Rayna terbangun lebih dulu, seperti biasa. Tapi kali ini, sisi ranjang di sebelahnya dingin. Selimutnya rapi, bantalnya sudah tidak berbekas. Sandy pulang larut malam, dan entah jam berapa ia akhirnya terlelap.
Rayna mendesah napas halus.
Rayna tidak langsung bangun. Ia menatap langit-langit kamar, membiarkan pikirannya kosong beberapa detik. Ia tidak marah, tidak juga sedih. Hanya ada kesadaran kecil bahwa pagi ini terasa sedikit berbeda.
Ia bangkit, merapikan tempat tidur, lalu keluar kamar.
Di dapur, Ijah dan Mirna sudah beraktivitas. Mirna sedang mengaduk sayur, sementara Ijah menata piring di meja.
“Pagi, Bu,” sapa Ijah.
“Pagi,” jawab Rayna.
Rayna mengangguk. “Bikin sarapan yang ringan aja. Jangan terlalu banyak.”
“Siap, Bu. Laksanakan.”
“Oh iya, Bapak kayaknya mau tidur lebih lama, jadi nanti siapin sarapan untuk Bapak setelah saya dan Ayah, ya?”
“Baik, Bu,” angguk Ijah.
Rayna menuang air minum sendiri, lalu duduk sebentar di kursi dapur. Dari arah teras, terdengar suara langkah kaki.
Hamzah muncul, mengenakan jaket tipis. “Pagi.”
“Pagi, Yah,” jawab Rayna. “Tidur nyenyak?”
“Nyenyak,” jawab Hamzah. “Kamu?”
Rayna tersenyum kecil. “Nyenyak juga, Yah.”
Mereka sarapan berdua. Tanpa Sandy, meja makan terasa lebih lengang, tapi tidak sunyi. Hamzah bercerita tentang rencananya hari itu, akan bertemu rekan lama, lalu langsung kembali ke hotel sore nanti.
“Kok nggak nginep lebih lama?” tanya Rayna.
Hamzah mengangkat bahu. “Ayah nggak mau ganggu rutinitas kamu.”
“Ini rumah Ayah juga,” sahut Rayna cepat.
Hamzah tersenyum. “Ayah tahu. Tapi cukup sampai sini dulu.”
Rayna tidak memaksa. Ia tahu ayahnya, jika sudah memutuskan sesuatu, jarang berubah pikiran.
Setelah sarapan, Rayna bersiap ke butik. Ia mengecek ponsel, masih belum ada pesan dari Sandy. Ia tidak menunggu, hanya memasukkan ponsel ke dalam tas dan berangkat.
Di perjalanan, pikirannya melayang ringan. Ia hanya menikmati jalanan yang padat tapi familiar.
Di butik, suasana seperti biasa. Mesin jahit berdengung, kain-kain tergantung rapi. Juju menyambutnya dengan wajah ceria.
“Bu Rayna,” katanya. “Klien jam sepuluh minta desain direvisi sedikit.”
“Bagian mana?” tanya Rayna sambil membuka tas.
“Bagian lengan.”
Rayna mengangguk. “Nanti kita lihat bareng.”
Hari berjalan pelan di butik. Rayna tenggelam dalam pekerjaannya, menggambar, berdiskusi, tertawa kecil saat Juju salah menyebut nama kain.
“Jujur, aku selalu kagum sama kamu,” kata Juju tiba-tiba saat mereka istirahat siang.
“Kagum kenapa?” tanya Rayna sambil membuka botol minum.
“Tenang. Kayak nggak pernah panik.”
Rayna tersenyum. “Aku panik juga. Cuma jarang kelihatan.”
Juju tertawa. “Mas Sandy beruntung.”
Rayna tidak menjawab. Bukan karena tidak setuju, hanya karena kalimat itu terasa lewat begitu saja.
Siang menjelang sore, Rayna menerima pesan dari Sandy.
[Sandy: Aku meeting sampai malam lagi. Ayah pulang jam berapa?]
Rayna membaca pelan, lalu membalas.
[Rayna: Sore ini. Nanti aku antar ke Bandara.]
Sore hari, Rayna menjemput Hamzah. Mereka kembali ke rumah sebentar untuk mengambil barang-barang ayahnya. Hamzah duduk di ruang tamu sambil menunggu Rayna.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Hamzah tiba-tiba.
Rayna berhenti melipat baju. “Kenapa nanya gitu, Yah?”
“Karena Ayah tahu wajah kamu,” jawab Hamzah tenang. “Kalau lagi capek, kamu diam.”
Rayna tersenyum kecil. “Aku cuma lelah kerja.”
“Kamu baik-baik ya di rumah, kalau butuh sesuatu telepon Ayah.”
“Uang jajan dari Ayah saja setiap bulan, belum habis aku pake.”
“Ya itu bagus untuk Tabungan masa depan kamu. Kamu tidak boleh hanya mengandalkan Sandy, andalkan dirimu sendiri, itu baru benar.”
Pesan ayahnya mengenai hatinya, membuat Rayna mengangguk paham, ia memang tidak pernah mengandalkan masalah uang sama Sandy selama ini.
Setelah mengantar Hamzah ke bandara, Rayna pulang sendiri. Rumah terasa sepi saat ia masuk. Lampu ruang keluarga masih mati. Rayna menyalakannya, lalu duduk sebentar di sofa.
Ia membuka ponsel, melihat foto-foto lama, foto pernikahan, foto liburan singkat, foto Sandy yang tertidur di sofa sambil memeluk bantal.
Semua terlihat baik-baik saja.
Malam datang perlahan. Rayna makan malam sendiri. Tidak lama setelah itu, Sandy mengirim pesan.
[Sandy: Aku pulang agak malam, Sayang. Jangan nunggu.]
Rayna memilih tidak membalas, setiap malam selalu saja pesan seperti itu yang ia dapatkan.
Di kamar, Rayna mengganti pakaian, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menatap cermin, wajahnya sendiri. Cukup lama, ia mendesah napas halus dan memilih tetap melihat dirinya.
Ia berbaring, mematikan lampu. Jam menunjukkan hampir pukul sebelas ketika pintu kamar akhirnya terbuka pelan. Sandy masuk dengan langkah hati-hati.
Rayna membuka mata.
“Kamu belum tidur?” tanya Sandy pelan.
“Baru mau,” jawab Rayna.
Sandy mendekat, duduk di sisi ranjang. “Maaf akhir-akhir ini sering pulang malam. Tapi, kenapa pesanku nggak di balas?”
Rayna menoleh. “Aku nggak sempat balas, Mas. Kamu akhir-akhir ini lembur, kerja?”
“Iya,” jawab Sandy cepat.
Rayna mengangguk. “Aku ngerti.”
Sandy tampak lega, ia menuju kamar mandi, berganti pakaian. Ia berbaring di samping Rayna.
Lampu sudah mati. Nafas mereka perlahan seirama. Rayna memejamkan mata. Kamar tenggelam dalam sunyi, hanya ada suara napas Rayna yang teratur di sampingnya.
Sandy tidak langsung memejamkan mata.
Ia menoleh sedikit, menatap wajah Rayna yang setengah tertutup rambut. Istrinya itu tertidur menghadap ke arahnya, ekspresinya tenang, nyaris tanpa beban. Seolah hari yang ia lalui tidak pernah menyisakan apa pun dan justru itu yang membuat d**a Sandy terasa sesak.
Ada rasa bersalah yang muncul pelan. Rasa itu datang seperti air yang merembes dari celah-celah kecil, pelan tapi pasti.
Rayna selalu seperti ini.
Sandy menelan ludah. Tangannya bergerak sedikit, hampir menyentuh lengan Rayna, lalu berhenti di udara. Ia takut membangunkannya. Atau mungkin takut pada dirinya sendiri.
Dia percaya padaku, batinnya.
Kepercayaan itu terasa berat malam ini. Lebih berat dari lelah kerja. Lebih berat dari telepon-telepon yang ia abaikan. Lebih berat dari alasan-alasan yang terus ia susun rapi.
Sandy memejamkan mata, mencoba tidur, tapi bayangan wajah Rayna terus muncul. Senyumnya di pagi hari. Nada suaranya yang selalu lembut. Caranya berkata *aku ngerti* tanpa meminta penjelasan.
Rasa bersalah itu menekan dadanya lebih kuat.
“Aku jahat,” gumamnya nyaris tak bersuara.
Rayna bergerak kecil dalam tidur, mendekat tanpa sadar. Tangannya menyentuh lengan Sandy, refleks, seperti kebiasaan lama yang tubuhnya ingat.
Sandy menegang karena merasa bersalah atas apa yang terjadi, Sandy menatap langit-langit kamar, menahan napas lebih lama dari biasanya.
Malam itu, Sandy tertidur di samping istrinya dengan satu perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, adalah rasa takut.
Ia tidak takut ketahuan tapi takut kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah ia lukai secara langsung.
***
Pagi berjalan seperti biasanya, selepas sarapan mereka menikmati teh dan sepiring cemilan buatan Ijah, Rayna ingin bertanya tentang lembur dan pekerjaan, namun sepertinya itu lebih baik tidak ia tanyakan karena ia tidak mau masuk terlalu jauh.
“Sayang, siang ini aku ke Bandung,” kata Sandy.
“Hm? Tumben ke Bandung? Ada apa di Bandung?”
“Aku rencananya mau buka cabang pembantu di kecamatan.”
“Aku ikut?” tanya Rayna.
“Nggak usah, aku akan cepat kembali, hanya dua hari.”
“Baiklah.”
Rayna mengangguk, walau ia bingung karena biasanya jika ke luar kota, Sandy akan meminta di temani, Rayna tentu saja senang sekali, tapi sepertinya Sandy tidak mau diganggu kali ini.
“Aku akan siap-siap,” kata Sandy.
Rayna mengangguk.
Sepeninggalan Sandy, Rayna langsung melangkah keluar dari rumah dan menghampiri Arman yang saat ini sedang me-lap mobil.
“Pak Arman.”
“Iya, Bu?”
“Pak Arman kan suka mengantar Bapak, ya? Memangnya Bapak lembur setiap hari?”
Sejenak Arman terdiam, bingung harus menjawab apa, ia ingin bersikap senatural mungkin, Arman tahu semuanya, tapi bosnya mengatakan jangan katakan apa pun karena bukan ranahnya.
“Iya, saya suka jemput Bapak di kantor, Bu,” jawab Arman.
“Kenapa Pak Arman lama jawabnya?”
“Hehe, saya kaget karena Ibu bertanya ke saya.”
“Tentu saja saya akan bertanya ke Pak Arman, kan Pak Arman supir pribadi Bapak.”
“Iya, Bu. Tapi tenang saja, setiap hari Bapak di kantor, kalau lembur juga pasti di kantor, hanya kadang bertemu klien di luar.”
“Baiklah. Saya tenang kalau begitu. Terus hari ini rencananya mau ke Bandung.”
“Apa? Bandung?” Arman kebingungan.
“Iya. Bapak bilang mau ke Bandung siang ini.”
“Oh iya, saya lupa, ternyata Bapak mau ke Bandung, saya disuruh antar ke Bandara.”
“Oh okelah. Pak Damar ikut kah kira-kira?”
“Pak Damar sepertinya ikut, Bu, tapi saya juga kurang tahu, karena biasanya Pak Damar kan ngurus cabang pusat di sini.”
Tak lama kemudian, Sandy datang dan sudah bersiap, ia tidak membawa kopor. Sandy mengecup puncak kepala istrinya, Sandy tahu jika Rayna sedang menanyakan tentang dirinya ke Arman, untungnya Sandy sudah menyuruh Arman diam.