CHAPTER 1: LAMBORGHINI AND YOU

2255 Kata
Begitu duduk di kursi penumpang sebuah mobil Lamborghini Huracan berwarna hitam ini, Josefina langsung menyadari bahwa seorang menteri—yang menyewa-nya malam ini benar-benar orang yang kaya. Josefina menghela napasnya, Dia menteri. Tentu saja dia kaya. Iris mata hijau Josefina melirik ke bangku kemudi, dimana sang menteri itu menyetir sendiri mobilnya malam ini. Tidak perlu bertanya apa alasannya menteri ini membawa mobil sendiri. Tentu saja bila dia bersama supir, maka supir itu bisa saja membocorkan kelakuan buruknya ini kepada orang lain. Bahwa sang menteri, sering menyewa wanita-wanita muda dari sebuah rumah bordil untuk memuaskan hasrat seksual dirinya. Dari Fey, Josefina tahu bahwa menteri disampingnya ini sudah mempunyai seorang istri yang setia menemani lelaki itu bila dinas kemanapun. Tapi memang dasarnya p****************g dan tidak mudah puas hanya dengan satu wanita, maka dari itu lelaki ini harus melampiaskannya pada wanita lain yang mungkin, lebih muda dari istri dan juga dirinya. Diam-diam Josefina bergidik jijik. Dia tidak mau tidur dengan lelaki ini. Pasti sudah tidak terhitung berapa jumlah wanita yang tidur bersama menteri ini. Bagaimana jika Josefina nanti tertular penyakit seksual?! "Kau melirikku terus dari tadi." Menteri itu mulai membuka suara ketika mobil yang mereka tumpangi harus berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. "Kau sedang menilai penampilanku?" Josefina meneguk ludah sesaat. "Ti-tidak." "Lalu kenapa?" Tiba-tiba saja tangan menteri itu di letakkan di paha terbuka Josefina, kemudian meremas kecil. "Rasanya aku jadi semakin tidak sabar bermain denganmu, Sea." Mata Josefina mendelik tidak suka, kemudian dia menggeser tangan menteri itu dengan kaku sambil tersenyum kaku juga. Sontak menteri itu tertawa ketika menyadari sifat kaku Josefina. Kemudian dia kembali menjalankan mobilnya ketika lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. "Aku paham dengan sifat kaku-mu itu. Maklum saja, aku selalu memperhatikanmu ketika menjaga lobby serta mengurus pembayaran untuk rumah bordil milik Helen itu." Terdengar suara tawa dari menteri itu. "Kau begitu cantik, polos dan membuatku penasaran akan dirimu. Jadi tidak ada salahnya bukan jika aku mengeluarkan uang cukup banyak untuk menjadi pelanggan pertamamu sepanjang masa?" "Aku bukan wanita seperti itu." Ucap Josefina dengan tegas. Sontak menteri itu mendengus meremehkan. "Kau bekerja disana, Sea. Sama saja dengan semua p*****r disana. Hanya saja, malam ini adalah awalmu memulai karir. Oh s**t! Kenapa harus macet ketika mulai dekat dengan penthouse-ku?" Josefina terdiam mendengar gerutuan menteri disampingnya ini. Menteri ini benar, jalan didepannya macet dan suara klakson dari beberapa mobil terdengar memekakan telinga. "Ah, padahal aku tidak sabar denganmu, Sea." Tiba-tiba saja menteri itu melepas seatbelt-nya dan mendekat kearah Josefina. "Ap-apa yang akan kau lakukan?!" Josefina langsung membentengi dadanya dengan kedua lengannya. "Sir!" "Tenang saja, sayang." Menteri itu mengusap rambut pirang Josefina dan mulai mengusap pipi-nya. "Aku akan memulai semuanya pelan-pelan denganmu. Kau juga baru melayani pelanggan. Jadi aku akan paham. Lagipula, sudah lama aku tidak merasakan bercinta dengan wanita lugu dan kaku seperti dirimu." Josefina berusaha mendorong d**a bidang menteri itu. "Tidak, sir! Aku tidak mau!" Menteri itu kemudian mengusap paha Josefina kembali, membiarkan kemacetan didepannya semakin menjadi-jadi. "Aku bisa mengajarimu cumbuan dulu disini agar keadaan diantara kita tidak terlalu kaku, Sea." "Tidak!" Bugh! "Argh! Dasar jalang!" Menteri itu menutup matanya yang baru saja terkena tonjokan dari refleks tangan Josefina. Napas Josefina terengah. Dia sungguh tidak menyadari apa yang baru saja dia perbuat. Tapi tunggu! Ini adalah sebuah kesempatan! Maka dari itu, selagi lelaki hidung belang disampingnya ini kesakitan, Josefina langsung melepas seatbelt-nya dan membuka kunci mobil. Lalu keluar dan berlari dari mobil begitu saja. "Sea!!!" Josefina terus berlari melewati jejeran mobil menyala yang terjebak oleh kemacetan dan dia tidak menyangka jika menteri itu nekat keluar dari mobil dan mengejar dirinya. Josefina benar-benar tidak perduli lagi dengan kaki-nya yang mulai berdenyut ketika dia berlari dengan sepatu stiletto bertabur glitter ini dan juga keluar dari mobil dengan dress seksi nan tipis berwarna merah. Dia juga tidak perduli ketika kaki-nya berlari melewati mobil-mobil yang tidak bisa berjalan karena macet. "Sea! Dasar jalang! Berhenti atau aku akan membuat hidupmu menderita!" Aku tidak perduli! Josefina makin kencang berlari, lalu memasuki sebuah gang kecil dan gelap yang terdapat di sebelah gedung toko kue. Kaki jenjang nan kurus itu terus berlari, melewati jalanan gelap dan bau. Berbelok lagi sampai Josefina sadar bahwa dia sudah berada di blok yang berbeda. Jalan raya didepannya cukup lancar dan jelas mobil menteri ini tidak melewati jalan ini tadi. Diam-diam Josefina memelankan langkahnya. Dari belari, menjadi berjalan dengan terseok-seok. Entah sekarang Josefina berada di jalan mana. Dia belum menemukan penunjuk nama jalan. Lagipula kita kepalanya cukup pening dan tumit-nya mulai berdenyut. Josefina mendesis perih ketika dia merasakan stiletto ini terus menggores tumit-nya. Sedari tadi dia kabur dari mobil, dia benar-benar tidak perduli lagi akan apapun. Termasuk dengan dirinya. Maka dari itu Josefina tidak berpikir panjang ketika dia harus melepaskan stiletto itu dan memilih bertelanjang kaki. Membiarkan telapak kaki-nya menapak ke aspal yang cukup dingin walaupun kini London sudah memasuki musim semi. Sekarang pikiran Josefina terus berjalan seiring dengan langkah lemahnya. Tapi kemudian dia mengambil sebotol kecil vodka dari tas-nya yang sempat dia bawa dan terus meneguk vodka itu di setiap langkahnya. Apakah aku harus kembali ke tempat laknat itu? Dan bertemu dengan madame Helen serta para p*****r disana? Kemudian Josefina mengusap air matanya dengan kasar. "Tapi semua p*****r disana adalah temanku. Mereka baik padaku." Josefina terisak dan merengek seperti anak kecil di trotoar sambil terus meminum vodka-nya. Mengabaikan tatapan bingung orang-orang ketika berpapasan dengan Josefina—wanita berpakaian seksi, cantik, menggoda, tapi tanpa alas kaki, sambil berjalan mabuk dan menangis serta meracau sendiri. Alkohol membuat pikirannya sudah melalang buana tak terkendali. Sampai dia tersentak dan langkahnya sontak terhenti ketika dia menemukan mobil Lamborghini yang tadi dia naiki kini berada di depan sebuah gedung kecil, bersampingan dengan mobil sport berwarna merah metalic yang tak kalah kerennya. Josefina sontak mendongakkan kepalanya dan membaca tulisan gedung dihadapannya. "Star... Bar. Star Bar." Eja Josefina dengan mata menyipit, kemudian dia mendekati mobil Lamborghini hitam itu dan menendang bagian depannya dengan kaki polosnya. "Berengsek—aw kakiku. Aduh..." Josefina mengaduh kesakitan sambil berjongkok dan mengusap-usap jari kakinya. Tapi kemudian dia mendesis kesal. "Lamborghini payah! Pemilikmu tidak keren! Dia p****************g! Berengsek! Tidak mendapatkanku dan langsung lari ke bar ini! Mau mencari jalang lain, huh?!" Josefina kemudian berdiri lagi sambil berkacak pinggang menatap Lamborghini dihadapannya ini. Lalu tiba-tiba saja dia tersenyum licik ketika sebuah ide licik melintas di pikirannya. Kepala Josefina berkeliling mencari apa saja yang bisa merusak mobil didepannya. Sampai kemudian dia memekik senang ketika menemukan sebuah batu bata di depan sebuah semak. Tanpa pikir panjang Josefina langsung berlari kecil mengambilnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ketika dia berada dihadapan kaca depan Lamborghini ini. "Kau bilang akan membuat hidupku menderita?" Josefina mulai mengambil ancang-ancang. "Kalau begitu aku membuat malammu sial terlebih dahulu!" Brak! Josefina langsung mundur lima langkah begitu alarm mobil ini berbunyi kencang ketika kaca mobilnya retak. Tapi bukannya takut, Josefina malam tersenyum bangga. Rasakan! Kau akan malu ketika membawa jalangmu menaiki mobil ini, dasar menteri berengsek! *** Meja bar bernomor empat puluh satu ini penuh dengan canda dan tawa begitu ada Calvin Leonard dan Edward Jasper dalam satu meja, di tambah dengan Claire Jane—seorang top model terkenal saat ini. Para pengunjung bar tentu sadar jika ketiga orang yang duduk di meja nomor empat puluh satu adalah tiga orang terkenal khususnya di Inggris. Ada Edward Jasper yang terkenal sebagai sutradara ternama Inggris serta pemimpin dari salah satu pertelevisian populer di Inggris, serta suami dari calon penerus perusahaan Dominic Company. Calvin Leonard, seorang penyanyi muda terkenal mancanegara yang hidup penuh dengan berbagai berita baru serta bersahabat dengan Claire Jane sang supermodel. "Sepertinya aku harus menyingkir dari kalian berdua." Jane berucap seperti itu sambil mengakhiri tawa dari lelucon garing Calvin. "Mau pulang sekarang?" Calvin mulai mengambil kunci mobilnya. "Tidak, Cal. Sudah ada yang menjemputku." Jane menahan lengan Calvin dengan lembut. "Aku tidur di apartemen Nolan malam ini." Mendengar itu, Edward Jasper tersenyum geli. "Biar aku tebak. Nolan Mckenzy? Model dari Brazil itu?" "Kau benar." Jane tersenyum malu-malu. Kemudian dia pamit dan mencium pipi Calvin. "See you again, Cal." "Hm..." Calvin bergumam ogah-ogahan. "Kau tidak mencium Edward?" Edward hanya berdeham dan kemudian memilih kembali meminum margarita miliknya. Sedangkan Jane langsung melirik sinis pada Calvin. "Apa harus aku mengingatkan padamu kalau kemanapun kita pergi pasti ada saja paparazi disekitar kita?" Jane mendorong dahi Calvin, membuat Calvin mengerang tidak suka. "Mungkin Calvin mau bertanggung jawab jika istriku mengamuk nanti." Gurau Edward. Jane tertawa lagi dan kemudian menekan kedua pipi Calvin. "Okay, bye Edward and bye Calvin ugly Leonard." Jane kemudian melangkah pergi begitu saja keluar dari bar dan masuk ke pintu lift untuk turun ke lantai dasar. Membiarkan Calvin yang setia menatap punggung sempurna itu yang sayangnya kurang sayap. "Kalau di punggung Jane ada sayapnya, maka dia benar-benar bidadariku." Puji Calvin. Edward sontak terbahak keras. "Hei, sadarlah, man! Kau terus berputar dalam friendzone dengan Jane." "Diam kau!" Calvin mendengus kesal. "Aku masih tidak terima kau bisa memacari Jane dengan mudah dan kau yang mengambil keperawanan Jane." "Oh astaga, Cal." Edward memutar kedua bola matanya ketika tiba-tiba saja teringat masa remaja-nya. "Lagipula sekarang kau dan Jane sudah naik status. Menjadi friend with benefit, kau bercinta dengannya jika kalian sama-sama sedang ingin berdua. Bukankah cukup sering juga?" "Itu semua diawali ketika kau mencampakkan Jane begitu saja dan dari situ hubunganku dengannya sedikit naik status sekarang." Calvin lalu menghempaskan punggungnya di sandaran sofa. "Yah walaupun aku menunggu Jane dengan cara bergonta-ganti wanita dan Jane masih suka kencan dengan para model dan aktor di luar sana." "Wajar, Jane cantik." "Jangan coba-coba melirik dia lagi. Kau tidak ingat jika istrimu itu masih menjadi fans setiaku?!" Edward sontak menatap Calvin tidak suka. "Sebaiknya kita pulang. Aku harus beristirahat untuk flight pagi ke Bali dan begitu sampai di rumah, aku akan ke kamar dan mengambil semua merchandise dirimu di lemari istriku. Lalu langsung aku bakar!" "Hahaha, coba saja, Jasper. Aku yakin istrimu langsung mengusirmu dari rumah dan tidak mengijinkanmu menamani proses persalinannya." "Stop it, Cal. Kita harus benar-benar pulang sekarang atau aku akan menghajarmu saat ini." Edward mulai memanggil pelayan dan memberikan kartu atm-nya, sengaja membayar tagihan untuk dirinya, Calvin dan Jane. Kemudian mereka berdua masuk ke lift begitu Ed kembali mengambil bukti pembayaran dan kartu atm-nya. "Aku ini tampan sekali ya?" Calvin bergumam sendiri sambil menyisir rambutnya di pantulan kaca lift. "Hei, kenapa George tidak mau bergabung dengan kita malam ini?" "Dia pengantin baru, bodoh." Edward menyentakkan kepalanya. "Tentu saja dia memilih making love with her wife daripada harus menghabiskan waktu untuk menemani lelaki tidak laku seperti-mu." "Hei, hei... jaga mulutmu, Jasper. Fans wanitaku ada dimana-mana." "Menikahlah, Cal. Kau akan menemukan kebahagiaanmu yang sesungguhnya." Pintu lift kemudian terbuka, Calvin dan Edward mulai melangkah keluar dari lift. "Aku hanya ingin menikahi Claire Jane. Aku bahkan sudah menyiapkan anakku untuk mengajaknya kencan besok." "Anak?" Begitu pintu bar kaca otomatis terbuka, Edward berdecak kagum ketika lampu sen mobil Lamborghini Huracan berwarna hitam menyala saat Calvin menekan tombol kunci otomatis di tangannya. "Beautiful baby." Puji Ed ketika Calvin sudah mempunyai Lamborghini Huracan versi terbaru di tahun 2018 ini. "Balap mobil malam ini?" "Dengan Ferrarri-mu?" Calvin melirik Ferarri berwarna merah metalic yang ada di sampingnya. Edward malah terkekeh meremehkan. "Kau tak—oh s**t!" Brak! "What the fvck!" Calvin langsung berlari kearah mobil Lamborghini-nya yang berbunyi nyaring ketika seorang wanita jelas-jelas melempar batu bata ke kaca depan mobilnya. "Miss! What the hell are you doing?! Calvin langsung mematikan alarm mobilnya dan mulutnya sontak terbuka lebar ketika menyadari kaca depan mobilnya retak. Re-tak! "Kau!" Calvin berteriak keras ke wanita yang kini menatap kaget bercampur bingung kearahnya. "Apa yang membuatmu melakukan hal seperti ini?!" Josefina menatap Calvin dengan bingung, kemudian menatap mobil Lamborghini dengan kaca mobil retak dihadapannya. "Ini... mobilmu?" Pertanyaan bodoh dari mulut seorang Josefina. "Ini mobil baruku!" "Ah..." Josefina menganggukkan kepalanya perlahan, kemudian makin berjalan mundur menjauhi Calvin dan seorang lelaki di belakang Calvin. "Kalau begitu... aku salah memecahkan mobil. Salah siapa kalian mempunyai mobil yang mirip." "Apa?! Hei! Jangan kabur!" Calvin langsung berteriak keras ketika wanita itu membuang tas-nya begitu saja dan mulai berlari. Tapi kesialan bagi Josefina, karena baru sepuluh langkah dia berlari, tubuhnya tiba-tiba saja limbung dan ibu jari kaki-nya begitu nyeri ketika dia tidak sengaja menyandung sebuah batu. Membuat tubuhnya terjerembab kedepan dan dia memekik keras. Bugh! "Aw!" Josefina meringis kesakitan dan hendak bangkit lagi. Tapi terlambat, tangan Calvin sudah mencengkeram lengannya lebih erat. "Dasar wanita kriminal! Ikut aku ke kantor polisi sekarang!" "Tidak! Aku tidak mau! Aku—hoeekk!!!" "s**t!!!" Calvin mengumpat keras ketika wanita itu menyemburkan cairan menjijikan dari mulutnya sampai mengenai perut dan menetes ke kaki dan sepatu mahal Calvin. "Ew!!!" "Maaf. Aku—Umph!" Dan, Josefina muntah lagi untuk kesekian kali-nya. "Hentikan! Hentikan muntahanmu!" Calvin ingin mundur, tapi tangan Josefina terus mencengkeramnya, menjadikan Calvin pegangannya. "Edward Jasper! Tolong aku!" Edward berlari mendekat, kemudian berhenti tepat di belakang Calvin dan Ed langsung menutup hidungnya ketika bau anyir dari muntah wanita asing dihadapan Calvin masuk ke indra penciumannya. "Hei, bangun!" Calvin kemudian berjongkok dan menepuk pipi Josefina. "Ed, jangan bilang wanita ini pingsan?!" "Sepertinya dia memang pingsan." Edward menggaruk bagian belakang kepalanya dengan bingung. "Kalau begitu apalagi yang kau tunggu? Bantu aku!" "Untuk?" "Aku harus menahan wanita ini untuk ganti rugi, Jasper!" "Oh begitu? Yasudah, kau urus sendiri ya." Edward langsung melambaikan tangannya. "Aku terlalu sibuk untuk mengangkat wanita asing penuh dengan muntah seperti dia." Mata Calvin sontak membelalak lebar. "Hei, Ed! Sahabat macam apa kau ini?!" "Bye, Cal! Aku harus segera menghubungi Lily sebelum aku tidur. Bye! Have a fun night, bro!" "Sialan! Kemari kesini kau, berengsek!" Tapi teriakan Calvin sepertinya sia-sia. Karena Edward Jasper benar-benar masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya, meninggalkan Calvin yang termangu. Harus dia apakan gadis tidak jelas ini?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN