Ada yang masih tak terima saat Adjie mendapatkan pembelaan. Mareta, menggurat sinis. Dia benar-benar terkejut dengan pembelaan yang Alma berikan, seolah-olah sedang membalas penghinaan yang dia lontarkan tadi.
Hidungnya bahkan sudah kembang kempis, ditambah dengan dempulan make up tebal miliknya pun kini sedikit banyaknya sudah terhapus karena dia tadi terkena tangan Adjie, wajahnya.
“Tch! Dari mana kamu tahu kalau Agam menolongku heh?” tanyanya menantang.
Wajahnya masih saja mendongak, menunjukkan bahwa dirinya juga tak kenal takut dengan siapa dia berbicara. Meskipun jantungnya sudah tersentak-sentak karena tatapan Alma.
Flashback on
Alma mengingat bagaimana dirinya mengetahui Adjie yang mendadak melesat dan lompat dari lantai tiga, menolong Mareta dengan begitu cepatnya. Bahkan dia berpikir kalau Adjie benar-benar dari kerajaan masa lalu seperti yang pria itu ceritakan.
Hanya saja memang dirinya masih tak percaya dengan cerita aneh itu, jika dipikirkan secara teoritis pun akan sangat sulit, bagaimana bisa dua nyawa bertukar? Ini otaknya yang konslet atau memang nyawa yang tidak nampak bisa ditukar?
“Apa benar? Lalu dia dari kerajaan mana?”
“Ah, tidak mungkin!” kilahnya, menepis pemikirannya yang mendadak percaya pada cerita Adjie.
“Sekarang ada kok olahraga parkour, ya parkour! Bukan tak mungkin kalau dia bisa parkour bukan?” Alma mengangguk-anggukan kepalanya, berbicara pada dirinya sendiri sembari mengamati Adjie. Bak detektif yang berusaha memecahkan kasus, Alma berdiri sambil mengelus rahangnya puas.
Flashback off
Mareta masih saja tak percaya dengan pengakuan Alma. Dia benar-benar merasa kalau memang Alma sedang tat tahu soal itu.
“Kau hanya mengada-ada bukan?” desisnya.
“Lho? Mengada-ada bagaimana? Saya melihatnya kok.” Alma masih tenang, tak mau terpancing emosi.
Adjie sendiri sudah tak mau ambil pusing, dengan pertimbangan kiri kanan, dia memutuskan untuk memberitahu hal yang sebenarnya.
“Ehem! Saya benar-benar menolongmu, lompat dari lantai tiga dengan--”
Alma mencekal lengan Adjie sampai pria itu melihat ke arahnya. Alma menggeleng, menghentikan Adjie untuk klraifikasi soal itu.
“Kau diam saja,” bisiknya.
“Tadi dia baru saja keluar dari lorong rest room lobi, dia mau membawa minuman untuk saya. Tapi melihat steger itu mau menimpamu, dia memilih menaruh minumannya dan berlari menyelamatkanmu. Ini minumannya,” tutur Alma sambil menggoyang-goyangkan cup kopi americano yang dia ambil tanpa sepengetahuan pemiliknya. Ya, anggap saja dia mengambil tanpa izin untuk membela yang benar.
“Suamiku ini bukanlah seseorang yang apatis dan diam saja ketika ada seseorang yang butuh bantuan, jadi … tak mungkin dia mau melecehkanmu, dia adalah orang yang paling bersih pemikirannya sepanjang aku mengenal dan bertemu pria sebelum dia.” Bahkan Alma begitu jumawanya meninggikan derajat Adjie, sampai-sampai Adjie menatapnya penuh rasa tak percaya.
Benarkah dia Alma? Padahal biasanya wanita itu akan sewot karena tingkah takjubnya.
Ting! Lift pun terbuka, Alma yang sudah kesal memilih untuk keluar dari lift sambil menggandeng tangan Adjie.
“Ayo Sayang, sepertinya lebih enak kalau kita lunch di restoran saja?” ucapnya manis sekali.
Adjie hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya saja, setuju dan tersenyum. Entah drama apa lagi yang sedang dia perankan. Membuat Adjie pusing sendiri, tiba-tiba marah-marah lalu tiba-tiba baik begini.
“Tunggu dulu! Tidak mungkin--”
Ucapan Mareta yang siap membalas ucapan Alma pun terhenti saat tiba-tiba sekretaris Indro menghubungi Alma dan Adjie.
“Bisa kita sudahi? Sekretaris Papa sudah menelponku,” sela Alma sambil menggoyang-goyangkan ponsel miliknya dan di sana tertera kontak yang dimaksud Alma.
Alma pun segera menarik Adjie, berjalan melewati lorong gedung sambil menjawab panggilan sekretaris ayahnya.
“Ya, ada apa?” tanya Alma.
“Anda dipanggil Pak Indro ke ruangannya, Bu.”
“Baik, saya ke sana sekarang.”
Alma kemudian memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam tas Gucci mahalnya.
“Kita dipanggil Papa, aku harap kamu tak membuat aku malu lagi. Ingat saja, aku sudah membelamu di depan siluman macan itu,” ucap Alma dengan datarnya. Dia juga tak lupa melepaskan tangan Adjie.
Adjie mendadak merasa lemas dan haus. Dia melihat Alma masih saja menggenggam cup kopi di tangannya.
“Alma, boleh aku minta minumnya? Aku haus sekali setelah tadi melakukan ilmu peringan tubuh,” pinta Adjie.
Alma berhenti sebentar, membalikkan tubuhnya dan menatap Adjie keheranan. Dia mulai merasa ingin tahu.
“Memangnya kalau dengan ilmu itu, bisa capek ya?” Kali ini pertanyaan Alma terlalu polos namun dibalas anggukan oleh Adjie.
“Namanya memang peringan tubuh, tapi tenaga dalam yang dikeluarkan banyak.”
“Kalau begitu seharusnya aku meminta bayaran pada Mareta ya? Ini, minumlah sesukamu.”
Alma menyodorkan cup beriis kopi dingin itu. Dia tentu saja tak keberatan, toh memang itu minuman yang bukan miliknya.
Adjie tersneyum senang, merasa mendapatkan energi kembali. Segera saja dia menyedot sampai setengah cup demi meredakan hausnya. Dingin dan pahit.
“Aku tak pernah tau ada minuman seenak ini,” ujarnya sambil tersenyum.
“Karena dulu belum ada kulkas,” celetuk Alma masih terus berjalan.
Adjie mengangguk saja soal kulkas. Dia bahkan baru tahu ada yang namanya kulkas juga setelah terdampar di dunia yang berbeda ini.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan Indro. Keduanya menyapa Indro, “Halo Pa,”
“Oh Putri dan Menantuku sudah datang.”
Bahkan Indro girang bertemu dengan Adjie. Bahkan dia dengan senang hati memeluknya, berpelukan ala pria tentunya. Bukan cipika cipiki tapi menepuk punggung.
“Halo, Pa.” Mau tak mau Adjie pun menyapa.
Baginya, Indro adalah pria baik. Orang tua yang menyayangi anaknya setulus hati.
Saat mereka sudah duduk, Indro merasa prihatin. Alma sendiri malas melihat Dennis, kakak laki-lakinya yang sedang tersenyum sinis.
Ya, pria itu pasalnya habis mengejek sang menantu Indro habis-habisan. Sementara, bagi Indro, Adjie hanyalah pria yang lugu tanpa ada embel-embel lainnya.
Alma berdeham, dia sengaja diam dan terus memperhatikan bagaimana Dennis memandang remeh Adjie. Adjie sendiri masih asyik dengan makanan di sana.
Dia kelaparan setelah mengeluarkan tenaga dalam yang besar. Dia bukanlah pria yang sering melakukan pergulatan, jadi terasa sekali saat setelah menggunakan energi yang besar.
“Jadi, Papa sudah memutuskan?” tanyanya.
Indro beralih, menatap bingung putrinya. “Memutuskan apa?”
“Papa mau memberikan Agam perusahaan kecil yang mana?”
Mendengar kata perusahaan membuat Dennis ikut bereaksi, “kamu? Bisa-bisanya kamu menodong Papa begitu?” ketusnya.
“Atau … Papa mungkin menginginkan Agam harus magang dulu di perusahaan induk keluarga kita?” tanya Alma dengan dinginnya.
Indro menghela napasnya, anak-anaknya akan cepat datang jika mengenai warisan. Begitu pikirnya.
“Sebentar, kenapa juga kamu menginginkan perusahaan?” tuntut Dennis, semakin menatap tak suka pada Adjie.
Adjie sendiri bingung, apa pentingnya sebuah perusahaan?
“Kenapa? Kau iri? Bukankah kau juga mengincar perusahaan Papa?” Alma kini berbalik tanya pada Dennis.
“Kalian datang ke sini bukan untuk keributan,” tegur Indro yang pusing sendiri mendengar anak-anaknya malah berdebat.