Harusnya, seseorang bisa membaca situasinya sekarang—tentang bahasa tubuh yang menegaskan sebuah penolakan, bahkan tiada tatap mata meski berkali-kali diajak bicara. Mya membenci situasi serta keberadaannya, ia tak enak hati dan tak tahu harus bagaimana ketika duduk di sofa berjejeran dengan Melody serta Aira, berseberangan dengan Sakti dan Dimas. Sejak Mya kembali, netra Sakti enggan beralih darinya, hal itu membuat Mya gemas sendiri, ia ingin segera lenyap dari sana, tapi tak memiliki alasan yang tepat. Teman-temannya mulai menikmati makan siang mereka dengan lahap seraya sesekali mengomentari rasa makanannya atau melempar candaan, sedangkan Mya yang terlalu pening menghadapi situasinya—hanya menyesap jus melon s**u melalui sedotan. Saat penglihatannya mengarah pada Sakti, laki-laki itu

