Hari berganti, tetapi suasana di sekolah masih saja mencekam. Maih lekat diingatan semua orang bagaimana gilanya Princess ketika mengamuk. Bahkan, bukti hidup bagaimana ganasnya Princess, kini masih berada di rumah sakit untuk menyembuhkan kondisinya. Tentu saja kembar ABC dan keluarga Princess tidak ada yang mengetahui perihal hal ini. Karena Tano yang langsung pasang badan. Tano yang membayar biaya rumah sakitnya, dan Tano pula yang balik mengancam orang tua senior itu saat mereka mengancam akan melaporkan Princess atas tindak kekerasan di dalam sekolah. Namun Tano mengancam balik dengan pasal berlapis, yang tak lain adalah ujaran kebencian dan pencemaran nama baik. Karena itulah, semua masalah selesai dengan baik.
Kini, Tano dan Princess tengah makan siang di taman. Sebisa mungkin, Tano memang menjaga Princess agar tidak terlalu sering atau dekat dalam berinteraksi dengan siswa-siswi lain. Tentu saja hal ini Tano lakukan untuk meminimalisir hal buruk kembali terjadi. Menurut rekam medis kesehatan mental Princess yang Tano dapatkan dari psikiaternya, Tano tahu jika Princess memiliki dorongan dalam pembelaan diri yang terlalu ekstrem. Hal ini harus diperhatikan dengan saksama, agar Princess benar-benar tidak kembali mengamuk.
“Tano, ih! Ayo tukar bekalnya!” seru Princess tidak sabar sembari mendorong kotak bekal miliknya yang hanya terisi dengan sayuran dan protein nabati lainnya. Setelah sekitar dua tahun hanya makan makanan seperti itu, lidah dan perut Princess sudah terlalu bosan untuk memprotes. Kini Princess ingin memakan sesuatu yang berbeda mumpung tidak ada yang tengah mengawasinya.
Tano menghela napas dan memberikan kotak bekal miliknya pada Princess. Tentu saja Princess menerima kotak tersebut dengan begitu senang. Princess membuka kotak bekal tersebut dan tak bisa menahan diri untuk menelan air liurnya. “Wah, gulai!” seru Princess senang bukan main dengan apa yang ia lihat. Kuah gulai yang berada di dalam sana terlihat melambai-lambai menggoda Princess untuk segera mencicipinya hingga tandas. Ah, sepertinya salah. Jika sampai tandas, itu bukan lagi mencici ya.
“Ya, itu yang kamu minta, bukan?” tanya Tano sembari menggigit wortel rebus. Tano memang sengaja membawa menu makan siang yang tak lain adalah nasi merah dan gulai ayam, yang sebenarnya adalah pesanan Princess.
Princess mengangguk menjawab pertanyaan Tano. Terlihat tidak sabar, Princess pun berusaha membuka mangkuk yang memang menyimpan kuah gulai. Namun Princess kesulitan untuk membukanya, dan membuat Tano harus turun tangan. Melihat Tano yang berhasil membukanya, Princess pun berkata, “Tuangkan di atas nasi! Ah, ini pasti sangat enak. Princess tidak ingat, kapan terakhir kali Princess makanan sultan ini!”
Tano berdecih. “Tolong jangan lebay. Ini makanan sejuta umat. Siapa pun bisa mendapatkannya jika datang ke rumah makan padang. Dasar bodoh!”
Princess mengerucutkan bibirnya sembari mengambil sendoknya. “Uni, tau masaleuh itu Uda. Jadi, jangan mengatakan kebohongan! Uni cantik ini tidak bodoh. Jangan berbohong, berdoseu, masuk nerakeu nanti!” Setelah mengatakan hal itu, barulah Princess menyuap makanan berkuah yang penuh lemak itu. Princess tak bisa menahan diri untuk berseru senang saat lidahnya digoyang dengan rasa lezat yang sangat ia rindukan ini.
“Apa seenak itu?” tanya Tano.
Princess mengangguk sembari mengisi mulutnya lagi dengan cepat-sepat. Tano yang melihatnya pun berkata, “Pelan-pelan! Memangnya siapa yang mau mencuri makanan dari orang jago berkelahi sepertimu?”
“Ei, Tano tidak bisa berkelahi seperti Princess, ya? Apa Tano mau Princess ajari?” tanya Princess.
Tano menggeleng dengan tegas. “Selama masih menggunakan otak, aku tidak mau menggunakan otot.”
“Jangan sungkan-sungkan, jika mau Princess ajari, katakan saja. Princess sudah punya sertifikat dan sabuk hitam, kok. Sudah terjamin kualitasnya,” ucap Princess lalu kembali menyuap makanannya hingga wajahnya terlihat berbinar dengan cantiknya.
“Tidak, terima kasih. Aku tidak mau berubah menjadi samsak hidup bagimu.”
Mendengar ucapan Tano, tentu saja Princess tak bisa menahan diri untuk mengurucutkan bibirnya. “Tano kalo ngomong suka bener.”
Tano memutar bola matanya dan kembali fokus pada makanannya. Begitu pula dengan Princess. Namun sesekali Princess terlihat mencuri-curi pandang pada Tano. Tentu saja Tano menyadarinya dan tak bisa menahan diri untuk kesal. “Princess enggak usah sok malu-malu begitu. Kalo mau sesuatu bilang aja! Biasanya juga Princess suka malu-maluin, kan?”
“Tano, ih! Kamu kalo ngomong nyebelin banget, tapi suka bener!” seru Princess kesal. Princess minum air terlebih dahulu untuk membersihkan tenggorokannya.
“Jadi, gini Tano. Princess mau minta tolong.”
Tano mengernyitkan keningnya. “Princess mau minta Tano ngelonin Lo-lo? Ayolah, aku masih mau hidup. Lo-lo, si anak singa itu cuma jinak kalau ada keluarga Dawson saja.”
“Jangan sok tau deh Tano! Princess bukan minta itu.”
Tano semakin memperdalam kernyitan pada keningnya saat merasakan firasat yang sangat buruk. Tano merasa, jika sebentar lagi Princess akan membuat sebuah ulah besar. Ulah yang akan membuat Tano juga terlibat di dalamnya. Ulah yang akan menjerat Tano dalam pusaran masalah yang menyebalkan. “Jadi, apa yang Princess mau?”
“Princess mau nonton konser. Tapi Princess enggak mau ditemenin Abang ABC atau Papa. Jadi, Tano harus mau temenin Princess nonton konser akhir minggu ini,” ucap Princess sembari memasang wajah penuh harap pada Tano.
“Memangnya boyband mana yang akan konser? Setahuku, tidak ada boyband korea yang akan tampil dalam waktu dekat ini. Ah, apa mungkin ini penyanyi barat?” tanya Tano mengingat jadwal konser. Adik sepupu Tano juga sangat menyukai boyband korea, dan hampir setiap ada konser di Indonesia, adiknya itu selalu menghadirinya. Saat itulah, Tano akan berubah menjadi pengasuh dan mendampingi adiknya menghadiri konser. Tentu saja hal itu memaksa Tano mengingat jadwal konser dan siapa-siapa saja boyband korea yang pernah mengadakan konser di Indonesia.
Princess menggeleng. “Ini bukan boyband atau penyanyi Barat. Ini solois asal Indonesia yang melakukan konser single.”
Mendengar jawaban Princess, tanpa bisa ditahan tubuh Tano menegang. Ia kemudian meletakkan garpu yang sejak tadi ia pegang dan menatap serius pada Princess. “Princess berniat untuk menemui Arlan?” tanya Tano dingin.
“Jangan panggil Kak Arlan begitu! Dia masih lebih tua dari Tano, jadi panggil dengan sepantasnya!” komentar Princess.
Ya, Arlan memang sudah mencetak sukses besar. Single-single dan album yang ia keluarkan meledak dipasaran. Hal itu membuat namanya dikenal dengan mudah oleh seluruh remaja bahkan para pendengar musik di segala lapisan usia. Arlan berubah menjadi seorang idola baru yang tengah benar-benar digandrungi. Tentu saja Tano tahu, jiak Arlan akan mengadakan konser tunggalnya untuk pertama kali. Adik sepupu Tano mengajaknya untuk menonton, tetapi Tano menolaknya dengan tegas. Tano muak dan tidak ingin kembali melihat atau mendengar suaranya.
“Princess ingin memberikan kejutan pada Kak Arlan, jadi, Princess harus datang ke konser tunggalnya ini. Kak Arlan pasti senang dengan kehadiran Princess. Sayang sekali, Kak Arlan sudah tidak lagi bisa dikontak. Ponsel Princess rusak parah dan sama sekali tidak bisa diperbaiki, jadi, Princess tidak bisa menghubunginya. Menghubunginya di medsos juga akan sangat sia-sia, karena dirinya sudah menjadi seorang idola, yang pasti tiap harinya mendapatkan ratusan ribu DM. Jadi, Princess memutuskan untuk menemuinya secara langsung dan memberikan kejutan untuknya!”
Tano menggeleng. “Tidak, Princess. Ini bukan ide baik. Jadi, lupakan rencanamu itu! lagipula, Abang ABC belum tentu mengizinkanmu pergi ke konser dan berdesak-desakan dengan orang lain.”
Princess tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Ini adalah ide terbaik sepanjang masa, Tano jangan ngomong aneh-aneh! Dan masalah Abang ABC, tentu saja ini ada kaitannya dengan pertolongan yang Princess bicarakan tadi.”
Kini, Tano merasa bulu kudknya meremang. Ah ini buruk. Melihat senyum yang dipasang oleh Princess, Tano tahu jika Princess tengah merencanakan sesuatu yang akan buruk untuknya. Kini Tano tengah berdoa, agar Tuhan menyelamatkan Tano dari apa pun rencana yang tengah dirancang oleh otak gadis cantik di hadapannya ini. Semoga Tuhan mendengar doa Tano ini. Ya, Semoga!
***
“Apa?!”
Kembar ABC dengan kompak berteriak dan menanyakan apakah mereka tidak salah dengar apa yang diucapkan oleh adik kesayangan mereka. Tano yang juga berada di sana, sama-sama tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Princess. Ayolah, apa Princess tengah menginginkan dirinya dimusnahkan oleh kembar ABC?
Princess memang baru saja mengatakan niatnya untuk menonton konser musik akhir minggu ini pada kembar ABC. Hanya saja Princess mengatakan jika Tano yang mengajak untuk menonton acara musik tersebut. Tentu saja Tano merasa terkejut dengan kabar tersebut. Kini saja, Tano bisa merasakan tatapan penuh ancaman yang diberikan kembar ABC saat ini. Ah sial, jika sudah seperti ini, kembar ABC sudah dipastikan akan mengintrogasi Tano. Merasakan jika dirinya tersudut, Tano melirik Princess dan meminta pertolongan Princess.
Princess mengulum senyum dan menyuap potongan buah segar yang disediakan Gwen untuknya. “Abang ABC nggak perlu kaget begitu dong! Princess cuma diajak nonton konser sama Tano, nggak diajak nonton tawuran kok.”
Kembar ABC memejamkan mata mereka dengan kompak saat melihat sikap Princess ini. Kenapa Princess bersikap jika hal ini sangat biasa dan tidak perlu dipikirkan dengan baik? Apa Princess tidak sadar jika setelah sakitnya yang terakhir, Princess selalu dalam mode senggol bacok? Coba bayangkan, jika saat Princess menonton konser dan ada yang tidak sengaja menyenggol atau menginjak kakinya? Apa Princess akan mengubah konser musik itu menjadi ajang taruwan dirinya?
Ya, jangan pikir jika kembar ABC tidak mengetahui apa yang terjadi selama ini, dan apa yang Princess lakukan. Bukannya kembar ABC membiarkan Princess melakukan apa pun yang ia inginkan. Namun, kembar ABC tengah mencari solusi agar Princess bisa kembali seperti dulu. Maksudnya, kembar ABC ingin hal-hal positif yang ada di Princess dahulu, kembali dan bisa ada di Princess yang sekarang. Hanya saja, kembar ABC belum melaporkan hal ini pada kedua orang tua mereka. Kembar ABC khawatir jika mendengar hal ini, ibu mereka akan merasa sangat cemas, dan ayah mereka akan memutuskan untuk kembali mengirim Princess ke tempat jauh yang kemungkinan besar membuat mereka kembali tidak bisa menemui adik tercinta mereka ini.
“Siapa yang mengajak siapa?”
Sebuah suara yang muncul dari pintu ruang keluarga membuat semua orang menoleh. Melihat jika ayahnya sudah pulang kerja, Princess tidak bisa menahan diri melompat dari sofa dan berlari pada Farrell. Princess menghambur pada Farrell dan pria itu sama sekali tidak terlihat kesulitan saat mendapatkan terjangan dari putri kesayangannya itu. “Jadi, siapa yang mengajak siapa untuk melakukan apa?” tanya Farrell lagi setelah mendapatkan kecupan sayang dari putrinya.
“Tano mengajak Princess untuk menonton konser musik akhir minggu ini, Pa. Princess bisa pergi, bukan?” tanya Princess dengan memasang ekspresi yang selalu bisa membuat siapa pun luluh.
Riri muncul di belakang Farrell dan menepuk punggung suaminya agar tidak menghalangi jalan. Riri masuk diikuti oleh Gwen yang membawa nampan berisi cemilan dan minuman. Farrell menggendong Princess dan membawa putrinya untuk duduk di sofa mewah yang berada di ruang keluarga Dawson tersebut. Farrell menatap Tano dan bertanya, “Apa kau benar mengajak Princess untuk menonton konser musik?”
Princess memberikan isyarat pada Tano agar menjawab iya. Tano menahan diri untuk berteriak kesal pada sahabatnya itu. Namun pengendalian diri Tano memang sangat baik. Kini, Tano bahkan sama sekali tidak menampilkan ekspresi sedikit pun, seperti biasanya. Riri dan yang lainnya tentu saja menunggu jawaban dari sahabat Princess tersebut. Tano menjawab, “Ya, Paman. Aku yang mengajak Princess menonton konser akhir minggu nanti.”
Farrell memberikan kode pada Gwen. Tentu saja, Gwen mengerti dengan kode tersebut. Gwen memasang senyum dan menatap nona mudanya. “Nona, Kiola datang dan ingin bertemu dengan Nona.”
Mendengar nama Kiola, Princess terlihat begitu senang. “Benarkah?” tanya balik Princess dengan netra berkilau menandakan jika dirinya memang tengah merasa senang. Jika dilihat lebih saksama, sebenarnya bukan hanya Princess yang tengah merasa senang. Tano juga terlihat menatap Princess dengan netra yang lebih terang dari biasanya. Ya, walaupun wajahnya masih menampilkan ekspresi yang tenang, netranya itu bisa menunjukkan dengan jelas bagaimana dirinya tengah merasa senang saat itu.
Kembar ABC yang menyadari jika Tano masih menatap Princess, tak bisa menahan diri untuk berdeham. Hal itu membuat Tano tersadar dan segera mengalihkan perhatiannya. Riri tersenyum dan mengusap puncak kepala Princess. “Pasti Kiola sangat merindukan Princess, sebaiknya Princess temui Kiola, ya.”
Princess mengangguk. “Princess juga sudah sangat merindukan Kiola. Auntie, ayo kita temui Kiola.”
Princess pun menggandengan Gwen untuk meninggalkan ruang keluarga tersebut. Princess tidak tahu saja, kini Tano tengah menatap kepergiannya dengan tatapan sendu. Ya, Tano sebenarnya tengah meminta pertolongan dari sahabantnya itu. Tano tidak mau ditinggal sendiri di bawah ancaman introgasi yang akan segera ia dapatkan dari keluarga Dawson yang sangat protektif pada putri bungsu mereka. Tano hanya bisa berdoa, jika dirinya bisa ke luar dari ruang keluarga ini dengan selamat, tanpa kurang suatu apa pun.
Sementara itu, kini Princess dan Gwen memasuki taman bunga milik Riri. Saat itulah Princess melihat sosok gadis yang tubuhnya seukuran dengannya. “Kio!” seru Princess, dan gadis itu menoleh dengan wajah berbinar.
“Kak Princess!” seru gadis itu dan segera menghambur pada Princess. Keduanya berpelukan dengan eratnya, hingga membuat Gwen tersenyum.
“Kio, jangan memeluk Nona seperti itu. Nanti, Nona akan kesulitan bernapas,” ucap Gwen pada putrinya.
Ya, Kiola adalah putri dari Gwen. Sejak kecil, Gwen memang sudah dekat dengan Kiola. Keduanya hanya berbeda tiga tahun, hingga membuat Princess seakan-akan mendapatkan seorang adik. Sikap Kiola yang sangat manja pada Princess juga membuat keduanya bak adik kakak. Hanya saja, Kiola menempuh pendidikan kakek dan neneknya di luar kota. Jadi, untuk beberapa waktu Kiola dan Princess sama sekali tidak bisa bertemu. Apalagi ditambah dengan Princess yang sakit, saat itulah komunikasi keduanya benar-benar terputus.
“Bukan Nona, tapi Kakak, Bunda. Ini Kak Princess, kakaknya Kio,” ucap Kiola sembari mengetatkan pelukannya pada Princess.
Gwen hanya bisa menipiskan bibirnya saat melihat Kiola yang malah semakin menjadi memeluk erat nona muda mereka. Baru saja Gwen akan kembali menasihati putrinya, Princess lebih dulu menyela. “Tidak apa-apa Auntie,” ucap Princess lalu menatap Kiola.
“Jadi, apa yang sedang Kio lihat?” tanya Princess pada gadis yang tengah memeluknya dengan erat.
“Kio sedang melihat bunga cantik yang berawarna kuning. Melihatnya, Kio langsung mengingat Kakak. Selain sama-sama cantik, Kio juga ingat kalau Kakak senang dengan warna kuning.”
Mendengar jawaban dari Kiola. Princess tidak bisa menahan diri untuk mengeratkan pelukannya pada Kiola. Princess gemas bukan main pada adiknya itu. “Oh, iya. Kio sudah bertemu dengan Lo-lo?” tanya Princess saat teringat pada singa peliharaannya itu.
Kiola menggeleng. “Sejak sampai di rumah Kakak, Kio baru bertemu dengan Papa dan Mama.” Kiola memang memanggil Riri dan Farrell sama seperti Princess. Hal itu terjadi atas permintaan Princess sendiri. Toh kedua orang tua Princess juga tidak keberatan. Mereka malah merasa senang karena Princess juga tengah merasa senang sebab mendapatkan seorang adik manis.
“Kalau begitu, ayo kita temui Lo-lo!” seru Princess semangat dan menarik Kiola untuk mengikuti langkahnya. Meskipun menurut, Kiola terlihat berpikir keras hingga kening mengernyit dalam.
“Tapi Kio tidak bawa coco,” ucap Kiola pelan.
Princess menoleh dan tertawa. “Tenang, Lo-lo sedang diet jadi tidak mam coco. Lo-lo makan sayur seperti yang Kakak makan.”
Kiola memiring kepalanya. “Lo-lo juga suka makan sayur?” tanya Kiola bingung.
Princess mengangguk. “Tentu saja. Lo-lo juga harus merasakan bagaimana Kakak hidup menderita. Masa Kakak tidak makan enak, Lo-lo enak makan steak?”
Mendengar hal itu Kiola tertawa. “Kalau begitu, jatah daging Kakak sama Lo-lo masih sisa banyak dong?”
Princess kembali menoleh. “Jika iya, memangnya kenapa?”
Kiola tersenyum lebar. “Kalau begitu, Kio yang akan habiskan.”
Gwen yang mendengarnya tak bisa menahan diri untuk tidak tersedak. Ah dirinya tidak menyangka putrinya bisa tumbuh setidak tahu malu ini. Gwen menutup wajahnya, merasa begitu malu pada nona muda atas sikap putrinya itu. Namun, ternyata Princess yang mendengarnya tak bisa menahan tawa.
Tawa Princess yang lembut tetapi keras terdengar mengalun. Princess memeluk Kiola dengan gemas. Tentu saja ia merasa senang karena kini sudah bisa bertemu dengan Kio lagi. Kini, Princess memiliki teman untuk acara kulinernya. Ya, Kio dan Princess memang sama-sama memiliki kesenangan dalam mencicipi banyak makanan. Hal itu juga yang membuat keduanya sangat dekat hingga terlihat seperti adik kakak seperti ini.
“Tenang, Kakak akan minta Mama untuk membuat makanan enak untuk kita,” ucap Princess.
“Benarkah?” tanya Kiola dengan netra berbinar.
“Tentu saja. bagaimana, setuju?!”
“Setuju!” seru Kiola senang.