Mulai Cemburu

1755 Kata
Ayu menghela napas dan menghentikan gerakan tangannya. “Nan, mau kamu apa?” tanya Ayu menurunkan nada suaranya. Nanda menghela napas sambil menatap d^da Ayu yang terekspose di hadapannya karena kostum tari yang dikenakan memang hanya kemben dan jarik saja. “Kamu pakai baju kayak gini, buat narik laki-laki lain lagi?” “Nggak usah mengalihkan perhatian, Nan! Aku udah biasa menari tradisional sejak aku masih kecil. Pakai pakaian begini juga udah biasa. Apa yang salah?” “Kamu nggak sadar kalau d^da kamu ini ...” Nanda menarik ujung kemben Ayu dan melihat pahanya yang terbuka. “Kamu ini terlalu seksi untuk tampil di atas panggung!” “Bukannya kamu suka cewek yang seksi? Arlita selalu berpakaian seksi setiap hari dan kamu suka menikmatinya. Iya ‘kan?” “Nggak usah bawa-bawa Arlita!” sahut Nanda kesal. “Aku lagi ngomongin kamu, Ay!” Ia menahan pening di kepalanya saat bagian inti tubuhnya tiba-tiba berkedut. Melihat tubuh Ayu terekspose di depannya, ia benar-benar tidak bisa menahan diri. “Tiga bulan ini aku diam bukan berarti aku nggak ngerasa sakit, Nan. Meski aku nggak cinta sama kamu. Kamu tetep suamiku dan kamu nggak pernah menghargai keberadaanku sebagai istri. Aku sudah coba jadi istri yang baik buat kamu dan kamu nggak pernah lihat itu. Kalau kamu nggak cinta sama aku, kamu nggak perlu marah-marah. Kita bisa hidup masing-masing dan tidak perlu saling mengatur. Kamu juga nggak perlu cemburu kayak gini karena di antara kita nggak pernah saling mencintai!” tutur Ayu sambil mendorong pintu mobil dan keluar dari sana. “Cemburu?” Nanda mengernyitkan dahi sambil menatap tubuh Ayu yang bergerak pergi meninggalkan mobilnya. Ia menghela napas dan menyandarkan kepalanya ke kursi. “Apa iya aku cemburu?” Ayu langsung melangkah kembali menuju ke backstage dan masuk ke ruang rias. “Yu, kamu balik? Suamimu marah?” tanya Enggar saat melihat Ayu kembali ke sana. “Biarkan saja! Dia terlalu kekanak-kanakkan,” jawab Ayu sambil melepas aksesoris yang melekat di tubuhnya satu per satu. “Gimana ceritanya kamu nikah sama orang itu? Bukannya kamu tunangan sama Sonny?” “Ceritanya panjang, Mas. Nggak enak cerita di sini.” “Setelah selesaikan tarian terakhirmu, kita bicara di atas sana!” ajak Enggar sambil menunjuk rooftop yang berada di gedung pemerintahan di atas sana. Ayu mengangguk. Ia segera mempersiapkan dirinya untuk menarikan tarian selanjutnya. Setiap tahunnya, ia selalu menyumbang tarian untuk ulang tahun kota dan ulang tahun negara dan ia harus bertanggung jawab. Baginya, menari tradisional adalah bagian dari hobby untuk melepas penat setelah seharian bekerja. Terlebih setelah ia resign, ia tidak punya kegiatan dan terus-menerus di dalam rumah seorang diri terasa sangat membosankan. *** “Minumlah ...!” Enggar menyodorkan satu cup capucino hangat ke hadapan Ayu. Saat ini, mereka sudah berdiri di rooftop gedung yang mengarah ke panggung. Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam dan suasana kota itu masih sangat ramai karena panggung hiburan masih menyuguhkan beragam kesenian. “Makasih, Mas ...!” Ayu meraih cup tersebut dan memeluk dengan kedua telapak tangannya. Melawan dingin malam yang masih menembus kulit meski ia sudah mengenakan sweeter. “Berceritalah! Aku akan mendengarkanmu,” pinta Enggar. Ayu menghela napas. “Aku memang menikah diam-diam, Mas. Semua teman-teman tahu kalau aku bertunangan dengan Dokter Sonny. Pasti akan menjadi pertanyaan besar kenapa aku menikah dengan pria lain. Aku juga tidak menginginkan ini terjadi.” Enggar manggut-manggut seolah mengerti perasaan Ayu. “Banyak orang yang mengalami kasus seperti ini. Mungkin, kamu dan Sonny tidak ditakdirkan berjodoh.” Ayu tersenyum kecut. “Aku masih sangat mencintai dia, Mas. Bagiku, Sonny adalah pria impian. Aku menyukai dia sejak pertama masuk SMA. Hingga kami bertunangan, Sonny tetaplah sosok pria baik, penyayang dan bertanggung jawab. Aku tidak tahu telah melakukan dosa apa hingga takdir mempermainkan aku seperti ini.” **** “Aku sudah berusaha menjadi wanita yang baik agar aku bisa ditakdirkan menjadi jodoh pria yang baik pula. Tapi aku malah dapet suami yang nggak pernah sayang sama aku, cuek dan selalu memperlakukan aku dengan kasar. Dia juga lebih mencintai wanita lain daripada aku. Wanita mana yang tahan diperlakukan seperti ini setiap hari?” tutur Ayu sambil mengusap air matanya yang jatuh tanpa ia sadari. “Ayu ... jangan bersedih seperti ini! Semua hal sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Kalau memang dia jodohmu, kamu harus sabar. Mungkin, inilah ujian hidup yang harus kamu terima,” tutur Enggar sambil menyentuh lembut pundak Ayu. Ayu mengangguk sambil mengusap sisa air matanya. “Aku juga nggak mau terlarut dalam kesedihan, Mas. Aku lagi hamil muda. Kata dokter, ibu hamil nggak boleh setress. Awalnya sangat sakit. Sekarang, sudah terbiasa.” Enggar tersenyum menatap wajah Ayu. “Aku kenal kamu sudah lama. Aku yakin kalau kamu pasti kuat menghadapi ujian seberat apa pun. Setiap orang punya ujian hidup yang berbeda. Terkadang terlihat mengagumkan di depan semua orang, tapi seseungguhnya di dalam sedang terluka. Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu seperti ini.” Ayu tersenyum menatap Enggar. “Nggak papa, Mas. Lama-lama akan terbiasa.” Enggar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Gimana kabar Bunda Rindu? Sudah lama aku tidak bertemu dengan beliau.” “Baik.” “Hari ini dia nggak datang ke sini?” tanya Enggar lagi. “Sepertinya datang. Tapi aku tidak tahu dia ada di mana.” “Nggak telepon? Siapa tahu, perasaan kamu bisa lebih baik kalau ketemu beliau?” Ayu menggeleng. “Aku nggak mau rumah tanggaku jadi beban pikiran buat bunda. Aku mau dia melihat semuanya baik-baik saja dan kami hidup bahagia. Aku nggak pernah bermimpi punya suami pengusaha. Dunia mereka terlalu liar untukku dan hatiku nggak siap menahan semua godaan dari luar.” “Jodoh nggak bisa dipilih. Semua wanita di luar sana malah menyukai pengusaha yang banyak uang. Kamu bisa mendapatkannya dengan mudah. Harusnya kamu bersyukur!” ucap Enggar sambil tersenyum manis. Ayu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Aku akan berusaha untuk bersyukur dan menerima semuanya.” “Gitu, dong! Kalau dia melukaimu, kamu bilang ke Mas, ya! Mas pasti akan membantu menjaga dan melindungimu. Kamu lagi hamil, sebaiknya kita pulang saja! Aku akan mengantarkanmu. Udara malam tidak begitu baik untukmu,” tutur Enggar. Ayu mengangguk. “Mmh ... Mas, mungkin dua bulan lagi ... perutku akan terlihat membesar. Aku tidak akan bisa menari setelah ini. Sepertinya, ini adalah hari terakhir aku menari. Setelah melahirkan, aku tidak akan punya waktu lagi. Bisakah kita bikin acara makan-makan untuk perpisahan?” Enggar mengangguk. “Bisa. Aku akan undang semua anak di sanggar. Mau makan di mana?” tanyanya. “Mas Enggar saja yang pilih tempatnya. Kira-kira, anak-anak sukanya makan di mana?” Enggar mengangguk. “Nanti aku bicarakan dengan mereka. Kalau anakmu sudah besar, apa kamu masih mau kembali ke dunia seni?” “Belum tahu, Mas,” jawab Ayu lirih. “Suamiku tidak seperti Sonny yang membebaskan aku untuk bergerak. Kalau dia mengizinkan, mungkin aku akan kembali.” Enggar mengangguk tanda mengerti. “Aku mengerti posisimu. Aku pasti akan merindukan saat-saat menari bersamamu. Sudah bertahun-tahun, kamu tiba-tiba berhenti berkesenian. Dunia kami akan merindukanmu.” Ayu tersenyum kecil. Ia melangkahkan kakinya perlahan turun dari gedung tersebut dan menuju ke parkiran. Matanya langsung menangkap mobil Nanda yang masih terparkir di sana. “Mas, sepertinya suamiku masih nunggu aku pulang. Aku pulang bareng dia aja.” “Yang mana?” tanya Enggar. Ayu langsung menunjuk mobil Nanda dengan isyarat kepalanya. “Aku nggak mau menambah kemarahan dia karena Mas Enggar mengantarku.” Enggar mengangguk tanda mengerti. “Baiklah. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungiku!” “Baik, Mas. Terima kasih ...!” Ayu tersenyum manis dan melangkah menghampiri mobil Nanda. Ia mengintip ke dalam kaca jendela, melihat Nanda sedang terlelap di dalam sana. Tok ... tok ... tok ..! Ayu mengetuk pintu mobil Nanda beberapa kali hingga pria itu terbangun. Nanda langsung mengerjapkan matanya begitu mendengar pintu mobilnya diketuk. Ia menoleh ke luar jendela mobilnya dan menangkap bayangan wajah Ayu di sana. Ia melirik jam di mobilnya sejenak dan membuka kaca jendelanya. “Udah selesai?” “Kamu masih nungguin aku? Arlita mana?” tanya Ayu balik. “Nggak tahu,” jawab Nanda ketus. “Masuklah!” Ayu tersenyum kecil dan langsung masuk ke dalam mobil Nanda. Ia tidak menyangka jika suaminya itu mau menunggunya hingga larut malam dan membuang pacarnya entah ke mana. “Nan, kalau kamu ngantuk, biar aku yang bawa mobil!” pinta Ayu. Nanda menggelengkan kepala. Ia bergegas menekan start engine dan menjalankan mobilnya perlahan keluar dari padatnya keramaian ulang tahun kota. “Ay, kenapa kamu diam-diam pergi ke tempat ini? Kamu masih nari terus?” tanya Nanda lirih. “Aku sudah bergabung dengan sanggar tari sejak usia lima tahun. Kamu sendiri yang bilang kalau tidak akan mengganggu rutinitasku meski kita sudah menikah. Aku sudah menuruti keinginanmu untuk berhenti bekerja. Apa aku harus berhenti juga dari sanggar?” jawab Ayu sambil bertanya. Nanda melirik ke arah Ayu yang sudah mengenakan pakaian sopan seperti biasa. Ia lebih nyaman melihat ayu seperti itu. Melihat istrinya berpakaian seksi, membuat kepalanya pening dan membayangkan banyak hal tidak senonoh yang bisa menimpa istrinya itu. “Cuma itu hiburanku satu-satunya saat ini, Nan. Aku menghabiskan waktu sendirian di rumah dan itu membosankan. Setelah perutku membesar dan melahirkan, aku tidak akan bisa melakukan hal seperti ini lagi. Ini terakhir kalinya aku menari di atas panggung,” ucap Ay lirih sambil menundukkan kepalanya. Nanda melirik ke arah Ayu sejenak. “Sorry ...! Aku nggak bermaksud mengekang kamu, Ay. Aku cuma ...” Ayu menggigit bibir bawahnya. Ia sendiri yang memutuskan untuk berhenti dari dunia seni karena kehamilannya yang akan semakin membesar. Nanda menghela napas sambil menatap Ayu. “Sudah makan?” Ayu menggeleng. “Kita makan dulu sebelum pulang,” pinta Nanda. Ia langsung menghentikan mobilnya di depan halaman restoran dua puluh empat jam. Ayu tersenyum saat Nanda menggandengnya masuk ke dalam restoran tersebut. Setelah tiga bulan menikah, ini pertama kalinya Nanda mengajaknya makan bersama. Meski berada di waktu yang tidak tepat, ia merasa bahagia karena diperhatikan oleh suaminya itu. “Makan yang banyak supaya bayi kita sehat!” pinta Nanda saat makanan yang mereka pesan sudah terhidang di atas meja. Ayu mengangguk sambil tersenyum manis. “Makasih, Nan ...!” “Nggak usah berterima kasih! Aku melakukannya demi anakku yang ada di perutmu." Ayu mengangguk tanda mengerti. Ia tahu, Nanda tidak akan pernah tulus bersikap di hadapannya. Meski ia tidak ada cinta dalam hubungan mereka, ia tetap menginginkan diperlakukan sebagai seorang istri. Sebab, pernikahan mereka adalah pernikahan sungguhan dan sah secara hukum. Mereka juga tidak mungkin mengakhiri hubungan tanpa cinta ini dengan mudah karena keluarga mereka sama-sama berharap hubungan keluarga kecil ini bisa harmonis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN