Menempati Rumah Baru

1158 Kata
“Ayah, Bunda ... mmh, Roro Ayu sudah menjadi istriku. Bisakah kami tinggal di rumah sendiri? Aku sudah menyiapkan rumah untuk keluarga kecil kami dan hidup mandiri,” tutur Nanda saat makan malam bersama dengan keluarga Ayu. Bunda Rindu dan Ayah Edi saling pandang selama beberapa saat. “Kalian sudah berdiskusi? Bunda tidak bisa melarang kalau memang ini keinginan kalian,” tutur Bunda Rindu. “Asalkan kalian punya waktu untuk mengunjungi kami.” Nanda mengangguk. Ia tersenyum sambil menggenggam tangan Ayu. “Bunda tenang saja! Kami akan sering berkunjung ke sini. Rumah kami tidak terlalu jauh. Kami bisa mengunjungi kalian sesering mungkin. Ayu mengangguk sambil tersenyum manis. Ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan suaminya itu. Walau bagaimana pun, dia adalah seorang istri dan sudah selayaknya berbakti. Cepat atau lambat, seorang wanita memang akan diboyong pergi saat mereka sudah berkeluarga. Bersyukurnya, ia tidak perlu tinggal bersama mertua karena Nanda sudah menyiapkan rumah untuk mereka berdua. Bunda Rindu tersenyum menatap wajah Ayu. “Kamu jaga dirimu baik-baik! Lagi hamil muda, tidak boleh terlalu kelelahan! Sudah resmi resign dari perusahaan?” Ayu mengangguk. “Sudah, Bunda.” “Baguslah. Jadi, kamu bisa fokus mengurus suami dan anakmu,” tutur Bunda Rindu. “Oh ya, kapan mau pindah rumah?” “Secepatnya, Bunda,” jawab Nanda. “Mungkin, besok.” “Nanti Bunda Rindu ke sana juga. Sebelum ditinggali, ada baiknya kita mengadakan pengajian lebih dulu,” tutur Bunda Rindu. “Pengajian?” batin Nanda dalam hati. Pria b*jat seperti dia mengadakan pengajian? Oh, God! Apa kata pasukan bir dan wine yang biasa menemaninya party? Ayu mengangguk. “Nanti Ayu bilang ke Mama Nia dan Papa Andre juga supaya mereka juga datang ke rumah kami.” “Mmh ... emangnya harus ada acara pengajian segala?” tanya Nanda. “Iya, dong. Supaya kehidupan rumah tangga kalian itu penuh berkah, dikasih rejeki yang melimpah dan selalu harmonis,” jawab Bunda Rindu sambil tersenyum manis. Nanda tersenyum kecut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak pernah mengadakan acara pengajian. Jika bukan karena keinginan orang tua, dia enggak melakukan hal tersebut. Boro-boro mau pengajian, belajar agama saja dia selalu kabur dari kelas. Bagaimana bisa pria b3jat seperti dia mendapatkan istri yang begitu baik dan sholehah? Rasanya, jodoh kali ini tidak tepat. Ia masih ingin bersenang-senang di luar sana tanpa harus terbebani dengan tanggung jawab keluarga. Tapi kenyatannya, dia akan menjadi seorang ayah dan harus bertanggung jawab pada keluarganya. Setelah menjalani serangkaian acara yang rumit dan penuh drama, Nanda dan Ayu akhirnya resmi menempati rumah baru mereka. Nanda langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur begitu semua tamu sudah pulang dari rumahnya. “Gila! Seumur hidup, aku baru ini pakai baju koko terlama. Kenapa harus ngadain pengajian? Malu sama temen-temen klub aku, Yu. Harusnya kita bikin wine party biar seru.” Ayu tersenyum sambil duduk di sisi Nanda. “Kalau kamu mau bikin party wine, jangan di rumah ini!” “Kenapa? Ini rumahku.” “Kamu pergi aja ke klub malam yang biasa kamu kunjungi!” sahut Ayu sambil meletakkan piyama ke atas perut Nanda. “Gantilah!” Nanda menatap piyama di atas perutnya dan menghela napas. “Aku capek dan ngantuk banget. Nggak usah ganti baju.” Nanda menyodorkan kembali piyama itu. Ia memperbaiki posisi tubuhnya dan langsung memejamkan mata. Ayu menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Nanda. Ia merapikan tubuhnya terlebih dahulu sebelum akhirnya terlelap di samping pria itu. Hingga jam sepuluh pagi, Ayu masih terlelap dengan nyaman di pelukan Nanda. Entah apa yang terjadi semalam selama mereka tidur dalam satu ranjang. Terpisah jauh dari sudut ke sudut, tiba-tiba sudah saling menempel tanpa mereka sadari. Nanda memicingkan mata sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Ia langsung menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamar tersebut. “Jam sepuluh!?” batinnya. Nanda meringis saat tangan kirinya terasa sangat keram dan Ayu sedang tertidur lelap dengan kepala di atas dadanya. “Kenapa dia bisa di sini? Pantesan pegel banget,” batinnya. Ia langsung menggeser kepala Ayu perlahan agar menjauh dari tubuhnya. Kemudian bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ayu langsung membuka mata begitu ia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Ia langsung terlonjak begitu menoleh ke arah jam dinding dan waktu sudah menunjukkan jam sepuluh pagi. “Astaga! Aku bangun kesiangan!?” Ayu bergegas melangkah menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuknya. “Nanda ...!” “Hmm.” “Ke kantor?” “He-em.” “Mau sarapan apa?” tanya Ayu. “Nggak usah! Aku bisa sarapan di luar!” seru Nanda dari dalam kamar mandi. Ayu menghela napas. Hari pertama menjalani kehidupan baru dengan Nanda, ia malah bangun kesiangan. Meski begitu, ia berusaha menyiapkan sarapan secepat mungkin untuk suaminya sebelum pria itu berangkat ke kantor perusahaannya. Beberapa menit kemudian, Nanda turun dari kamar dengan pakaian jas rapi. Ia menghentikan langkahnya saat melihat Ayu sedang menyiapkan makanan di atas meja makan. “Yu, kamu masak?” “Iya. Sorry, aku kesiangan. Jadi, aku masak apa adanya aja untuk kamu. Makanlah!” pinta Ayu sambil tersenyum manis. Nanda tersenyum miring sambil memperhatikan sepiring nasi goreng yang disiapkan oleh Ayu untuknya. “Aku udah bilang nggak usah masak. Aku mau makan di luar.” Ia langsung melangkah begitu saja. “Tapi ...” “Ayu, aku nggak suka diatur, ya! Aku sudah bertanggung jawab menikahimu. Apa pun yang akan aku lakukan, kamu nggak perlu ikut campur!” sahut Nanda. Ayu menghela napas melihat sikap Nanda. “Kamu ngajak tinggal di rumah sendiri supaya bisa semena-mena sama aku, Nan?” Nanda menghentikan langkahnya sejenak. “Nah, itu tahu. Kalau aku nggak meminta kamu melakukan sesuatu, maka kamu nggak perlu melakukan apa pun untukku. Aku ada janji mau ketemu Arlita. Aku makan di luar,” ucapnya dan beranjak pergi. “Nan, Arlita itu mantan pacar kamu. Aku ini istri kamu, Nan. Kamu masih berhubungan sama dia?” tanya Ayu sambil melangkah menghampiri Nanda. “Dia bukan mantanku. Aku belum putusin dia. Kalau kamu nggak bego, aku nggak bakalan nikah sama kamu!” sahut Nanda sambil melangkah keluar dari rumah dan masuk ke mobilnya. Ayu menarik napas dalam-dalam sambil menyetabilkan hatinya. “Kamu gila, ya!? Aku juga punya pacar saat nikah sama kamu. Tapi kami udah nggak berhubungan lagi. Kamu punya istri, punya pacar juga? Emang dasar Nanda br3ngsek! Kenapa aku bisa terjebak jadi istri dia!?” umpatnya kesal. Ayu merintih kecil saat perutnya tiba-tiba terasa perih. Ia langsung menghampiri meja makan dan menikmati nasi goreng buatannya seorang diri sebab Nanda tak ingin menyentuhnya sedikit saja. Ayu membuka ponsel dan memeriksa update story di sosial media milik Arlita. Benar saja, wanita itu baru saja update story dengan pakaian cantik dan full riasan di wajahnya. Ditambah lagi dengan caption yang menunjukkan kalau ia sedang menuju ke salah satu restoran mewah yang ada di Galaxy Mall. Ayu tak bisa berbuat banyak. Toh, pernikahan ini juga bukan keinginannya. Akan lebih baik jika Nanda pergi dengan Arlita dan menceraikannya. Ia bisa mengurus anaknya sendiri dengan baik tanpa harus makan hati setiap hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN