Bab 8. Kedatangan Ayah

1267 Kata
Rayna sedang melipat kain di ruang kerja kecilnya ketika bel rumah berbunyi. Ia mendongak sebentar, lalu melirik jam di dinding. Belum jam pulang Sandy. Biasanya, tamu yang datang siang-siang hanya kurir atau klien yang salah alamat. “Bi Ijah!” panggilnya. “Coba lihat siapa.” Ia kembali fokus ke kain satin berwarna krem di tangannya, sampai suara langkah kaki terdengar terburu-buru dari arah depan. “Bu… Bu Rayna,” suara Ijah terdengar agak terengah. “Ini… ini ada tamu.” Rayna menghela napas kecil. “Bi, bilang saja siapa. Jangan bikin saya deg-degan.” Pintu ruang kerja terbuka dan Rayna membeku melihat parubaya dihadapannya. “Ayah?” Hamzah berdiri di ambang pintu, membawa tas kerja di satu tangan dan senyum kecil di wajahnya. Rambutnya lebih pendek dari terakhir kali mereka bertemu, wajahnya sedikit lebih tirus, tapi matanya masih sama, hangat dan tenang. “Surprise,” kata Hamzah ringan. Rayna butuh dua detik penuh sebelum akhirnya berdiri dan berlari kecil menghampiri ayahnya. “Ayah ngapain ke sini?” tanyanya, suaranya campur aduk antara kaget dan senang. “Kenapa nggak bilang dulu?” Hamzah tertawa pelan sambil memeluk putrinya. “Kalau bilang dulu, namanya bukan kejutan.” Rayna memeluk lebih erat. Ada rasa rindu yang tidak sempat ia sadari, kini tumpah begitu saja. “Aku kangen sama Ayah,” lirih Rayna. "Ayah kapan tiba di Jakarta?" “Baru satu jam lalu,” jawab Hamzah. “Ada urusan bisnis dua hari di Jakarta. Ayah pikir, sekalian numpang nginep di rumah anak Ayah yang cantik ini.” Rayna mundur sedikit, menatap wajah ayahnya. “Ya Allah… Ayah bisa aja. Aku kira siapa.” “Kelihatan tua banget sampai kamu kaget?” goda Hamzah. Rayna terkekeh. “Bukan. Aku cuma nggak nyangka.” Ijah dan Mirna sudah berdiri di belakang, ikut tersenyum melihat pemandangan itu. “Pak Hamzah mau langsung istirahat atau minum dulu?” tanya Mirna sopan. “Minum dulu boleh,” jawab Hamzah. “Teh panas kalau ada.” “Siap, Pak.” Rayna menggandeng ayahnya ke ruang keluarga. Ia duduk di samping Hamzah, masih sesekali melirik seolah memastikan ayahnya benar-benar ada. “Ayah kurusan,” komentarnya. “Bisnis,” jawab Hamzah santai. “Kamu juga kurus.” “Ini namanya proporsional,” Rayna membela diri. Hamzah tertawa kecil. Tak lama kemudian, pintu depan kembali terbuka. Sandy masuk dengan raut sedikit lelah, jas di tangan. Ia berhenti begitu melihat Hamzah. “Ayah?” katanya agak kaget. Hamzah berdiri dan menjabat tangan menantunya. “Apa kabar, Sandy?” “Baik, Yah. Ayah ke Jakarta?” Sandy menoleh ke Rayna. “Ayah kenapa tidak bilang, biar saya jemput.” Rayna mengangkat bahu. “Aku juga baru tahu, Mas.” Sandy tersenyum. “Berarti kita sama.” Sore itu mereka duduk bertiga, mengobrol ringan. Tentang butik Rayna yang makin sibuk, tentang pekerjaan Sandy, tentang Jakarta yang tak pernah berubah. Tidak ada obrolan berat. Tidak ada nada menyelidik. Hamzah hanya mendengar lebih banyak, sesekali memberi komentar singkat. *** Malam datang perlahan. Setelah makan malam, Hamzah memilih duduk di teras. Rayna ikut menemaninya. “Kamu kelihatan bahagia,” kata Hamzah tiba-tiba. Rayna menoleh. “Masa?” Hamzah mengangguk. “Ada capeknya, tapi bahagianya kelihatan.” Rayna tersenyum kecil. “Aku suka hidupku sekarang, Yah.” Hamzah diam sejenak, lalu bertanya pelan, “Sandy baik sama kamu?” “Baik,” jawab Rayna tanpa ragu. “Dia perhatian. Dia selalu ada.” Hamzah menatap ke depan, bukan ke Rayna. “Itu yang penting.” Rayna tahu, ayahnya tidak bertanya lebih jauh bukan karena tidak peduli, tapi karena percaya. Hening sementara waktu. “Aku masih nggak nyangka Ayah tiba-tiba muncul,” kata Rayna sambil menyodorkan satu cangkir. “Harusnya bilang dulu.” Hamzah menerima teh itu, tersenyum. “Kalau bilang dulu, kamu pasti ribet nyiapin ini itu. Ayah ke sini cuma mau ketemu kamu.” Rayna menghela napas kecil. “Aku kira Ayah kenapa-kenapa.” Hamzah melirik putrinya. “Kamu selalu mikir ke sana.” “Soalnya Ayah sendirian,” jawab Rayna jujur. “Aku takut Ayah kecapekan tapi nggak cerita.” Hamzah menyeruput teh pelan. “Ayah masih sehat, Rayn. Bisnis lancar. Cuma ya… capek sedikit wajar.” Rayna menatap wajah ayahnya lekat-lekat, seperti ingin mencari tanda-tanda yang ia takutkan. “Bener ya?” Hamzah tertawa kecil. “Kamu dari kecil begini. Kalau Ayah batuk dikit aja, kamu langsung panik.” Rayna ikut tersenyum, ingatannya melayang. “Dulu aku sampai maksa Ayah minum obat padahal cuma masuk debu.” “Kamu duduk di samping Ayah sambil pegangin gelas,” lanjut Hamzah, matanya menerawang. “Padahal tangan kamu kecil banget.” Rayna terkekeh. “Aku takut Ayah sakit.” “Kamu memang anak yang nempel,” kata Hamzah lembut. “Ke mana-mana sama Ayah.” Rayna mengangguk. “Soalnya Ayah satu-satunya.” Angin berembus pelan. Beberapa detik mereka terdiam, bukan karena canggung, tapi karena sama-sama tenggelam dalam kenangan. Langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Sandy muncul di teras, masih mengenakan piyama. Ia berhenti sebentar melihat pemandangan itu sebelum akhirnya mendekat. “Ngobrol apa?” tanyanya ringan. Rayna menoleh. “Nostalgia, Mas.” Hamzah tersenyum ke arah menantunya. “Tentang Rayna kecil yang keras kepala.” Sandy tertawa kecil. “Kayaknya sampai sekarang masih, Yah.” Rayna mendecak pelan. “Aku dengar, Mas.” Sandy duduk di kursi di seberang mereka. “Ayah kelihatan sehat.” “Alhamdulillah,” jawab Hamzah. “Kamu gimana, Sandy? Kerja kelihatannya padat.” Sandy mengangguk. “Lumayan, Yah. Tapi masih bisa diatur.” “Bisnis bank memang nggak pernah santai,” kata Hamzah. “Apalagi posisi kamu.” Sandy tersenyum sopan. “Iya, tanggung jawabnya besar.” Hamzah lalu menoleh ke Rayna. “Butik kamu gimana, Nak?” Rayna langsung antusias. “Syukurlah rame, Yah. Banyak klien sudah booking sampai beberapa bulan ke depan.” “Bangga Ayah,” kata Hamzah tulus. “Dari kecil kamu memang suka gambar-gambar.” Rayna tersenyum malu. “Dulu Ayah yang beliin aku pensil warna tiap bulan.” Hamzah terkekeh. “Karena tiap bulan juga habis sampai tembok rumah semuanya gambarmu.” Sandy memperhatikan mereka berdua dengan senyum kecil. Ada sesuatu yang hangat di dadanya melihat kedekatan itu. Hamzah lalu mengalihkan pandangannya ke Sandy. Nada suaranya tetap santai, tapi lebih dalam. “Sandy,” katanya pelan. “Iya, Yah?” “Titip Rayn,” ucap Hamzah sederhana. “Dia itu anak yang kuat, tapi hatinya lembut.” Sandy langsung menegakkan punggungnya sedikit. “Saya pasti menjaganya, Yah. Saya tidak akan melepaskannya.” “Bukan cuma dijaga,” lanjut Hamzah. “Disayangi. Tanpa lihat apa pun.” Rayna menoleh cepat. “Yah…” Hamzah mengangkat tangan kecil, menenangkannya. “Ayah tahu kamu bahagia. Ayah cuma mengingatkan sebagai orang tua.” Sandy mengangguk mantap. “Saya sayang Rayn, Yah. Bukan karena apa-apa. Karena dia Rayn.” Hamzah menatap mata Sandy cukup lama, lalu tersenyum. “Ayah percaya.” Rayna menunduk, dadanya terasa hangat. Ada rasa aman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. “Ayah,” katanya pelan. “Capek nggak?” Hamzah tertawa kecil. “Baru ditanya, sudah nyuruh istirahat.” “Iya,” Rayna berdiri. “Aku tahu Ayah bilang sehat, tapi tetap. Jangan maksain.” Hamzah ikut berdiri. “Baik, Bu Rayn.” Rayna menoleh ke Sandy. “Kamu temani Ayah ke kamar tamu ya.” Sandy berdiri. “Iya, Sayang.” Hamzah melangkah pelan menuju dalam rumah, diapit oleh Rayna dan Sandy. Sebelum masuk, Hamzah sempat berhenti. “Tempat ini enak,” katanya. “Tenang.” Rayna tersenyum. “Ini rumah, Yah.” Rayna benar-benar merasa rumahnya utuh. Lengkap dengan kehadiran ayah yang ia rindukan dan suami yang ia percaya sepenuh hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN