Lamaran

1127 Kata
Setelah baksos, pertemuan Anisa dengan Elang hanya sebatas berpapasan. Mereka tidak pernah benar-benar ketemu untuk mengobrol panjang lebar. Bagaimana pun inginnya membahas banyak hal dengan cowok itu, Anisa belum seberani Maryam yang hampir tiap hari ketemu Ahmad diam-diam. Dua bulan kemudian, Anisa galau berat saat tahu Elang berniat mengakhiri program belajarnya dan akan segera meninggalkan pesantren itu. Sejak kabar itu berembus, Anisa uring-uringan. Dia merasa ... ada sesuatu yang belum selesai antara dirinya dengan Elang. Namun, bagaimana cara memperjuangkannya? Hari ini Elang bertamu ke kediaman keluarga Ust. Badwi. Hal itu membuat Anisa semakin tidak bersemangat karena cowok itu pasti datang untuk pamit. Mungkin esok atau lusa dia akan kembali ke Jakarta. "Sebelumnya saya mau berterima kasih karena saya sudah diterima dengan baik di pesantren ini." Anisa yang hendak mengantarkan minuman, lamat-lamat mendengar suara Elang. "Mohon maaf jika saya terlalu lancang, tapi maksud kedatangan saya ke sini, saya ingin melamar putri Ustaz untuk menjadi pendamping hidup saya." Deg! Langkah Anisa yang sudah tiba di ambang pintu ruang tengah, seketika terkunci. Apa-apaan ini? Dia tidak salah dengar, kan? "Memangnya kamu sudah mengenal anak saya? Kok, tiba-tiba melamarnya?" "Mungkin saya memang belum benar-benar mengenalnya, Ustaz, tapi selama di sini, saya sering dengar orang-orang membicarakan kemuliaan akhlaknya. Karena kebetulan saya juga berencana segera menikah, akhirnya saya memberanikan diri menemui Ustaz." Anisa menyandarkan punggungnya ke dinding. Tangannya gemetar. Elang mengucapkan kalimat tadi dengan tenang dan bersungguh-sungguh. "Kamu yakin kalau putri saya adalah perempuan yang kamu cari?" "Insyaallah, Ustaz. Saya yakin, bukan sebuah kebetulan tiba-tiba Tuhan mengetuk pintu hati saya untuk belajar di pesantren ini. Rupanya itu jalan untuk mempertemukan saya dengan putri Ustaz." Anisa membekap mulutnya. Ada desakan haru yang menyeruak tiba-tiba. "Saya sangat menghargai niat baik dan keberanian kamu. Hanya saja ... putri saya itu agaknya belum ingin menikah dalam waktu dekat." Mendengar itu, mata Anisa membulat. Dia refleks menyibak gorden yang sedari tadi menyembunyikan keberadaannya. "Anisa mau, kok, Bi," ujarnya buru-buru. Dia baru sadar kalau tingkahnya itu rada memalukan setelah tatapan melongo Abi, Rohim, Elang, dan lelaki paruh baya di samping Elang, tertuju padanya. Kalau tidak ingat sedang membawa minuman, Anisa pasti sudah melesat kembali ke dalam. "Kamu nguping?" tanya Rohim dengan tampang masih setengah melongo. "Nggak sengaja dengar, Pung." Anisa beranjak menyajikan minumannya. Dia ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan itu. Saat meletakkan minuman di depan Elang, tatapan mereka sempat beradu sekian detik. Cowok itu sedang mengulum senyum. Setelah urusannya selesai, Anisa lekas kembali ke dalam. Langkahnya begitu ringan. Rasanya setengah melayang. Dia belum pernah sebahagia ini. Andai tidak ingat situasi, dia pasti sudah teriak sekencang-kencangnya agar seluruh dunia ketularan semburat merah muda yang kini memenuhi hatinya. "Kamu kenapa?" tanya Maryam yang heran melihat sepupunya tengah berdansa dengan nampan. Anisa meletakkan nampannya di atas meja, lalu menyerbu Maryam dengan pelukan. "Hei, ada apa ini?" Anisa tidak langsung menjawab. Yang barusan terjadi seolah menariknya dari dunia nyata. Ini masih terasa seperti mimpi. "Ada apa, sih?" tanya Maryam lagi sambil mengangkat pundak Anisa. Dia semakin heran ketika mendapati sepasang mata sepupunya itu malah berkaca-kaca. "Kok, malah nangis, sih? Jangan bikin makin bingung, deh." Maryam mulai tidak sabar. "Kamu tahu, kan, soal cowok yang selalu aku ceritain?" Maryam memutar bola mata. Sudah teramat sering Anisa mengungkit soal cowok dari masa lalu itu. "Dia kenapa lagi?" Seloyo itu Maryam menanggapi, tidak menyangka kalau apa yang akan dikatakan Anisa selanjutnya akan menyentakkan jantungnya. "Cowok itu adalah Elang." Maryam ternganga sekaligus memelotot. "Serius?" Anisa mengangguk. Dua bulir air mata bahagia jatuh ke pipinya. "Kenapa baru bilang?" "Tadinya aku malah nggak mau cerita, karena merasa Elang yang sekarang bukan Elang yang dulu. Tapi, sekarang dia ada di depan, ketemu Abi untuk melamarku." "Serius?" Suara Maryam melengking. Mungkin kedengaran sampai di luar. Anisa kembali mengangguk. Dua saudara sepupu itu pun saling berpelukan sambil loncat-loncat kegirangan. "Selamat, ya. Akhirnya, doa dan penantian kamu selama 10 tahun ini nggak sia-sia." Anisa mengeratkan dekapannya. Tidak ada kalimat yang bisa benar-benar melukiskan rasa bahagianya saat ini. *** Setelah Elang undur diri, Anisa langsung disidang. "Kamu sungguh-sungguh ingin menerima lamaran Elang?" tanya Badwi. "Insyaallah, Bi." "Apa yang kamu lihat dari dia?" Wajar jika Marwah penasaran, mengingat semua laki-laki yang datang sebelumnya juga bukan orang sembarangan. "Saya tidak melihat apa-apa, Pung. Hati saya tergerak dengan sendirinya. Mungkin memang dia jodoh yang dijanjikan Tuhan. Insyaallah, saya siap membuka hati." Anisa memilih untuk tidak mengungkap siapa Elang sebenarnya. "Setelah kalian menikah nantinya, Elang ingin membawamu ke Jakarta. Itu artinya kamu harus berhenti mengajar dan pisah dari kami." Kalimat itu membuat susana hangat di ruang keluarga itu mendadak sendu. Kemeriahan hati Anisa agak redup. Terlebih ketika tiba-tiba Maryam merengkuh pinggangnya. Dia ikut melingkarkan tangan di pundak sepupunya itu. Sejak kecil mereka tidak pernah pisah. "Saya akui, rasanya sangat berat berpisah dengan kalian semua. Tapi, cepat atau lambat, hari seperti ini akan tiba. Pada masanya saya memang harus ikut suami. Itu sudah jadi kodrat setiap perempuan." Meski rasa heran mereka belum sepenuhnya reda, pada akhirnya mereka harus mendukung keputusan Anisa, keputusan yang sebenarnya mereka tunggu-tunggu sejak lama. Beberapa hari kemudian, setelah memastikan Anisa benar-benar siap untuk dipinang, Elang dan laki-laki paruh baya yang membersamainya di hari lamaran—yang ternyata adalah pamannya—kembali datang. Mereka akan melakukan lamaran secara resmi sesuai adat yang berlaku, di mana pihak perempuan akan memberikan jawaban yang pasti. Karena lamaran itu bersambut, mereka lanjut membicarakan mahar atau yang biasa disebut uang panai di suku Bugis. Keluarga Anisa tercengang dengan uang panai 500 juta yang ditawarkan Elang. Pada umumnya uang panai ditentukan oleh pihak perempuan, kemudian akan ditawar oleh pihak laki-laki. Tawar menawar ini biasanya akan berlangsung alot. Kedua belah pihak kadang sampai mengerahkan sesepuh yang benar-benar sudah berpengalaman. Namun, kali ini malah pihak laki-laki sendiri yang menawarkan angka fantastis itu. Karenanya, tidak ada tawar menawar. Titik kesepakatan langsung ketemu. Di balik tawaran uang panai yang fantastis itu, Elang mengajukan satu permintaan. Dia ingin pernikahannya dilangsungkan secara sederhana, tidak perlu ada kemeriahan yang berlebihan. Keluarga Anisa langsung setuju, karena dari dulu mereka memang tidak pernah menggelar pernikahan besar-besaran. Kalau yang sederhana pun bisa sah dan berkah, kenapa harus dipersulit? Begitu prinsip mereka. Namun ada satu hal yang mengganjal, Elang juga memaparkan bahwa keluarga intinya di Jakarta tidak bisa hadir. Yang akan menyaksikan pernikahannya hanya keluarganya yang ada di kampung ini. Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar di benak keluarga Anisa. "Loh, kenapa?" tanya Badwi dengan kening berkerut dalam. "Kebetulan mereka ada kesibukan yang tidak bisa ditinggal, Ustaz." Keluarga Anisa bersitatap. Apa yang lebih penting dari pernikahan anak sendiri, momen yang disemogakan hanya terjadi sekali seumur hidup? "Tapi mereka merestui, kan?" tanya Badwi lagi. "Insyallah, Ustaz. Saya bicara dengan mereka terlebih dahulu sebelum datang melamar." Meski terasa ganjil, pada akhirnya keluarga Anisa hanya bisa memaklumi. Semoga orangtua Elang benar-benar berhalangan, bukan karena hal lain. *** [Bersambung] Hmm ... kayaknya ada yang mencurigakan, nih. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN