Sepanjang lorong dengan langkah lesu sembari memilin kain gaunnya, Silky terus memikirkan ucapan Niu. Benarkah? Karena menolong dirinya, pangeran hampir celaka? Akan tetapi pikirannya memukul mundur untuk menarik fakta bahwa pria itu adalah Pangeran. Ia mengambil duduk di undakan tangga yang menurun. Menatap langit biru yang sedikit menyala, ya seperti itulah dunia yang sedang di pijaknya.
“Kakak, sudahkah kau makan? Kau pasti mencariku, kan?”
“Aku baik-baik saja di sini.”
Sambil menatap langit, ia berbicara seorang diri. Menganggap seolah sang kakak sedang memperhatikannya, tapi itulah yang hanya bisa Silky lakukan untuk mengekspresikan kerinduan pada saudaranya. Semua yang berlalu lalang di sekitarnya membisu dan tidak mau untuk diajaknya bicara. Ia benar-benar sendiri. Ia pun ingin sekali keluar dari negeri mimpi ini, tapi dengan cara apa? Untuk menuju gerbang akar sangat jauh dan membutuhkan sebuah tunggangan.
“Kau sedang apa?” tanya Moya yang telah berada di sampingnya, entah sejak kapan.
Silky menoleh ke samping sekilas. “Melihat gajah terbang,” jawabnya singkat.
Moya yang berniat pergi, mengurungkan niatnya karena tarikan kecil pada ujung jubahnya. Lantas ia menundukkan kepala.
“Aku masih ada pekerjaan,” ucapnya sebelum wanita kecil di bawahnya bertanya.
Silky menghempaskan ujung jubah yang sempat ia tarik. “Ya sudah, pergi sana!” usirnya.
"Aku ada di ruang peracik, jika kau butuh teman,” ucap Moya sambil meyodorkan gulungan kertas.
Silky menarik gulungan kertas itu dengan malas. Ia buka tanpa semangat, lalu kedua matanya memicing setelah melebarkan gulungan. Garis berkelok dengan tanda segitiga lacip yang bertebar hampir memenui. Ia yakin, gulungan yang di pegang ialah sebuah peta. Karena tidak ingin mengrti isi kertas itu, maka ia gulung kembali dan menyimpan ke dalam lipatan gaun yang melilit di bagian dadanya. Beranjaklah dari tangga batu itu.
Langkah kecil tanpa tujuan itu tanpa terasa telah memasuki hutan yang berada di belakang kastil. Bukan ia sendiri, jalan tanah yang sedang di susuri masih terjamah oleh para warga. Beberapa persimpangan masih lalu lalang orang yang sibuk dengan barang bawaan. Namun, lambat laun jalan setapak itu mula mengecil dan sempit tapi tak dihiraukan. Setelah melewati tanaman bunga ungu yang merambat, suasana menjadi sunyi dan sepi. Sempat menoleh ke belakang sejenak, yang ditangkap oleh pandangannya tetaplah aktifitas para warga yang tadi dilewati. Hanya suasana dan silir angin yang menyambutnya sedikit berbeda. Ia pun melanjutkan langkah sesuai keinginan hati.
Langkahnya berhenti karena jalan di depannya berakhir. Ia tatap lengkat sesuatu yang ada di depan hingga kepalanya harus mendongak ke atas.
“Buntu?” tanyanya sendiri sambil melipat kedua tangan di depan tubuhnya, pun mengalikan pandangan pada sisi kanan dan kiri yang penuh dengan pohon khas hutan.
“Terserah. Di sini juga tidak buruk,” ucapnya sambil mengambil tempat duduk dan bersandar pada batu besar yang memutus jalan.
“Hai,” sapanya pada seekor ulat bulu bewarna biru dan ungu di separuh badannya.
“Kau sendiri? Bagus juga, aku pun sendiri.” Silky mengajak hewan kecil itu mengobrol.
“Aku bukan berasal dari negeri ini, jika kau ingin tahu. Tapi entah mengapa aku bisa masuk ke tempat aneh ini. Seseorang berkata kepadaku, jika banyak yang mengincarku. Apa karena aku ini manusia dari alam manusia? Entahlah.”
Setiap kali seekor ulat itu berkedip, mata putihnya berubah biru terang. seperti merespon setiap ucapan Silky, dan itu disadari olehnya. Pohon kapas setinggi pinggang yang ternyata satu-satunya tanaman tempat si ulat hinggap.
“Kau cantik sekali, dan bulumu sangat lembut,” puji Silky sambil mengusap lembut si ulat dengan satu jari telunjuknya.
“Aku akan membawamu bersamaku,” ucap Silky sembari meraba tubuhnya untuk menemukan sesuatu sebagai wadah si ulat, namun tidak ada apapun selain gulungan kertas.
“Aku hanya membawa diri ternyata. Tapi, kau bisa naik ke telapak tanganku,” ucap Silky menemukan solusi.
“Aku tidak akan pergi, tempatku di sini,” kata si ulat sambil mengedipkan mata.
“Kau bisa bicara?” Silky sedikit tersentak dengan kedua mata melebar.
“Seperti yang kau dengar.”
Ingin kembali bertanya dan mengobrol sedikit panjang, bibir Silky mendadak mengatup saat merasakan sosok besar yang kini berdiri tepat di sampingnya. Perlahan ia angkat kepala hingga mendongak dan tatap matanya menjurus pada netra ungu menyala, sontak Silky tersentak dan punggungnya membentur batu besar di samping.
“Kau!” serunya lantang, masing dengan tatapan terkejut.
“Mau melarikan diri?” tanyanya dengan tatapan datar pun kedua tangan terlipat di depan tubuh.
“Jangan asal menuduh,” bantah Silky sambil berdiri tegap, namun tetap saja mendongakkan kepala karena tingginya tidak sejajar.
“Lantas?” tuntut Diarkis.
“Apa? Aku hanya jalan-jalan saja,” jawabnya jujur. Namun, dalam penangkapan pendengaran Diarkis hanya sebuah alasan belaka.
“Istana sangat luas, pantaskah kau mengatakan kebohongan itu kepadaku?”
“Aku bosan! Dan tidak nyaman! Pulangkan aku!” teriak Silky.
Diarkis mengangkat kedua alisnya. “Kau bisa pulang sendiri,” jawabnya.
Jawaban Diarkis membuat Silky naik darah. Ia tarik kerah jubah Diarkis agar wajah pria itu menunduk kepadanya.
“Kau k*****t!” makinya, lalu menghempaskan.
“Batu sialan! Kau menghalangi jalanku!” makinya penuh amarah.
Detik berikutnya, batu berlumut itu terbelah dengan cahaya biru terang. Kabut putih tebal yang menyapa mereka perlahan memudar, memperlihatkan anak tangga yang berkelok dengan diapit tujuh warna tanaman bunga kecil.
“Wah... kenapa tidak dari tadi,” ucap Silky takjub. Secepatnya ia langkahkan kaki masuk, meninggalkan Diarkis yang masih terpaku.
“Hei, tunggu!” teriak Diarkis. Ia pun terpaksa menyusul gadis peliharaannya.
Belum sempat ia bersuara, pandangan dan suaranya terkunci saat semua yang ada di tempat ini seolah menyambut kedatangannya dan Silky. Layaknya si pemilik memasuki rumahnya. Sungguh, ia sendiri tidak pernah tahu tempat ini dan ini kali pertamanya. Pun tidak ada sepenggal tulisan yang menggambarkan bagian indah negerinya di dalam sebuah batu.
Tatapannya beralih pada anak tangga yang sedang ditapaki. Diperhatikan gadis depannya yang riang menyentuh beberapa bunga yang tersenyum setelah disentuh. Tebing batu dengan air terjun kecil yang dilewati pun tak luput dari perhatiannya.
“Kenapa aku tidak diizinkan pulang, Pangeran?” tanya Silky dengan tatapan jatuh pada genangan air biru di depannya.
Telunjuk Diarkis bergerak kecil dan beberapa butir buah jatuh tepat di selembar daun yang berada di depan mereka. Pohon besar berdaun gradasi putih merah jambu yang berada di tepi danau kecil, pilihan Silky untuk mengistirahatkan kaki.
“Tiada seorang pun yang berhak mengizinkan atau melarangmu untuk berada di sini. Langit yang menjagamu pun punya tujuan, mengapa kau berada di sini?” tutur Diarkis.
“Kau memiliki sihir, dan kau seorang Pangeran. Tidakkah kau mengusahakan sebuah portal untukku kembali?” ucap Silky dengan pertanyaan yang menabuh gendang hati Diarkis.
“Mungkin akan ku lakukan suatu saat nanti,” jawabnya.
Arah pandangan Silky beralih kepada Diarkis yang duduk di sampingnya. “Tidak bisakah sekarang?” tanyanya serius.
“Jika aku bisa.”
“Jika suatu saat nanti bisa, berarti sekarang pun kau bisa,” tuntut Silky.
“Tidak masalah jika jiwaku lenyap asal kau bisa kembali ke tempatmu. Tapi, ritual membuka portal tidak semudah yang kau ucapkan. Jika aku salah, kita berdualah yang akan lenyap. Terlebih, asal usulmu saja tidak terbaca oleh sejarah manapun,” jelas Diarkis.
“Asal usulku? Aku hanya manusia biasa,” kekeh Silky.
“Aku tahu. Tapi, bagian tubuhmu tidak.” Tegasnya.
“Baiklah. Kalau begitu, ambil saja bagian itu! Aku rela memberikan kepadamu, asal aku tidak terikat di tempat ini,” ucap Silky sungguh-sungguh.
Diarkis menatap tangan Silky yang menggenggam tangan besarnya dengan penuh permohonan. Ia tepuk satu kali menumpukan satu tangan lainnya.
“Dengar, tidak ada yang bisa mengambil jantung terataimu. Aku, atau siapapun,” ucap Diarkis lembut.
“Lalu? Untuk apa aku di sini, yang katamu semua mengincarku,” tuntut Silky dengan kedua mata berkaca-kaca.
“Keabadian. Namun, sampai sekarang tidak pernah jelas bagaimana menjalankan ritualnya. Mereka hanya tahu jantung teratai memiliki energi keabadian.”
“Jika jantung terataiku diambil, apa kemungkinan aku kembali ke asalku?” tanyanya.
“Rohmu tidak akan kembali ke langit, bagaimana mungkin kau bisa kembali ke asalmu,” jelas Diarkis.
“Bersabarlah, butuh waktu untuk menemukan asal usul jantung terataimu,” bujuk Diarkis. Pun menenangkan gadis di depannya yang setiap saat merengek ingin kembali, tapi ia sendiri tidak tahu cara mengembalikannya.
“Pangeran, sebenarnya apa warna matamu?” tanya Silky.
“Tidak tahu. Memangnya yang kau lihat bagaimana?”
“Terkadang biru gelap, kadang biru terang, tadi warna ungu menyala,” jawab Silky sambil menghitung jari.
“Ya, seperti yang kau lihat,” jawab Diarkis enteng. Setelahnya, ia ambil buah dan menggigitnya sambil menikmati suasana tenang.