Eleven

1828 Kata
Mercy "Dok, Dok," panggil seorang perawat yang ada untuk membangunkanku. "Pasien di kamar 923 tiba-tiba napasnya makin buruk Dok." Aku yang baru membuka mataku dari tidurku, langsung mengambil rekam medis milik pasien itu untuk membaca riwayatnya. Seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun, sudah beberapa hari ini dirawat karena sesak napas yang berkepanjangan selama dua minggu terakhir. Dokter jantungnya adalah Dokter Yulius. "Sus, tolong segera hubungi Dokter Yulius," kataku, segera setelahnya aku masuk ke dalam kamar 923 itu. Hanya ada pasien itu, dan memang dia sangat tidak sehat. Aku tidak sempat memperkenalkan namaku dulu, aku segera menekan-nekan perutnya dan bertanya apakah dia merasakan sakit di sekitar area yang ku tekan. "AAARGH!!" Ah, sakitnya berada di samping perut. "Punggungnya juga sakit?" "Sa-sa-sangat.. Dok..." jawabnya tersengal-sengal. Tak lama setelahnya dia batuk, saat aku melihat tangannya, ternyata ada darah yang keluar. "Dar.. ah.. la.. gi..." "Lagi?" ulangku. Aku pun tidak sanggup untuk berpikir panjang lagi, segera saja aku menekan tombol darurat. "Tolong siapkan satu ruangan operasi sekarang juga!" Aku mendorong pasien itu keluar dari kamar perawatannya untuk dipindahkan ke dalam ruang operasi sesegera mungkin. Begitupun perawat yang menghubungi Dokter Yulius ikut bersamaku ke dalam ruang operasi. "Dokter Mercy," panggil Dokter Via, ahli anestesi yang hari itu sedang berjaga di ICU, "Dokter memanggil saya?" "Iya, saya butuh anestesi untuk operasi," balasku. Dokter Via mengerti dan langsung mencuci tangannya. Aku pun menunggu Roni untuk datang agar bisa membedah pasien itu bersama. Pada akhirnya akulah yang membedah, karena Roni mengatakan tidak mau mengambil resiko atas diagnosis kilat yang kulakukan. Aku pun tak punya pilihan lain lagi karena aku telah sangat yakin dengan diagnosis yang kulakukan meski sangat singkat. Aneurisma aorta abdominal. Itulah diagnosisku. Aku berhasil membersihkan pendarahannya dan tentunya memperbaiki pembuluh darahnya yang pecah. Ketika aku telah selesai menutup, jam telah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Di situlah Dokter Yulius datang dan melihatku seperti seseorang yang telah melakukan pembunuhan. Setelah pasien yang ku operasi dipindahkan ke ruang perawatannya lagi, Dokter Yulius segera memanggilku untuk bertemu dengannya di ruangannya. Saat aku masuk ke dalam, tak ku sangka ternyata Dokter Dhani pun ada di sana. Raut wajahnya masih kelihatan lelah, bahkan aku bisa menebak, mungkin beliau tidak mandi sama sekali. Jam dinding ruangan Dokter Yulius masih menunjukkan pukul setengah enam, tapi aku sudah dihujani hujatan-hujatan dari mulut pedas Dokter Yulius yang secara jelas tidak menyukai keputusanku untuk melakukan pembedahan terhadap pasien yang ditanganinya. Hei, aku menyelamatkan pasiennya lho! "KAMU SADAR TIDAK APA YANG KAMU BARU SAJA LAKUKAN?!" seru Dokter Yulius padaku dengan nada suara yang amat tidak bersahabat. "Tahu Dok. Sadar." "LALU KENAPA KAMU MASIH MELAKUKANNYA KALAU TAHU?" tanyanya lagi. "KAMU ITU BUKAN DOKTERNYA!" Aku tahu betul. Aku hanya dokter yang berjaga malam di bangsal, sedangkan yang tanggung jawab penuh pasien ini adalah dirinya. Lalu, apakah itu berarti aku hanya membiarkan pembuluh darah pasien yang sudah pecah tadi semakin parah? "Yul, udah Yul," sahut Dokter Dhani. Oh, Dokter Dhani terpaksa datang karena Dokter Yulius langsung memojokkanku begitu tahu aku menyentuh pasiennya yang tak berdaya itu. Dalih Dokter Yulius mengatakan bahwa aku ini hanya residen tahun pertama dan tidak seharusnya menyentuh pasien, apalagi melakukan pembedahan besar seperti itu. Tunggu, memangnya aku ini co-ass sampai tidak boleh menyentuh pasien?! "BAHKAN KAMU NGGAK MINTA PERSETUJUAN PASIEN ATAU KELUARGANYA?!" seru Dokter Yulius semakin menjadi-jadi. "Dhan, lo bisa ajarin residen lo nggak sih?! Dia ngerti aturan nggak sih? Tahu etikanya nggak sih?" Aku memang terkenal sering melanggar aturan, namun tidak pernah sampai detik ini tindakanku membahayakan pasien. Sebaliknya, aku selalu yakin untuk melakukan tindakan, sehingga pasienku lekas sembuh. "Yul," panggil Dokter Dhani lagi, "Lo punya porsi lo sebagai dokter jantung, dan kami sebagai dokter bedah nggak akan tinggal diam kalau ada masalah seperti tadi. Sekarang gue tanya, kalau misalnya yang sentuh pasien lo tadi gue atau spesialis bedah lain yang bukan residen apa lo bakal semarah ini?" Pertanyaan Dokter Dhani sukses membuat Dokter Yulius terbungkam. "Marceline mungkin terkenal di rumah sakit karena sering tidur dan sering makan doang. Dia sering mengacau dan suka telat untuk visite pasien," Dokter Dhani berusaha untuk membelaku, "But as her teacher, gue tahu apa yang residen gue lakukan. Mengenai persetujuannya, biar gue yang urus nanti. Kalau lo takut keluarganya akan ngamuk, mending lo pikirin lagi gimana perasaan keluarga pasien lo pagi ini kalo mendengar kabar anggota keluarganya meninggal hanya karena nggak diizinin untuk dibedah karena lo sebagai dokternya telat? Atau karena keluarganya nggak ada untuk memberi persetujuan?" Dokter Yulius benar-benar diam. Dia mati kutu setelah Dokter Dhani membelaku habis-habisan. Sebetulnya nggak membelaku juga sih, tapi membela kondisi pasien yang memang sangat mendesak itu. --- Dokter Dhani dan aku kini berada di ruangannya. Dia habis selesai menelepon keluarga pasien yang aku operasi tengah malam tadi. "Keluarganya mengucapkan terima kasih pada dokter yang mengoperasinya," kata Dokter Dhani kepadaku, "Mereka mengucapkan terima kasihnya kepadamu, Mey." Aku yang sedari tadi menunduk, akhirnya mendongak ke melihat Dokter Dhani yang menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya. Jarang-jarang aku melihatnya tersenyum begitu. Aku lebih sering melihatnya memberengut karena residennya selalu berbuat salah, atau pasien-pasiennya keadaannya memburuk. "Makasih ya Dok, buat tadi," ucapku tulus dari dalam hatiku. Dokter Dhani duduk di pinggiran mejanya, melipat kedua tangannya di depan d**a. "Itu memang tugasku sebagai konsulenmu. Lagi pula kalau kamu tadi melakukan hal yang salah juga aku mungkin akan ikut mengomelimu." "Baru di makasihin lho, Dok," kataku sambal memutar bola mataku. Dokter Dhani memang selalu tahu titik dimana membuatku jengkel sepertinya. "Yulius itu emang suka gitu. Pasien-pasiennya itu memiliki masalah dengan pusat kehidupan. Kalau sampai salah langkah, pastinya dia juga akan merasa bersalah," katanya, "Pasien pertamanya saat telah lulus jadi spesialis meninggal karena dokter bedah kardionya lebih dahulu membedahnya tanpa pendampingan darinya." Oh, pantesan tadi dia ngamuk banget. "Tapi, mungkin buat kamu, karena kamu mantannya Sergio yang rebut pacarnya," tambah Dokter Dhani. Aku dapat melihat seringaian nakalnya. Dokter Dhani berasumsi kalau aku diomeli tadi karena aku mantannya Sergio? "Jahat banget?" ucapku spontan. "Ya gimana nggak? Yulius mau ngelamar dia akhir bulan depan karena dia mau siapin semuanya sebagus mungkin buat Cynthia, tapi malah ditikung sama residen tahun ketiga! Ya hancurlah dia," balasnya. Kalau dipikir-pikir aku ini hancur juga tahu. Ah, sudahlah. Aku yakin kalian bosan kalau aku ulang terus-menerus tentang cerita cintaku yang miris dengan Sergio. Aku pun malas juga untuk mengingatnya lagi. "Dok," panggilku, yang kupanggil pun mengangguk. "Waktu Dokter tahu istri Dokter selingkuh sama sahabat Dokter rasanya gimana?" Ekspresi wajah Dokter Dhani sulit untuk ku deskripsikan. Sepertinya aku terlalu kepo urusannya. "Kalo nggak mau dijawab nggak apa Dok. Saya cuma mau tahu aja sebenernya gimana Dokter bisa survive, terus gimana Dokter bisa move on. Apalagi mantan istri Dokter kan cantik, pinter juga—" "Siapa yang bilang saya survive dan move on?" ulangnya skeptis, alisnya terangkat satu. Aku mengerjapkan kedua mataku beberapa kali. "Mey," dia memanggilku, "Coba kita ngobrol sebagai seorang teman." Dia kini tersenyum, "Gue pun sama hancurnya seperti lo dan Yulius waktu tahu pasangan gue selingkuh. Lebih dari kalian, Ella bukan sekedar pacar, dia istri yang gue nikahi secara sah. "Selama delapan tahun gue menikahinya mungkin dia nggak bahagia karena gue harus lebih sering ada di rumah sakit, dan pulang ke rumah hanya untuk ganti baju dan mandi. Sedangkan gue lupa kalau istri yang gue nikahi juga perlu diperhatikan. Belum lagi saat Ella bilang mau punya anak, sementara gue terlalu sibuk di rumah sakit. Di saat itulah, Ed tahu gimana perasaan seorang Ella." "Dokter nggak tahu kalau Dokter Ella sama Dokter Ed..." Beliau menggelen pelan. "The next thing I know is only a nightmare. Gue pulang setelah operasi transplantasi ginjal, pasiennya meninggal di meja operasi. Ketika gue pulang, hanya istri gue yang gue harapkan. Tapi apa?" "Apa Dok?" Dokter Dhani tersenyum pahit. "Gue buka kamar gue dan di sana Ella hanya memakai handuk dan Ed sedang tidak bertelanjang dada." "Wow." "Ekspresi lo biasa aja kali," balas Dokter Dhani kini terkekeh karena melihat ekspresi wajahku yang tak percaya mendengar ceritanya. "Mey, seenggaknya ada untungnya ketika Sergio bilang dia selingkuh dan langsung minta putus. Lo nggak perlu lihat dengan mata kepala lo sendiri kan?" "Namanya diselingkuhin dimana-mana sama kali rasanya Dok," keluhku. Dokter Dhani menggelen cepat. "Kalo lo lihat waktu mereka lagi selingkuh di depan mata lo langsung itu sakitnya berlipat ganda." Baiklah, mungkin ada benarnya juga poin yang diucapkan oleh Dokter Dhani. Setidaknya, aku tidak perlu melihat Sergio selingkuh dengan orang lain secara terang-terangan. Lebih baik mengetahuinya dari mulut Sergio sendiri daripada mulut orang lain, atau nasib yang sama seperti Dokter Dhani. "Dok, boleh saya tanya lagi?" Dokter Dhani mengangguk sebagai jawabannya. "Kapan Dokter merasa sangat bangga pada diri Dokter sendiri?" Ia tidak langsung menjawabnya. Ada jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya Dokter Dhani memutuskan untuk menjawabnya setelah ia yakin dengan jawabannya. Aku dapat melihat seulas senyum yang terukir di wajahnya yang masih letih itu. Ketulusan dari pancaran matanya juga dapat jelas terlihat. "Waktu gue berhasil mengoperasi pasien gue untuk pertama kalinya. My first solo surgery." Dokter Dhani memang sering membahas operasi perdananya saat ia menjadi residen dulu. Dia selalu mengatakan kalau kasusnya saat itu tidak membuatnya tertantang karena hanya hernia saja. Namun yang membuatnya sangat tertantang adalah tekanan yang diberikan konsulennya dulu yang mengatakan kalau pasiennya adalah tulang punggung keluarga, dan ada tiga orang anak yang akan langsung menjadi yatim jika operasinya gagal. "Sejak hari itu, gue langsung tahu apa yang menjadi tujuan hidup gue. Bukan sekedar menjadi dokter bagi pasien, tapi juga untuk keluarga yang menunggunya." "Itu motivasi kenapa Dokter jahat banget ke saya?" tanyaku skeptis. Mengingat selama ini nggak ada baik-baiknya perlakuan dia kepada residen-residen lain. Terlebih aku sendiri. "Kalau itu, gue punya dua jawaban. Pertama, sebagai seorang teman gue bakal bilang semua kelakuan lo memang perlu diperbaiki, apalagi pas lo tidur atau kerjaan lo yang cuma makan mie instan." Aku tersenyum kecil, tak kusangka Dokter Dhani tahu kalau aku sering makan mie instan. "Tapi sebagai seorang dokter, saya menggembleng kamu karena saya melihat potensi yang sangat besar dalam dirimu. Kamu perlu sadar akan kemampuanmu. Bukan karena kamu cucu dari dokter bedah plastik terkenal atau dokter penyakit dalam yang jenius. Kamu bisa berada saat ini sampai hari ini juga bukan karena mantan pacarmu yang hebat." Ucapan demi ucapan yang dikeluarkan Dokter Dhani bukanlah kata-kata manis dan indah. Tapi di setiap katanya aku seperti memeroleh kekuatan dan kepercayaan yang selama ini tidak aku dapatkan. "I will only tell you this once," katanya sambal menatapku, "Kamu bisa bertahan sampai hari ini karena kamu adalah Marceline. You're amazing and you have to know that." Kini aku tersenyum karena merasa lega dengan pernyataan yang dikatakan Dokter Dhani. "Makasih ya Dok." "Sama-sama." Detik berikutnya ia berdiri, "Sekarang kamu balik, dan istirahat. Saya tunggu keputusanmu untuk memilih spesifikasi bedah. Apapun yang kamu ambil, saya akan dukung. Tapi..." Beliau segera mengeluarkan tumpukkan berkas dari dalam lacinya. "Kamu beresin dulu laporan jaga malam tadi! Jangan seenaknya kabur!" Kampret. Udah seneng-seneng dikasih angin surga, tetep aja disuruh tulis laporan sama dia. Baiklah. Mari kita selesaikan dengan cepat supaya aku bisa cepat-cepat istirahat! Kasur... tunggu aku ya. Sebentar lagi aku akan pulang kok. Pasti. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN