Chandani's LL 4. Met by Destiny

2933 Kata
*** Sore Hari., “Kenapa kau ambil keputusan mu sendiri!” bentak Dipta kepada istrinya, Leta Niswari.             Sedangkan kedua anaknya hanya diam saja. “Dia sendiri yang ingin pergi dari sini mas. Aku sudah larang dia. Tapi dia tetap bersih keras!” bantah Leta bernada tinggi. “Benarkah?” balas Dipta balik bertanya, memicingkan matanya.             Leta terdiam dan menundukkan pandangannya ke bawah. “Dengar, Leta! Aku mengenalmu dengan sangat baik! Dan aku tahu kau sangat tidak menyukai Icha! Kau tidak bisa membohongiku!” ketus Dipta lalu melirik ke arah kedua putrinya seraya menyindir mereka satu persatu.             Mereka semua hanya diam. “Dia tidak akan pergi dari sini kalau bukan kau yang memaksanya!” sambungnya lagi mengangkat jari telunjuknya di hadapan istrinya.             Leta tetap diam. Karena memang itu kenyataan yang terjadi. “Kau diam? Tentu saja aku tahu, Leta. Dan kalian?” ujar Dipta kepada kedua putrinya. Dan melirik mereka secara bergantian.             Sinta dan Sahya bergidik ngeri. Mereka hanya bisa menundukkan kepala mereka saat ini. “Kalian dibesarkan dengan kasih sayang yang cukup. Dengan kebahagiaan yang berlimpah. Tanpa kekurangan materi sedikit pun.”             Dipta masih melanjutkan kalimatnya dengan emosi sudah memuncak. “Tapi kenapa sikap kalian ke Icha seperti itu? Tidak bisakah kalian juga menyayangi dia seperti saudari kandung kalian sendiri? Apa kalian tidak merasa kasihan sama dia selama ini?” Dia bahkan tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Dia hanya minta belas kasihan sama kita. Hanya minta disayangi, dilindungi. Itu saja. Tapi kalian?”             Dipta menyeringai tipis, kepalanya menggeleng pelan. “Bahkan kalian tidak menganggap dia ada di rumah ini.” Dipta sangat menyayangkan sikap keluarganya yang sangat keras dan berhati batu terhadap gadis yatim piatu yang sangat ia sayangi.             Semua diam mendengar semua ucapan Dipta yang sudah emosi sedari tadi. “Kau Leta!” Dipta mengangkat jari telunjuk kanannya ke arah sang istri. “Sebagai istriku, mungkin aku salah mendidikmu selama ini.” Deg!             Leta tertegun mendengar kalimat beruntun suaminya sejak tadi. “Kau seorang ibu Leta! Dimana belas kasih mu terhadap seorang anak yatim piatu yang bahkan sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain kita!”             Leta hampir meneteskan air matanya. Dia kembali mengingat kejadian tadi siang, saat Chandani melangkahkan kaki keluar rumah. “Leta, kau sendiri tahu. Kita bisa makan enak dan hidup berkecukupan selama ini karena siapa? Karena almarhum kedua orang tua Icha. Mereka memberi kita modal dari hasil penjualan rumah dan mobil mereka. Kau masih ingat itu, Leta?”             Leta lalu jatuh terduduk di lantai. Dia menutup wajahnya. Dia menangis. Kedua putri mereka lalu memeluknya.             Sinta dan Sahya juga ikut menangis. Apa yang dikatakan Dipta sangat menusuk di hati mereka. Ada benarnya, seharusnya mereka tidak memperlakukan Chandani dengan buruk.             Mereka sadar, kalau Chandani sangat berjasa bagi kehidupan mereka saat ini. “Dan sekarang? Untuk menghubunginya sudah susah. Aku tidak tahu dimana keberadaan putri almarhum sahabatku saat ini. Kau benar-benar keterlaluan Leta!” “Kau melupakan janjimu pada almarhum sahabatmu sendiri!”             Dipta berusaha mengatur nafasnya. Meredakan emosi yang mulai menyesakkan dadanya saat ini. “Kau seorang wanita. Tapi sikapmu … tidak seperti selayaknya seorang Ibu!” ketus Dipta penuh penekanan. Dia lalu masuk ke dalam kamarnya mengambil kunci mobil. Dan pergi dari rumah untuk mencari Chandani di bandara.             Mereka bertiga masih menangis. Sinta dan Sahya masih memeluk Leta yang terduduk di lantai.             Sinta, dia mulai membuka suaranya. “Ini semua gara-gara Icha, Ma. Gara-gara anak pembawa sial itu!” ketus Sinta sambil menangis. “Iya, Ma! Anak pembawa sial itu harus dikasih hukuman, Ma!” timpal Sahya menangis sesenggukan.             Leta menggelengkan kepalanya. “Tidak, Sayang. Ini bukan salah Icha. Ini salah Mama. Kita yang salah, Sayang.” Leta memeluk kedua putrinya. “Enggak, Ma. Jangan salahin diri Mama. Kalau Icha gak masuk di hidup kita. Papa pasti gak akan marah-marah kayak gini sama Mama.” Sahya menggelengkan kepalanya seraya menyalahkan Chandani untuk keadaan mereka saat ini. “Iya Ma. Mama jangan menangis lagi. Kalau aku jumpa dia di jalan. Aku akan hajar dia habis-habisan, Ma.” Sinta masih menangis sesenggukan. “Jangan sayang. Tidak boleh. Cukup. Kalian tidak boleh begitu sama Icha,” ujar Leta pelan sambil menggelengkan kepalanya. ‘Ya Allah. Selama ini aku sudah salah. Karena aku, kedua putriku jadi membenci Icha. Anak yang tak bersalah. Aku membuat kedua putriku membenci anak yatim piatu. Membenci putri dari almarhum sahabatku sendiri. Maafkan aku ya Allah ya Tuhan ku,’ bathin Leta menjerit kuat. *** Masjid Ar-Ridho, Jakarta., Malam Hari., Kondisi cuaca yang sejak pagi hujan deras hingga sore hari yang mengakibatkan jalanan banjir dan macat total. Chandani memilih untuk beristirahat di masjid. Dia memandang sebuah foto dalam bingkai berukiran jepara. Foto almarhum kedua orang tuanya yang tersenyum bahagia disana. Dia lalu bergumam dalam hati. ‘Ya Allah Ya Tuhanku. Apakah aku masih diizinkan untuk menikmati sebuah kebahagiaan? Aku sangat merindukan kehangatan keluarga Ya Allah.’             Hatinya sangat pedih. Sayatan luka lama seakan basah kembali tersiram oleh air garam. Rasanya sangat pedih sekali. ‘Aku ingin sekali dipeluk dan dilindungi. Seandainya saja engkau pertemukan aku dengan sebuah keluarga yang bahagia. Menikah dengan seorang pria yang bisa membuatku bahagia. Maka aku tidak akan pernah berhenti bersyukur untuk itu ya Allah.’ Bathin Chandani memejamkan kedua matanya seraya berdoa dalam hati kecilnya. Allahu Akbar… Allaahu Akbar…             Chandani, dia lalu berjalan keluar masjid. Melangkahkan kakinya menuju ruang wudhu wanita. Tepat di ambang depan pintu. Dia melihat seorang wanita lansia kesusahan mengambil air wudhunya. Dia lantas menghampiri wanita lansia itu. “Nenek mau ambil wudhu ya?” tanya Chandani sopan mendekati wanita lansia itu. “Eh iya, Nak. Disini tidak ada kursi, jadi saya sedikit kesusahan.” Dia membalas ucapan gadis itu sambil memegang dinding. “Biar saya bantu, Nek.” Chandani lalu memapah tubuh wanita lansia itu. “Ah, iya. Terima kasih, Nak.” Nenek itu membalasnya dengan senyuman di wajahnya.             Mereka lalu berjalan ke dalam masjid. Dan melaksanakan sholat isya berjamaah. …             Setelah selesai sholat isya. Mereka sedikit berbincang dan memperkenalkan diri satu sama lain. “Jadi Icha panggil Nenek, dengan Nenek Ida aja ya Nek?” tanya Chandani lembut masih mengenakan mukenahnya. “Iya, Icha. Panggil saja saya Nek Ida,” jawab Ida dengan senyuman tercetak di wajahnya. …             Mereka diam sesaat karena bingung mau bahas apa. “Nenek kesini sama siapa?” tanya Chandani kembali membuka topic pembicaraan mereka. “Sama supir saya, Nak. Mungkin dia sudah menunggu di mobil,” jawabnya singkat memandang lekat Chandani. “Oh … iya-ya, Nek.” Chandani mengangguk iya.             Ida, dia kembali membuka suaranya. “Kamu kesini sama siapa, Nak?” tanya Ida penasaran.             Chandani terdiam. Hanya beberapa detik saja dia terdiam, dia lalu menjawab pertanyaan nenek tua itu. “Icha sendirian, Nek.” Chandani tersenyum tipis.             Ida melihat gadis lugu di depannya dengan perasaan iba. Entah kenapa, hatinya merasa bahwa gadis ini hanya seorang diri. “Dimana rumah mu, Nak? Mari saya antar pulang?” tawar Ida seraya menawarkan bantuan ikhlas padanya. “Hmm … gak usa, Nek. Gak perlu repot-repot. Saya bisa pulang sendiri,” jawab Chandani gugup dan salah tingkah.             Dia sendiri pun bingung harus berkata apa. Dia tidak mempunyai rumah lagi. Rumah orang tuanya dulu saat berada di Medan sudah dijual. Tinggal di Jakarta ini saja dia hanya menumpang hidup dengan keluarga sahabat almarhum kedua orang tuanya.             Ida, dia mengernyitkan keningnya. Seakan gadis yang ada di hadapannya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. “Tidak apa-apa, Nak. Mari saya antar kamu pulang ke rumah. Hitung-hitung saya balas budi baik kamu sama saya,” ucapnya masih menatap lekat Chandani.             Chandani terdiam. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi selain mengatakan yang sebenarnya. “Sebenarnya … saya tidak mempunyai tempat tinggal, Nek.” Chandani mulai berkata jujur sambil menundukkan pandangannya ke bawah.             Ida terdiam. Dia menatapnya dengan tatapan tak percaya. Dia lihat ransel berukuran sedikit besar berada tepat di belakang gadis yang dia panggil Icha. “Malam ini saya berniat untuk istirahat dulu di masjid ini sampai besok, Nek.” Chandani kembali menatap Ida. “Lalu, orang tua kamu dimana?” tanya Ida dengan wajah serius.             Chandani hanya diam, dan hampir meneteskan air matanya. Sikapnya membuat Ida tidak tega melihat gadis di depannya saat ini. “Maaf kalau pertanyaan saya membuat kamu tersinggung, Nak Icha.” Ida lalu mengusap pelan kedua tangan Chandani.             Chandani menggelengkan pelan kepalanya. Hatinya merasa damai saat Ida memberikan sedikit sentuhan kasih sayangnya pada dirinya. “Orang tua saya sudah meninggal karena kecelakaan mobil, Nek. Waktu itu usia saya masih 9 tahun. Dan sejak meninggalnya kedua orang tua saya, saya diasuh oleh sahabat almarhum orang tua saya yang ada di Jakarta sini Nek.” Chandani kembali jujur lalu menunjukkan senyumnya untuk menutupi kesedihan di hatinya. “Lalu dimana mereka sekarang? Apa mereka mengusir kamu dari rumah mereka?” tanya Ida semakin penasaran dan sedikit mencurigai sikap kasar sahabat almarhum orang tua Chandani sehingga mengusirnya keluar dari rumah mereka.             Chandani menggelengkan kepalanya. Walaupun kenyataan itu adalah benar, tapi dia tidak mau memberi tahu aib keluarga yang sudah mengasuhnya dan memberinya tempat tinggal selama ini. “Tidak Nek. Mereka orang-orang baik dan sayang sama Icha. Hanya saja Icha tidak mau membebani mereka lagi, dan memutuskan untuk pulang ke kampung halaman Icha. Mereka juga sudah memberikan tabungan untuk Icha mengontrak rumah dan hidup di Medan nanti.” Ucapnya lagi dengan wajah mulai terlihat bahagia. “Ooh begitu ya Nak. Kamu asli Medan toh. Lalu kenapa mereka tidak mengantarmu ke Medan atau ke bandara? Malah biarin kamu sendirian seperti ini,” ujar Ida sambil mengelus rambut panjang Chandani yang berwarna hitam kepirangan. “Ini semua kemauan Icha, Nek. Ichaa—” Ucapannya terhenti karena seorang pria masuk ke dalam masjid dan menghampiri mereka.             Pria itu mulai membuka suaranya. “Bu, Maaf. Apa tidak sebaiknya kita balik ke rumah sekarang? Den Zhain pasti marah kalau kita tidak segera balik ke rumah,” ujar Pak Lias mengingatkan majikannya, Ida. “Oh, iya. Saya lupa. Cucuku pasti marah besar nanti,” ujar Ida sambil tertawa pelan dan mencoba berdiri dan membawa mukenahnya.             Chandani lalu hendak berdiri dan menuntun Ida berdiri dengan tongkat kayunya. “Pelan-pelan, Nek.” Chandani membantunya sambil membawa mukenah milik wanita lansia yang bernama Ghayda Hamrah itu. “Makasih ya, Nak.” Ida menegakkan tubuhnya dengan gerakan hati-hati.             Chandani, dia tersenyum dan mengangguk iya. “Nak? Kamu bisa ikut saya pulang ke rumah. Dari pada kamu harus tidur di masjid ini.” Ida memberi saran sambil memegang tangan Chandani. “Hah? Enggak, Nek. Enggak usah. Icha disini saja. Besok Icha juga bakal langsung ke bandara kok, Nek.” Chandani menolak halus tawaran Ida.             Ida hanya tersenyum. Pasalnya gadis di depannya ini sangat sopan dan sangat menjaga tata krama bicaranya. Dia seperti tidak ingin menyusahkan orang lain. Ida semakin iba padanya. “Nak … di Medan kamu juga belum punya tempat tinggal kan?” tanya Ida lagi mengelus lengan Chandani yang masih tertutup oleh mukenah.             Chandani diam dan menggelengkan lemah kepalanya. “Nah, lebih baik kamu menginap di rumah saya dulu. Untuk rencana kamu besok pagi, kita bisa pikirkan itu besok pagi Nak. Bagaimana?” tanya Ida pada Chandani, seraya menunggu persetujuannya.             Chandani diam sambil berpikir. Jika dia menerima ajakan Ida, dia pasti akan membuat beban saja di rumahnya. Dan Chandani juga tidak tahu siapa-siapa saja yang tinggal di rumah Nenek Ida yang baru saja dia kenal itu. Melihat pakaian dan supir pribadi Ida, membuat Chandani yakin kalau Ida berasal dari kalangan menengah ke atas. Chandani tidak mungkin bergabung dengan keluarga wanita yang dia sapa Ida itu, pikir Chandani. Selain itu, dia tidak mau menjadi beban lagi untuk orang lain. “Nek, nenek baru kenal Icha malam ini. Nenek tidak seharusnya percaya sama orang yang baru saja nenek kenal. Icha juga tidak mau membebani siapapun lagi. Maaf Nek, bukan maksud Icha menolak permintaan nenek. Tapi Icha gak bisa, Nek.” Chandani kembali menolak sopan dengan nada lembut.             Ida hanya tersenyum lalu memeluk Chandani dengan hangat. Dia merasa jika gadis ini memang berhati baik.             Hati Chandani terasa hangat saat itu. Kehangatan yang selama ini dia rindukan dari sebuah keluarga. …             Selang beberapa menit mereka berbincang sebentar. Seorang pria masuk ke dalam masjid itu.             Seorang pria berkemeja biru dongker dengan lengan panjang yang sudah digulung sampai ke siku. Kemeja yang dimasukkan ke dalam celana hitam pekatnya itu. Rambut yang hitam pekat, disisir rapi ke arah belakang.             Dia menghampiri mereka berdua yang sedang berpelukan di dalam masjid. “Eyang? Kenapa lama sekali pulangnya? Kami khawatir,” ujar pria itu dengan suara baritonnya. Cucu semata wayang Ida, Zhain Afnan.             Ida melepas pelukan mereka. Mereka berdua lalu melihat ke sumber suara. “Sudah Eyang duga. Kamu selalu tahu dimana Eyang,” ucapnya lalu berjalan menghampiri cucu semata wayangnya itu.             Zhain lalu melihat ke arah Chandani. Dia melihat Chandani dari atas sampai bawah. Gadis yang terlihat sederhana dengan berpakaian lusuh. Tapi kulitnya yang bersih, putih, dan mulus. Wajahnya yang cantik, dagu yang sedikit runcing. Bola mata yang hitam pekat. Rambut hitam panjangnya yang hanya diikat satu menjulang ke atas. Dan senyumnya, senyumnya sangat manis. Di tambah lagi deretan giginya yang rapih.             Chandani, dirinya yang merasa diperhatikan menjadi salah tingkah. Tanpa membalas tatapan Zhain, dia lalu membuka rok mukenahnya dan melipatnya untuk menghilangkan groginya itu. Dia juga tidak tahu kenapa bisa segrogi itu ditatap oleh pria yang sama sekali tidak dia kenali itu.             Sedangkan Ida, dia mulai memperhatikan respon mereka berdua. Ida senyam-senyum sendiri melihat cucunya yang memandang lama Chandani. Dia merasa Chandani cocok menjadi cucu menantu di keluarganya.             Ida lalu menyadarkan lamunan Zhain dia menggoyangkan tubuh cucunya itu. “Zhain? Nak?” panggil Ida menepuk lengan kekar cucunya itu.             Zhain lalu tersentak kaget. ‘Jadi namanya Zhain ya,’ bathin Chandani tersenyum kikuk dihadapan Zhain dan Ida. “Eh … Iya, Eyang. Ayo kita pulang sekarang. Mama dan Papa sudah menunggu kita di rumah sekarang,” ujar Zhain lalu memapah tubuh Eyangnya. “Tunggu dulu, Nak. Icha, ayo Nak. Ikut Eyang pulang.” Ida mengajaknya sambil menyodorkan tangannya ke arah Chandani. “Hah?” Chandani melongo dengan wajah bingungnya.             Zhain melihat Eyangnya. Bingung dengan apa yang terjadi, tapi dia tetap diam. Dia yakin Eyangnya pasti akan menjelaskan padanya. “Icha, malam ini kamu menginap saja di rumah kami. Kalau besok kamu mau kembali ke Medan, biar supir kami yang mengantarkan kamu ke bandara.” Ida menjangkau lengan kiri Chandani seraya mengajaknya.             Zhain, awalnya dia hanya menatap Chandani. Chandani yang ditatap Zhain semakin grogi dan sedikit takut. Pasalnya Zhain semakin menatapnya tajam. “Zhain, ini Icha. Siapa nama asli kamu Nak Icha?” tanya Ida melempar senyuman kepada Chandani. “Sa-saya Chandani Oyuri, Nek.” Chandani grogi dan sedikit tersenyum kikuk. “Jangan panggil saya nenek. Panggil Eyang saja ya, Nak.” Pinta Ida, lalu menggandeng tangan kiri Chandani “Ta-tapi Nek?” Chandani sedikit bergetar, takut jika pria yang menatapnya saat ini akan memarahi dirinya.             Zhain menyadari bahwa Chandani ketakutan. Yang bahkan dia sendiri pun bingung, kenapa gadis di depannya bisa ketakutan melihatnya. Apakah dia hantu atau perampok, sehingga gadis di depannya saat ini terlihat frustasi. “Icha, sekali saja ikuti kata Eyang. Ya Nak? Ikut dengan Eyang ya. Ini sudah malam,” ujar Ida lembut padanya. “I-iya, Eyang. Tapi, apa saya tidak merepotkan Eyang nanti?” tanya Chandani hati-hati, memainkan jemari kanannya meremas-remas bajunya.             Ida tersenyum sambil mengelus puncak kepala Chandani yang lebih tinggi dari tubuhnya. “Tidak, Sayang. Sama sekali tidak kok. Ayo kita pulang. Zhain, bisa bawakan ransel Icha, Nak?” Ida memerintah cucunya, Zhain.             Zhain menatap Eyangnya dengan tatapan tak percaya.             Chandani yang peka, dia langsung mengambil sikap. “Eh … biar Icha aja yang bawa Eyang. Inikan milik Icha,” ucap Chandani lalu bergegas mengambil ransel miliknya yang terletak di sebelah lemari penyimpan mukenah.             Zhain hanya diam. Dia berpikir keras. Apakah gadis di depannya ini benar-benar lugu. Kenapa Eyangnya sampai bisa bersikap lembut padanya. Sementara dia sangat paham karakter Eyangnya itu. Eyangnya tidak akan bersikap lembut bahkan berbicara banyak pada seorang wanita atau gadis yang mencoba untuk mendekati cucunya. Dia pasti akan melihat karakter wanita itu terlebih dahulu, baru menerimanya perlahan. Dan itu pun butuh proses. Sama seperti saat Mamanya diterima menjadi bagian dari keluarga Afnan. Tapi sekarang, Eyangnya menjadi sangat bersahabat dengan gadis di depannya saat ini. Bahkan seolah ingin menjadikan gadis itu sebagai cucu menantunya. Zhain menepis semua itu. Tidak mungkin Eyangnya menjodohkan cucunya dengan gadis yang tidak tahu asal usulnya. Apalagi gadis biasa yang terlihat tidak berpendidikan itu. Lalu Mamanya, Maamnya tentu tidak akan suka dengan gadis biasa ini. … “Icha, kamu tidak perlu khawatir ya Nak. Keluarga kami adalah keluarga baik-baik. Kamu akan aman tidur di rumah kami,” ujar Ida seraya menenangkan Chandani. Karena dia melihat Chandani yang masih gelisah sejak cucunya datang.             Mereka berjalan menuju parkiran mobil. Zu membuka pintu mobil depan untuk Eyangnya. “Eyang duduk di belakang saja ya, Nak. Eyang mau meluruskan kaki Eyang,” ujar Ida pada cucu semata wayangnya, Zhain.             Chandani hanya diam dengan posisi masih berada di belakang Zhain. “Ya sudah kalau itu mau Eyang,” balas Zhain menghela panjang napasnya, lalu membuka pintu bagian belakang dan menuntun sang Eyang untuk duduk di kursi yang ia mau. “Icha, kamu duduk di depan ya Sayang?” pinta Ida pada Chandani.             Chandani hanya tersenyum manis sambil mengangguk iya. Sebab dia tidak tahu harus mengatakan apa di depan pria yang ternyata cucu dari wanita tua yang ia tolong tadi.             Zhain menatap Chandani. Dia lalu membuka pintu depan mobil, memberi isyarat agar wanita itu masuk ke dalam mobil. Awalnya Chandani hanya diam saja. Sekilas dia melirik Zhain dengan wajah takut.             Zhain membalas tatapannya, seakan menyuruh Chandani untuk masuk ke dalam mobil. Chandani yang mengerti, dia lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil.             Tapi tiba-tiba Zhain mencegahnya.  “Tunggu!” ujar Zhain menghentikan langkah kaki Chandani.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN