Katanya, cinta tumbuh karena terbiasa. Hal itu juga berlaku pada benci. Tapi, kenapa aku lebih tertarik pada kata cinta daripada benci?
Grup w******p bernama SIUR'16 itu sedang heboh karena sebuah foto. Foto yang dengan jelas menunjukkan wajah Atan dan Misa sedang berjalan berdua kearah mobil. Sebagaimana efek media sosial yang kerap menimbulkan kesalahpahaman, hal itu dirasakan oleh Misa hari itu. Orang yang melihat foto itu pasti mengira bahwa mereka baru saja ngedate, pedekate atau apalah. Padahal aslinya tidak demikian.
Semua ini adalah ulah Johan yang tak sengaja melihat mereka berdua keluar dari Starbucks. Bukannya mengirimkan pesan secara personal kepada Misa, cowok itu malah menyebarkan foto Paparazi nya di grup yang isinya sejagad raya. Semuanya memberikan pesan selamat dan berbahagia. Sebagian juga mengirimkan celotehan turut iri dan cemburu.
Seperti yang dikhawatirkan, grup satunya lagi ikut sibuk dan ramai. Grup itu hanya berisi empat cewek. Grup bernama Cantik Cantik Perawan itu ramai oleh pertanyaan dari Airin dan Rumi. Rumi adalah cewek yang merekomendasikan nama grup itu. Entah apa gunanya, tapi tiap melihat nama grup itu Misa langsung tertawa. Ide brilian Rumi memang tidak mudah diprediksi.
Airin : Lo beneran pacaran sama Pak Atan? Liar binasa sekali. Jangan bilang itu benar.
Rumi : woles. Kalau benarpun, gue gak masalah. Bahagia kalau teman gue nikah sama dosen cakep :v
Airin : April kenapa gak nongol ya. Jangan-jangan April udah tahu. Secara kalian serumah. Jahat!
Rumi : Plis, give us explanation!
Airin : @misaelmesakhia
Misa : Gaes. Gue gak ada hubungan apa-apa sama si Setan. Gue gak sengaja 1 tim sama dia di Tokokeren. Entar kita ketemu gue ceritain deh.
Misa meletakkan ponselnya dan mengaktifkan mode silent. Dia ingin fokus pada pekerjaannya. Ia melirik kearah Atan dan saat itu Atan juga sedang melihatnya. Mata mereka bertemu. Misa sampai salah tingkah dan pura-pura mengobrol dengan mas Arga yang merupakan pemilik kubikel disamping Misa.
***
"Pak, menurut saya sebaiknya kita mengembangkan fungsi-fungsi ini saja. Sesuai dengan requirement yang diinginkan client pada rapat kemarin. Saya sengaja menggabungkan fungsi 12 dan 13 karena mengambil data yang sama. Kalau kita bikin 2 sama saja tidak efektif dan efisien."
Misa memberikan kertas berisi gambaran fungsionalitas yang hendak dikerjakan. Atan melihat hasil kerjanya dan sepertinya cukup memuaskan. Atan mengambil tasnya hendak keluar dari ruangan.
"Ayo pulang."
"Loh, saya pulang sendiri saja pak."
"Kita kan satu tujuan. Lagian ini sudah pukul 9. "
Pukul 9 bagi Misa bukanlah jam malam. Itu masih pagi banget. Ia bahkan pernah keluyuran sampai jam 3 pagi bersama teman-temannya.
"Baiklah pak." Misa mengalah. Ia menyusul Atan yang sudah berjalan duluan. Wajah tampannya itu mampu membuat wanita-wanita menghentikan langkah kakinya. Atan sebagai cowok yang dari sisi mana saja punya nilai tambah. Pintar, ramah, fashionable dan tentu saja kaya. Misa bisa menebak gaji Atan yang sudah sampai dua digit.
"Kamu masih kesal sama saya?" tanya Atan karena Misa tak memandangnya sedari tadi. Misa seakan menganggap Atan sebuah patung kuno yang gak layak digubris.
"Hah? Eng..engga pak." Misa berusaha tersenyum. Walau senyuman itu terlihat sebagai senyuman palsu.
"Bagaimanapun juga, semua itu sudah sejarah. Sejarah itu cuma masa lalu yang harus kita lupakan. Kalau diingat-ingat terus gak baik."
"Sejarah itu gak harus dilupakan pak. Gak ingat semboyan dari pak Soekarno?"
"Apa? Semboyan apa? Saya bukan jurusan IPS waktu SMA."
Atan tertawa kecil. Misa menyunggingkan bibir sehoror mungkin. Mirip bibir Suneo, temannya Nobita. Ia ingin melempar Atan jauh jauh. Sombong sekali dia. Jelas-jelas sifatnya yang congkak belum berubah sama sekali.
"Bukan masalah IPA atau IPS. Saya dulu juga jurusan IPA ya. Ini masalah jiwa nasionalisme. Masa bapak tidak ingat semboyan Jasmerah? Jangan sekali-kali melupakan sejarah." seru Misa sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia mengangkat tangan bak seorang pejuang kemerdekaan.
"Tidak semua hal saya ketahui."
"Tapi ini tuh semboyan yang umum menurut saya. Pantas saja bapak menjomblo. Ini saja tidak tahu."
"Kamu tahu saya jomblo dari mana?"
"Airin." Satu kata yang tak jadi diucapkan oleh Misa. Airin merupakan salah satu barisan dari para fans Atan. Dia bahkan sempat punya ide untuk membuat fans club dengan nama AFC a.k.a Atan Fans Club. Airin punya segudang informasi mengenai Atan. Dosen yang satu itu berhasil merenggut hatinya sejak Atan menebarkan senyuman menggoda iman saat mengajar dikelas. Airin dengan sengaja berteman dengan Atan diberbagai sosial media. Mulai dari f*******:, Twitter bahkan LinkedIn. Airin juga tahu bahwa Atan tidak memiliki akun i********:. Airin selalu jadi orang pertama yang mengetahui perkembangan kehidupan Atan.
"Hanya menebak." Misa mencoba mencari kata-kata yang pas.
"Tebakan itu punya peluang kebenaran yang sangat sedikit. Tapi untuk masalah jomblo atau tidak itu bukan luar biasa namanya. Karena peluang benar atau tidak itu punya porsi yang sama. 50 banding 50." celetuk Atan sambil tersenyum.
"Sombongnya. Kalau gitu tebak status saya sekarang." tanya Misa menantang.
Dalam hati Misa berdoa agar Atan memberikan jawaban yang salah. Jawaban bahwa Misa dalam status berpacaran. Misa, selain cantik juga pintar menempatkan posisi dalam suatu kegiatan. Ia bisa sangat dekat dengan seseorang.
"Mudah. Kamu juga jomblo kan?" Atan terkekeh. Pertandingan macam apa yang sedang ia lakukan dengan mantan mahasiswanya itu. "Fyi, itu bukan tebakan."
"Oh ya?"
"Kamu terlihat kesepian soalnya." tawa Atan pecah. Misa merona. Dosennya yang sombong itu mencoba menerapkan jokes terbodoh.
"Sudah pak. Liat tuh jalanan." ucap Misa bete. Wajahnya berusaha dibuat sedatar mungkin.
Atan menghentikan mobilnya tepat didepan apartemen Melati. Misa turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Lama banget lo pulang. Lo gak kasihan liat sahabat lo ini kesepian?" ledek April saat melihat Misa datang. April sedang duduk didepan televisi dengan beberapa cemilan yang ia buat sendiri.
"Maafin Pril. Gue banyak kerjaan tadi. Demi seupil duit."
"Iya dong. Mobil pesanan gue siap dicicil kan."
"Siap. Lo cicil sendiri tapi."
Misa langsung duduk didepan televisi masih dengan baju kerjanya. Ia menatap layar televisi dengan tatapan kosong.
"Lo jangan lupa. Besok kita ketemuan sama Airin dan Rumi."
"Untung lo ngasih tahu. Gue udah lupa aja. Jadinya di Imperial Kitchen kan ya?"
"Iyaps."
"Btw, gue bingung deh sama sikap Pak Atan."
"Tumben banget lo sopan nyebutin namanya? Biasanya lo manggil dia Setan kan?" April terkekeh.
Misa tersentak. Benar saja, ada apa dengannya yang berhenti memanggil Atan dengan sebutan Setan. Misa segera bercerita mengenai sikap Atan padanya. Mulai dari diajak pulang bareng hingga membantunya menyelesaikan pekerjaan bahkan menunggunya sampai pukul 9 untuk pulang bareng.
"Ada dua kemungkinan, " seru April dengan serius. "Pertama, dia balas dendam sama lo karena tahu kalau lo benci sama dia. Kedua, dia suka sama lo." lanjutnya.
What the hell!
Mana mungkin. Itu gak mungkin. Begitulah kata-kata yang ada dalam pikiran Misa. Perhatian Atan padanya pastilah sekedar seorang partner kerja. Atau perhatian seorang dosen yang peduli pada mahasiswanya.
"Ngawur lo Pril."
"Bukan ngawur. Tapi mungkin saja kan."
Misa tidak menggubris ucapan April dan beranjak ke kamarnya. Ia berusaha menghilangkan kata-kata yang barusan diucapkan oleh April. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari orang yang ada dipikiran Misa.
Pak Atan : Sudah tidur?