"Maksud kamu, mereka gak menerima Livia? Gimana bisa?" Adam hanya mengedikkan bahu acuh. Elisa mengerang kesal "Terus kamu gak memperjuangkannya gitu? Livia cucu mereka, Dam!" "Aku harus apa, El. Aku gak bisa maksa mereka. Dan lihat gara- gara aku bawa Livia ke rumah." Adam menunjuk tasnya. "Apa ini?" "Pakaianku, aku di usir dari rumah, jadi sebelum aku dapat rumah aku tinggal disini." Elisa semakin kesal, namun saat ini dia justru berpikir untuk bisa meraih hati Adam agar mereka bisa menikah. "Ya sudah, kamu bisa istirahat." Adam meraih tasnya lalu memasuki salah satu kamar. Adam meletakan tasnya lalu meneliti sekitar "Berapa lama hasil tesnya keluar, Dokter?" tanya Adam saat sudah memastikan suasananya aman, pria itu berbicara pada seseorang di sebrang telepon. "Satu minggu Pak A

