Bab 38

715 Kata

Kenzo berdiri diam di tengah ruangan lukisan, memandangi pintu yang baru saja tertutup pelan di belakang Eleanor. Hening merayap perlahan, seperti debu yang menari di antara cahaya lampu kuning lembut dari atas kepala. Ia belum bergerak. Masih membiarkan dirinya terjebak dalam sisa aroma tubuh Eleanor yang samar-samar tertinggal di udara. Lembut. Hangat. Tapi juga berbahaya. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia merasa jengkel—bukan pada Eleanor, bukan pada ciuman tadi. Tapi pada dirinya sendiri. Ia terlalu jauh membiarkan semuanya mengalir. Terlalu jauh membiarkan kontrolnya goyah. Kenzo menghela napas keras dan membuka kembali satu kain penutup lukisan. Lukisan potret perempuan muda itu kembali terlihat. Matanya yang teduh menatap kosong. Tapi Kenzo tahu betul, senyum tipis di bibir s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN