PART 1

2134 Kata
"Aku bersumpah ini akan menjadi yang terakhir. Setelah ini aku tidak akan memaksamu lagi menemui mereka," kata Nency sambil menarik tangan Elle menuju lapangan basket. Perempuan itu bersandar pada pagar besi di sebelahnya, tangannya mengenggap seutas kawat yang menjulang keluar dari dalam. Elle sempat melihat ada sedikit noda karat di dalamnya. Ia ingin mencegah Nency agar tak lagi menyentuh sesuatu yang kotor dan berbahaya seperti yang sering ia lakukan selama ini, namun apa yang keluar dari mulut sahabatnya itu telah melenyapkan rasa simpatinya pada perempuan itu. Lapangan yang menjadi tempat paling ramai di sekolahnya itu sudah mulai sepi. Beberapa orang meninggalkan tempat itu setelah pertandingan basket kelas dua belas selesai tiga puluh menit yang lalu. Hanya tersisa beberapa laki-laki berseragam olahraga yang beristirahat dan Pak Badi - guru olahraga yang menjadi wasit pertandingan tadi. Elle tidak akan berada di sini selama dua jam untuk menonton pertandingan membosankan itu jika saja Nency - sahabatnya itu - tidak menariknya pergi dan mengancamnya. Ia sempat curiga dengan motif Nency mengajaknya menonton pertandingan itu karena ia yang paling tahu bahwa Nency tidak menyukai basket. "Terakhir kali kau juga bilang begitu. Aku tidak percaya denganmu lagi." Elle sudah menyadari ketidaknormalan Nency ketika ia melihat sahabatnya itu memandang laki-laki yang sedikit saja terlihat lumayan dengan mata memuja waktu pertama kali menginjakkan kaki di SMA Bakti Luhur ini. Elle tak pernah merasa terganggu jika saja Nency tidak menariknya ikut dalam kegilaannya itu, seperti yang dilakukannya sekarang ini dan beberapa hari yang lalu. Ia sudah berhasil mengenalkan Elle kepada beberapa laki-laki di sekolahnya. Sebut saja si Endra, anak pecinta alam yang memiliki kulit eksotis yang manis seperti gulali, lalu Fero, laki-laki tampan kelas sebelah yang merupakan vokalis sekaligus gitaris band terkenal di sekolahnya. Lalu Dino, anak rohis yang alim dan sopan, wajahnya yang tenang dan kelakuannya yang seperti bangsawan membuat Nency memasukkannya pada daftar anehnya. Lalu ada Kevin, Jirayu, Leon, Dio, Bara, dan nama-nama lain yang tidak sempat Elle hafal. "Ini! Berikan ini ke Abra!" kata Nency sambil memberikan dua botol kecil air minum kemasan pada Elle. "Aku sudah mengatur ini sebaik mungkin. Katakan saja bahwa Anne menyuruhmu untuk mengantarkan minuman ini padanya." "Anne siapa?" "Anne teman perempuan Abra satu-satunya. Kau tidak perlu tahu." Elle menatapnya tak percaya. Namun ia tetap melangkahkan kakinya menuju lapangan basket. Di sana ada beberapa anak basket yang sedang latihan. Nency mengatakan padanya bahwa Abra adalah laki-laki yang sedang duduk di pinggir lapangan, dekat dengan kursi panjang di lapangan sebelah kiri. Tapi, tunggu dulu. Kenapa yang duduk di situ sekarang ada dua orang? Elle memutar badannya, menatap Nency yang sedang mengangkat tangannya memberinya dukungan. Matanya berbinar, entah kenapa Elle sedikit terharu dengan usaha Nency untuk memperbaiki kehidupan cintanya di sekolah. Tapi tetap saja, memasang wajah manis dengan semua laki-laki yang Nency kenalkan padanya tidak semudah berjalan di atas tanah. Ia bukan tipe perempuan yang terbuka ke semua orang seperti Nency. Tak ingin berdebat dengan Nency lagi, ia kembali berjalan perlahan menyusuri kursi penonton dengan wajah ragu. Berhenti sejenak melihat salah satu lelaki itu, lalu kembali menguatkan tekadnya dan menenangkan dirinya sekali lagi bahwa ini yang terakhir. Setelah ini ia akan bebas dari teror Nency. Ya, terdengar lebih baik. Lalu, ketika ia sampai di lapangan sebelah kiri, ia melihat dengan teliti kedua laki-laki yang duduk lumayan berjauhan. Kemudian, Elle berjalan mendekati laki-laki yang rambutnya sedikit gondrong dan memberikan botol minumannya kepada laki-laki yang menurutnya lebih tampan daripada yang satunya itu. Laki-laki yang sekarang menatapnya bingung dengan mata elangnya yang sempurna. "Anne menyuruhku memberikan ini padamu." "Anne siapa?" Laki-laki di depannya ini bermata coklat dengan sedikit sinar keemasan di dekat bola matanya. Kelopak matanya besar, sedikit cekung, namun tidak memberikan kesan jahat seperti wajah-wajah bermata cekung yang ia lihat di layar televisi. Ia memiliki rambut hitam, namun tidak terlalu pekat, sedikit panjang menutupi telinganya, dan membuat Elle bertanya-tanya mengapa sekolahnya tidak memberlakukan aturan rambut pendek bagi setiap murid laki-laki seperti sekolah lainnya. Setidaknya alasan bahwa sekolahnya ini adalah sekolah swasta cukup bisa dia terima sekarang. "Anne siapa yang kau maksud?" Elle diam tak berkutik ketika laki-laki itu berdiri dengan wajah tak bersahabat di depannya. Biasanya, pertemuannya dengan laki-laki yang direncanakan Nency berjalan dengan lancar. Biasanya Elle-lah yang membuat rencana sempurna sahabatnya itu berantakan. Tapi kata-kata laki-laki yang terlihat tidak tertarik di depannya ini membuat Elle sedikit khawatir ia akan mempermalukan dirinya sendiri. Sedangkan di luar sana, Nency terlihat semakin semangat dengan menggerakkan tangannya lebih cepat. Wajahnya yang terlihat samar dari kejauhan seperti meneriakkan sesuatu. Elle tidak lagi melihat Nency ketika teman laki-laki di depannya itu memanggil seseorang dan laki-laki itu menoleh dengan cepat. "Langit!" Nama itu telah menjelaskan semuanya, kata-kata laki-laki itu kembali terngiang di telinganya. Dia bukan Abra. Dia bukan lelaki yang ingin dikenalkan Nency padanya. Temannya itu memanggilnya 'Langit', sebuah nama yang sangat cocok dengan wajah putih bersihnya dan matanya yang jernih. Elle dengan sangat manusiawi akan mengatakan bahwa dari semua laki-laki yang pernah ia temui beberapa bulan belakangan ini, Langit memiliki wajah yang paling sejuk dan menenangkan. Tampan dengan caranya sendiri, namun tidak dengan gaya soknya yang memuakkan. *** Langit tidak tahu kenapa dirinya bisa berada di ruangan ini sekarang. Tiga puluh menit yang lalu, ia masih bermain basket, melawan Hiro dan teman-temannya, lalu perempuan itu datang kepadanya dengan sebotol air mineral di tangannya. Namanya Elle, ia tahu dari sahabat perempuan itu yang sekarang sedang meraung seperti anak kecil yang kehilangan coklat terakhirnya. Sahabatnya itu menceritakan maksud sebenarnya mereka dengan matanya yang berair, tangannya menggenggam tangan perempuan bernama Elle itu dengan erat. Sudah dua puluh menit perempuan itu pingsan karena terbentur bola di lapangan. Tidak ada darah atau luka berat lain, kata asisten kesehatan yang sudah izin pulang tadi, perempuan itu hanya kaget dan kurang asupan air. Itu menjadi hal yang aneh sedangkan di tangannya ada sebotol air yang masih penuh. "Temanmu tidak akan kenapa-kenapa. Berhenti menangis! Kau membuat semua terlihat mengerikan." Bukannya berhenti, tepat seperti dugaannya, perempuan itu justru menangis lebih keras. Sebenarnya Langit ingin meninggalkan ruangan itu, ia yakin kejadian ini bukan salahnya. Mendengarkan tangisan perempuan aneh yang semakin kencang membuat suasana hatinya memburuk. Akhirnya ia memilih tetap diam dan menunggu perempuan itu lelah dan akhirnya berhenti merengek seperti seorang bayi. "Bagaimana jika Elle gagar otak? Bagaimana jika dia lupa ingatan? Aku belum siap menerima hukuman dari Kak Abra," ucapnya di tengah tangisnya yang tidak jelas. Karena merasa gerah dan tidak tahan mendengarkan curhatan perempuan ajaib itu, Langit pergi dari ruangan kesehatan itu. Mengubur keinginannya untuk menunggu Elle sampai perempuan itu terbangun. Ia berjalan menuju kantin sekolah yang terletak tidak jauh dari ruang kesehatan. Lorong sekolah terlihat sepi, hanya satu-dua orang yang berjalan di lorong yang mulai gelap itu. Jarum jam yang melekat di tangannya menunjukkan pukul lima sore. Ia harus segera pulang atau ibunya akan menanyakan hal yang tidak-tidak kepadanya lagi. Ia sudah memasuki tahun terakhir dan mengikuti kegiatan lain, seperti basket di saat seharusnya ia belajar dengan tekun pasti akan membuat ibunya marah. Suasana kantin tentu tidak seramai siang tadi. Ia melirik pada jam dinding yang beradi di sudut dinding kantin. Laki-laki itu memasuki kantin dan semua pasang mata mengikuti setiap gerakannya. Tidak ada yang salah, Langit dan semua pesonanya telah menjadi kebiasaan bagi setiap murid perempuan. Mereka menatapnya dengan wajah memuja, beberapa orang memilih untuk menyembunyikan ketertarikan mereka dengan menunduk menghindari tatapan laki-laki itu, sebagian besar perempuan menatapnya dengan terang-terangan, dan para lelaki menatap Langit seperti seorang yang siap menguliti setiap inchi tubuh lelaki itu. Mungkin itu terlalu ekstrem untuk sebuah tatapan dari seseorang yang iri. Meja pojok kantin di samping warung nasi yang sudah tutup, Langit melihat teman-temannya mengangkat tangan mereka, menyuruh Langit bergabung. Bukan hanya Farhan, tapi ada Hiro, Bara, Yusa, dan juga Abra. Langit melihat satu kursi kosong di samping Abra dan mendudukinya. "Bagaimana perempuan tadi? Apakah dia sudah sadar?" tanya Yusa, laki-laki yang tanpa sengaja melempar bola dengan sekuat tenaga dan mengenai kepala perempuan tadi. Raut wajahnya sedikit khawatir, matanya menyipit, dan alisnya mengerut dalam. Bola mereka memang sering mengenai orang tanpa sengaja, namun tidak banyak yang sampai pingsan seperti Elle. "Sebentar lagi juga sadar." "Apa aku harus kesana? Aku sungguh merasa tidak enak dengannya. Perempuan itu masih di ruang kesehatan, bukan?" tanyanya lagi. "Aku rasa tidak perlu. Sudah ada temannya yang menjaga," jawab Langit singkat. Lagipula, ia yakin tak lama lagi perempuan itu akan bangun. Mungkin setelah ini ia akan kembali ke sana untuk mengantar mereka pulang. Ia tidak tahu bahwa ia punya rasa kemanusiaan sedalam ini. Yusa masih dengan wajah khawatirnya, namun laki-laki itu juga tidak pergi untuk menjenguk perempuan itu. Laki-laki itu melanjutkan memakan baksonya yang tinggal separuh. Wajah teman-temannya penuh dengan keringat. Langit mengurungkan niatnya untuk kembali ke tempat perempuan itu ketika pembicaraan mereka yang sempat terputus karena kedatangan Langit tadi berlanjut. "Jadi, dia Elle yang itu?" tanya Bara, sambil menatap Hiro, meminta jawaban. "Iya." Hiro, sang kapten, seperti biasa memasang wajah datar dan hanya menjawab secukupnya. "Aku tidak tahu kalau dia adik perempuan Abra." Langit hanya mengingat satu orang bernama Abra, dan itu adalah orang yang kini ia tatap dengan kening berkerut. Sedangkan laki-laki itu, Abra, terlihat bingung dengan tatapan yang Langit berikan. "Adikmu, Bra?" tanya Langit menyuarakan pikirannya. Membuat Hiro tersedak, lalu tertawa pelan. "Bukan Abra ini, Bodoh. Abra kapten basket kita waktu kelas sepuluh. Kak Abra, mantan kekasih Selena. Aku tidak percaya kau tidak mengingatnya." Langit menganggukkan kepalanya mengerti. Abra, kapten basket SMA Bakti Luhur dua tahun yang lalu, waktu ia baru memasuki SMA ini. Sejarah kakak kelasnya itu lumayan menarik. Namun, Langit bingung kenapa dia tidak mengenali Elle sebelumnya. Bahkan hanya Hiro yang menyadari bahwa Elle adalah adiknya Abra. "Kenapa aku baru sadar kalau Abra punya adik perempuan yang seangkatan sama kita? Padahal kita sering datang ke rumahnya waktu itu," Kata Bara, mewakili pertanyaan Langit dan teman-temannya yang lain. "Aku tidak tahu, namun aku peringatkan satu hal kepada kalian, jangan pernah membuat masalah dengan perempuan itu. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan adik kesayangannya itu, kalian pasti tahu kalau Abra tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang, kan?" ucap Hiro serius. "Terutama kau, Langit." "Kenapa aku?" "Karena aku tahu kau yang paling berengsek di sini," sahut Yusa. Laki-laki itu telah menghabiskan makanannya dan kini sedang menaikkan alisnya pada Langit. Langit membalas tatapannya tak kalah berani. "Kau tidak lebih baik, Yus." "Setidaknya aku tidak menjalin hubungan dengan perempuan yang dicintai temanku sendiri dan memutuskan hubungan itu secara sepihak tanpa bersalah sama sekali." "Masih masalah Dhea? Aku sudah pernah bilang sebelumnya kalau aku tidak tahu kau menyukainya." "Lalu kenapa kalau kau tahu? Langit, aku tidak marah kau menjalin hubungan dengannya. Aku marah karena kau memperlakukan Dhea seperti kekasih-kekasihmu yang lain. Kamu mencampakkannya. Kalau kau tidak serius dengannya, kenapa kau mendekatinya, hah?" "Dia yang selalu menempel padaku. Aku hanya tidak sampai hati membiarkannya merendahkan harga dirinya di depanku seperti itu. Setahuku Dhea bukan perempuan murahan dan menerima ajakannya untuk berkencan juga tidak merugikan bagiku." Yusa berdiri, tangannya menggedor meja kantin hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Membuat semua pasang mata menatapnya. Tanganya terkepal, berniat untuk menghajar laki-laki di depannya. "Berengsek." Tatapan tajam dari Hiro, sang kapten basket SMA Bakti luhur membuat Yusa berhenti seketika. Matanya tetap menatap tajam Langit yang hanya mendapat balasan senyum tipis dari Langit. Yusa sangat kecewa karena Langit menganggap remeh perasaan perempuan yang ia cintai selama ini. Karena tidak ingin emosinya meledak di tempat ini dan mengacaukan kerja tim yang telah mereka bangun karena perasaan pribadinya, Yusa menarik nafasnya panjang dan meninggalkan mereka. "Maaf," kata Yusa lirih sebelum pergi menjauh dengan langkah panjangnya. Langit melihat Yusa meninggalkan mejanya dengan ekspresi marah yang tertahan. Langit merasa bersalah pada Yusa, tapi ia tidak bisa melakukan apapun lagi untuk memperbaiki masalah ini. "Hei! Aku rasa ini bukan salahmu sepenuhnya," kata Bara santai. "Mungkin salah Tuhan kenapa menciptakan kita dengan wajah yang membuat perempuan-perempuan itu berteriak histeris setiap bertemu dengan kita. Bukan begitu, Han?" Lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Farhan, laki-laki berhidung mancung yang sedang asik memainkan ponselnya tanpa terganggu dengan kejadian itu sedikit pun. Bara mencoba mencairkan suasana yang membuatnya merinding. Hiro berdiri dan menatap Langit dengan tajam. "Aku tahu ini bukan sepenuhnya salahmu. Tapi sebagai teman dekat Yusa, aku tahu seberapa besar perasaan dia ke Dhea. Aku tentu saja tidak bisa berdiam diri ketika kau memainkan perasaan perempuan yang disukai teman dekatku. Kau memang jagoan di tim ini, Langit. Tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu bersikap seenaknya di sini." Hiro mengangkat tangannya, mengulurkan tangannya pada Langit yang membuat Langit sedikit bingung. "Aku hanya tidak ingin kekuatan tim kita menurun karena masalah pribadi kalian seperti ini. Minggu depan kita akan bertanding untuk memperebutkan piala lama kita. Jadi, aku mohon kepadamu, Langit. Minta maaflah kepada Yusa, atau setidaknya beri pengertian kepadanya. Aku tidak mau masalah ini menghancurkan kerja tim kita yang sudah kita bangun susah payah." Langit memandang sekilas tangan besar Hiro yang berada di depan wajahnya lalu berdiri dan menepuk pundak Hiro dengan ringan. "Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengurusnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN