Eight

2460 Kata
Mercy "Kalian seneng ya gue jadi tumbal demi rumah sakit ini?" Tanyaku jengkel masih mengerjakan laporan untuk bisa kuserahkan ke Dokter Dhani saat jam jagaku selesai hari ini. Setidaknya, mulai minggu depan aku sudah tidak perlu setiap hari lagi di UGD. Karena hukuman Dokter Dhani untuk kami berempat sudah berakhir. Namun seperti keluar dari kandang macan, masuk lagi ke dalam kandang singa. Iya, aku memang menyelesaikan hukumanku hari ini. Tapi masalah sebenarnya baru saja akan dimulai. Bagaimana tidak? Dokter Dhani, Dokter Yulius dan Dokter Edmund semuanya berlomba-lomba memberikan perhatian kepadaku. Mereka tidak pernah melewatkan jam makan untuk memberikan aku, juga teman-temanku, makanan. Mulai dari sarapan, makan siang dan makan malam. Ah, terkadang mereka juga mengirimkan kue atau snack kecil. "Biarin sih, Mey," balas Dea yang sedang menikmati strawberry cheese cake. Dea sih kesenengan dari kemaren karena dapet makanan gratis terus. "Kalo lu nggak suka kan masih ada kita-kita yang membutuhkan makanan enak, gratis, bergizi lagi!" "Lo harus cobain juga, Mey, jangan sibuk sama laporan mulu. Entar cepet mati lu," ledek Roni. "Gue nggak mau panas-panasin lo kayak duo cunguk ini. Tapi beneran, ini kue enak banget Mey. Gue nggak ngerti lagi Dokter Edmund belinya di mana!" Seru Heru juga. Aku sudah menahan perasaan kesalku sejak berhari-hari lalu. Namun teman-temanku juga seneng sih dapet makanan gratis. Lagian gaji residen seberapa sih? Kalo dihitung-hitung total harga makanan yang sudah diberikan dokter-dokter itu, mungkin sudah mencapai setengah gaji kami sebagai residen. Heru yang dari kemarin pro denganku, dan tidak terlalu mengurusi makanan pemberian dokter-dokter itu, hari ini pun lemah juga. Dia sudah menambah kue potongan ketiga. Aku senang kalau teman-temanku juga senang. Tapi kalau mereka senang sementara aku tidak senang bagaimana? Namun memang dasarnya natur alami perutku berbunyi mulu karena kelaparan. Sebenarnya, mau sedang lapar atau tidak, tetap saja aku lapar. Aku selalu dijuluki karung bolong semasa sekolah dulu. Asal ada makanan selalu kuhabiskan. Makanan favorit? Tentu aku suka semua makanan. Hanya saja kalau kuberitahukan makanan favoritku, nanti kalian kaget. "Sini bagi gue!" Seruku setelah aku selesai dengan laporan pasien yang terakhir. Baru saja aku memasukkan satu suap ke dalam mulutku, ponsel Heru berdering. Aku tidak mengerti siapa yang menelepon dan apa yang mereka bicarakan. Yang kutahu hanyalah betapa enaknya strawberry cheese cake ini. Dokter Edmund punya selera yang bagus juga rupanya. "Siap mengerti Dok!" Seruan Heru membuat kami semua terkejut. "Ada apa Her?" Tanyaku sigap. Biasanya kalau Heru habis dapat telepon kayak gitu pilihan ada dua. Entah kami disuruh jaga malam dadakan, atau kami kena hukuman. "Dokter Dhani bilang habis kita kumpulin laporan ini, kita diajak beliau untuk makan malam," jelasnya. "Jadi beliau minta kita sekarang buat ke sana! Yok! Cepetan! Gue udah laper parah nih!" "Heh, gue baru makan satu suap!" "Siapa suruh lo nggak makan dari tadi Mey," timpal Dea, "Sambil jalan aja makannya. Biar gue bawain laporan lo." Saran yang tidak terlalu aman itu aku ikuti juga. Habis aku beneran laper dong. Tiga cecunguk itu sudah hampir menghabiskan strawberry cheese cake berdiameter 20 centi itu. Kalau aku tinggalin di sini lagi, yang ada nggak kebagian sama sekali. Kami bertiga keluar ruangan istirahat menuju ruangan Komandan Bedah. Aku masih mengunyah kue itu pelan-pelan untuk menikmati rasanya yang fantastis. Ya Tuhan, harusnya tadi aku perhatikan lagi dimana Dokter Edmund membelinya. Aku juga mau beli sendiri sih kapan-kapan. "Eh, tunggu dulu! Jangan asal masuk! Mulut lo masih belepotan tuh!" tahan Roni sebelum Heru mengetuk pintu ruangan Dokter Dhani. Roni memberikan sapu tangannya yang biasa dia bawa-bawa kepadaku, aku pun menerimanya lalu mengelap sekitaran mulutku yang berantakan karena habis makan kue tadi. Aku mengembalikan sapu tangan Roni, kepadanya. "Nah, cakep. Baru masuk kita." "Thanks Ron," ucapku. Heru masuk duluan ke dalam ruangan Dokter Dhani diikuti dengan Dea, Roni kemudian aku. Suasana ruangan Dokter Dhani nggak jauh berbeda dari terakhir kali aku masuk ke sana—iya, waktu dia kasih tahu aku soal Cynthia-Cynthia itu. Dokter Dhani memasang raut wajah yang tidak lusuh hari ini, berarti pasiennya dia lagi oke semua. "Kalian berempat udah ngerti caranya tulis laporan sekarang ya," gumam Dokter Dhani membaca laporan-laporan kami sekilas. Entah apa dia betul-betul membacanya atau tidak entahlah, aku nggak tahu. Tapi yang jelas dia hanya tersenyum senang saat melihat laporan-laporan yang sudah kami suguhkan. "Nice job! Kalian semua itu nggak bodoh, cuma kurang dihukum aja. Sepertinya dua minggu di bangsal enakkan? Nggak perlu temenin saya keluar masuk ruang bedah, nggak perlu temenin saya konsul pasien di ruangan." Yang di bangsal! Tolong diingat! Yang di bangsal! Apa kabar aku dan Heru yang mengalami berbagai kejadian bombastis di UGD? Perlu aku ceritakan bagaimana aku menangani tiga puluh pasien muntaber yang keracunan makanan? Bagaimana aku harus bolak-balik untuk pasang infus? Emang ini manusia paling j*****m! "Yang di UGD juga pasti seneng kan dapet banyak pasien?" Iya seneng Dok, seneeeng banget! "Oke, kalian boleh balik. Laporannya saya terima, kalian boleh ganti baju. Jangan lupa saya ajakin kalian berempat makan malam ini. Tunggu di lobby ya. Biar kita jalan sama-sama." Aku mengangkat tanganku, "Dok, saya bawa mobil saya sendiri." "Oh, ya udah nanti habis makan saya pulangin kamu ke rumah sakit lagi biar kamu bisa ambil mobilnya." Aku cengok sebego-begonya. Ini orang emang ngeselin ya! Jangan harap aku bakalan suka sama orang macam dia! --- Ketika aku kira Dokter Dhani mengajakku dan teman-temanku makan malam, ku kira memang hanya kami berlima saja. Mungkin kami juga membahas hal-hal mengenai pekerjaan juga, namun kalau di rumah sakit kan terlalu formal dan sungkan. Begitu di luar rumah sakit kan lebih enak. Tapi sepertinya hal itu harus kita buang jauh-jauh, sejauh-jauhnya pokoknya. Kenapa? Sibuk makan ya, Mey? Nggak, belom makan kok. Tapi kita udah pesen makanan. Kami diajak ke Park Huis! Makan di sini sama aja harus ngirit pengeluaran lainnya. Seenggaknya, buat kami—para residen—dengan gaji yang pas-pasan ya harus tahu diri kalau mau makan di Park Huis yang harga es teh tawarnya sepuluh ribu, dan es teh manisnya lima belas ribu. Bahkan, harga gula aja lima ribu dong! Gila kali ya? Oke, balik ke topik. Alasan kami nggak bisa bercengkrama dengan Dokter Dhani YTC—yang tercinta—ini adalah karena kehadiran Dokter Yulius dan Dokter Edmund juga. Kedua pria itu juga hadir di tengah-tengah kami dengan alasan, mereka temannya Dokter Dhani.  "Jadi kalian residen-residennya Dhani," kata Dokter Yulius, "Asyik juga ya ada dua cewek, dua cowok. Dhani galak nggak?" "Nggak kok Dok," balas Roni, "Cuma kalo lagi bete, atau mungkin operasinya gagal langsung bad mood gitu. Sasarannya jadinya kita deh." "Maklumin aja, namanya juga duda," ledek Dokter Yulius, "Ya nggak Dhan?" Dokter Dhani hanya tersenyum tipis, seolah memaksakan senyumnya itu. "Gue nggak bakalan jadi duda juga kalo bini gue nggak tiba-tiba tidur sama orang lain." Tidur sama orang lain? Ulangku dalam hati. Katanya selingkuh, kenapa sekarang malah tidur sama orang lain? Emang siapa sih orangnya itu? "Eh sori, sori. Gue telat. Tadi masih ada satu mediasi lagi soalnya." Aku yang tadinya hanya mengaduk-aduk jus jeruk yang kupesan, tanpa mengikuti ritme pembicaraan dokter-dokter ini, seketika langsung mendongak begitu mendengar suara yang tidak asing beberapa hari ini. Begitu aku melihatnya, ada Andrew di sana, masih lengkap dengan setelan jas hitamnya. Andrew kemudian duduk di sebelah Dokter Edmund, berhadapan denganku. Aku memang sengaja duduk paling terakhir supaya nggak usah berhadapan dengan salah satu dari tiga dokter yang dijodohkan oleh Oma dan Opa. Lagi pula, aku lebih senang makan sambil melihat orang lain ketimbang dokter-dokter yang kusut habis dari rumah sakit. Cuma kalo makannya sambil ngeliatin cowok ganteng macam Andrew sih aku juga nggak nolak. "Akhirnya ada yang ganteng juga!" celetukku. "Kalo gue nggak ganteng mungkin masih bisa terima ya," kata Dokter Yulius, "Masa Ed sama Dhani nggak ganteng sih, Mey?" Dokter Yulius memanggilku 'Mey' setelah melihat teman-temanku dari tadi memanggilku dengan sebutan 'Mey' juga. Nggak masalah sih. Semua suster dan Dokter Dhani juga sudah memanggilku 'Mey' kok dari dulu. "Yang bau parfum sama bau etanol beda Dok," balasku iseng, sambil menyedot minumanku. "Kayak sendirinya nggak bau etanol aja. Sok-sokan nyari yang bau parfum." Dokter Dhani mengatakan itu sambil menatapku sinis dari sebelah kiri Dokter Yulius. Heran. Nggak di rumah sakit nggak di sini hobinya nyari ribut aja. "Makanya karena bau etanol Dok, ditinggalin pacarnya dia," jawab Heru sambil terkekeh-kekeh. "Apalagi di UGD dua minggu. Udah bau etanol, bau darah, bau semuanya. Keramas aja boro-boro." "Kok lo malah buka aib gue sih, Her?" balasku kesal. "Lah iya... Bener tuh, Mey, lo kapan terakhir keramas?" timpal Dea. "Gue baru keramas kemaren astaga! Ada yang salah emangnya?" tanyaku. "Emangnya udah bau?" aku pun langsung mengambil ujung rambutku, dan menciumnya. Agak bau sih, sedikit memang. Akhirnya aku buru-buru menggunakan ikat rambutku untuk mengikatnya habis. "Terus dokter-dokter di sini ngapain emangnya ngajak kita berempat makan? Kalau Dokter Dhani sih jelas karena konsulen kita. Kalo Dokter Edmund sama Dokter Yulius kenapa?" "Biasa aja dong manggil kitanya," kata Dokter Yulius untuk mencairkan suasana. "Kalo di luaran gini panggil nama aja. Kita juga nggak masalah kok. Ya kan?" Dokter Dhani dan Dokter Edmund langsung manggut-manggut. "Oke... Kalau gitu gue mau ngomong," aku bergumam. "Pertama-tama, makasih buat kiriman makanannya tiap hari. Tapi maaf, gue nggak suka makanan yang kalian kasih. Gue nggak suka sayur. Jadi tolong berhenti kirimin sayur-sayuran. Kedua, gue bisa cari makanan gue sendiri jadi nggak perlu repot-repot buat beliin makanan. Dan ketiga, gue masih belom move on dari mantan gue. Jadi jangan kalian pikir gue bakalan suka sama kalian kalau tujuan kalian memang untuk jadi direktur rumah sakit." "Sergio bilang dia nyesel udah ngelakuin itu ke kamu, Mey," jelas Dokter Edmund. "Dia bilang ke aku katanya dia memang menyesal udah jahat sama kamu." Aku menelan ludahku sendiri karena mendengar Dokter Edmund bilang begitu. Tentu saja Dokter Edmund bisa bilang begitu dengan mudah. Dia kan konsulennya Sergio, yang secara otomatis dia adalah spesialis obgyn. Dari semua dokter obgyn, Dokter Edmund memang yang paling tampan. "Tapi ceweknya juga sih yang udah gatel, tebar pesona mulu sama Si Sergio," lanjut Dokter Edmund sambil menepuk-nepuk punggung Dokter Yulius. "Yang sabar ya, Bro. Udah gue bilang dari dulu jangan sama Cynthia, tapi lo bilang Cynthia yang kejar-kejar lo mulu." "Oh, Cynthia yang dokter gigi itu mantannya Dokter Yul?" tanya Dea. "Wah, pantesan Si Sergio demen, Mey." Duh, malah jadi ngomongin cerita cinta gue yang kandas kan? Aku nggak kaget sih sebenernya. Aku memang belum move on, tapi memilih untuk nggak peduli dengan hal yang berbau Cynthia dan Sergio lagi supaya nggak makin kepikiran. "Coba aja lo masih dokter ya Drew," kata Dokter Edmund lagi, kali ini menepuk-nepuk punggung Andrew. "Apaan sih? Gue bukan dokter, dan nggak pernah jadi dokter," jelas Andrew sambil tersenyum. Alamak! Senyumannya itu loh... Bikin hati ini leleh dong! Kami belum banyak berbicara tentang ini dan itu lagi, tapi makanan kami sudah keburu datang, sehingga kami langsung makan. Aktivitas mengobrol kami tetap kami lanjutkan sembari makan juga. Dengan obrolan yang lebih santai. Tapi masih seputar dunia rumah sakit yang membosankan. "Kalian berempat PPDS bedah karena suka atau pengen atau kenapa?" tanya Dokter Edmund. Seperti biasa, juru bicara kami berempat—Heru—yang menjelaskan. "Kalau aku memang mau, dan semangat banget buat bedah. Dari masih co-ass juga udah tertarik sama bedah. Dea, karena katanya jadi dokter bedah keren, kalo Roni biar bisa liat suster-suster bedah yang cantik-cantik. Kalo cewek yang paling ujung itu," ucapnya sebelum menjelaskan, dia melirik ke arahku, "Dia PPDS lagi karena mantan pacarnya itu ikut PPDS juga—obgyn lagi—makanya dia bilang dia ambil bedah aja biar sama-sama di stase besar." "Kenapa nggak obgyn aja?" tanya Dokter Edmund. "Nggak deh Dok. Saya nggak sabra kalo ketemunya sama emak-emak. Mereka ribut, banyak ngeluhnya, belom lagi kalo lagi nolong lahiran. Aduh, nggak bisa Dok," kataku cepat-cepat. "Kalo anak gimana? Atau interna?" tanya Dokter Yulius. Aku buru-buru menggeleng mendengarnya. "Saya nggak suka anak kecil Dok. Kalau interna saya nggak rajin baca. Yang paling—agak—bner buat aku ya cuma bedah. Seenggaknya pasiennya nggak banyak protes Dok kalau lagi dibedah." "Gue udah sering tuh denger dia ngomong gitu mulu sejak pertama masuk residen," balas Dokter Dhani. Sepanjang makan, dan selama mengobrol pembicaraan didominasi Dokter Dhani dan Dokter Yulius yang memang talk active pada dasarnya. Sementara Dokter Edmund hanya menimpali kadang-kadang setelah pembicaraannya Dokter Yulius. Tidak pernah setelah Dokter Dhani yang ngomong. Sementara Si Ganteng, Andrew irit banget ngomongnya. Dia akan ngomong kalau Dokter Dhani, Dokter Yulius atau Dokter Edmund yang menggodanya. Makan malam kami selesai, dan seperti kata Heru tadi, kami ditraktir. Kami nggak keluarin uang sepeser pun buat makan di sini hari ini. Kami pun pamit-pamitan satu dengan yang lainnya, untuk pulang. Sementara aku menagih janji ke Dokter Dhani untuk mengantarkanku balik ke rumah sakit. "Gue anterin pulang aja ya?" tawar Dokter Dhani. "Ih nggak mau! Ngapain dianterin? Gue ada mobil sendiri kok, ngapain juga pake dianter-anter sama lo?" tanyaku. Katakanlah aku residen yang nggak sopan sama konsulennya. Tapi kami memang sudah menyepakati ini sejak awal. In hospital he can be my superior, in other places he's just an ordinary friend. Walaupun aku emang nggak suka sama Dokter Dhani, tapi dia adalah teman yang cukup baik sebenarnya. "Mobilnya kan nggak ada juga di sini," balasnya. "Kalo ini salah satu modus lo buat dapetin gue, mendingan gue balik ke rumah sakit bareng Dokter Ed," kataku sambil cengengesan. "Lebih ganteng, lebih wangi juga dari pada lo, lebih bagus lagi mobilnya." "Mey, gue udah operasi tiga orang hari ini. Gue mau cepet-cepet pulang ke rumah, makanya lo gue anter aja ya?" Dokter Edmund dan Dokter Yulius sudah balik duluan setelah keluar dari Park Huis. Ketiga teman-temanku juga sudah pulang dengan taksi online pesanan mereka untuk ke kost mereka. Tinggalah aku di sini bersama Dokter Dhani yang mengingkari janjinya untuk mengantarkanku ke rumah sakit dulu. "Kenapa kalian?" tanya Andrew yang baru keluar dari Park Huis. "Ini Si Bocah," Dokter Dhani memonyonkan bibirnya mengarah padaku, pertanda bahwa aku sumber masalahnya. Hello, aku nggak akan mempersulit kalau dianya nggak ingkar janji juga! "Gue bilang gue anterin sampe rumah aja, dianya nggak mau. Malah minta ke rumah sakit." "Tapi kan tadi perjanjiannya elo emang mau anter gue balik ke rumah sakit, Dokter Dhani Dharmawan spesialis bedah!" Seruku jengkel. "Ya udah gue naik ojek aj—" "Gue yang anter aja nggak papa, Dhan." Aku dan Dokter Dhani langsung beradu pandang satu sama lain begitu mendengar Andrew menyanggupi untuk mengantarkanku ke rumah sakit. Ini sih rejeki nuomplok!!! "Drew, nggak papa gue yang anter," kata Dokter Dhani. "Lo juga udah capek banget gitu. Dari pada lo tambah capek dengan adu bacot sama residen lo—yang lagi lo deketin—mendingan lo balik duluan ke rumah lo. Biar gue yang anter Mercy ke rumah sakit." Dokter Dhani mengembuskan napasnya berat. "Ya udah. Kalo gitu gue titip ya." Andrew pun mengangguk sebagai tanda bahwa dia menyanggupi permintaan Dokter Dhani. "Lo, langsung pulang. Jangan lupa mandi dulu!" "Tumben amat Dokter perhatian? Biasanya juga bodo amat mau udah mandi apa belom gue?" tanyaku balik. "Lo seharian ada di UGD, dan lo nggak mandi sebelum tidur? Lo pikir ada berapa banyak kuman yang bakal tidur sama lo di kasur?" tanyanya balik dengan nada meninggi. Haduh, aku menghargai perhatiannya, tapi nggak kayak gini juga sih. Dokter Dhani ini perhatiannya sekaligus kesempatan buat nyindir. Gimana aku nggak bete? "Gih, balik lo sana Dhan. Makin malem nih," kata Andrew menyuruhnya untuk cepat-cepat pulang. Akhirnya Dokter Dhani masuk ke dalam mobilnya dan pergi pulang. Andrew mengajakku masuk ke dalam mobilnya. "Mobil gue nggak bagus-bagus amat. Tapi seenggaknya bisa buat anterin lo sampe rumah sakit kok." Aku sedikit heran dengan kata Andrew, kalau mobilnya nggak bagus-bagus amat. Andrew menggiringku sampai berhenti di depan mobil Audi Q5. Ketika dia mengeluarkan kuncinya untuk membuka central lock aku semakin yakin kalau mobil ini memang adalah miliknya. "Ayo naik, biar cepet sampe," ajaknya. Mobil yang katanya nggak bagus-bagus amat itu ternyata Audi Q5?! Terus mobilku yang cuma Honda Jazz apa dong? Butiran debu? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN