Bab 5. Pengasuh anak-anak

1103 Kata
Mansion milik keluarga Stenabi. “Olive, apa yang kau lakukan? Andrea, Addison, Janice, Jonathan!” Arsenil berteriak berkali-kali memanggil anaknya, saat Olive masih sibuk dengan panggilan di ponsel. “Olive, please! Mereka tidak terkendali.” teriaknya Gadis itu menghela sembari membalik tubuh, bibirnya masih sibuk berbicara di ponsel saat Arsenil sudah menggendong semua anak kembar berumur 4 tahun itu di seluruh bagian tubuhnya. “Maaf, aku sedang sibuk karena Arsenio membutuhkan bantuanku.” Dia menggapai tubuh Jonathan, meminta bocah itu untuk turun. “Zenit, kau dimana?! anak-anak sedang dalam kerusuhan, please bantu aku.” Seorang gadis berlari dengan cepat menuju Olive, “maaf Nyonya, saya sedang menyiapkan makanan mereka.” “Tidak apa-apa Zenit, aku hanya sedang berbicara di panggilan ini. Suamiku tak bisa di andalkan, jadi aku mohon bantuan darimu.” Zenit menggendong Janice, dia menggunakan bahasa isyarat untuk bicara dengan gadis kecil itu. “Nona kecil, aku membuatkan dirimu bubur pisang, makanan kesukaan Nona.” Janice tersenyum hingga semua giginya terlihat. “Ayo Tuan muda Jonathan, Tuan Muda Andrea, dan Tuan Muda Addison.” “Maaf Zenit, aku benar-benar harus merepotkanmu di hari minggu ini karena beberapa teman akan berkunjung. Mungkin mereka akan menginap di sini beberapa hari jadi aku harap anak-anak bisa di kendalikan. Olive sedang sibuk mencari tahu keadaan Demina dan keluarga yang terisolasi di rumah.” “Saya mengerti Tuan Arsenil, anda tidak perlu khawatir. Ini memang sudah menjadi tugas saya, lagipula anak-anak tidak pernah merepotkan saya.” Arsenil merasa lega, setelah mengangguk pria itu pergi dari hadapan Zenit. Olive yang melihat semua kini kembali merasa tak nyaman, dia memang tak suka dengan kehadiran Zenit yang bisa mengambil hati anak-anak dan pria yang kini menjadi suami palsu. Setahun yang lalu setelah berbagai macam kejadian, Olive yang menerima tawaran Arsenil untuk menikah tanpa dasar cinta dan prinsip tidak saling mengganggu pun mulai hidup serumah. Mereka menjalani hari-hari penuh kepalsuan di dalam satu kamar yang sama, semua itu demi kebaikan mental anak-anak dan permintaan kedua orangtua Arsenil. Walaupun berat, Olive dan Arsenil terlihat sebagai pasangan yang romantis dan sangat serasi. Bagi banyak pria Arsenil adalah pria idaman, dan bagi para pria Olive adalah istri yang seksi dan cantik. Mereka berdua membuat banyak orang merasa iri. “Zenit,” panggil Olive yang kini sudah selesai melakukan panggilan. Dia menunggu gadis itu berjalan kecil ke arah dirinya, padahal mereka seumuran tapi tetap saja kelas  mereka berdua terlihat begitu jauh. Dengan melipat kedua tangannya Olive berkata pada Zenit. “Padahal aku sudah memperingatkan dirimu, bukan?!” Dia menunduk, perlahan menelan saliva, “Nyonya maafkan saya, tadi Tuan hanya bicara tentang anak-anak tidak lebih daripada itu jadi anda jangan sampai salah paham.” jawabnya pelan. “Aku bukan majikan yang bisa memperlakukan pelayan dengan kasar karena aku juga pernah berada di dalam posisimu. Namun bukankah semua sudah jelas saat aku mengatakan untuk tidak terlalu dekat dengannya, dia suamiku dan ayah anak-anakku.” Zenit terlihat bingung karena dia memang tidak memiliki maksud tertentu. “Nyonya, saya mengerti jika anda masih sangat muda, bahkan umur kita tak kalah jauh! Saya harap anda paham bahwa sejak awal keberadaan di sini hanya untuk sebuah pekerjaan.” Zenit menunduk dan pergi. Olive memang terlalu muda, di usianya yang kini menginjak 21 tahun sudah memiliki anak dan suami yang tampan. Saya sekali dia masih menyimpan perasaannya di dalam hati karena tidak ingin Arsenil mengetahuinya. Alhasil satu tahun ini hubungan mereka tidak ada perubahan. Sikap dingin Arsenil di tambah Olive yang pura-pura tidak peduli menjadi daftar penyebab semakin renggang hubungan merek. Walaupun seperti itu, Olive sangat cemburu pada siapapun yang mendekati Arsenil. Beberapa kali mereka bertengkar karena sikap kekanakan Olive, di sinilah Arsenil semakin tidak suka dengan cara gadis itu. “Aku tidak akan memecat dirimu jika ini terulang lagi.” Zenit yang meraih tangan Janice dan yang lain pun berusaha menahan dirinya. Dia sangat membutuhkan uang dari pekerjaan ini, apalagi tak ada yang bisa memberikan gaji sebesar keluarga ini. Zenit harus bisa bertahan menghadapi rasa cemburu Olive. “Nyonya, anak-anak sedang tidur siang, sekarang saya akan membantu di dapur.” Olive mendengar apa yang Zenit katakan, tapi wanita itu tak menjawab sama sekali sampai suara mobil masuk ke halaman rumah mereka secara berbondong-bondong. “Zenit, kau bantu aku saja membawakan makanan keluar! Tuan tidak ingin terlalu banyak pelayan yang masuk.” Zenit mengikuti apa yang Olive katakan, walaupun sebenarnya wanita itu hanya terlalu tidak percaya diri jika bertemu dengan teman suaminya yang berkelas. Apalagi jika di antara mereka membawa pasangan, maka semuanya akan cukup sulit bagi Olive. “Nyonya, apa saya harus menunggu di dalam? Karena saya takut mereka membutuhkan sesuatu.” Olive ingat jika Zenit pernah bekerja Hotel kelas internasional. “Baiklah, atur saja mana baiknya! Mereka sangat jarang datang kemari secara bersamaan, jadi aku cukup khawatir.” “Saya permisi Nyonya.” Zenit mengatakan itu setelah mengangguk, dia mengetuk pintu lalu membuka pelan. Wajah Zenit yang menunduk sama sekali tidak tahu jika ada pria yang dia cari selama ini berada depan mata. “Tuan saya permisi.” “Zenit, periksa kembali kamar-kamar yang akan di tempati teman-temanku. Para Pelayan sudah membersihkan, tapi coba cek kembali agar aku puas.” “Baiklah saya mengerti Tuan.” dia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya karena tak nyaman, dan tidak ingin menimbulkan fitnah, Zenit tidak ingin di tuduh sengaja melirik dan merayu pria tampan yang ada di sini. “Saya permisi, Tuan.” Sesaat saat Zenit ingin berlalu, sebuah suara menghentikan langkah kakinya. “Aku ingin lebih banyak gula, bisa berikan kepadaku lagi?!” suara barito yang khas dengan sedikit serak ala perokok berat terdengar sangat familiar. “Pelayan, bisa kau berikan di gelas milikku lagi?!” Tubuh Zenit kaku, dia tak bisa bergerak sama sekali. Arsenil yang melihat itu langsung menyentuh tangan Zenit. “Hey, antarkan gula ke sana!” Zenit mengangguk, dia sedikit terkejut tapi berusaha normal. Sampai gula itu di masukkan Zenit masih tidak mengangkat kepala. “Kau di sini saja, jika ada permintaan segera layani.” dia mengangguk, tak menjawab sama sekali. Selama setengah jam Zenit berada di ruangan yang sama dengan suara yang sangat mirip dengan pria itu, ya Carlos Emerlad yang di maksud olehnya. Suara yang begitu ramai di dalam ruangan sama sekali tidak mempengaruhi dia, Zenit fokus pada suara Carlos yang bicara pada teman wanitanya. Tak lama Zenit mendengar sebuah kalimat yang menyakiti hatinya. “Pelayanmu boleh juga,” Arsenil terdengar tidak senang, “Hey Carlos, di rumah ini tidak ada yang bisa kau ganggu! Jadi tetap jaga bicaramu.” Mendengar percakapan mereka, jantung Zenit langsung berdebar tidak menentu. Yang pertama Tuan Carlos sengaja mempermainkan dirinya, yang kedua pria ini masih memandang rendah wanita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN