Bab 10 Car Wash

1077 Kata
Sabtu pagi, hari di mana Bianca harus dibuat pusing dengan kelakuan kakak iparnya. Felisya mengajaknya untuk datang ke rumah Sabrina. Felisya dengan mudah bisa mendapat alamat gadis itu, tentu saja dibantu oleh orang dalam di agensi tempat Gama bekerja. Bianca mencebik kesal, dia seharusnya bisa tidur dengan nyaman atau sekadar menghabiskan waktu bermesraan dengan suaminya - Skala. Meski tidak bisa dibilang masih muda tapi untuk urusan asmara Bianca masih semangat empat lima, tak kalah saing dengan anak dan menantunya. “Awas kalau sampai ketahuan Gama, aku tidak mau ikut menanggung akibatnya,” ucap Bianca saat Felisya memaksanya masuk ke dalam mobil. “Tenang saja, aku hanya ingin melihat bagaimana keseharian gadis itu, ibunya punya bisnis cucian dan aku ingin berpura-pura mencuci mobil di sana,” kata Feliya dengan santai, dia injak pedal gas untuk melajukan mobil, sudah tak sabar rasanya wanita itu mengorek informasi tentang Sabrina. _ _ “Kamu sepertinya sudah gila, Fel!” Hinaan dari Bianca memang tak salah ditujukan ke Felisya. Bianca pikir cucian mobil yang dimaksud kakak iparnya bukan seperti ini, berada di pinggir jalan yang tak terlalu besar, dekat pasar dan pangkalan angkutan. Belum lagi banyaknya orang yang seketika menatap aneh ke arah mereka. “Kenapa kamu bawa mobilmu yang seharga tiga miliar untuk dicuci di sini? mana dandanan kita heboh sambil menenteng tas kremes dari kulit buaya sss,” ucap Bianca. Giginya sudah saling beradu saking geramnya. Namun, Felisya tidak peduli. Ia senggol lengan adik iparnya yang cerewet itu sambil menyerahkan kunci mobilnya ke mas-mas pekerja cucian. Sementara itu, seorang wanita paruh baya yang duduk tak jauh dari sana juga melongo, pasalnya baru kali ini dia melihat sedan mewah seharga rumah gedong mencucikan mobil di tempatnya. Mirna mengerjab, mobil merek alpansa saja sudah mewah menurutnya apa lagi ini. Felisya tersenyum, tatapan matanya bersirobok dengan Mirna yang mengangguk sungkan. Ibunda Sabrina itu menggaruk belakang rambutnya yang tidak gatal, agak heran kenapa ada orang kaya nyasar mencucikan mobil mewah di lapaknya. “Jangan-jangan mereka sindikat pemeras bisnis cucian?” pikiran Mirna tiba-tiba menjadi buruk. Menurutnya ini sangat tidak wajar, Mirna sampai berpikir mungkin saja dua wanita itu akan mengeluh soal pekerjaan karyawannya lalu meminta ganti rugi sejumlah uang. Bukan tanpa alasan, cuciannya tidak pernah mendapat pelanggan sosialita. Mirna pun berdiri, dia buru-buru masuk ke dalam rumah untuk memanggil Sabrina. Mirna butuh menceritakan itu ke putrinya yang ternyata sedang akan menikmati mi instant. “Dasar!” Mirna langsung menggeser cup mikurame yang sedang dinikmati Sabrina, terang saja putrinya itu memajukan bibir karena kesal. “Baru makan sudah makan lagi, itu lambung apa karung?” cibirnya. “Ah … ibu, udahlah nggak perlu diet, laku-laku, aku pasti laku kawin tenang saja,” amuk Sabrina. Ia sambar lagi mi itu dan menikmatinya dengan lahap. “Sab, di luar ada dua ibu-ibu aneh,” kata Murni. “Aneh? Aneh gimana? Mereka bawa golok? Atau pistol?” “Ish … kamu ya.” Murni gemas dan lagi-lagi menyingkirkan mi milik Sabrina agar gadis itu mau mendengarkan ceritanya. “Ada dua ibu-ibu cuciin mobil, tapi mobilnya itu terlalu bagus. Mereka bukan langganan kita, plat mobilnya aja cuma dua angka.” “Pejabat kali, Bu. Siapa tahu mau dinas tapi mobilnya kotor dan kebetulan lihat papan cucian kita terus belok,” jawab Sabrina. Setelah berucap seperti itu dia memaju mundurkan bibirnya. “Kalau pejabat pasti bawa sopir, ini nggak Sab!” Mirna masih mencoba membuat putrinya ikut curiga. Dan tak wanita itu sangka saat dia masih berada di dalam rumah, Felisya sudah mulai melancarkan aksi. Ia dekati karyawan Mirna yang sibuk mencuci mobil, tujuaan hanya satu yaitu untuk mengorek informasi. “Masnya sudah lama kerja di sini?” tanyanya berbasa-basi, tak mungkin juga dia langsung bertanya soal kehidupan pribadi Mirna. “Sudah Bu, semenjak bujang dan punya anak satu.” “Wah … lama juga donk, kalau boleh tahu anaknya umur berapa?” tanya Felisya. "Delapan tahun, Bu.” “Cukup lama juga donk kerja di sini, dari awal cucian ini buka ya?” Felisya masih berusaha mengorek informasi, sedangkan Bianca memilih tetap duduk sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah kakak iparnya. “Enggak sih Bu kalau dari cucian buka, cucian ini udah sepuluh tahun lebih. Dulu namanya ‘Mirna Murni Cucian’ - datang burik pulang kempling. Nah … sekarang jadi Sabrina Car wash – cuci bersih harga murah.” Felisya mengamati papan nama cucian itu untuk membuktikan ucapan pekerja itu benar atau tidak. Ia pun mengangguk karena tagline cucian itu memang persis seperti yang diucapkan. “Sabrina nama anaknya yang punya ya Mas?” tanya Felisya lagi, berpura-pura. Wanita itu berniat terus menggali informasi sampai apa yang menjadi pertanyaan di kepalanya terjawab. “Iya Bu, yang punya tadi yang duduk di sana terus masuk.” Felisya menoleh ke arah tempat yang ditunjuk oleh pekerja itu. Ia pun mengangguk-angguk. “Punya anak berapa ibunya Mas?” “Ibu saya? empat Bu.” “Ish … bukan, maksud saya ibu yang punya cucian ini.” Felisya gemas karena pekerja cucian itu malah seperti mengajaknya bercanda. “Oh … anaknya cuma satu cewek, itu orangnya.” Pekerja itu menunjuk ke arah rumah, dan Felisya melihat Sabrina keluar dengan Mirna. Gadis itu mendekat, agak curiga juga seperti yang dipikirkan Murni karena memang penampilan Felisya begitu berkelas. Wanita itu memakai gaun sebatas lulut. Mendapati sang empunya cucian mendekat, Felisya pun mencoba stay cool sedangkan Sabrina yang tidak mengenal siapa dirinya memindai dari ujung rambut sampai ujung kepala, gadis itu curiga kalau Felisya adalah orang jahat seperti yang disangkakan Murni. “Wah … mobilnya bagus banget Bu, ibu kenapa berdiri di sini, duduk saja nanti kecipratan busa lho,” kata Sabrina. Sama seperti gadis yang mengajaknya bicara, Felisya balas memindai penampilan Sabrina dari atas ke bawah lalu kembali lagi ke atas seperti tetangga julid. Wanita itu lalu menyelami wajah Sabrina, mencoba mencari kesamaan yang dimiliki gadis itu dengan cucunya - Maha. “Bu, Anda kenapa?” tanya Sabrina bahkan menaikturunkan telapak tangan di depan wajah Felisya. “Jangan-jangan benar, Anda berniat merusak reputasi cucian mobil kami?” tuduhnya. Felisya terang saja kaget, terlebih Sabrina sudah memandang dengan mata menyipit curiga. Gadis itu geleng-geleng kepala membuat Felisya bingung harus berkata apa. “Ya Allah Bu, kalau cari duit itu yang halal, jangan berpikir menipu orang dengan mobil sewaan.” Felisya melongo, dia tidak paham dengan apa yang dikatakan Sabrina. Hingga gadis itu terus saja mengungkapkan dugaan-dugaan yang lebih menjurus ke fitnah. Felisya pun tak tinggal diam lantas berucap- “Aku ibunya Gama, Lintang Gutama. Atasanmu!” "Ya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN