Monster Bernama Sofa

1062 Kata
“Stupid! Stop, Adjie! Jangan amnesia lagi!”   “Imnesia? Aha! Kamu bicara itu lagi! Apa itu panggilan sayang untuk suami di kerajaanmu?” tanya Adjie, seraya mengedip-ngedipkan matanya yang indah.   Adjie menatap sepasang mata bulat istrinya, mendapati betapa ada api yang mulai menyala di sana. Mereka menikah, tapi tak ada kata-kata indah sejak akad mengikat mereka berdua.   “Alma, aku tidak membohongimu,” sahut Adjie dengan nada bicara jauh di bawah istrinya, lebih rendah dan lebih lembut. “Kau istriku, mana mungkin aku membohongimu. Pantang bagi Pangeran Nilamsuryo berkata bohong dari lisannya.”   “Aku tidak tahu apa itu imnesia, begitu ya, bilangnya?” tanya Adjie polos.   “Hhhhh …,” Alma menghentak lantai dua kali. Habis sudah kesabarannya. Membuat Adjie terperangah.   Sepertinya, istrinya punya ilmu kanuragan yang pernah diceritakan oleh beberapa dayang, sanggup merobohkan beberapa prajurit hanya dengan menghentak bumi. Dan ilmu hentak bumi itu adalah ilmu yang paling ditakuti oleh prajurit Nilamsuryo, kabarnya begitu.    “Al-ma … ka … kamu …” Adjie menunjuk ke arah kaki Alma, berharap Alma tidak melancarkan jurus Ilmu Hentak Bumi itu dengan sepuluh hentakan. Atau rumah ini akan roboh dan menimbun mereka berdua.   Alma membalik badan dengan kesal. Membuka pintu kulkas lalu mengambil botol berisi air dingin. Dilihatnya Adjie seperti orang tercekik, hanya karena dia menghentak lantai karena marah. Sepertinya, Adjie tak bisa dibentak, langsung sakau.   Segelas air dingin disodorkan Alma ke muka Adjie. Perlahan Adjie meraihnya, ragu.   “Minumlah,” ucap Alma melunakkan kata-katanya. Bagaimanapun juga tidak lucu bila Adjie tiba-tiba terserang sesak napas di malam mereka tidur bersama dan seisi rumah akan menyalahkannya.   Adjie meminum air dingin dari Alma, sedikit demi sedikit. Alma berlalu meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar mereka. Adjie mengikutinya sembari masih meminum air pemberian Alma.   Sepertinya, air ini adalah penawar Ilmu Hentak Bumi Alma. Tentu saja Alma sebagai seorang istri tidak akan mencelakai suaminya. Minumannya enak, dingin sekali, sampai gelas berembun.   Selesai minum, Adjie menyusul istrinya ke kamar. Perutnya terasa dingin, membuatnya paham kenapa air dingin menjadi penawar Ilmu Hentak Bumi Alma. Membuat suasana hatinya menjadi berbeda.   Baru saja Adjie sampai di pintu kamar, sebuah guling menimpa mukanya.   “Kamu tidur di luar!” seru Alma sembari berkacak pinggang.    Adjie tercenung. Tidur di luar? Itu artinya dia harus meletakkan kehormatan Pangeran Nilamsuryo dan menjadi pengawal. Bukankah semua pengawal dan prajurit tidur di luar istana? Dan dia bisa mati kedinginan.   “Aku … tidak bisa tidur di luar,” ucap Adjie mencoba menawar. “Angin malam akan membuatku …”   Alma mendelik. “Siapa yang menyuruhmu jadi satpam? Kamu tidur di kursi panjang itu tadi. Namanya sofa. Benda itu tidak akan membunuhmu.”   Alma menepuk jidatnya, tak habis pikir bahwa dia akan menjadi gila karena menikahi lelaki i***t dan sok amnesia. Dia lalu meninggalkan Adjie yang masih memeluk guling di depan pintu.   Adjie baru menyadari bahwa Alma berjalan dengan kaki pincang. Pantas saja, Ilmu Hentak Bumi-nya tidak begitu berpengaruh. Pasti dia belum sempurna mempelajari ilmu tersebut.   “Sejak kapan kakimu pincang?”   Alma menghentikan langkah sebelum naik ke tempat tidurnya. Tentu saja dia tidak perlu bertanya lagi kenapa Adjie masih saja bertanya. “Sejak bayi. Kau tidak perlu menghinaku.”   “Mana mungkin aku menghinamu, istriku? Boleh aku memijit kakimu?”   Alma tertegun. Adjie menawarkan memijit kakinya? Apa dia tidak salah dengar. Ya, dia jelas salah dengar. Adjie bisa mematahkan kakinya tanpa sengaja. Lelaki itu selalu ceroboh dengan pekerjaannya.   “Aku pandai memijit. Bahkan Paduka sendiri aku pijat bila keseleo.”   Alma mengendik bahu. “Paduka whatever? Kamu tidak bohong kan? Jika salah pijit, aku malah tambah pincang. Sudah berkali-kali ibuku memijitkan pada tukang pijit, dan selalu membuat aku bertambah pincang.”   Adjie menggeleng. “Aku akan menyembuhkan.”   Alma melihat kesungguhan di mata suaminya. Maka dia pun menurut ketika Adjie menyuruhnya berbaring di sofa dan Adjie akan memijitnya.    Perlahan-lahan dan penuh kelembutan, Adjie mulai mengurut-urut kaki Alma. Semula Alma merasa nyaman, lalu perlahan sakit.   “Aww … sakit Adjie, pelan-pelan!” seru Alma mulai tidak tahan dengan pijatan Adjie. Namun Adjie melakukannya dengan lembut, sehingga rasa sakit itu kadang hilang kadang muncul. Terdengar bunyi keretek-keretek.   “Ini perlu waktu yang lama untuk menyembuhkan, Alma. Setiap tiga hari harus aku urut. Gimana, apa kamu bersedia? Tapi ya kadang sakit kadang tidak seperti ini.”   “Aaaaa …. Mau … mau …. Aaaa ….”   “Baiklah,” ucap Adjie optimis. Dia akan melakukan satu pijatan vital, yang akan memperbaiki posisi tulang dan syaraf di kaki Alma.   “Sebentar lagi akan sangat sakit, tapi setelah itu kamu akan nyaman. Siap?” tanya Adjie.   Alma hanya mengangguk sembari menggigit bibir. Kedua tangannya mencengkeram tepi sofa, bersiap menahan sakit.   Klek! Klak! Kluk!   “Aaaaaaaaaa ….” Alma melolong panjang, hingga tanpa terasa dia menyobek jahitan sofa dengan kedua tangannya.   Adjie menghentikan pijatannya. Bukan karena lolongan Alma. Tapi karena dia mendengar suara lain di pintu depan. Suara gaduh seperti pintu yang didorong-dorong. Adjie berdiri lalu mendekati pintu, memasang telinga.   “Siapa di situ?” tanyanya. Sepertinya ada maling yang berusaha membuka pintu. Lalu terdengar suara beberapa langkah berlari menjauh.   “Ada apa?” tanya Alma yang terkulai lemas setelah mengeluarkan energi berteriak sekencang-kencangnya.   “Aku tidak tahu. Seperti ada beberapa orang di depan pintu. Pasti sudah pergi.”   Alma sontak mendelik sembari membekap mulutnya. Pasti anak-anak muda di lingkungan ini berusaha mengintip mereka berdua, sepasang pengantin baru. Dan teriakannya tadi, pasti sudah membuat mereka mengira macam-macam. Oh tidak, besok pasti akan menjadi cerita viral. Dia sungguh berharap tidak ada yang merekam suaranya. Pasti akan sangat memalukan.   Dia pasti tidak bisa mengelak apalagi berusaha menjelaskan bahwa tidak terjadi apa-apa antara dia dan Adjie.   “Aku akan melemaskan kakimu.”    Adjie kembali mengurut kaki Alma. Kali ini rasa sakitnya tidak begitu terasa karena Alma sudah merasakan kesakitan luar biasa tadi. Dia mulai merasa nyaman dan perlahan terlelap.   “Kurasa sekitar lima puluh satu pijatan, syaraf kakimu akan kembali normal. Aku akan membantu dengan obat-obatan racikan sendiri.”   Adjie menoleh dan mendapati Alma sudah terlelap. Senyum mengembang di wajahnya, lalu mendekati kepala istrinya dan meletakkan guling sebagai bantal Alma. Menatap sejenak pada jahitan sofa yang sobek karena ditarik Alma yang kesakitan.    Entah ilmu apalagi yang dimiliki oleh istrinya. Sepertinya dia wanita yang kuat dan punya banyak ilmu kanuragan yang tersembunyi.   Dia pun duduk di lantai, sembari menatap wajah cantik istrinya. Tak lama dia pun tertidur karena kantuk dan lelah, tidak menyadari bahwa kepala mereka berdempetan.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN