Bab 7. Aku mohon

1002 Kata
Arsenil paham percuma bicara pada Olive saat ini, toh dia tidak akan mengingat apapun setelah sadar kembali. "Olive, aku berharap kau tidak melakukan hal ini lagi, kasihan melihat anak-anak kita karena dirimu selalu berbuat seenaknya. Jika kau ingin mabuk, lalu melihatkan sisi buruk dirimu, aku sungguh tidak peduli, tapi jangan di rumah ini. Kau seolah tak mengharapkan diriku." "Aku begini kerena dirimu, jadi jangan pernah hanya menyalahkanku saja, Tuan Arsenil yang terhormat." Olive memeluk suaminya sangat erat. "Jangan tidur di bawah, malam ini tidur saja dengan istrimu yang cantik ini " Olive wanita muda yang pura-pura dewasa, dia tak pernah mengatakan sesuatu yang aneh dan membuat orang lain salah paham. Jadi ketika Arsenil mendengar gombalan darinya, hati pria itu pun terasa nyeri dan sedikit berdebar. Pria itu berbalik, lalu mengecup kening Olive, dia berbisik pelan, "apa kau akan ingat kejadian malam ini?!" "Aku selalu mengingatnya?!" "Benarkah?! Aku tidak percaya padamu, aku tahu kau tidak pernah mengingatnya, karena jika itu terjadi mungkin wajahku sudah babak belur karenamu." Dia mengecup kening Olive, wanita ini tersenyum manja, "Anda ingin tidur dengan saya? Apa kita harus seperti ini setiap melakukannya? Apa anda tidak ingin saat saya sadar?!" "Kaulah yang tidak menginginkan aku!" Jawab Olive pelan di telinga Arsenil. Dia sungguh tersipu saat melihat pria yang kini ada di hadapannya, tapi saat sedang asyik bercinta seseorang mengetuk pintu kamar mereka. "Tuan, ada seseorang yang mencari anda." ucapnya pelan. Arsenil langsung mendorong pelan tubuh Zenit ke atas ranjang. "Baikllah aku akan keluar sekarang." Olive menarik tangan Arsenil, dia menggeleng dan mendekat pada suaminya. “Jangan tinggalkan saya, Tuan! Jika anda tetap pergi maka saya akan benar-benar akan tidur dengan pria manapun!” Arsenil menekan dagu Olive,“Aku pun akan mengagalkannya walaupun kau terus mencoba!” Olive tersenyum, “anda benar-benar tidak menginginkan saya, Tuan? Saya tidak begitu jelek hingga anda tak sanggup untuk melepaskan pakaian ini.” Dia menghela, lalu menangkup pipi Olive. “Baiklah, aku akan mempedulikan dirimu saja! Terserah siapa yang mengetuk pintu kamarnya toh apapun yang mereka berdua lakukan tidak akan di ketahui oleh siappapun. “Zenit, ini apa?!” “Hm, Tuan menginginkannya? Saya selalu membersihkan setiap hari karena takut anda kecewa saat melihat tubuh saya yang tidak sehebat wanita yang anda temui selama berhari-hari.” Arsenil menyentuh sedikit ujungnya, berwarna merah ranum dan lembut. “Milikmu kini menegang, aku sangat suka melihat gairahmu yang menggebu. Jadi apa besok pagi kau akan berteriak dan memukuliku dengan bantal seperti biasanya?!” Olive menggeleng, “kau berbohong Olive! Setiap kita melakukannya kau selalu memukulku, padahal sudah jelas dirimulah yang memulai rayuan ini.” “Tuan, jadi anda marah karena hal itu?! tapi saya tidak berbohong ketika mengatakannya. Saya hanya terkejut dan sedikit melempar anda.” Arsenil tak bisa melepas tawanya, “Jika begitu agar kau mengingatnya, aku akan melakukannya dengan cepat, keras dan lama! Aku akan membuat tubuhmu kesakitan hingga terus merutuki diri. Kau kesal, marah dan murka! Merasa menjadi wanita yang sangat bodoh saat menurunkan ego dan tidur dengan suaminya. Benar-benar gila, luar biasa!” “Saya marah karena anda tak merayu, ataupun menggoda diri ini, jadi maafkanlah saya Tuan.” Olive masih mabuk, Arsenil sangat paham akan itu. “Aku tidak ingin menggoda wanita yang angkuh!” bisiknya pelan. “Aku inginkan dirimu lebih dari apapun, sejak awal aku sudah memohon padamu.” “Anda tidak tulus!” “Dirimu tidak percaya diri hingga menyalahkan diriku.” Arsenil mengecup kening Olive pelan, “jadi apa kita akan terus dalam posisi ini?!” Perlahan Arsenil membuka kancing pakaiannya, dia mengunci mata Olive, mendekatkan diri lalu mencumbu dengan lemah lembut. Tak ada yang salah jika mereka berdua melakukan percintaan, mereka berdua sah secara agama ataupun negara. Kedua tangan Arsenill pun menyelip di antara ketiak Olive, dia merengkuh punggung wanita itu dan mencumbu. Olive mendesah saat bibir Arsenil kini menyentuh leher jenjang miliknya. Tidak ada paksaan ataupun penolakan dari mereka berdua, tangan Olive pun pelan membuka kemeja yang Arsenil gunakan, tubuh mereka bergerak walaupun belum ada penyatuan. Arsenil sangat intens membuat siapapun wanita yang melihatnya akan iri pada Olive. “Saya tak bisa melupakan setiap sentuhan anda, begitu lembut dan menghormati saya! Anda selalu bertanya apa saya menginginkan perlakukan anda. Setiap bibir anda menyentuh kulit saya, di saat itu pula saya merasa melayang.” “Kau hanya mengatakan ini ketika mabuk saja Olive, aku tak menem ukan kalimat ataupun sikap yang baik saat kau berada dalam kesadaran.” Olive tidak menjawab lagi, karena tenggorokannya terasa penuh saat Arsenil kini sudah berhasil menguasai tubuhnya. Kaki wanita ini tertekuk, dia begitu menikmati setiap gerakan Arsenil yang lembut dan romantis, dia selalu berbisik hingga Olive tak ingin semua ini berakhir. “Jangan membuat saya cemburu Tuan, saya tidak bisa melihat anda memperhatikan wanita lain.” “Kau cemburu tanpa alasan Olive, padahal sudah jelas Zenit mengurus anak-anak, kau hanya salah melihat sisi pandangku.” Olive mengerutkan keningnya, “apa saya salah paham?!” “Tentu saja, maka sadari saja kesalahan yang sudah kau buat, maka aku akan memberikan dirimu hadiah setiap harinya. Tapi aku ragu kau ingat semua yang kita lakukan.” Olive menggigit bibirnya, apalagi saat Arsenil membalik tubuhnya hingga Olive merasakan hal yang berbeda, keringat suami yang bercucuran membuat dirinya semakin gila dan tak ingin berhenti. Tubuh Arsenil bergerak seperti ular yang memangsa makanannya, Olive mati karena kenikmatan yang luar biasa. “Tuan, saya sangat menikmatinya,” Arsenil tersenyum, “Senyum anda seperti sedang mengejek saya!” "Aku tidak akan pernah bermain-main soal ini jadi kau jangan pesimis karena aku, sebaiknya menikmati malam yang indah dan penuh gairah ini bukan kakak sangat menyukainya dan aku juga tahu apa yang kau inginkan dariku." "Hm, anda yakin sekali! bagi saya Anda adalah sebuah mimpi yang jadi kenyataan namun tentu saja kita harus terbangun dari mimpi bukan?! tidak tahu harus mengatakan apa lagi yang jelas hari ini saya sangat bahagia berada di dekat anda dan menikmati tubuh anda yang indah." "Seharusnya, mengatakan itu padamu karena tubuhmu sangat nikmat saat aku sentuh dan kita saling menyukai saat kulit ini saling bergesekan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN