Rayna terbangun oleh suara burung dan cahaya matahari yang menyusup malu-malu lewat celah tirai. Ia menggeliat pelan, meraba sisi ranjang kosong. Sandy pasti sudah bangun lebih dulu. Ia memang tipe yang sulit berlama-lama di tempat tidur, bahkan di hari libur.
Rayna bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Setelah bersiap sederhana, ia turun ke dapur. Aroma teh hangat dan roti panggang menyambutnya.
“Pagi, Rayn,” suara ceria terdengar dari arah meja makan.
Rayna menoleh dan langsung tersenyum. “Pagi, Kak San.”
Sania Januar berdiri sambil menuang teh ke dalam cangkir. Rambutnya diikat rapi, wajahnya segar meski sudah menjadi ibu dari anak usia tujuh tahun. Ada ketegasan alami dalam caranya berdiri, tapi juga kehangatan yang tidak dibuat-buat.
“Kamu bangun siang,” goda Sania.
Rayna menarik kursi dan duduk. “Aku pikir semua orang masih tidur.”
“Papa sudah di kantor sejak subuh. Sandy lagi di halaman, olahraga sok rajin,” jawab Sania sambil terkekeh.
Seolah dipanggil, Sandy masuk sambil mengelap keringat. “Aku dengar namaku disebut.”
“Kami lagi gosipin kamu,” sahut Rayna ringan.
Sandy pura-pura terkejut. “Kecewa sekali. Gosip kok tanpa aku.”
Mereka tertawa. Pagi itu terasa ringan. Tidak ada beban, tidak ada percakapan yang harus ditahan.
Tak lama kemudian, Maida menyusul ke meja makan. “Sarapan dulu sebelum dingin,” katanya lembut.
Mereka makan bersama, seperti keluarga yang sudah terbiasa satu sama lain. Tidak ada basa-basi berlebihan. Rayna memperhatikan bagaimana Sania membantu Maida merapikan piring, bagaimana Sandy otomatis menuangkan teh untuk Rayna tanpa diminta.
Setelah sarapan, Sandy pamit ke kantor. “Aku ke kantor sebentar. Siang nanti balik.”
Rayna mengangguk. “Hati-hati.”
Begitu Sandy pergi, suasana rumah terasa lebih tenang. Rayna dan Sania pindah ke ruang keluarga. Sania duduk bersila di karpet, Rayna menyandarkan punggung di sofa.
“Capek nggak sih, Rayn?” tanya Sania tiba-tiba.
Rayna menoleh. “Capek apa, Kak?”
“Jadi orang baik,” jawab Sania santai.
Rayna tertawa kecil. “Aku nggak ngerasa lagi jadi orang baik. Aku cuma hidup.”
Sania tersenyum, menatap Rayna lebih lama. “Makanya aku suka kamu.”
Rayna mengangkat alis. “Kok kayak pengakuan cinta?”
“Ini pengakuan sebagai kakak ipar,” balas Sania cepat.
Sania menarik napas, lalu bersandar di sofa. “Kamu tahu nggak, Rayn, dulu waktu aku menikah, aku pikir hidupku bakal lurus-lurus aja. Ternyata belokannya banyak.”
Rayna diam, membiarkan Sania melanjutkan.
“Anakku jadi satu-satunya hal yang bikin aku bertahan waktu itu,” kata Sania pelan. “Tapi setelah semua selesai, aku baru sadar… anak itu bukan tujuan. Dia bonus. Yang utama itu kamu tetap jadi manusia yang utuh.”
Rayna menatap Sania, mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Kamu jangan pernah ngerasa kurang cuma karena belum punya anak,” lanjut Sania, suaranya tetap santai, tidak menggurui. “Selama Sandy nggak menjadikan itu masalah, kamu juga nggak perlu.”
Rayna tersenyum kecil. “Aku tahu.”
“Bukan tahu secara logika,” Sania menoleh, menatap Rayna. “Tapi tahu di hati.”
Rayna terdiam sejenak. Lalu mengangguk pelan. “Aku sedang belajar ke situ.”
Sania tersenyum puas. “Bagus. Karena di keluarga ini, kamu nggak diukur dari rahim.”
Rayna tertawa, kali ini lebih lega. “Terima kasih, Kak San.”
“Jangan sentimental,” sahut Sania sambil berdiri. “Nanti aku ilfeel.”
Mereka tertawa bersama.
Siang itu, Rayna membantu Maida di dapur. Tidak benar-benar membantu lebih banyak mengobrol sambil memotong buah. Begitupun dengan ART di rumah.
“Kamu kelihatan bahagia, Rayn,” kata Maida tiba-tiba.
Rayna menoleh. “Apa kelihatan banget?”
Maida tersenyum. “Kelihatan dari caramu diam. Orang yang nggak tenang biasanya ribut.”
Rayna merenung sejenak. “Aku merasa… diterima.”
Maida menepuk tangan Rayna lembut. “Kamu memang bagian dari keluarga ini.”
Kalimat itu sederhana. Tapi hangatnya menetap. Malamnya, Rayna dan Sandy kembali ke kamar. Rayna duduk di depan meja rias, Sandy berdiri di belakangnya, memeluk pinggangnya dari belakang.
“Kamu ngobrol apa aja sama Kak Sania hari ini?” tanya Sandy.
Rayna tersenyum di cermin. “Hal-hal dewasa.”
“Menakutkan,” sahut Sandy.
Rayna terkekeh. “Dia bilang anak itu bonus, Mas.”
Sandy mengangguk pelan. “Aku setuju, Sayang.”
Rayna menoleh. “Beneran?”
“Beneran,” jawab Sandy tanpa ragu. “Aku menikah sama kamu, bukan sama kemungkinan.”
Rayna terdiam. Dadanya terasa hangat.
Sandy mencium pelipis Rayna. “Kalau suatu hari Tuhan kasih, kita syukuri. Kalau belum, kita nikmati hidup kita.”
Rayna memejamkan mata. “Aku bahagia.”
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Rayna benar-benar percaya pada kalimat itu.
Malam itu, mereka berbaring berdekatan. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada kecemasan yang mengendap.
Rayna menatap langit-langit kamar, berpikir bahwa hidupnya mungkin tidak sempurna di mata orang lain, tapi di rumah ini di sisi Sandy, di tengah keluarga yang menerimanya, ia merasa utuh.
Ia tidak tahu bahwa rasa aman ini kelak akan diuji. Tapi malam itu, ia memilih beristirahat dalam keyakinan.
Sandy bergeser sedikit, memiringkan tubuhnya menghadap Rayna. Satu tangannya menopang kepala, tangan lainnya bermain-main di ujung selimut.
“Kamu nyaman di sini?” tanyanya pelan, hampir berbisik.
Rayna menoleh. “Di sini maksudnya… rumah Mama Papa?”
“Di hidup ini,” koreksi Sandy.
Rayna tersenyum kecil. “Kamu suka nanya yang berat pas mau tidur.”
“Biar mimpi kita bagus, Sayang,” sahut Sandy santai.
Rayna berpikir sejenak. “Aku nyaman, Mas. Aku merasa… aman.”
Sandy mengangguk pelan, seolah jawaban itu lebih dari cukup. “Aku takut kalau suatu hari kamu ngerasa sendirian.”
Rayna mengerutkan kening. “Kenapa aku harus sendirian? Aku punya kamu.”
Sandy tersenyum, tapi ada sesuatu yang tertahan di matanya. “Kadang aku cuma pengen pastiin.”
Rayna meraih tangan Sandy, menggenggamnya. “Mas, aku nggak minta hidup yang sempurna. Aku cuma mau hidup yang jujur dan tenang.”
Sandy menelan ludah, lalu mengangguk. “Aku janji.”
Rayna mendekat, menyandarkan kepalanya di d**a Sandy. “Kalau suatu hari aku capek, kamu peluk aja. Jangan banyak tanya.”
Sandy tertawa kecil. “Deal. Tapi kamu juga jangan sok kuat sendirian.”
“Deal,” jawab Rayna.
Lampu kamar dimatikan. Gelap menyelimuti mereka, hanya tersisa suara napas yang pelan dan teratur. Dalam pelukan itu, Rayna merasa cukup. Sandy menahan sesuatu yang belum ia berani ucapkan, memeluk istrinya lebih erat dari biasanya.