Lift Bermantera

1075 Kata
“Namanya benda yang punya putar-putar ini apa, ya?” tanya Adjie pada Alma? [Apa maumu, Agam a.k.a Adjie? Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak mempermalukanku? Ini ... sungguh kelewatan.] Alma tidak menjawab pertanyaan lelaki katrok, yang bahkan tidak mengetahui nama baling-baling. Apa tadi kata Adjie? Yang punya putar-putar? Oh, luar biasa sekali aktingnya! Dia pura-pura lupa baling-baling. Dan sekarang, Adjie bertanya nama helikopter? Alma menghentakkan kakinya, sehingga tungkai highheels-nya nyaris patah.  Dia berjalan mendahului Adjie, tanpa menoleh kepada lelaki itu.  “Adinda, apa benda ini dihidupkan oleh mantera? Kekuatan apa yang bisa menghidupkannya?” Adjie tertawa-tawa kegirangan, membuat pilot helikopter yang turun duluan tampak kebingungan. “Ternyata, beneran kata orang-orang. Suaminya Mbak Alma ini sinting gila miring,” gumamnya.  Dia memang tidak datang pada acara pernikahan keduanya. Namun, dia melihat pergosipan yang dilakukan oleh beberapa grup sosmed yang ia ikuti, yang sebagian anggotanya adalah pekerja yang hadir pada resepsi Adjie-Alma. “Hei, prajurit!” sentak Adjie pada sang pilot. “Sa, saya?”  “Memangnya, ada orang lain selain kamu, hah? Ya iyalah, kamu, siapa lagi. Aku hendak bertanya, apa nama benda ini?” Pilot ini terdiam. Dia memasang kacamata, agar Adjie tak melihat sorot matanya yang mengejek.  “Hei, kenapa kamu memakai penutup mata kuda pada delman? Tidak sopan, prajurit!” hardik Adjie. Pilot ini rasanya ingin sekali memberi oleh-oleh kepal tangan, yang merontokkan gigi lelaki yang memanggilnya prajurit. Lagaknya sok pangeran sekali, membuat sang pilot murka. “Namanya helikopter,” kata pilot itu pendek. “Kau tidak memanggilku Tuan?” sentak Adjie. “Saya rasa, Anda tidak gila hormat, Pak Agam!” kata sang pilot. “Haish! Kenapa semua orang memanggilku Agam? Siapa dia? Aku Adjie!” sungut Adjie. “Ba, baik, Tuan Adjie. By the way, Bu Alma sudah menjauh dari Anda,” Akhirnya pilot ini mengalah.  Yeah, yang waras sudah seharusnya mengalah. Dia memilih diam di tempat, membiarkan Adjie menyusul Alma. Daripada dia gelap mata, gara-gara akting pura-pura lupa lelaki bernama Agam, begitu pikir sang pilot. Adjie yang masih saja terpukau dengan helikopter sudah mengikuti Alma dari belakang, mereka menuruni tangga darurat satu lantai baru setelahnya naik lift. Kali ini hanya dia dan Alma, berdua saja tanpa ada bawahan mertuanya alias sang pilot. Sebenarnya dia masih kesal dengan ucapan Alma yang congkak. Dia hanya tak paham dengan segala isi dunia ini yang sangat berbeda tapi Alma begitu marah saat dia hanya merasa terkejut, dia juga tahu kalau saat ini dia bukanlah pria yang memiliki jabatan dan kekuasaan dan Alma memiliki semuanya. Sungguh aneh sekali Alma ini. Alma yang kesal hanya berdiri di depan suaminya dengan bersedekap di depan dadanya. Dia sudah tak mau mendengarkan khayalan Adjie lagi. Terlalu pusing untuknya meladeni pria itu. Saat Alma akan menekan tombol lift, tangan Adjie mencegahnya. Sorotnya seperti waspada. “Apa?” tanya Alma garang bak kucing oren yang tak kenal takut untuk mencuri ikan. Adjie meringis, sepertinya wanita dari kerajaan ini tak mendapatkan pendidikan tata krama. “Eh … ini, saya mau coba ini, boleh?” pinta Adjie dengan sopannya. Alma pun menurunkannya dan membiarkan Adjie melakukannya.  “Lantai 31.” “Tiga satu ... apakah itu angka?” kata Adjie. Dan Alma memegangi dadanya. Dia hampir terkena serangan jantung.  Dengan kesal, dia menarik Adjie untuk keluar dari lift. Lalu, menatap Adjie dengan beringas. “Adinda, itu tatapan yang tidak sopan!” nasihat Adjie. “Aku bukan Adinda, aku Alma!” teriak Alma.  Adjie bengong. Apa dia melakukan kesalahan lagi? Tapi, apa? Adjie sungguh bingung.  “Sabar, Alma! Sabaaaar” Alma merutuki dirinya sendiri. “Kamu tidak tahu satu, dua, tiga, empat, lima?” tanya Alma. “Apa itu angka?” tanya Adjie mengernyitkan dahi. “Baiklah! Ini berapa kalau di kerajaanmu?” Alma mengacungkan dua jari. “Adu,” kata Adjie menyebutkan istilah dua pada kerajaannya.  Dan Alma maklum, jika ada perbedaan istilah angka. Alma lalu mengeluarkan gawainya, lalu mendownload aplikasi untuk mengenal angka-angka dan mengajari Adjie. Adjie ternyata lelaki cerdas. Dia cepat mengerti.  Alma lalu menariknya kembali, masuk ke dalam lift. “Silahkan, tekan angka tiga puluh satu!” Hanya itu yang menjadi petunjuk Adjie untuk menekan tombol lift. Benda yang bisa membuat mereka naik turun tanpa energi dari tubuh mereka. Benar-benar ajaib. Adjie berusaha untuk bersikap biasa saja meski dalam kepalanya dia masih saja mengagumi hal-hal aneh di dunia yang baru ini. “Hah! Dia naik, Adinda. Apakah kamu membacakan mantera untuk ini?” kata Adjie. Alma melengoskan wajahnya ke samping.  “Dasar katro!” desis Alma sambil membuang muka. Pintu lift yang terbuka pun membuat mereka sudah tahu kalau mereka sudah tiba di lantai yang dituju. “Gandeng tanganku!” seru Alma yang sudah menyodorkan tangan kanannya. Dia harus berinisiatif untuk terlihat bahagia. Karena pernikahan ini demi nama baiknya tak tercoreng dan juga apa yang dia incar tentu saja. “Eh?! Boleh?” Adjie terpekur, dia merasa aneh. Karena bagaimanapun di kerajannya, dia tak pernah menggandeng tangan wanita yang jelas-jelas dia memang belum beristri. Alma mendelik tajam. “Kau mau mati?!” ancamnya. Buru-buru Adjie menggelengkan kepalanya. Dia masih mau hidup dan kembali ke dunianya tentu saja. Mau tak mau, dengan canggung akhirnya dia menggandeng Alma dan berjalan beriringan. Di sepanjang koridor yang dilalui mereka banyak staf yang menyapa dan hormat atas kehadiran Alma dan Adjie. Namun, Adjie bisa mendengarnya, sebuah gosip yang terlintas di telinganya. “Itu? Itu menantunya?”  “Iya, itu dia! Kamu tahu tidak berapa selisih umur mereka?” Yang diajak bergosip menggelengkan kepalanya tanda dia memang tak tahu. “Umur si cowok itu masih 25 tahun! Perjaka tingting! Perkasa! Lalu anaknya direktur yang pengkor itu, 31 tahun! Perawan tua yang baru laku! Pantas saja kan bapaknya itu ngawinin anaknya dengan pria yang enggak sebanding, wong udah enggak laku,” tutur si teman dengan berbisik. Namun, itu masih terdengar oleh Adjie dan Alma tentu saja. Alma merasa geram, dia mendelik tajam pada Adjie yang menyeringai puas. “Terus nih, kan udah ada berita di grup kalau suaminya amnesia, nah itu jangan-jangan Alma makan otaknya Agam! Kasihan sampai amnesia gitu, ganas banget!” Lagi-lagi mereka bergunjing bak tidak ada orangnya. Adjie ingin sekali menyemburkan tawanya. Namun, mereka masih berjalan. Dengan mengangkat wajahnya Alma terus saja berjalan. Alma membisu, dia masih saja berjalan namun sebenarnya rasa kesal sudah menumpuk hebat. Tidak ada yang bisa membuatnya sekesal ini kalau bukan Adjie dan juga gosip. Memiliki semuanya maka dia harus siap dipergunjingkan seperti saat ini. Tentu saja itu adalah sebuah hal yang paling dihindari oleh wanita metropolitan sepertinya bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN