“Pus?” Gahar butuh sekitar tiga detik untuk terbangun dari keterpakuannya melihat Puspa duduk di ruang kerjanya. Tampaknya dia benar-benar kaget sehingga Puspa tak menemukan ada gurat lain di wajah itu, membuat Puspa kesulitan menabak kira-kira selain kaget, bagaimana perasaan Gahar. Senangkah? Atau seharusnya Puspa tidak pernah masuk sini? Puspa sedikit menundukkan kepala sambil meringis canggung, bagaimana pun juga Puspa sendiri merasa keberadaannya saat ini tidak benar dan terlalu bahaya. Serta tidak sopan juga pastinya. Pupsa buru-buru menjelaskan. “Tadi sama Bara. Aku tadi cuma iseng mau lihat tower Guna Grup eh ketemu Bara di depan, dia ajakin masuk. Aku sudah nggak mau, kamu pasti nggak suka karena aku nggak izin dulu. Beneran nggak ada niat mau nyamperin kamu,” jelas Puspa cemas

