Apakah yang menurutmu bisa membuat pernikahan langgeng hingga ajal menjemput? Kesetiaan, pengertian, cinta atau komitmen. Pada akhirnya, kau tahu bila cinta saja tak ‘kan cukup untuk menciptakan keabadian yang dianggap orang-orang sebagai sesuatu yang mustahil. Cinta tak seluar biasa apa yang orang-orang katakan karena perasaan cinta kerap berubah. Setiap ucapan dan juga gombalan yang keluar dari bibir seseorang, tak bisa lantas kau jadikan sebagai asuransi yang akan menjamin bila perasaan dan kata-kata indahnya adalah abadi.
Ayu segera mengemas semua barang-barangnya. Ia tahu bila liburannya sia-sia. Bukannya melupakan pria yang menyakitinya. Ayu malah semakin tenggelam dalam kesedihan dan juga kenangannya dengan pria yang tak bisa mempertanggung jawabkan semua ucapannya. Kata selamanya dan ingin memberikan kebahagiaan pada Ayu, tak bisa pria itu wujudkan. Pria itu bagai seorang yang mengidap amnesia. Dalam sekejap ia melupakan semua perkataannya dan meninggalkan Ayu seolah wanita itu tak pernah menjadi bagian dari kisah pria itu.
Cukup sudah. Ayu tak lagi bisa terus berlari karena masih ada sesuatu yang mengikat kakinya. Tak membiarkannya beranjak pergi dan meninggalkan semua rasa sakit itu. Bukan jarak yang dibutuhkannya, bukan pula janji palsu yang dibuat hanya untuk dilanggar, dan bukan berlari yang dibutuhkannya saat ini. Inilah saatnya untuk kembali dan menghadapi kenyataannya. Dirinya harus kembali menghadapi Lian dan memutus semua tali yang mengikatnya pada pria itu. Mungkin, status baru akan membantunya maju ke depan.
Ayu segera mengambil ponselnya dan menghubungi Gina. Panggilan diangkat setelah dering ketiga. “Gina … aku akan kembali ke Jakarta. Pagi-pagi sekali siapkan meeting dan panggil CEO yang kamu pilih. Aku ingin dia segera bekerja. Atur semuanya dan siapkan materi tentang perusahaan kita agar CEO baru itu paham tentang perusahaan kita,” Ayu berkata panjang lebar seraya memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Kemudian perempuan itu memandang sekelilingnya dan memeriksa apakah ada barang yang tertinggal di cottage yang ditempatinya.
“Baik, Bu. Akan saya siapkan semuanya secepat mungkin. Untuk materi rapat akan saya email juga ke Ibu agar Ibu bisa membacanya di perjalanan pulang. Hati-hati di jalan, Bu,” Panggilan terputus begitu Ayu mengucapkan terima kasih pada asistennya.
Ayu pun pergi dari tempat yang ia pikir mampu menyembuhkan sedikit luka di dalam hatinya. Ayu akan segera meminta pengacaranya untuk membuatkan surat cerai untuk mereka dan setelah itu mungkin dirinya bisa merasa jauh lebih baik. Mungkin sejak awal yang dibutuhkannya adalah menerima kenyataan dan mengambil langkah terberat di dalam hidupnya. Perceraian. Harusnya ia paham bila memang hanya ini jalan yang bisa ditempuhnya untuk menyelamatkan sisa-sisa kepingan hatinya yang telah hancur.
***
Begitu sampai di Jakarta. Ayu segera memanjakan dirinya di pusat perebelanjaan. Tubuhnya seakan tak mengenal rasa lelah, meski yang sebenarnya terjadi adalah Ayu berusaha untuk membuat dirinya tetap sibuk. Ia tak ingin termenung seorang diri dan kembali teringat akan semua pengkhianat Lian yang seharusnya ia lupakan sejak dulu lagi. Seorang karyawan salon menyambut Ayu begitu perempuan itu memasuki salon mereka.
“Bisa kami bantu, Bu?” Sapa ramah wanita muda yang tampak cantik.
“Aku mau potong rambut dan mewarnai rambutku,” Si wanita tersenyum dan mengangguk saat mendengarkan apa yang Ayu inginkan, kemudian wanita itu menuntun Ayu ke sebuah kursi dan menunjukkan buku katalog warna rambut, membiarkan Ayu memilih warna yang diinginkannya. Ayu memilih warna medium ash brown, warna abu yang terselip di antara warna cokelat. Si wanita segera mengangguk dan memulai perawatan rambut yang Ayu inginkan.
Hari ini, Ayu akan memanjakan dirinya sebelum memulai perang di hadapan Lian esok. Ayu juga tak ingin Lian melihat penampilannya yang lama dan mengira bila tak ada perubahan sedikit pun pada perempuan itu. Ia tak ingin Lian mengira bila dirinya masih bisa dibodoh-bodohi begitu saja. Bukankah cara terbaik untuk membuat orang menilai adalah dari penampilan luar. Oleh karena itu, Ayu harus mengubah penampilan luarnya terlebih dahulu agar Lian tak berpikir bila dirinya adalah wanita mengenaskan yang bisa dihancurkan berulang kali.
“Rambut Ibu sangat indah. Apa nggak sayang untuk dipotong sebahu? Biasanya, wanita selalu menyukai rambut panjang dan akan bersedih kalau rambutnya di potong,” Ujar Si penata rambut dengan tersenyum ramah pada pantulan diri Ayu di cermin yang ada di hadapan mereka.
Ayu tersenyum tipis pada Si perempuan. Ia membenci rambut panjangnya yang selalu dibelai oleh Lian saat mereka tidur di malam hari. Pria itu sangat suka membelai rambutnya, mengatakan bila Ayu terlihat bak boneka Barbie versi Indonesia dengan rambut hitam legam yang menawan. Sekarang, semua hal yang disukai Lian, ingin wanita itu ubah. Ia tak ingin membuat pria itu berpikir bila dirinya bisa melakukan segalanya bagi Lian. Ia tak mau bila pria itu berpikir, bila Ayu adalah wanita yang akan memberikan semua yang dimilikinya untuk Lian.
“Hanya mau perubahan suasana. Lagipula, aku bosan dengan rambut panjang,” Dusta Ayu. Wanita itu merasa seperti kembali ke masa lalu. Dirinya selalu membentengi diri sendiri dengan kebohongan demi kebohongan. Menyimpan kebenaran untuk dirinya sendiri dan bersikap seolah dirinya kuat dan tak terkalahkan. Ia mematahkan semua perkataan orang-orang tentangnya. Tampaknya, memang begitu lah manusia. Melakukan pembuktian yang seharusnya, tak perlu mereka lakukan karena tak mampu membawa hasil baik apa pun. Tak ada gunanya menyenangkan hati orang lain dan menyiksa diri sendiri. Itulah yang dipelajari Ayu dari pernikahannya bersama dengan Lian. Ia terlalu sibu menyenangkan hati pria itu, membahagiakan pria itu, dan melupakan kebahagiaannya sendiri. Kini, semua pengorbanannya menjadi sia-sia.
Selang beberapa menit berlalu. Ayu sudah selesai mengubah penampilang luarnya. Wanita itu melanjutkan perjalanannya menuju sebuah spa. Ia butuh perawatan seluruh tubuh yang akan membuatnya merasa nyaman dan lebih mencintai tubuhnya sendiri. Wanita itu ingin membuat dirinya benar-benar lelah, hingga bisa langsung tetidur begitu merebahkan diri di tempat tidur. Wanita itu segera memilih paket perawatan tubuh begitu tiba di tempat tujuannya.
Setelah melakukan perawatannya, Ayu melanjutkan perjalanannya. Langkah terakhir untuk mengubah penampilannya adalah dengan mengubah caranya berbusana. Tubuh Ayu masih begitu mengangumkan berkat banyaknya waktu yang dihabiskannya di pusat kebugaran dan inilah saatnya memerkan tubuhnya itu. Ia ingin membuat kesan kaku dan kuat dari semua pakaian kerjanya. Ia ingin mengganti gayanya berbusana agar terlihat anggun dan sedikit seksi. Ayu memilih berbagai rok di atas lutut, blazer berbagai model dan warna, dan juga celana yang akan menunjang penampilannya. Ayu benar-benar wanita yang berbeda saat mencoba dress pas tubuh dan menonjolkan lekuk tubuhnya. Potongan d**a yang rendah. Kini Ayu sudah siap. Ia akan menunjukkan pada Lian bila dirinya sudah sembuh dari semua luka dan bahagia.
***
Pagi-pagi sekali, Ayu sudah tampak sempurna. Untuk memberikan nuansa bold pada dirinya. Ayu memadukan blazer basic hitam dengan gaun leopard yang unik. Dirinya menyempurnakan penampilannya dengan sneakers high ankle yang menambah kesan cool pada dirinya. Kini Ayu tak terlihat sekaku biasanya. Dirinya akan memberikan kesan berbeda pada Lian dan semua orang di sekitarnya. Mereka tak bisa melihatnya yang rapuh dan kembali menginjak-injaknya. Ia akan membuat semua orang tahu bila Ayu adalah wanita kuat.
Beberapa mnit kemudian. Ayu sudah tiba di perusahannya. Semua mata menatapnya heran, akan tetapi Ayu menikmati pandangan penuh kebingungan itu. Biasanya. Ia hanya berpakaian membosankan ke kantor. Rok dan blazer. Celana panjang dan blazer. Ia ingin memberikan kesan kuat dan professional, akan tetapi bukan itu lah keinginan Ayu. Ia ingin membuang semua sisi yang Lian kenali tentangnya. Pria ini kini harus kembali menebak-nebak, orang seperti apakah Ayu? Pria itu tak boleh merasa menjadi manusia yang paling mengenal Ayu. Tidak.
Ayu menghentikan langkahnya saat Lian berdiri di hadapannya secara tiba-tiba. Pria itu menatap Ayu dari ujung kepala hingga ujung kaki, sedang Ayu memasang wajah datar andalannya. Kini, banyak mata yang memandang keduanya dengan tatapan heran, akan tetapi mereka berdua seakan tak peduli. Ayu pun tahu bila banyak hal yang ada di dalam benak Lian.
“Kamu kembali, Yu,” Pria di hadapan Ayu memecahkan keheningan di antara mereka, “Aku merindukanmu,” Pria itu kembali melemparkan serangannya pada hati Ayu yang ia yakini masih sama rapuhnya seperti biasa, “Aku mencintaimu,” Lanjut pria itu lagi dengan tatapan lembut. Pria itu menatap Ayu penuh luka, seolah ingin Ayu tahu bila dirinya menderita.
Ayu tersenyum dan tak merespon perkataan pria itu. Ia berjalan melewati Lian yang mendadak terpaku di tempatnya berdiri. Ada rasa perih yang menjalar ke penjuru hatinya saat Ayu memperlakukannya bak orang asing. Wanita itu bahkan tak mau melihat ke dalam matanya. Apakah harus sebesar ini hukuman yang diterimanya? Padahal, Lian sudah meninggalkan segalanya dan kembali pada Ayu, akan tetapi perempuan itu tak mau memberikannya kesempatan. Mengapa hati Ayu bisa sekeras ini? Lian seolah tak mengela Ayu yang sekarang. Wanita itu benar-benar berubah. Bukan hanya penampilan luar, tapi sikapnya pada Lian juga.
“Selamat pagi, Pak Lian. Ada hal yang harus kita bicarakan. Saya harus menyampaikan beberapa hal yang sudah diputuskan oleh Bu Ayu,” Seorang pria paruh baya yang Lian kenali sebagai pengacara keluarga Ayu berdiri di depannya dan tersenyum ramah, “Mari kita pergi ke ruangan dan membicarakan segalanya,” Lanjut Si pria yang menggerakkan tangannya ke udara dan mempersilahkan pria itu untuk berjalan mengikutinya. Sementara itu, Lian menatap Si pria yang ia kenali bernama, Jonathan itu dengan tatapan penuh tanya. Mengapa pengacara Ayu mau berbicara dengannya? Apakah ini berkaitan dengan keinginan Ayu untuk bercerai?
“Sebaiknya kita segera pergi ke tempat sepi, sebelum banyak orang yang mulai membicarakan Anda,” Ujar pria itu lagi karena Lian tak juga meresepon. Dirinya hendak menjaga nama baik Ayu dan juga Lian. Ia tak ingin keduanya menjadi bahan pembicaraan dan harus segera membicarakan semua keinginan Ayu pada suami yang akan segera menjadi mantan.
“Apa hal yang ingin Anda bicarakan?” Lian menatap pria itu penuh tanya. Sesungguhnya, tanpa bertanya sekali pun, Lian bisa menebak tentang apa yang ingin mereka bicarakan dan Lian tak ingin membicarakan hal itu pada Jonatahn ataupun Ayu. Ia tak ingin semuanya berakhir. Yang dibutuhkannya adalah kesempatan kedua. Mengapa Ayu tak mau memahaminya?
“Tentang berbagai hal penting dan saya sarankan, Anda berbicara dengan saya sebelum semuanya terlambat,” Pria itu berkata dengan bersungguh-sungguh, “Saya pikir, lebih baik kita membicarakan semuanya di tempat yang sepi agar nggak ada orang yang mendadak bersikao kepo dan membuat Anda menjadi susah sendiri,” Lanjut pria itu menasehati.
Lian menatap sekelilingnya dan ia bisa melihat bila semua orang kini mulai mengarahkan pandangannya pada mereka. Beberapa orang bahkan secara terang-terangan mulai berbisik-bisik dengan mata yang masih memandang ke arah mereka. Terlihat jelas bila orang-orang itu mulai penasaran dengan pembicaraan Lian dan juga Jonathan. Lian tak mungkin berdiam diri. Ia akhirnya tersenyum dan mengangguk, lalu mengikuti Jonathan yang menuntunnya ke sebuah ruang meeting perusahaan. Jonathan berdiam diri sepanjang perjalanan mereka ke ruangan itu.
“Bu Ayu mengajukan perceraian pada Anda,” Ujar Jonathan begitu keduanya sudah duduk berhadapan di ruangan yang tertutup rapat. Meski sudah mempersiapkan diri, Lian tak bisa menyembunyi keterkejutan yang terlihat jelas di wajahnya. Hatinya seakan hancur lebur.