RUANG BERNAPAS.

1976 Kata

*** Ada yang selalu dipikirkan wanita bercelana katun abu-abu nan dipadukan dengan blouse putih yang bersembunyi di balik blazer warna senada, apa ia salah memilih warna pagi ini? Mengapa abu-abu juga menghiasi wajahnya, padahal lipstik red berry sudah menyentuh bibir Mya, tapi warna auranya seakan monokrom abu-abu. Dewa selalu mengatakan kalau semua akan baik-baik saja, ia juga menegaskan siap datang siang nanti menemui istrinya di kantor untuk makan siang bersama—sebagai status seorang suami, dan bukan lagi ‘saudara’ yang seringkali didengar teman-temannya. Hanya saja Mya masih belum bisa menggugurkan ketegangan yang terus mengitari kepala, mengikatnya erat sampai terasa pening di beberapa tempat. Ketika motor yang Dewa kemudikan sudah membawa mereka setengah jalan menghampiri kantor

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN