Part of M

1798 Kata
When I look in your eyes I forget all about What hurts, Now i'm floating so high, I blossom and die Miracles- Coldplay #TeamVoteDuluBaruBacaManaSuaranya??? Gerimis masih membasahi malam di kota Jakarta. Faris dan Hansa sudah bersiap untuk pergi ke rumah orang tua Faris. Hansa gugup, Hansa rasanya ingin kembali lagi ke apartemen. Selama perjalanan dari apartemen ke tempat parkir mobil, Hansa tak henti-hentinya menggrutu. Faris tersenyum, lalu menggandeng Hansa. Dia mencoba menenangkan Hansa. "Kamu itu kenapa?" Faris bertanya saat memasuki lift apartemen. Kini mereka berdua sudah berada di dalam lift. Hansa melepas gandengan Faris, lalu sedikit mejauh dari samping Faris. "Enggak apa-apa." Hansa sedang mencoba jual mahal. Hansa masih ingat kejadian tadi sore. Faris mendekati Hansa, Hansa menjauh. Faris maju selangkah lagi, dan Hansa dengan sigap menjauh lagi. Begitu seterusnya sampai tubuh Hansa tersudut pada dinding lift. Hansa sudah tidak punya ruang gerak lagi, kini ia terdesak, Faris menatap Hansa dengan seksama. Tangan Faris kini mengurung Hansa diantara dinding lift. Hansa menatap Faris dengan tatapan penuh percaya diri, yang ada di pikiran Hansa saat ini adalah membalas kejahilan Faris tadi sore. Tangan Hansa terangkat, membelai rambut Faris perlahan. Hansa sengaja memajukan tubuhnya hingga merapat pada tubuh Faris, tangannya beralih mendekap tubuh Faris. Ia ingin menggoda Faris dan memancing Faris, namun Faris lebih pintar tangan Faris lebih sigap, tangannya kini sudah meremas p****t milik Hansa.  "Mas!" Hansa mendorong tubuh Faris menjauh darinya. "Kenapa mas remes itunya Han?!" Hansa marah, mukanya sudah merah seperti kepiting rebus. Hansa diantara rasa malu dan marah. Faris rasanya ingin tertawa terbahak, tapi pintu lift terbuka lebih dulu. Tanpa ancang-ancang Hansa sudah keluar lebih dulu. Bibir monyong Hansa seperti bibir bebek yang siap mencari cacing di lumpur. Sedangkan Faris sudah menahan tawa sedari tadi, ia ingin tertawa tapi melihat banyak orang di loby, niatnya ia urungkan. Sampai di tempat parkir, Hansa berhenti menunggu Faris. Bukan apa-apa, Hansa belum hafal mana mobil Faris dan dimana di parkirkan. "Kenapa berhenti di sini, by?" Faris yang sudah sampai menanyai Hansa yang sedang berdiri dengan kedua lengan ia lipat di depan d**a. Hansa hanya menjawab dengan gerakan kepalanya. Ia mengisyaratkan untuk Faris berjalan terlebih dulu. Hansa dalam tingkat yang luar biasa emosi. Faris masih menahan senyum di bibirnya, rasanya lucu sekali menggoda Hansa seperti ini. Dulu dia hanya membayangkan bagaimana ekspresi Hansa saat dirinya sengaja bercerita tentang teman perempuannya yang sering menggodanya di tempat kerja. Dan benar saja, ekspresi Hansa benar-benar membuat Faris gemas sendiri. Faris berhenti di depan mobil Honda Hrv merah miliknya, Hansa yang berada di belakang Faris sudah maju terlebih dahulu. Tangan Hansa mencoba membuka pintu mobil, namun pintu mobil tidak terbuka. Entah Hansa tidak sadar atau memang Faris yang sedang mengerjai Hansa. "Hahahaha... by, haahaha... mas belom buka kuncinya, sampe botak juga kamu gak bisa masuk." Faris tertawa terbahak, ia kemudian membukanya dan segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Sampai lima menit, Hansa masih berdiri di luar. Ia belum juga masuk ke dalam mobil. Faris menurunkan kaca pintu mobilnya, memanggil Hansa. "By? Ayo masuk." Tidak ada sahutan, Hansa kini memutar badannya, memunggungi Faris yang berada di dalam mobil. Faris kembali memanggil Hansa. "Han? Kamu gak mau masuk?" Hansa masih tetap diam tak bergeming. Faris kemudian mencopot sabuk pengaman di tubuhnya, ia keluar dari mobil dan menghampiri Hansa. Hansa menjauh saat Faris hendak menyentuh tubuhnya. Hansa segera masuk ke dalam mobil. Faris kaget melihat tingkah Hansa. Faris bergegas masuk ke dalam mobil. "Han? Kamu marah sama mas?" Faris mulai menjalankan mobilnya keluar area parkiran. "Hmm..." hanya gumaman yang keluar dari mulut Hansa. Hansa masih kesal, Hansa masih enggan berbicara dengan Faris. "Han?" "Hmmm..." "Sayang..." "Hmmm..." "Honey..." "Hmmm..." "Baby..." "Apa sih mas? Semua kamu sebut." Faris tersenyum lagi, "Han, marah ya sama mas?" Hansa masih diam sembari menikmati jalanan di kota Jakarta, malam itu tidak terlalu macet sehingga Hansa bisa menatap gedung-gedung yang tinggi di sepanjang perjalanan menuju rumah orang tua Faris. Tangan Faris mencoba meraih pipi Hansa, tangannya menusuk-nusuk sebentar ke arah lesung pipi yang Hansa miliki. "Han..." suara manja Faris terdengar memanggil Hansa. Hansa mengalihkan tangan Faris dari pipinya. "Jadi, beneran marah nih?" "Hmm..." "Yaaah, sayang kalo gitu." Faris mencoba mengiming-imingi Hansa. Tapi tidak, Hansa masih teguh pendirian. "Coba Han ambil tas yang ada di bangku belakang," Faris mencoba menggoda Hansa. Hansa berbalik ke belakang, mencari sesuatu yang dimaksud oleh Faris. Hansa masih belum bersuara. Matanya menangkap tas kecil berwarna merah dan menyautnya begitu saja. Faris menoleh sebentar, "coba lihat di dalemnya ada apa, mas kemarin lupa di kasih temen belom mas turunin. " Hansa merogoh tas merah tersebut, tangannya meraba sebuah toples bulat kecil. Hansa menariknya keluar. Itu cokelat, cokelat kesukaan Hansa. Dulu saat Hansa dan Faris masih berhubungan jarak jauh, Hansa selalu memarkan coklat itu pada Faris jika dirinya sedang memakannya. "Mas..." mata Hansa berbinar melihat setoples coklat dengan bungkus berwarna kuning keemasan. "Kesukaan kamu, kan?" Hansa tersenyum dan mengangguk. "Makasih, mas." Hansa mengucap tulus. "Heh! Siapa bilang itu buat kamu, mas cuma bilang itu kesukaan kamu, kan? Bukan buat kamu." Hansa memasukan kembali cokelat itu kedalam tas dan melemparnya ke belakang. Kenapa Faris suka sekali menggodanya, Hansa tak habis fikir. Hansa benar-benar ingin menangis. Apa kabar Faris? Dia sedang tertawa terbahak melihat Hansa yang sudah naik darah. "Hahaha, kamu lucu banget sih, Han." Faris masih tertawa geli sendiri. "Iya, itu buat kamu kok, sayang." Faris masih tertawa saja di sela-sela ucapannya. Hansa menunduk, ia sudah tidak mempedulikan lagi Faris. "By?" Hansa masih saja menunduk. Faris menghentikan mobilnya sebentar di pinggir jalan. "Han, kamu nangis?" Hansa masih diam dan menunduk, kini hanya ada suara isakan di dalam mobil itu. "Han, mas cuma mau bercanda." "Kenapa mas jahat banget sama Han?" "Han?" Faris memutar tubuh Hansa untuk menghadap ke arahnya. "Han? Maafin mas, mas gak ada niat bikin kamu nangis." Faris memeluk Hansa yang sedang menangis. Hansa tersenyum menang dalam pelukan Faris, caranya ternyata ampuh membuat Faris untuk meminta maaf. Tangannya mencubit perut Faris. "Makanya kalo becanda jangan kebangetan!" "Aw..." Faris menjerit, cubitan Hansa benar-benar sakit. "Han, kamu KDRT ya." Faris mengelus perutnya yang baru saja dicubit oleh hansa. "Bodo!" "Tega kamu," Hansa hanya menjulurkan lidahnya, ia tersenyum lalu mengambil kembali tas berisi cokelat yang ia lempar tadi. Sedang Faris masih meringis sembari mengelus bagian perutnya. * * * * Tiga puluh menit berkendara, Faris dan Hansa sudah sampai di rumah orang tua Faris. Faris membunyikan klakson mobilnya, menunggu asisiten rumah tangganya membukakan gerbang. Hansa sedang merapikan bajunya, tangannya benar-benar dingin saat ini. "Itu mbak Nunuy, Han. Yang suka ganggu kita, kalo kita lagi chat."  Faris menunjuk ke arah wanita yang sedang membukakan pintu gerbang rumahnya. Hansa meniliti sebentar, lalu membulatkan mulutnya, tanda paham dengan ucapan Faris barusan. Setelah gerbang terbuka, Faris segera memasukan mobilnya. Ia kemudian turun dari mobil di susul dengan Hansa di belakangnya. Hansa menarik baju Faris sebentar, memberi isyarat pada Faris untuk berjalan pelan-pelan. "Mbak, udah kumpul semua?" Faris bertanya pada asisten rumah tangganya. "Sudah, mas. Mbak Natasha sudah dateng tadi." Faris mengangguk, mengiyakan ucapan si mbak. "Kenapa mbak Natasha juga diundang, mas?"  Hansa tahu siapa itu Natasha. Faris selalu bercerita apapun yang terjadi di dalam rumahnya pada Hansa. Faris hanya mengendikkan bahunya, tanda tidak tahu. "Kok Han gerogi gini ya, mas." Hansa meremas tas jinjing berisi oleh-oleh yang ia bawa dari Makassar. "Ibu gak bakal curiga kan, mas?" "Tenang aja, ibu gak bakal nanya aneh-aneh. Toh, ibu taunya kita cuma berteman. Jadi biasa aja." Hansa mengangguk, kini keduanya sudah masuk ke dalam rumah. Faris melongok ke arah dalam, tampaknya semua sudah berkumpul di ruang makan. Ada Ibu, ayah, Fadhil dan mbak Natasha calon istrinya Fadhil, serta Fara yang duduk di sebelah ibu. "Selamat malam semua." Faris menyapa keluarganya yang sedang berbincang, Ibunya menoleh dan beranjak dari kursi untuk menyambutnya. "Mas, kamu baru nyampe, macet ya?" Ibunya bertanya sembari menatap ke arah Hansa. "Ini temen kamu itu, mas?" Hansa tersenyum dan mengangguk kaku, "Hansa, tante." Hansa mengulurkan tangannya di hadapan ibunya Faris. "Ratna, ibunya Faris." Ratna menjabat tangan Hansa sembari tersenyum. "Gimana? Kira-kira kamu betah gak tinggal serumah sama Faris?" Ratna mengajak Hansa mengobrol. "Bu, baru juga sehari." Faris yang menjawab pertanyaan Ratna. Sedang Hansa hanya mengangguk sembari tersenyum. "Semoga kamu betah ya, Han. Anggap saja tante dan ayah Faris itu sebagai orang tua kamu sendiri. Jangan sungkan." Ratna memberi isyarat pada Hansa untuk duduk di kursi. Malam itu mereka makan malam sembari berbincang mengenal satu sama lain. Fara tampak menyukai Hansa, sesekali Fara mengajak Hansa bercanda dan menggoda Faris. Makan malam sudah selesai, Hansa dan Natasha membantu Ratna membereskan piring kotor. Hansa sedang mengelap meja makan. Faris baru keluar dari kamar Fara, ia berjalan mendekati Hansa yang sedang mengelap meja makan. "Ssstt..." Faris memanggil Hansa. Hansa menoleh lalu menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Sini." Faris melambaikan tangannya, memanggil Hansa. "Apa mas?" "Taro dulu lapnya, mas mau kasih lihat sesuatu." Hansa menaruh lapnya, dan menghampiri Faris. Faris berjalan di depan, Hansa mengikuti dari belakang. Faris membawa Hansa menuju kamarnya. Mereka berdua menaiki tangga, menuju lantai dua. Faris membuka pintu cokelat yang berada persis di depan tangga. "Kamar siapa, mas?" Hansa berjalan masuk setelah Faris membuka pintu. "Kamarnya mas." Faris menutup pintunya. Hansa berkeliling, dulu saat masih terpisah, Hansa selalu membayangkan bagaimana  kamar milik Faris, dan sekarang Hansa benar-benar ada di dalam kamar Faris. "Duduk," Faris menyuruh Hansa untuk duduk di tepian ranjang. "Ini, bantal yang selalu mas peluk kalo lagi chat sama kamu." Faris menyerahkan bantal besar pada Hansa, dulu dia selalu memeluk bantal itu jika sedang merasa kangen atau gemas saat bertukar pesan dengan Hansa. "Dan mas selalu senderan di sini kalo lagi chat sama kamu, senyum-senyum sendiri kaya orang gila." Faris menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Hansa menerima bantal itu dan tersenyum. Ia tidak menyangka jika sekarang semuanya benar-benar nyata. "Nah, di jendela itu mas suka lihat langit kalo malem. Terus nyuruh kamu lihat ke langit kalo lagi kangen mas." Hansa menoleh, lalu beranjak ke arah jendela yang ditunjuk Faris. Ya, Faris selalu bilang kalau mereka tidak terpisah, mereka masih menatap langit malam yang sama. Hanya ruang dan waktu saja yang berbeda. Hansa tersenyum lalu membuka korden jendela itu. Hansa menggeser pintu kaca yang ada di samping jendela, ia melangkah ke luar, ke arah balkon. Ia berdiri di luar lalu menatap kearah langit. Tangannya berpegang pada sandaran balkon. Faris menyusul Hansa, lalu memeluknya dari belakang. Meletakkan dagunya di pundak Hansa. "Mas..." "Hmmm, bentar. Mas pingin peluk kamu." Faris menghirup aroma tubuh Hansa. Hansa tersenyum, tangannya memeluk lengan Faris yang sedang memeluk tubuhnya. "Mas bahagia, Han." "Apalagi Han, mas." "Masih banyak hal yang bakal kita lewatin berdua." Faris memutar tubuh Hansa, kini mereka saling berhadapan. "Semoga kita selalu bisa berbagi." Hansa mengelus pipi Faris perlahan. "I love you..." "I love you too, mas." Faris mencium kening Hansa, lalu memeluknya erat. "Han sayang sama mas," Hansa mengeratkan pelukannya. "Mas juga, Han." Malam itu mereka kembali saling mengungkapkan perasaan mereka, mengungkapkan segala cinta untuk masing-masing. Berharap kebahagiaan akan selalu menyertai mereka. Tbc.... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN