Roti Sobek untuk Alma

1101 Kata
  Cabe-cabean yang diteriaki Adjie begitu langsung auto kesal.   “Say, kata cowok ganteng itu kita perempuan kerajaan, gegara rambut kita pink!”   “Sumpah, itu nyindir banget, tuh cowok,” respon teman cabe-cabean itu.   “Iya, gak sopan, pakai banget!”   Sruuk! Kaca jendela dinaikkan Alma. Dia malu, suaminya sekatrok itu.   “Sayang, kamu tidak jawab pertanyaanku. Memangnya mereka dari kerajaan mana?”   “Kerajaan Bunga Matahari!” jawab Alma begitu ketus.   “Tapi, kok rambut mereka merah muda? Bukannya bunga matahari berwarna kuning?” tanya Adjie polos.   “Terserah mereka, dong, ya! Mau mereka berambut merah, pink, ungu, kok kamu yang ngatur?” sergah Alma jengkel.   Oh, kekesalan Alma sudah sampai di ubun-ubun. Lebih baik ia diam dan konsentrasi menyetir, daripada ada yang jadi korban nanti.   Entah pejalan kaki atau pengendara lainnya.   Rasanya hidup Alma tidak bisa tenang jika suaminya terus bertingkah menyebalkan seperti sekarang ini. Alma jadi berpikir untuk menyimpan Adjie di dalam kamar saja dan menguncinya jika terus mempermalukan dirinya di depan umum seperti sepanjang hari yang telah mereka lalui.   Mobil Alma memasuki garasi dengan bunyi decitan yang memekakkan telinga, tanda si sopir sedang dalam mood yang jelek.   “Ayo, turun!” parintah Alma masih dengan ketus.   Ia sepertinya tidak bisa bersikap lemah lembut pada Adjie. Semua rasa malu yang telah dicorengkan suaminya itu yang menghambat Alma untuk paham dan berusaha membantu Adjie mengenali dunianya yang baru.   Alma tidak meninggalkan Adjie sendiri, bukan karena rasa sayang yang menggebu atau demi tunjukkan keromantisan mereka, tetapi agar pria itu cukup masuk ke kamar dan tidak perlu keluar lagi dari sana. Daripada dia kabur, bisa berabe.   Begitu masuk ke dalam kamar mereka, Adjie mengatakan sesuatu yang bagi Adjie wajar untuk disampaikan karena mereka sudah nikah.   “Kamu adalah perempuan pertama yang menyentuh perutku,” goda Adjie.   Alma pura-pura amnesia. “Dih, jangan GR kamu! Kapan aku melakukannya?”   “Tadi ... saat kamu memasangkan sabu pengaman. Lalu ... semalam, saat kamu tidur di sofa,”   “Aku lupa tuh!” Alma mengelak.   “Oh, baiklah, Adinda! Akan aku ingatkan bagaimana kamu menyentuhku!”   Adjie melakukannya dengan mengangkat bajunya sehingga pahatan otot berbentuk kotak itu terpampang jelas di depan Alma.   Tak disangka, Alma malah berteriak histeris, sambil menutup kedua matanya.   Mereka adalah pasangan menikah yang kolot dan belum saling menyentuh sama sekali sehingga tindakan Adjie membuat Alma sangat terkejut.   Selain itu, Alma juga bingung apa maunya Adjie.   Begitu mereka sudah berdua saja, pria itu memujinya, padahal di kantor Indro, Adjie mempermalukannya dengan berpura-pura lugu, polos, dan menjengkelkan.   “Apa sebenarnya yang kamu mau? Membuat aku muak biar kita bisa pisah? Bercerai? Itu yang kamu mau?” cecar Alma di akhir teriakannya.   Tentu saja Adjie bingung. Ia bicara tentang perut tapi Alma malah menuduh, apakah Adjie memang ingin berpisah dengannya dalam waktu dekat.   “Tidak, aku tidak bilang begitu istriku.”   “Aku paham kalau kamu ingin kita pisah. Tapi, tolong ceraikan aku, paling tidak setelah satu atau dua tahun pernikahan kita,” lirih Alma memelas pada Adjie.   Alma sampai memegang tangan Adjie dan menggoyangkannya agar dapat jawaban dari Adjie.   Alma tidak bisa terima kalau ia diceraikan begitu saja setelah pernikahan mereka yang baru seumur jagung.   Semuanya agar dirinya tidak dihujat oleh orang-orang sebagai perempuan pincang yang diceraikan suaminya dengan segera.   Tak disangka, Adjie malahan mendekap Alma.   Adjie mengatakan, “Pantang bagiku untuk menceraikan seorang perempuan yang sudah menjadi istriku.”   “Lepas!”   Tidak ada lepasan. Malahan dekapan itu semakin erat menyamankannya.   Alma terkejut tapi juga tidak ingin menolak dekapan dari Adjie karena dia baru saja memohon pada suaminya itu agar tidak menceraikannya.   “Seorang perempuan tidak apa membalas suaminya dengan mendekap juga.”   “A, apa?” Alma tercekat.   “Apa di kerajaanmu tidak diajarkan cara mendekap? Sini, Adindaku, biar Kakanda yang mengajari,” kata Adjie mesra.   Adjie menarik tangan Alma, hingga melingkari pinggang kekar lelaki ini.   Alma terdiam. Dia canggung luar biasa.   Pertama kalinya bagi mereka untuk saling mendekap setelah akad nikah mereka dilaksanakan.   Agak canggung memang tetapi niat tulus Adjie membuat Alma diam seribu bahasa.       Aroma maskulin feronom dari tubuh Adjie membuat Alma terbuai bukannya jijik. Ia seperti menemukan rasa damai.   Adjie sendiri sangat menjiwai perannya sebagai seorang suami. Ia hanya sedang berusaha untuk mengenal istrinya dengan lebih baik.   Tidak berlangsung lama posisi yang nyaman untuk Alma dan Adjie itu karena ada di ketukan di pintu kamar mereka.   Alma yang bergerak pertama kali untuk melepaskan diri dari belitan kedua lengan kokoh milik Adjie.   Meski enggan, Adjie melepaskan juga tangannya dan mengikuti ke mana Alma melangkah.   Ada pelayan di depan pintu kamar, begitu Alma menarik gagang pintu agar daunnya terkuak.   “Maaf, Bu Alma. Ada tamu yang mencari Ibu di depan. Saya tidak kenal, Bu. Bukan salah satu dari kenalan Ibu yang biasa datang.”   Alma melirik ke Adjie sebentar dan suaminya itu hanya mengangkat kedua bahunya menunjukkan kalau ia tidak tahu menahu. Ia memang tidak sedang menanti siapa pun atau sedang janji dengan seseorang.   “Kamu sudah tanya apa keperluannya?” tanya Alma pada pelayan wanita di depannya.   “Saya tanya dan katanya ingin bertemu Bu Alma atau suaminya.”   “Ya, sudah. Minta tunggu sebentar. Saya akan temui dia sebentar lagi.”   Pelayan itu mengangguk patuh lalu beranjak dari hadapan majikannya.   “Aku ke bawah dulu. Kamu sebaiknya di sini saja,” ucap Alma sambil menatap serius pada Adjie.   “Aku akan ikut dengan istriku. Aku ingin melindungimu.”   “Tapi, kamu harus janji satu hal.”   Alma bersidekap sebelum melanjutkan perkataannya.   “Baiklah!” balas Adjie juga ikut bersidekap meniru cara istrinya berdiri.   “Tutup mulutmu. Tidak usah berbicara pada tamu yang akan kita temui.”   “Aku tidak perlu bicara?” tanya Adjie dengan menunjuk hidungnya dengan telunjuk.   “YA! Tidak boleh ucapkan satu kata pun. Cukup dengar saja.”   Alma benar-benar serius. Ekspresinya tanpa senyum sama sekali.   Alma hanya tidak mau Adjie lakukan hal yang memalukan lagi seperti tadi di kantor Indro.   “Baiklah. Aku ingin istriku bahagia jadi aku ikut apa yang kamu katakan.”   Awas saja kalau kamu berulah lagi, gerutu Alma tanpa ia lisankan. Ia masih tidak ingin buat Adjie berubah pikiran dan menceraikannya.   Mereka akhirnya keluar dari kamar untuk menemui tamu yang tiba tak lama setelah mereka tiba di rumah.   Memang benar seperti kata pelayan, Alma melihat seorang seorang perempuan tak dikenal.   Dari giginya yang berwarna merah, bukannya putih, menandakan kalau ia memakan daun sirih.   Dari tampilannya juga terlihat kalau wanita itu belum terlalu lanjut usia, meski tidak muda lagi.   “Ada keperluan apa Ibu ke sini untuk bertemu dengan saya?” tanya Alma.   “Ooooh, hidup makmur kamu, ya!” kata perempuan itu mendelik. Bukan pada Alma, melainkan pada Agam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN