Takdir macam apa ini? Samuel membatin sambil menahan perih di dadanya. Padahal baru kemarin dia merasakan dunianya tiba-tiba berwarna berkat kemunculan bidadari berhijab di toko buku. Kemarin, sepulangnya dari toko buku, belum pernah hatinya terasa semeriah itu. "Lebar amat tuh senyum," komentar Ridwan saat melihat Samuel memasuki ruangan sambil senyum-senyum. "Coba tebak kenapa," tantang Samuel sambil menarik kursi dan duduk di depan meja kerja Ridwan. Suasana kantor Ceria memang minim sekat. Samuel lebih senang berbaur langsung dengan karyawannya daripada memisahkan diri di ruangan khusus. "Pasti habis dapat laporan penjualan yang angkanya banyak," tebak Ridwan dengan penuh keyakinan. Namun, Samuel menggeleng. "Berhasil gaet penulis femes?" Samuel menggeleng lagi. "Kita ini pembur

