Wajah Asli

1255 Kata
"Makanya, mama udah nyuruh kamu menikah. Inget umur udah tua, Reza!" Bariton suara mama menggema menjadi gaung panjang yang memekik telinga pagi itu. Reza yang duduk di meja makan bersama sang ayah dan adik lelakinya hanya dapat menghela napas panjang mengerti dengan ocehan sang ibu yang tiada henti setiap pagi. "Dengerin tuh, bang nikah. Jomblo kok betah amat." Adik lelaki satu-satunya itu ikut nimbrung membuat Reza menjadi seamakin kesal saja dan tidak betah berada di rumah lama-lama. Kalau bukan karena kondisi kesehatan papa yang drop beberapa hari ini, dia mana mau pulang. Mending tinggal dan menetap di Bandung, ketimbang pulang kerumah dengan di sambut ocehan setiap pagi sang ibu yang menyuruhnya untuk menikah. Sebenarnya bukan mau Reza belum juga menikah di usia yang sudah menginjak 35 tahun. Dia juga sudah memiliki kekasih, seorang model papan atas ibukota. Hanya saja, Reza masih harus menunggu sang kekasih sukses mengejar karir di dunia modeling. Reza dulu pernah memaksa sang kekasih, Ayunda Maharani menikah, menjanjika kehidupan mewah dan tidak mengekang jika tetap ingin bekerja di dunia modeling. Namun, sayangnya sang kekasih tidak mau menikah dengan Reza dalam waktu dekat ini. Dia beralasan, ingin mengejar karir dan takut jika menikah di saat karirnya sedang naik akan berimbah menurunnya job manggung dia. Dan, bodohnya Reza yang bucin mengiyakan saja alasan Ayunda. Tetap setia dan menunggu wanita itu sampai dirinya benar-benar siap. "Heh, mau sampai kapan sih kamu melajang?" Mama tiba-tiba saja sudah berdiri berkacak pinggang di depan Reza. "Apa sih, Ma?" "Apa sih ma, apa sih ma, kamu enggak kasihan sama adik kamu ini? Gara-gara kamu, dia jomblo sampe sekarang." "alah alasan, emang dia aja kali yang enggak laku. Lagi juga aku ini gak jomblo, ma. Aku punya pacar, Ayunda mama kan tahu." Mamanya ini termasuk kaum sosialita ibukota, circle pertemanan dia pun tidak main-main. Penjabat, artis, juga tentunya model, termasuk Ayunda. Tapi, jujur saja mama sepertinya tidak menyukai Reza berpacaran dengan Ayunda. Wanita tau bagaimana sikap dan sifat asli model yang lagi naik daun itu. Begitu sombong dan angkuh sekali. Mentang-menatang sedang ada di atas awan, dia melakukan semua sesuka hati. Benar-benar bukan tipe menantu idaman sang ibu. "Aduh, mama udah bilang, mama enggak suka sama model satu itu. Sombong banget, baru jadi model aja belagunya minta ampun. Sampai fans minta tanda tangan malah di bilang bau. Aduh Reza kamu mau nyoreng nama baik keluarga kita ini? Mending kamu pacaran sama guru honorer, sudah ketahuan punya attitude yang lebih baik." "Mama enggak kenal dia aja. Dia baik kok, makanya kalau Reza ajakin dia kesini mama ngomong, ngobrol sama dia pasti mama bakal suka." Itu enggak menjamin. Gumam batin mama. Mama yang pernah melihat Ayunda melakukan sesuatu di luar dugaan kepada seseorang itu sudah membuat mama ilfil dan enggak mau kenal. Dia shock banget waktu itu, dan berdoa agar anaknya tidak berpacaran dengan wanita minim tatakrama seperti Ayunda. Namun, sialnya malah Reza anak sulung kesayangan sang ayah benaran pacaran sama Ayunda itu. "Pokoknya mama enggak suka. Oh ya ini peringatan buat kamu, ya. Sampai di usia kamu yang ke 36 belum juga menikah, jangan salahin mama buat maksa kakek coret nama kamu dari daftar pewari Hartanto Grup." "Ma, mama udah enggak waras, ya? Masih cuman gara-gara nikah nama ku mau di coret." "Bodo amat. Habiskan sarapan kamu, lalu pergi angkat kaki dari rumah mama dan jangan kembali sebelum kamu memperkenalkan calon istri baru ke mama. Ingat mama enggak akan rela dan setuju kalau kamu nikah sama Ayunda." Dan, acaman pagi tadi yang di ucapkan oleh sang ibu kini mengalun indah seperti sebuah lagu yang terus berputar di otak Reza meskipun kini jaraknya sudah berkilo-kilo meter. Pagi menuju siang itu, Reza sudah rapih dengan kaos dan celana santai berdiri di depan pintu masuk stasiun Manggarai menunggu sang kekasih. Katanya ada proyek pemotretan di dalam stasiun, entah proyek seperti apa, dan Reza di minta untuk menunggu di luar stasiun oleh Ayunda. Dan pukul 11 siang itu, Ayunda benar-benar keluar dan sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia berjalan dengan heels 5 cm, dan setelan baju panjang menuju ke arah Reza dengan raut wajah kesal. Reza yang melihat sang kekasih sedang tidak baik-baik saja mencoba bertanya apa yang terjadi, namun Ayunda yang pemarah itu langsung membentak Reza dengan keras hingga membuat orang di sekitar mereka melirik ke arah mereka serentak. "Aku tuh lagi kesal, enggak usah nanya-nanya bisa? Kamu tuh cerewet banget, sih." menghentak-hentakkan kaki dan mengerucutkan mulut kesal. Reza yang merasa menjadi bahan perhatian menjadi malu sangat. Dia pun menarik lengan Ayunda dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil. Namun, bukannya menuruti permintaan Reza, wanita berambut ikal dan cantik itu malah menepis tangan Reza dan kembali berteriak kencang. "Gak usah pegang-pegang, kamu enggak ngerti banget kalau aku lagi kesal." "Hey, kamu tuh bisa enggak sih ngomong pelan. Malu tahu di lihatin sama orang." "Bodo amat, aku enggak peduli. Biarin aja orang-orang tahu aku lagi kesal, dan punya pacar enggak berguna kaya kamu." Lah, kenapa jadi Reza ke bawa-bawa gini? Reza cuman bisa menghela napas panjang menghadapi kelakukan sang kekasih yang begitu keras kepala dan emosian itu. "Terus kamu sekarang maunya gimana, huh?" "Belanjain aku, biar mood aku baik lagi." "Enggak bisa." Kening Ayunda menggerut kesal. Apa-apaan nih cowok. Gumamnya dalam hati. Masa dia enggak mau belanjain dia, wah mau minta di putusin kayanya di cowok. "Kamu mau aku putusin, huh?" Reza menghela napas lagi. "Bukan gitu, tadi pagi aku tuh abis ribut sama mama aku karena aku belum nikah-nikah juga sampai sekarang, dan karena itu sekarang semua kartu credit aku di blokir termasuk ATM aku juga." "Aku bohongi aku, ya. Kamu itu CEO, Reza! Jangan bego-begoin aku dengan bilang kartu credit dan ATM kamu di blokir, deh." Rasanya Reza benar-benar sangat frustasi menghadapi keras kepala Ayunda ini. "Ya, meskipun aku CEO tetap aja yang megang kendali itu mama aku. Aku di sana cuman kerja, ngerti!" "Gak guna banget, sih jadi cowok. Gimana kamu mau nikahin aku, kalau hidup aja masih di atur sama mama kamu." Kali ini, Reza merasa tersinggung sekali dengan ucapan tidak sopan Ayunda. Dari dulu sejak pertama mereka berpacaran, Ayunda memang kerap kali mengatakan sesuatu yang membuat Reza sakit hati, namun kali ini ucapannya sudah sangat kelewatan sekali. "Kok kamu enggak sopan banget sih sama aku? Aku ini cowok kamu loh, seharusnya kamu hormatin aku?" "Hormatin kamu? Hello, aku tanpa kamu juga masih bisa hidup kali. Enggak sok deh kamu, mentang-mentang punya jabatan, anak dari konglomerat Jakarta aku harus hormatin kamu. Big no no! Mending kita putus, karena enggak berguna jadi cowok." Ayunda sudah mau melangkah pergi meninggalkan Reza, tapi dengan cepat lelaki itu mencekal tangan Ayunda dan melayangkan pukulan kepada pipi wanita tersebut. Plak... Tubuh tinggi semampai Ayunda tersungkur jatuh ke tanah, Reza sudah gelap mata, amat sangat tersinggung dengan perkataan yang Ayunda ucapkan. "Reza kamu udah gila nampar aku?" Orang-orang yang berada di sekitar, seketika shock dan langsung mengerubungi kedua pasangan itu. Salah seorang warga yang juga ikut nimbrung langsung memegangi tangan Reza dari belakang. Guna mencegah, jika Reza kembali berbuat kasar kepada Ayunda. "Weh ada apa ini?" Tanya salah satu warga berbaju hitam. "Dia, dia mau perkosa saya, pak." Tuduh Ayunda membuat semua orang di sana berang. Reza pun di ringkus oleh semua yang ada di sana, di pukuli dengan membabi buta tanpa terlebih dulu mendengarkan penjelasan dari mulut Reza. melihat sang mantan kekasih tengah menjadi bulan-bulan amarah warga stasiun, Ayunda jadi ketakutan sendiri dan memilih untuk pergi meninggalkan. Dan di saat itu juga, Ruby tidak sengaja lewat dan melihat kerumunan warga yang mengerubungi Reza. Tanpa rasa takut, Ruby merengsek masuk menolong lelaki yang dia temui di kafe semalam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN