“Eungh…” Suara itu meluncur begitu saja dari bibir Eleanor. Ia tak sanggup menahannya. Wajahnya memerah, terbakar rasa malu yang membuncah. Namun tubuhnya mengkhianatinya—merasakan sensasi yang terlalu asing, terlalu kuat untuk diabaikan. Tubuhnya kembali didorong ke bawah, lalu digerakkan maju dan mundur oleh sang tuan yang tak mengizinkannya berdiam. “Jangan gigit bibirmu,” perintah Kenzo, jemarinya menyentuh lembut bibir bawah Eleanor. “Tak perlu malu. Aku ingin mendengarmu. Jangan jadi seperti patung—aku berhadapan dengan wanita, bukan batu. Bersuaralah. Biarkan aku tahu bahwa kau ikut larut dalam ini.” Gila. Ini benar-benar gila, pikir Eleanor. Hanya dengan mendengar pria itu memintanya untuk tidak menahan diri saja, tubuhnya langsung diliputi gelombang panas yang menjalar cepat.

