“Lo nggapain, sih?” tanya Bara dengan nada tak habis pikir. Jika siang tadi Bara menemukannya dalam keadaan tengah menyantap hidangan nasi padang satu meja penuh, maka kali ini Gahar menemukannya tengah duduk seperti pengemis di bawah tiang lampu merah. Perlahan kepala Puspa mendongakkan kepala, matanya tampak merah bekas menangis beberapa menit tadi. Kemudian tangan kanannya terulur naik, memberikan Bara sisa bunga yang belum habis dibagikan tadi. “Gratis.” Bara menghela napas menekuk lutut, berjongkok di hadapan Puspa sambil mengambil bunga itu. “Lo katanya sudah terlatih diselingkuhi, tapi kenapa masih kayak gini? Tadi katanya mau ngomong sama Gahar, terus sekarang kenapa ngegembel di sini? Lo diusir sama dia?” “Kamu pernah diselingkuhi?” tanya Puspa menyelak galak, tapi baru Bara

