun kepadaku.” Ucap Wulan mulai membelai kedua pipi suaminya. “Wulan..., Aku tidak ingin membuatmu takut atau tidak nyaman saat sedang bersamaku.” Ucap Candra. Perlahan Candra mulai membuka baju Wulan, namun Wulan melarangnya, “mas..., Aku sedang menstruasi.” Ucap Wulan. Candra langsung melepaskan tangannya dan menjauh dari tubuh Wulan. Ternyata istrinya sedang mendapat tamu bulanannya. Candra berdiri menghadap kearah jendela kamarnya. Candra mengatur nafasnya dan meredam nafsunya. Wulan juga ikut berdiri sambil tersenyum. Wulan memeluk suaminya dari belakang dan membisikkan sesuatu di telinga Candra, “mas..., Sabar ya...,” bisik Wulan. Hampir dua bulan pernikahan, Candra dan Wulan belum sempat melakukan hubungan suami istri. Mereka baru mempunyai waktu itu sekarang, namun Wulan masih berada dalam masa datang bulannya. Candra lalu berbalik dan membalas pelukan istrinya itu.