Bab 10. Menguatkan Hati

1083 Kata
Mendengar keputusan yang dikatakan Ashraf, membuat keluarganya memunculkan beberapa reaksi. Ada yang kaget dan ada juga yang marah. Ini terlalu tiba-tiba. Di dalam islam, poligami memang bukan hal yang dilarang. Hanya saja, poligami juga ada ilmu dan adab, sehingga tidak bisa dilakukan begitu saja atau asal-asalan seperti kebanyakan. Bilamana pria mampu berbuat adil, mereka boleh menikah lagi. Meski izin istri tidak diperlukan, tetapi sebaiknya memang bilang dan diskusikan dahulu. Karena memang, poligami bukanlah perkara yang mudah. "Apa maksud kamu, Ashraf? Dengan siapa kamu menikah? Apa kamu selingkuh?" Bu Rida, selaku ibunya Ashraf tampak tak setuju dengan keputusan yang ditetapkan sang anak. Semua juga sama, hanya saja mereka memberikan waktu untuk bicara satu persatu. "Astagfirullah, apa menurut Ibu aku orang seperti itu?" jawab Ashraf dan balik bertanya. Anak bungsu itu tidak seperti seorang pria jelalatan, meski orang awam, tetapi dia menjaga dirinya dan berani dekat dengan wanita lain yang sudah halal. Yaitu istrinya, Yasmin. "Ya Allah ... terus apa alasan kamu menikah lagi, Nak?" tanya Bu Rida, dirangkul oleh Pak Rahmat yang menenangkan. Tahu betul jika Bu Rida sedang dilanda shock berat. Mereka pikir, alasan diundang ke sini karena ada kabar baik. Ternyata justru sebaliknya. "Akhir-akhir ini, aku terganggu dengan seorang wanita, Bu. Aku berdesir ketika melihatnya dan pikiranku terbayang-bayang olehnya. Karena nggak mau menjadi zina mata dan pikiran ... aku memutuskan untuk menikahinya," papar Ashraf, lembut tapi begitu menusuk. Bagaimana tidak, dia mengatakan kalimat itu meluncur begitu saja. Seolah tidak ada beban dan tak memikirkan bagaimana perasaan Yasmin mendengarkan penuturannya. Ya Allah ... Yasmin tidak bisa berkata-kata lagi. Sulit sekali berbicara, rasa sesak di d**a semakin menyeruak bak dihantam godam yang meluluhlantakkan hati dan pikiran. "Harus ada udzur syar'i bagimu untuk menikah lagi, Ashraf! Jika hanya karena itu, maka salahmu yang nggak bisa menjaga pandanganmu!" sahut Azrina, naik pitam dengan keputusan Ashraf yang menurut dia sudah kelewatan. Mengatakan demikian, di hadapan istri dan keluarga. "Teh, apa Teteh berpikir aku mempermainkan syar'iat? Tentu saja ada udzur syar'i dan alasan kuat kenapa aku menikah lagi, yang tentunya ini adalah hal privasi dalam rumah tangga kami. Aku hanya ingin memberitahu saja, bahwa kami pun sepakat memutuskan," ujar Ashraf menegaskan. Ashraf tidak bisa menjelaskan alasan sesungguhnya pada mereka. Dia tidak siap, jika keluarga besar akan menghakimi Yasmin. Apalagi sang istri sedang hamil, dia tahu betul, stress dan banyak berpikir akan mempengaruhi kandungan. Hingga tanpa sadar, semua tindakan Ashraf membuat seluruh jiwa Yasmin terguncang. Memang benar, ada udzur syar'i kenapa dia memilih menikah lagi. Seperti sekarang ini, Yasmin hamil dan tidak bisa melayani kebutuhan biologisnya. "Bagaimana menurut anda, Haji Usman?" tanya Pak Rahmat kepada besan. Sungguh, dia sungkan dan tak enak hati kepada keluarga besan, harus menyaksikan ini. Haji Usman sendiri sudah tahu persoalan poligami. Dia tak melarang, ia serahkan keputusan ini pada mereka yang menjalani. "Poligami itu diperbolehkan dan saya juga nggak bakalan melarang. Jika Nak Ashraf mampu dan bisa bersikap adil pada kedua istrimu, silahkan saja, tetapi baiknya harus diskusikan dulu dengan istrimu." Haji Usman menatap Yasmin yang bergeming. Dia tahu, anaknya ini adalah perempuan yang baik. Hj. Nur merasa iba, pada Yasmin yang tak terlihat kebahagiaan di mata hitamnya. Berat memang, harus merasakan poligami. Dia sendiri tak mampu menjalankan ini. "Kami sudah berdiskusi, Yasmin udah setuju dengan keputusanku." "Yasmin, jawab kami. Kalau ini memberatkan bagimu, maka katakan. Daripada nanti membuatmu tersiksa," ujar Azrina pada adik iparnya itu. "Jika memang menikah lagi membuat Mas Ashraf bahagia. Insyaallah aku ikhlas dan ridho, karena aku juga nggak bisa menentang. Mas Ashraf benar, ada alasan mengapa dia ingin berpoligami. Sebelumnya kami sudah berdiskusi," papar Yasmin seraya menegarkan hati. Semua orang tidak bisa berkata-kata, dengan yang disampaikan suami istri tersebut. "Bahkan, Yasmin yang tanpa cela kamu malah menduakannya, Ashraf! Dengan siapa lagi kamu akan menikah?" Azrina angkat bicara. Mereka pun penasaran, dengan siapa Ashraf menikah. "Sania, manager di restoran sekaligus sahabat Yasmin." Tuhan, ingin rasanya Yasmin menghilang saja sekarang. Pasokan udara terasa sempit, dadanya terhimpit. Namun apalah daya, ia harus rela. Meski sulit bagi Yasmin, mungkin ini adalah ujian pernikahan mereka. Sesungguhnya, tidak ada makhluk hidup yang tak diuji. *** Entah bagaimana lagi cara Yasmin menguatkan dirinya saat ini. Akhirnya setelah mempersiapkan beberapa hal, hari yang ditunggu-tunggu pun sudah tiba. Hari dimana Ashraf akan mengucapkan ijab qobul untuk yang kedua kalinya. Yasmin bingung, harus bagaimana dan bersikap apa? Selain diam, ia juga dipenuhi pikiran. Keduanya sedang berada di dalam mobil pengantin, dia sendiri yang akan menemani Ashraf untuk menikah dengan sahabatnya. Ashraf sudah rapih dengan pakaian pengantin, dia merasa tak nyaman karena Yasmin hanya mendiamkan. 'Hatiku sakit melihat istriku diam membisu, melihatku menikah lagi. Tapi apa itu salahku? Sebagai manusia normal, aku butuh disalurkan. Maafkan aku, Sayang. Semoga aku bisa terus membahagiakanmu dan anak kita,' batin Ashraf. Dia menentang tangan Yasmin dan mengecup punggung tangan yang putih dan mulus. "Kamu ridho, Sayang? Insyaallah kita akan berjuang bersama-sama. Aku akan adil padamu dan Sania nantinya, cintaku masih tetap untukmu," bisik Ashraf. Hening. Hanya ada suara deru kendaraan yang memecah keheningan. Yasmin bungkam dengan pikiran kosong. "Yas?" panggil Ashraf. Yasmin menoleh dan menatap sayu pada Ashraf. "Ya, Mas?" "Aku dari tadi ngajak kamu ngobrol lho, nggak dengar, ya?" Yasmin tersenyum kikuk dan menggeleng. "Ma-maafkan aku, Mas. Keasikan dengan pikiranku sendiri. Mas bilang apa tadi?" Detik itu juga, Ashraf menarik Yasmin ke dalam dekapannya. Menghabiskan waktu berdua, sebelum ada wanita lain yang bakal memiliki suaminya. Kenapa Yasmin malah makin sesak? Ashraf tampan, mapan dan tentu saja pandai. Siapa pun pasti akan terpesona dengan pria ini. Dia suami yang nyaris sempurna. 'Semoga aku ikhlas dan ridho, anggap saja ini sebagai baktiku kepada suamiku. Meski sesak dan sakit kurasakan, nggak bakalan ada yang mengertiku selain diri aku sendiri. Itu sebabnya, aku harus kuat menjalani ini,' batin Yasmin. "Jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku nggak tahu bagaimana hidupku tanpamu. Harusnya aku bisa menjaga mata dan pikiranku ... maaf, Yasmin." "Aku paham, Mas. Apalagi kamu dan aku biasa melakukannya setiap hari, nggak mudah bagimu menahan dan menungguku sampai lahiran nanti," ujar Yasmin, mencengkram kerah kemeja sang suami dan memejamkan mata. Bukan menikmati pelukan, melainkan meredamkan kesakitan. "Meskipun hari ini aku akan menikah lagi, jangan berpikir bahwa dalam hati harus berbagi. Tentu kamu paham, urusan hati itu kita serahkan pada pemilik-Nya. Semoga cintaku terjaga pada namamu." Indah, untaian kata yang tak hanya melenakan, tetapi juga menyakitkan. "Bagaimana mana pendapatmu melihat Sania dan merasakan desiran aneh itu, Mas?" tanya Yasmin. Cari penyakit sendiri, dilingkupi rasa ingin tahu, saat tahu pasti sesak nantinya. "Menurutku dia cantik dan sepertinya ... agresif. Dia mungkin akan jadi pelengkap, kamu anggun dan lembut, dia agresif."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN