24. M.O.S Perfect Satu sosok tampak termangu dalam keheningan. Keterdiamannya seolah mengeja dunia. Mengurai apa yang selama ini menganggunya. Begitu rumit, begitu berantakan. Seperti benang tipis kusut yang tidak lagi tahu mana pangkal mana ujungnya. Diurai pun hanya akan membuang waktu saja. Di balik sebuah pohon, di tengah kebisingan kota. Sosok itu menyandarkan punggung. Inginnya dia tenggelamkan segala keruwetan hidupnya, atau minimal terangkat pergi terbawa angin. "Mama," lirih sosok itu sendu. Penuh luka, penuh kepedihan. Ditengadahkannya kepala ke langit-langit yang mulai menjingga. Dia melirih, melafalkan panggilan yang seolah tidak pernah dia ucapkan. Dia merindu. Dia mendamba. Tidak banyak kebahagiaan yang dia dapatkan, karena lebih banyak kepahitan. Sosok itu memej

