Tamu Tak di Undang

1097 Kata
Seperti biasa saat pulang sekolah tiba Maudy dan Tita akan berjalan ke pertigaan untuk pulang. Kedua sejoli itu asik mengobrol. "Lo kemana tadi? Boong beud bilang mau ke toilet segala malah ninggalin gue bareng Orlando" Setelah menemani Orlando makan (yang sebenarnya lebih banyak ia yang makan sih) Maudy segera beranjak meninggalkan Orlando begitu saja tanpa memperdulikan bahwa tadi Mia sempat memanggilnya. Maudy masuk ke kelas dan celungak celinguk mencari Tita, namun sahabatnya itu tidak ditemukan. Dan baru datang tepat saat bel tanda jam istirahat berakhir berbunyi. "Ngintipin lo yang lagi main suap suap manja sama Orlando" Tita cekikikan sendiri. "Gue do'ain mata lo bintitan deh" "Asssh sakit Maudya lo mau punya temen botak" Tita mengaduh kesakitan karena Maudy menjambak rambutnya. "Lagian ga ada kerjaan banget lo ngintipin gue, bukannya temenin malah kabur lagi" "Yakin mau gue temenin, segitu asik banget suap suapan" Tita menyengir sedangkan Maudy mendengus. "Dy dy" Tita menepuk nepuk tangan Maudy. Maudy langsung mengikuti arah pandang Tita. Rombongan motor Mahen baru saja lewat, Orlando terlihat membonceng Mia yang memeluk pinggang cowok itu mesra. Sedangkan Mahen, cowok itu sendirian. Aduh bikin Maudy pengen jadi penumpang di motor Mahen. Rombongan itu lewat begitu saja tanpa. "Gila si Orlando, pacaran sama lo tapi masih mesra mesra sama si Mia" Tita berkacak pinggang sambil menunjuk nunjuk ke arah motor Orlando yang sudah menjauh. Sedangkan Maudy masih terus memperhatikan motor Mahen sampai motor itu berbelok di pertigaan. Maudy sama sekali tidak perduli pada Orlando, ia malah merasa senang jika saja Orlando dan Mia memutuskan untuk kembali. "Maudy lo bener bener ya mata lo tuh kalo ada Mahen buta" Tita menggeplak punggung Maudy membuat Maudy kesakitan. "Sakit Artita, yaudah sih biarin aja kalo Orlando sama Mia bukan urusan gue" Maudy mendengus, bibir nya mengerucut dan berjalan lebih dulu meninggalkan Tita. Tita hendak mengejar Maudy tapi tidak jadi saat Meira, teman sekelas mereka menahan langkah Tita. *** Maudy membolak balikkan tubuhnya di ranjang dengan pandangan yang tak lepas dari ponsel. Biasanya Mahen akan membuat story jam segini saat dia dan teman temannya nongkrong. Tapi sudah lewat dia jam dari waktu biasanya i********: Mahen masih sepi sepi saja. Bahkan hari ini pujaan hati Maudy itu tidak mengupdate apapun. Tidak seperti biasanya. Saat di sekolah pun Mahen terlihat cuek cuek saja pada Maudy. Memangnya Maudy berharap apa? Bukankah selama ini juga seperti itu. Maudy menelungkupkan tubuhnya dan melempar ponselnya asal di kasur. "Dy itu ada temen kamu tuh, aduh itu temen kamu ganteng lagi mirip papi waktu masih muda. Kayanya dia ada darah darah blasteran gitu ya mukanya cakep banget cocok emang kalo jadi mantu mami" Mami Maudy menghampiri anak gadisnya, dari pintu kamar sampai tiba di samping ranjang Maudy. Ia tak henti henti nya berbicara. Maudy yang mendengar suara mami nya langsung mendudukkan badan dengan wajah cemberut. "Iih kamu tuh ya, itu temennya datang malah malas malasan mana itu wajahnya cemberut gitu lagi, ya walaupun anak mami mah mau gimana gimana juga tetep cantik" Senyum mami merekah, ia bangga dengan hasil kerja kerasnya bersama si papi membuahkan hasil yang luar biasa. "Aduh mami ngomong apa sih? Temen Ody siapa? Bilangin Ody tidur aja, Ody lagi malas keluar mami" Daripada mendengar ocehan mami nya yang kemana mana. Maudy lebih memilih kembali menelungkupkan badannya. Tapi lengannya kembali ditarik. "Issh temuin dulu itu temennya kasihan daritadi di interogasi papi" Mami kembali menarik anak gadisnya yang hendak tertidur itu. "Pamali loh nolak rezeki itu" Mami menarik Maudy u tuk berdiri dan dengan malas Maudy menurutinya. "Siapa sih mih, Ody kan gapernah berteman dekat sama cowok" Walaupun malas tapi Maudy jug penasaran siapa cowo ganteng yang katanya mengaku sebagai teman Maudy itu. Maudy tercengang saat melihat siapa teman cowok yang dimaksud mami nya itu. "Orlando? " Maudy menunjuk wajah Orlando horor. Itu cowok ngapain coba di sini. Sedangkan yang di tunjuk mendongak menatap kearah Maudy dengan senyum yang merekah. "Hai Dy" Dengan santai nya Orlando menyapa Maudy. Apa apaan ini beraninya cowok itu ke rumahnya, selama ini Maudy tak pernah membawa teman cowok ke rumahnya. Bahkan hanya Tita saja yang tahu rumahnya ini. Tapi Maudy tak heran bagaimana Orlando tahu rumahnya, cowok itu tidak pernah kesulitan mengenai apapun. Hidupnya memang serba mudah. Tapi yang membuat Maudy heran, bagaimana mungkin papi nya bisa sesantai itu. "Ody duduk dong" Tegur papi saat melihat putri nya itu berdiri dengan wajah keheranan. "Papi gatau kalo ternyata sekolah kamu itu punya nya Adam teman papi" Papi menatap ke arah Maudy sat Maudy duduk di sampingnya. "Kan tidak penting papi" Maudy menjawab dengan malas, ia menjadi sangat kesal sekarang. Belum selesai dengan kegalauan tentang Mahen sekarang sudah muncul lagi perkara baru. "Kamu ini ga cerita cerita kalo satu kelas sama Orlando lagi, ah papi juga yang gapernah nanya sana Adam sih" Maudy cemberut "Ya lagian apa pentingnya sih" Maudy akan beranjak untuk kembali ke kamar sebelum mendengar papi nya kembali berbicara. "Mau kemana Ody, temenin Orlando sana. Ada temen ko malah di tinggal" Papi mengacak rambut putri nya itu. "Yaudah nak Orlando Om tinggal dulu ya, kamu ngobrol aja dulu sama Ody" Papi meninggalkan Maudy dan Orlando berdua saja. Maudy menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa dan melipat kedua tangannya di d**a. "Lo ngapain ke sini sih" Ia mendengus melihat manusia di depannya yang terlihat santai itu. "Berkunjung ke rumah pacar emang ga boleh?" Maudy mencibir perkataan Orlando barusan. "Pacar apaan yang masih mesra mesraan sama mantan" "Oh lo cemburu? Bilang dong kalo cemburu itu" Orlando menyeringai. "Iih geer banget, bodo amat gue ga peduli lo mau sama siapa siapa juga. Lagian lo ngapain ke sini sih ganggu aja" "Ganggu apanya, orang lo cuma leyeh-leyeh di kamar" Orlando bangkit berdiri dan menghampiri Maudy. Tangannya terulur menunggu sambutan tangan Maudy. "Mending keluar yu, gue temenin lo jalan jalan malam ini. Mungpung gue free" Maudy mengabaikan tangan Orlando yang terulur dia masih betah bersedekah d**a. "Udah malem, gue alergi dingin" Maudy menjawab dengan jutek. "Ya iya dingin kalo lo pake baju nerawang dan pendek gitu. Ambil jaket gih, gue bawa mobil ko" Tak mendapat smabutan, Orlando kembali menarik tangannya dan memilih duduk di samping Maudy. Mata Maudy melotot mendengar ucapan Orlando barusan. Ia baru menyadari penampilannya saat ini, Maudy hanya mengenakan kaos berwarna putih tipis yang hanya sebatas paha. Kenapa tadi mami dan papi nya tidak menegur pakaian Maudy sih. Pasti nih bocah udah liat warna dalaman Maudy. Ditambah lagi sejak tadi ia bersedekap d**a, pasti d**a nya terlihat jelas. Orlando menyeringai "gausah sok kaget gitu lo, by the way" Orlando mendekatkan wajahnya ke telinga Maudy membuat Maudy deg degan "kayanya bra nya kekecilan itu ga ketampung semua" Maudy reflek menjambak rambut Orlando sekeras mungkin. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN