Entah sudah ke berapa kalinya Diana melirik bergantian teve, jam dinding, dan layar ponsel. Jarum pendek sudah menunjuk ke angka sembilan, tapi orang yang ditunggu belum juga datang. Sejak pagi, Dimas pergi entah ke mana dan tanpa memberi tahu. Yang jelas bukan kerja atas suruhan Adam karena papanya bilang kalau dia tak ada tugas untuk Dimas. Apa mungkin dia kerja sebagai sutradara? Teringat akan haid-nya, Diana tak merasa darah haid keluar lagi. Janggal karena hanya dua hari. Diana masuk ke kamar lanjut ke kamar mandi, memeriksa keadaannya. Nihil, haid-nya sudah selesai. “Kok haid-nya udah beres ya? Cuma berapa hari,” gumamnya. Sekejap takut itu penyakit karena terlalu singkat, tapi segan memeriksa. Mungkin hanya sementara. Kalau bulan depan terjadi lagi, baru diperiksa.

