Tiga

1588 Kata
Author pov "Oh jadi itu yang namanya rafa, terus temennya namanya rama? Emang mereka berdua siapa?" Kata rosela polos sedangkan arleta dan lili saling pandang. "Sebaiknya lo tanya sama arleta.. jangan sama gua, gua gak tau secara detail tentang mereka berdua" ujar lili, sementara arleta memandangnya tajam. Lili pun seketika menunduk "Rama itu siapa?" Tanya rosela kepada arleta, dia menghiraukan arleta yang menatap lili tajam, arleta pun menatap rosela dalam. "Rama atau lebih tepatnya rama angga wijaya adalah salah satu anak populer di GHS. Mengikuti eskul basket. Sahabat dekat dengan rafa. Orangnya kocak dan suka nyambung jika orang lain sedang berbicara, aslinya anaknya asik. Lumayan banyak fans karena sifatnya yang gokil, selalu baik dan suka tersenyum kepada fans nya.. jika orang yang gak tau sifat rama pasti akan mengatakan rama tebar pesona ke cewek cewek yang lewat. Cuman segitu yang inti dari rama angga wijaya" kata arleta sambil menjelaskan secara ringkas tetapi mudah dipahami, rosela mengangguk anggukan kepalanya. "Kalo rafa?" Tanya rosela lagi. Arleta menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya. "Rafa lebih tepatnya rafa samuel dirgantara, anak sulung dari rizal dirgantara dan santi dirgantara. Dirgantara company adalah milik keluarganya, sangat disegani oleh orang orang. Most wanted di GHS karena dia ketua osis dan kapten basket dan juga mempunyai wajah yang tampan, tetapi sifatnya cuek dan dingin membuat orang jarang bertemannya. Tapi gak tau kenapa dia bisa bersahabat dengan rama yang sifatnya kebalikan dari sifat rafa. Namun fans rafa jauh lebih banyak dari fans rama tapi para fans harus bersabar kalo menghadapi rafa yang cuek nya minta ampun. Bukan hanya terkenal di GHS saja, tetapi rafa juga terkenal diluar sekolah, biasanya kalo ada tanding basket antar sekolah banyak yang nonton dan rata rata cewek cuman untuk ngeliat rafa doang" jelas arleta panjang lebar, sedangkan rosela melongo mendengarnya "Pantes ada dilapangan basket, ternyata kapten basket toh" ujar rosela sambil menganggukan kepalanya "Kenapa lo nanya mereka? Lo suka ya?" Tanya lili denga tatapan meyelidik "Enggak, cuman penasaran aja" ujar rosela, mereka berdua mengangguk. "Oh iya gua pulang dulua ya" ujar rosela kepada arleta dan lili, bel sudah berbunyi sekitar 10 menit yang lalu "Iya" kata lili, arleta juga ingin pulang. Tetapi pada saat digerbang dia menarik tangan rosela Arleta pov "Lo gua anter pulang ya" kataku menatap cecil dengan pandangan lembut, dia menatapku "Gak usah, lagian kos kosan gua deket dari sini kok. Tinggal naik angkutan umum sekali juga nyampe" ucapnya, apa dia bilang tadi? Kos.. dia ngekos? Dan naik angkutan umum? Sejak kapan dunia dia berubah derastis, ya maksudku dia adalah keluarga walker, keluarga wakler sangat kaya dan tidak mungkin kan mereka bangkrut soalnya aku belom mendengar kalo keluarga walker bangkrut, terus untuk apa dia ngekos? Tanyaku dalam hati. "Tapi-" ucapku terpotong "Gua gak tau kenapa lo jadi baik gini sama gua, tapi gak usah nganterin gua pulang. Makasih atas tawaran lo tapi gak perlu, gua duluan ya" ucapnya memotong perkataanku dan langsung saja menyetop angkutan umum yang lewat didepan kami. Aku masih heran sebenarnya dia itu cecil walker sahabatku atau bukan sih? Tapi kalo namanya sih iya rosela cecilia cuman dia gak ada walkernya aja, seharusnya rosela cecilia walker. Aku buru buru memanggil supirku dan membuntuti angkutan umum yang dinaiki cecil. Aku terus membuntuti angkutan umum itu hingga berhenti disalah satu tempat kos di jakarta. Aku melihat sekelilinya dan kosan ini bisa dibilang kecil, pasti hanya ada dua kamar didalam kosan itu, tapi kosan ini sangat bersih. Baiklah kita lihat saja cecil sampai mana dia akan berpura pura untuk tidak mengenalku. Sampai berjumpa nanti malam cil, batinku sambilku sambil tersenyum. Rosela pov Kulihat jam sudah menunjukan pukul 3 sore, aku akan bersiap untuk hari pertamaku mengajar menjadi guru piano. Kuharap ini berjalan dengan lancar, aku hanya bisa menjadi guru piano karena aku masih SMA. Aku sudah bersiap selama setengah jam, seperti biasa aku menggunakan kacamata besarku dan mengepang dua rambutku. Aku pun menyetop angkot dan menuju rumah tempat aku akan mengajar piano. Aku melihat rumah didepanku, rumah didepanku sangat besar dan bercat putih. Aku menekan bel yang terdapat disamping pagar dan tak lama kemudian kulihst pria paruh baya membukakannya, sepertinya dia security dirumah ini. "Maaf anda siapa ya?" Tanya bapak itu yang kuketahui namanya jono. "Saya guru piano pak" kataku sambil tersenyum, bapak itu membuka lebar gerbang rumahnya "Silakan masuk, ibu sudah nunggu didalam" katanya sopan, aku mengangguk sambil mengucapkan terimakasih. Setelah itu aku masuk dan mengetok pintu rumahnya Tok..tok..tok "Kamu rosela kan?" Tanya ibu itu, aku mengangguk sambil tersenyum. "Yasudah yuk masuk kedalam. Nama saya santi" katanya sambil menyebutkan namanya. Sepertinya aku pernah mendengar nama santi, tapi dimana ya? Tanyaku dalam hati "Saya rosela cecilia bu" kataku sambil mengikutinya berjalan mearah ruang tamu "Panggil saja tente" katanya, lalu aku mengagguk. "Aura!!" Teriaknya, mungkin memanggil anaknya yang akan belajar piano. "Iya ma" teriaknya juga, dan kulihat anak perempuan jalan kearah kami. "Aura ini guru piano kamu ya" kata tante santi, kulihat aura tersenyum lebar seraya menatapku. "Halo kak, namaku aura putri dirgantara" katanya sambil menyodorkan tangannya, aku terkejut mendengar nama DIRGANTARA? Apakah dia adik dari rafa samuel dirgantara? "Hai cantik, nama kakak rosela cecilia" kataku megulurkan tangannya, ternyata dia salim kepadaku, kusangka dia akan menjabat tanganku ternyata dia salim kepadaku. "Aura kelas berapa?" Tanya kupadanya "Kelas 6" katanya, aku mengangguk. "Baiklah udah siap belajar piano?" Tanya ku dengan semangat dan dia mengangguk tak kalah semangatnya "Kita belajar dasar dulu ya" kata ku saat sudah didepan piano dan dia duduk didepan piano itu. Kita memulai dari dasar piano dan aku cukup bangga karena dia mudah menangkap apa yang kukatakan, sekitar jam 5 kita menyudahi belajar pianonya karena baru tahap awal. "Kamu hebat aura, kamu cepat menangkap apa yang saya ajarkan. Untuk sekarang ini kita cukup sampai sekarang aja ya, soalnya baru hari pertama belajarnya" kataku saat kami duduk diruang tamu "Iya kak gpp kok. Bukan aku yang hebat tapi kakak yang ngajarin aku, lagi pula ini baru tehnik dasar" kata aura sambil memelukku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. "Rafa pulang!!" Teriak orang diluar rumah, seketika aku membeku saat mendengar suaranya. "Hei rafa udah pulang kamu? Kamu abis basket ya?" Kata tante santi menghampiri seseorang itu. "Iya ma, hehe rafa abis basket" kata seseorang itu dengan nada gambira lalu memeluk tante santi, seketika aku terpaku melihat rafa samuel dirgantara yang memeluk tante santi. Berarti rafa anak dari tante santi? Sudahku duga karena nama aura ada dirgantaranya. "Kak rafa malu ih ada guru piano aku masa iya meluk meluk mama sih" ucap aura sambil menghampiri rafa, aku malah semakin diam. Rafa seketika melihatku dan dia kaget namun secepat kilat dia mengubah ekspresinya menjadi datar. "Lo yang tadi nanya eskul sama gua kan? Emm siapa ya namanya., rosela cecilia kan?" Kata rafa berjalan menghampiriku aku hanya mengangguk "Ngapain lo disini? Jadi fans gua juga eh?" Tanyanya dengan datar tapi menyindir, aku secepat kilat menggelengkan kepalaku. "Kamu ini ada ada aja fa, dia itu guru piano aura" kata tante santi "APA?!" Teriak rafa menggema diseluruh rumah, "Kak jangan teriak teriak. b***k kuping aura" aura mengerucutkan bibirnya kesal. "Lo guru piano aura? Sementara aja lo bilang disekolah tadi gak bisa main piano tapi lo masuk eskul piano. Lo bohongin nyokap gua ya kalo lo bisa main piano?" Tuduh rafa sinis, sementara aku menatapnya tak percaya karena omongannya.  Bohong? Aku sama sekali gak kepikiran buat bohongin tante santi, tapi aku beneran bisa main piano. Gua itu bohongnya sama lo bukan tante santi! Batinku dalam hati, pengen sekali aku berteriak selerti itu. "Rafa dia itu pinter main piano loh, baru beberapa jam aja aura udah tau tehnik dasar main piano" tante santi tiba tiba duduk didepanku "Tapi ma dia itu tadi bilang kalo disekolah gak bisa main piano, makanya dia masuk eskul piano" kekeh rafa memandang tante santi "Kak rafa ini gak percayaan banget sih, pokoknya kak rosela jadi guru piano aku titik! Dan dia bisa main piano" kata aura sambil berteriak membuat rafa memandangku sinis. "Terserah deh, rafa mau mandi dulu" ucap rafa lalu segera pergi dan kupastikan dia pergi kekamarnya. "Maafin rafa ya" kata tante santi, aku mengangguk dan tersenyum kepadanya. "Kak rafa emang kayak gitu kak kalo sama orang lain, aslinya baik kok dan sedikit manja" ucap aura, aku hanya terkekeh mendengarnya, "Yaudah tante kalo gitu saya pamit ya tan, udah malem juga ini" kataku, tante santi melirik jam yang berada di depannya "Ya ampu udah jam 6 lewat aja ya, kamu pulang sama siapa?" Tanya tante santi sambil melihatku "Naik taksi mungkin tan atau angkutan umum" kataku sambil tersenyum lagi, kulihat aura dan tante sinta menggeleng secara bersamaan. "Dianter kak rafa aja ya kak" kata aura aku menggeleng cepat "Gak usah, kakak bisa sendiri kok" kataku menolak. Iyalah menolak, masa iya aku dianter pulang dengan rafa? Firasatku juga buruk untuk malam ini. "Bener tuh kata aura, tunggu ya tante panggilin rafa dulu" kata tante santi, aku mencoba menolak tapi keburu dia maemanggil rafa "Apa ma?" Tanya rafa saat udah didepan kami "Anterin rosela pulang ya" kata tante santi, kulihat rafa memandangku tajam "Gak usah tante, tadi kan saya udah bilang kalo saya naik taksi aja" kataku menolak "Tuh dengerin ma, kata dia aja gak usah kok" kata rafa dengan sinis memandangku, kuacuhkan saja dia. "Gak baik anak gadis pulang malam gini" ujar tante santi lagi, kulihat rafa memandangku tajam. "Beneran tante gak usah deh, saya naik taksi aja tan. Yaudah kalo gitu saya pamit dulu ya tan" ucapku buru buru menyalami tante sinta lalu langsung keluar rumah dengan berlari kecil, bilang saja aku tidak sopan tapi aku beneran gak mau ditatap seperti itu oleh rafa. "Kamu serius? Tapi kalo malem malem biasanya ada orang jahat loh, atau rampok, preman dan lain lainnya" kata tante santi pada saat aku ingin membuka pintu, aku pun mendadak berhenti melangkah dan memutarkan badanku menatap tante sinta "Emang ada te? Ini kan baru jam 6 lewat, masih rame juga kok tan. Jadi pasti banyak yang nolongin aku kalo dijalan nangi ada preman" kataku polos, kulihat aura menahan tawanya "Tapi-" "Aku gpp kok te, yaudah kalo gitu aku pulang dulu ya te. Assalamualikum" kataku dan aku mendengar mereka menjawab salamku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN