Selalu Salah

1081 Kata
  Seorang perempuan dengan stiletto berwarna merah, pertanda bahwa dia orang yang percaya diri berjalan dengan langkah yang diayun seksi. Dia menuju tempat parkir sebuah kafe. Beberapa orang, yang ke sana nyaris bersamaan dengannya melongokan mulut: Terpesona.   Ya, wanita itu Mareta, kakak iparnya Adjie, memang memesona. Dia tahu, banyak yang terpesona, namun perempuan ini dengan anggunnya tetap berjalan bak model.   “Cantik banget, ya, Si Mareta ini. Beda sama Alma, adiknya yang pengkor kakinya!”   Yeah, banyak orang yang mengenal Mareta. Indro, bapaknya, cukup terpandang dan dikenal banyak orang.   “Eh, tapi Alma kalau kakinya tidak pincang begitu, kurasa cantik juga kali!”   “Tapi, nyatanya kan pengkor-cacat. Jadi, cantik Si Mareta deh,”   Mareta tersenyum penuh kemenangan. Ya, dia senang, karena dianggap lebih cantik daripada saudaranya ini.   “Tapi, buat apa cantik, kalau nggak bisa cari suami cakep,”   Kalimat itu sukses membuat Mareta memperlambat langkahnya. Dia pura-pura membuka ponsel, lalu berakting seperti sedang membaca pesan.   “Iya, sih, ini juga betul. Suaminya Alma jauh lebih tampan dan gagah, meskipun ngomongnya kayak bahasa kerajaan begitu!”   “Kalau suaminya Mareta sih ... gembul, ha ha. Kemana-mana bawa tas pinggang!”   Mareta geram bukan kepalang. Dia ingin mendamprat, tapi malu mengakui jika memang demikian faktanya.   Blip!   Pesan singkat dari Dennis berupa video sudah berada di tangan Mareta. Perempuan dengan sanggul tinggi dan lipstik merah tegas menempel di bibirnya itu mulai menggulir layar, menekan simbol segitiga menghadap kanan dan matanya mulai menonton rekaman soal Adjie, sang adik ipar.   Berulang kali dirinya menonton, memainkan ulang video tersebut sambil terus mencoba menahan tawa. Bagaimana pria itu malah dengan polosnya menjelaskan si ikan piranha, membuatnya memecahkan tawa lepas.   “Hahaha! Bisa-bisanya suami Alma begini?! Ini yang kata orang-orang cakep? Gila! Dia menemukan pria ajaib ini di mana sih?!” Dia masih terpingkal-pingkal dan sesekali berkomentar.   “Ajaib!” komentarnya kembali.   Terus saja Mareta memutar video itu bahkan di dalam mobil, masih tertawa dan membuat sang sopir pun keheranan dengan si nona muda. Ada apa dengan majikannya itu? Kesurupan penunggu gedung kah atau memang terkena demam tinggi sampai otaknya terbakar?   Mareta sengaja meminta sang sopir mengantarnya ke kantor Ayahnya. Dia ingin melihat secara langsung pria konyol yang menjadi adik iparnya itu. Sungguh, dia akan menang telak kalau mengejek adiknya jika begini.   Si pria culun yang berhasil menikahi adiknya yang angkuh dan culas itu. Bagaimana kehidupan pernikahan mereka yang terbilang baru itu?   Sementara Alma? Dia sudah gusar karena kini pasti dijadikan objek bulan-bulanan bagi kakaknya.   Dia dongkol, mencoba mengungsikan Adie di luar ruangan Indro. Alma semakin kesal bukan main, seorang Adjie ataupun Agam berhasil membuatnya kehilangan harga diri. Sungguh, kali ini dia berang sampai ke ubun-ubun.   “Ayo ikut aku, Sayang,” desisnya sambil menggenggam tangan Adjie.   Adjie sendiri bingung? Ada apa? Kenapa Alma memanggilnya Sayang?   Dia bahkan terpekur mendengarnya, baru kali ini seorang Alma mau memanggilnya sayang.   “Apa kamu bilang? Sayang?” ulang Adjie.   “Ikut aku sebentar ya, Sayang?” Alma menekankan setiap kata-katanya, tak membuka bibir lebar-lebar untuk segera mengeksekusi Adjie yang menyebalkan.   “Kita mau ke mana sih?” Adjie mulai bertanya-tanya.   Sementara Dennis menahan tawanya, jelas-jelas kalau Alma sedang menahan kesal. Bisa jadi setelah ini, adiknya akan menyembur Adjie dengan lahar panas.   “Agam? Kau tahu tidak? Kalau wanita sudah memanggil pria itu sayang, berarti ada sesuatu mengerikan.” Dennis berusaha menakut-nakuti Adjie.   Adjie terkesiap, dia memandang Dennis dengan tatapan ragu dan … takut. Pasalnya, dia percaya Alma akan melakukan tindakan sadis.   “Benarkah?” tanyanya pada Dennis.   Dennis menganggukkan kepalanya takzim.   Alma berdecak kesal bukan main, benar-benar tak tahu diuntung si Dennis.   “Kau percaya dia? Memangnya aku pernah melakukan hal yang tidak-tidak padamu? Sudahlah, ayo. Tak ada gunanya kamu meladeni Dennis, si tukang cuci otak,” omel Alma kembali memaksa Adjie untuk ikut dengannya. Menyeret tangan Adjie sekuat tenaganya.   Adjie sendiri manut saja, dia tak tahu akan ada apa lagi setelah ini? Omelan? Amarah? Amukan? Sepertinya dia sudah mendapatkan itu semua.   Alma sengaja mengetuk tiap pintu di lorong, mencari ruangan kosong untuk setidaknya dia bisa memarahi Adjie. Adjie benar-benar sudah keterlaluan! Begitu menurutnya.   Cklek!   “Masuk!” perintah Alma dengan dinginnya. Kepalanya menoleh, meminta Adjie masuk.   Adjie sendiri bungkam, dia memilih menutup bibirnya rapat-rapat saat melihat mata tajam Alma yang siap menjadi mata pisau dan mencincang tubuhnya. Sedikit melipir agar tak mengenai Alma, dia pun masuk ke dalam ruangan.   Ctak!   Alma sengaja mengunci pintu ruangan usai dirinya masuk.   “Kau?!” Alma membentak Adjie, menuding pria itu dengan jari telunjuknya dan mata yang berapi-api. Tentu saja Adjie berjengit terkejut, kenapa dengan wanita itu sebenarnya?   “Ada apa, Adinda? Tadi kamu memanggilku mesra dengan sayang. Sekarang, kamu mulai marah lagi,” Adjie tak mengerti.   “Adinda-adinda gigimu benjut! Menyebalkan!” gerutu Alma.   “A, apa?”   “Bisa-bisanya kau mempermalukanku lagi sih?!” berangnya.   Sebentar, bagian mana yang disebut mempermalukan? Adji bahkan bertanya-tanya dalam otaknya.   “Kenapa kau malah bilang itu kolam beracun hah?! Kau memang berniat untuk menjatuhkan harga diriku ya?!”   “Lho? Siapa yang mempermalukanmu sih? Kamu sendiri kok yang bilang itu kolam beracun,” sanggah Adjie merasa tak terima.   Alma semakin kembang kempis, hidungnya. Bisa jadi kepalanya sudah berasap banyak karena kelakuan suaminya itu. Suami yang baru disandingkan padanya.   “F-U! u are stubborn!” maki Alma dengan bahasa asing. Adjie sampai dibuat melongo karena tak tahu kosa kata apa yang dipilih Alma. Entah bahasa mana juga dia tak tahu.   Dia menggaruk pelipisnya yang tak gatal. “Euhm, kamu pakai bahasa kerajaan mana sih?”   Mendengar pertanyaan Adjie, Alma yang sudah berasap kian semakin muncul api-api kemarahannya. Matanya melotot, bibir mengerut dan dia berjalan semakin mendekati Adjie. Adjie sendiri mundur setiap kali Alma melangkah maju satu langkah.   “Kau?! Masih mau bercanda denganku hah?!”   Bercanda? Adjie dengan polosnya menggeleng. Mata Alma masih menatap tajam Adjie, mencoba mencari-cari arti manik legam itu sendiri. Tentang … apakah Adjie benar-benar jujur.   Alma lupa satu hal, suaminya itu bukan kalangan berada dan berpendidikan. Sudah pasti bahasa asing tak mungkin dia tahu. Jadi … berujung dia hanya bisa meredakan amarahnya sendiri. Memijat pelipisnya yang benar-benar sudah kelewat spaneng.   “Sudahlah! Kau tunggu sini! Aku mau ke pantry! Butuh air dingin untuk bisa berhadapan denganmu!” desisnya segera berbalik pergi.   Tubuh Adjie yang sedari tadi tegang, menahan tubuhnya agar tak merosot karena tatapan Alma pun mulai lengser. Menghembuskan napasnya perlahan dan berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila.   Dia menatap punggung Alma yang mulai hilang di balik pintu.   “Kenapa dia memarahiku terus sih?” Dia menjadi komplain soal ucapan-ucapan dan makian Alma.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN